Listen


MusicPlaylistView Profile
Create a playlist at MixPod.com
Friday, August 31, 2012 0 comments

My Dreamland

Moonboat to Dreamland - Hugh Williams




Coba dengarkan lagu ini --> Dreamland

Aku menemukan lagu ini saat aku mencari lagu Last Night, Good Night yang dinyanyikan oleh sang Virtual Diva Hatsune Miku. Aku gak tahu banyak dan gak mengikuti perkembangan Vocaloid, tapi aku akui lagu-lagu mereka sangat enak, salah satunya Dreamland yang "dinyanyikan" oleh Megurine Luka.

Sampai detik ini aku gak tahu arti lirik lagu itu, karena aku ga nemuin lirik lagunya baik dalam Romaji atau terjemahan. Tapi lagu ini mampu membawaku ke dunia mimpiku, dunia mimpiku dengan seseorang yang aku... sayang. Well, dia bukan pacarku, aku belum punya pacar sampai detik ini, susah menemukan yang bisa jadi penyeimbangku, bahkan "seseorang" ini pun masih belum bisa.

Dunia mimpi yang aku bayangkan, bukan sekedar imajinasi yang gak nyata, justru imajinasi ini didasari oleh pengalaman yang sangat nyata. Pengalaman manis yang pernah aku alami dengan dia. Banyak hal yang belum bisa aku tuliskan dalam blog ini, karena aku sendiri pun ga sanggup untuk menuliskannya di sini.
So, apa yang aku alami?
Aku mengalami suatu pengalaman saat aku begitu dekat dengan cinta.
Hahaha... Duh galau deh...

Aku begitu dekat dengan dia. Ibarat dalam musik, aku melodi dia adalah chord, penuntun melodi. Dia seseorang yang baik, menyenangkan, pintar dan seiman pastinya.
Hampir setiap hari kami bisa bertemu. Dan pada momen-momen tertentu, kami menghabiskan waktu bersama. Yah... Tidak banyak sih, tapi kalian tahu? Momen ini sangat berharga bagiku.
Banyak hal-hal yang mampu membuat aku tersenyum sendiri.
Saat mendengar, melihat dan merasakan tetesan hujan, aku pasti ingat dia, pengalaman di bawah hujan, klimaks segala pertanyaan; apakah dia juga merasakan yang sama? Ada rasa yang berbeda saat itu, ketika dia menggenggam tanganku dan menuntunku menunju suatu tujuan.
Sekarang tetes hujan membawa cerita yang hanya diketahui aku dan Tuhan. Mungkin dia juga tahu, tetapi mungkin jalan dan rasa ceritanya akan berbeda. 

Pertanyaan itu tidak pernah terjawab. Waktu berjalan, setiap kali melihat dia, harapanku pupus; saat aku tahu ia bukan seseorang yang aku... butuhkan. Dia hanya manis cinta sesaat. Tetapi aku suka saat merasakan rasa manis itu walau pun sebenarnya aku sadar, rasa itu... hambar.
Rasa manis itu... Hanya euforia yang aku buat. Semuanya biasa, tidak ada yang perlu diistimewakan.  

Rasa tinggal rasa. Semua hanya memori yang aku simpan ke dalam sebuah kotak. Sesekali aku membuka kotak itu dan melihat betapa bahagianya aku dulu saat jatuh cinta pada dia, begitu nyata. Tetapi aku juga merasa sedih, ternyata aku hanya jatuh cinta.
Seperti yang dikatakan Remi dalam Perahu Kertas, hati itu tidak pernah memilih, tetapi hati itu dipilih. Hatiku memang memilih dia, tetapi hatiku... mungkin bukan untuk dia.

Entahlah, tulang rusuk siapa aku?
Siapa yang akan memilih hatiku?

Sekarang aku menghadapi dunia yang lebih nyata. Aku tidak takut, karena aku tidak sendirian, aku punya Tuhan, keluarga, sahabat dan teman-teman baru di kampus. Dreamland yang ini mungkin akan selalu ada dan selalu aku kenang. Tetapi aku ingin membangun Dreamland yang baru.
Universitas Padjadjaran, bukan sekedar pilihan ku, tetapi Tuhan yang memang memilihkan tempat ini untukku. Aku bersyukur, setidaknya aku bisa tinggal cukup jauh dari seseorang itu. Dengan begini akan mudah bagiku untuk membangun impian yang baru, impian yang sebenarnya adalah rancangan Tuhan untukku. 

Dan aku yakin rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera, bukan rancangan celaka. (Yeremia 29:11)
Monday, August 27, 2012 0 comments

:)

Aku ingin menghabiskan sisa waktuku untukmu.
Tak berharap kau menyadarinya, tetapi bagiku setiap detik bersamamu hari-hari terakhir ini, terasa sangat berharga bagiku.
Aku tidak jatuh cinta lagi padamu. Aku hanya ingin dekat denganmu.
0 comments

Tersadar

Aku mulai menyadari kesedihan dan kegelisahan itu.
Aku berjanji akan kembali dan bertemu teman-temanku lagi suatu saat nanti.
Tetapi aku sendiri pun tidak tahu kapan "suatu saat nanti" itu tiba. Seminggu sekali kah? Sebulan sekali kah? Satu semester sekali? Setahun sekali? Atau tidak sama sekali...
0 comments

Flash back

Kenangan itu kembali muncul. Aku hanya membiarkan rasa itu mengalir tanpa harus mencicipinya lagi, karena aku tak mau berharap akan rasa yang sama. Aliran yang indah, yang sejuk dipandang.
Aku hanya ingin tersenyum, setiap mengingat dirimu.
Monday, August 13, 2012 0 comments

Mengandalkan Kasih KaruniaNya

Setelah satu minggu pergi mengurus keperluan kuliah, sore ini aku kembali mengajar Grace, murid keyboard-ku. Aku terpukau dan bahagia, aku kira setelah kurang lebih 1 minggu melepas Grace, ia akan malas belajar, ternyata dugaanku salah. Aku ingat sekali ada 2 lagu yang belum bisa Grace mainkan; Happy Ya Ya Ya dan Balonku, lagu anak-anak yang menurutku cukup sulit untuk dimainkan. Tetapi, sore ini aku mendengar Grace dapat memainkan lagu itu dengan baik.

Aku pun menambahkan lagu baru dengan chord baru, lagu Kartini dengan chord Am. Hari ini ia dapat memainkan lagu tersebut tanpa iringan dengan cukup baik dan aku cukup puas melihat hasil itu, esok hari aku akan kembali mengajarkan permainan yang lebih baik.

Rasanya tidak sia-sia aku menyetujui keinginan mama Grace agar aku kembali mengajar Grace selama libur kuliah 2 minggu. Dan sore ini bukan pula sebuah kebetulan aku diundang mengajar Grace, aku percaya Tuhan punya rencana.

Selesai mengajar Grace, mama Grace mengajakku ngobrol panjang-lebar tentang banyak hal.

Pertama tante bercerita tentang pergumulan yang dialami Grace. Sebagai pengikut Kristus yang sangat muda, ia mengalami deskriminasi oleh teman-temannya. Mama Grace membesarkan hati anaknya, tante melarang Grace membalas perkataan teman-temannya, sebaliknya mama Grace menyuruh Grace berterima kasih dan berkata, "tidak apa-apa, saya tahu Tuhan Yesus sayang saya."
Aku tertegun mendengar itu. Aku tahu ada makna tersirat dalam kalimat itu, makna yang sangat dalam. Aku merasa itu adalah kalimat luar biasa yang dikeluarkan oleh seorang anak kecil. Pengakuan iman Kristus.
Sejak kecil Grace sudah membaca Alkitab, awalnya Grace iri melihat keluarganya bisa membaca Alkitab bersama-sama setiap pagi dan malam, ia pun mau belajar membaca. Selain belajar, dengan imannya Grace juga berdoa kepada Tuhan, ia berdoa agar ia bisa membaca. Doa orang benar, besar kuasanya, Tuhan memberi kemampuan Grace melebihi anak-anak seusianya. Ia suka membaca renungan anak setiap pagi, bahkan Alkitab yang Grace pakai adalah Alkitab bahasa sehari-hari, bukan Alkitab untuk anak-anak.

Selain bercerita tentang Grace, tante juga bercerita tentang masa mudanya saat kuliah. Ini sangat menarik untukku, mengingat aku adalah mahasiswa baru.

Mama Grace bercerita bagaimana nasibnya sebagai anak perantauan yang kuliah di Jakarta. Dengan uang yang pas-pasan ia harus kos dan mengatur pengeluaran sehari-harinya sendiri. Kehidupannya selama kuliah dipenuhi banyak tantangan dan pilihan. Satu hal yang membuat tante tetap bertahan dalam keadaan tersebut adalah doa. Tante bercerita ia selalu berserah kepada Tuhan selama masa mudanya dan terbukti, Tuhan selalu mencukupi kebutuhannya dan menjaga tante dalam setiap langkahnya. Setiap pagi jam 5 tante bangun untuk berdoa dan menaikan penyembahan lalu membaca firman Tuhan. Setiap 2 kali seminggu tante berpuasa. Awalnya tante berpuasa untuk menghemat pengeluaran, maklum mahasiswa juga punya banyak keinginan, tetapi lama kelamaan tante berpuasa karena ingin menguatkan diri dari godaan, tante pun tetap berpuasa bahkan saat dalam kelimpahan. Dalam puasanya tante mendoakan banyak orang. Saat ini tante sudah tidak mampu berpuasa karena sakit maag, tetapi doa tante tidak pernah berhenti.

Hal yang terpatri dalam ingatanku, tante berkata:
"Dalam doa, berdoa untuk banyak hal. Pertama tante selalu mendoakan keluarga tante, tetapi tante tidak sering mendoakan keluarga tante, tante lebih sering mendoakan hamba-hamba Tuhan yang Tuhan pakai sebagai penginjil baik di Gereja atau yang di daerah terpencil. Mereka butuh back up dari kita."

Aku diingatkan kembali betapa besarnya kuasa doa. Dan aku teringat video yang aku tonton pada hari Minggu di Gereja, tentang project kita sebagai anak-anak Tuhan; menjangkau jiwa-jiwa. Cara menjangkau jiwa yang aku lihat dalam cuplikan itu adalah bukan dengan merekrut orang-orang untuk datang ke Gereja atau pun KKR, tetapi dengan mendoakan orang-orang tersebut. Dengan meminta tangan Tuhan terlibat dan Roh Kudus memenuhi kita, Tuhan pasti membukakan jalan dan memberikan kemampuan bagi kita untuk menjangkau jiwa. Bukan karena kuat kita, tetapi karena kekuatan Tuhan.

Tante juga membahas tentang pergumulan yang akan aku hadapi, sebagai mahasiswi di Bandung.
"Tidak ada larangan untuk bergaul, berteman dengan orang-orang yang tidak seiman, tante juga punya banyak kenalan yang tidak seiman, tetapi jangan pernah menjalin cinta dengan mereka."
Ini bukan pertama kalinya aku mendengar nasehat ini, sudah kesekian kalinya, tetapi entahlah nasehat ini selalu menamparku.
Sampai saat ini, aku belum pernah berpacaran satu kali pun, baik dengan yang seiman apalagi yang tidak seiman, belum pernah. Aku seolah diingatkan selalu, Tuhan pasti sudah menyediakan seseorang yang paling tepat sebagai pendamping hidupku dan aku tidak perlu khawatir.

Tante juga berpesan:
"Ada 2 hal yang sering menggoyahkan anak-anak Tuhan. Pertama, rasa ingin coba-coba, karena belum tentu dia jodoh kamu jadi kamu menganggap pacaran itu sekedar main-main. Kedua, pacaran sebagai ajang menyelamatkan jiwa, kamu pikir karena dia sudah cinta sama kamu, dia mau ikut sejalan dengan kamu. Jangan sekali-kali kamu coba itu."
Hal yang terlintas dalam pikiranku, ini adalah firman taurat, tetapi aku percaya ada kasih karunia di balik firman yang menekan tersebut. Tuhan tidak ingin anakNya jatuh. Aku teringat firman dalam 2 Korintus 6:14 Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?
Sudah sangat jelas bagiku, tidak ada tawar menawar lagi. Aku tidak mau main-main dengan hal ini.

Semua yang aku lihat saat ini baik adanya, tetapi aku tidak tahu apa yang menungguku di depan sana. Aku tidak mau mengandalkan kekuatanku sendiri, aku ingin Tuhan turun tangan sepenuhnya dalam hidupku, aku ingin Roh Kudus aktif berperan dalam diriku dan mengontrol diriku, aku ingin menggunakan segala karunia yang Tuhan telah berikan kepadaku.

Tuhan menciptakan aku untukNya. Apa pun yang aku kerjakan, sekecil apa pun itu, semuanya untuk kemuliaan Tuhan.

Siang ini aku melihat pesan yang ditag oleh temanku melalui sebuah gambar. Pesan yang menjadi rhema bagiku:






Harapanku, Tuhan selalu menjaga hidupku. :)
Thanks Jesus...
For You I'm your beloved child.
Friday, June 15, 2012 0 comments

Setia -Part 1-

"Berharap kamu ada di sana.

Inilah yang aku lakukan setiap kali hujan tiba. Aku datang ke taman bermain, tempat di mana kamu menungguku."

Aku ingat saat itu, pukul 5 Jumat sore kau berjanji akan mengajakku menonton pertunjukan Jazz, musik favorit kita dan kamu menungguku di taman bermain dekat rumahku.
Seperti biasa, aku datang terlambat, kamu sudah menungguku di taman sementara aku baru bersiap-siap mandi.

"Datang saja ke rumahku. Dari pada kamu nunggu lama-lama di sana."

"Lili, aku mau menikmati langit sore, dari taman ini pemandangannya lebih indah. Aku mau mengambil potret langit senja yang cantik untukmu."

"Oh... Baiklah, terserah padamu."
Aku tidak bisa memaksamu jika kamu ingin menikmati langit, aku tahu kamu selalu terkagum akan keindahan langit, aku tidak mau mengganggumu. Aku pun bergegas mandi, tidak ingin membuatmu menunggu lama.

Namun setelah aku mandi, dari jendela kamarku aku tidak melihat langit jingga, aku melihat langit kelabu dan hujan deras. Aku teringat padamu,

"Ver, kamu masih di sana?" Aku mendengar kau tertawa bahagia.

"Iya... Aku sedang menikmati tetes hujan."

"Verdy! Nanti kamu sakit! Kenapa kamu gak ke rumahku aja?"

"Aku cuma menepati janjiku, menunggu kamu di taman."

"Ya Tuhan..." Aku bergegas berpakaian, membawa tasku keluar kamarku. Aku tidak mau membuatmu menunggu lama. Kamu ini... dasar keras kepala.

Dengan payung aku berlari menelusuri komplek rumahku, berlari menuju taman. 10 meter dari taman, aku sudah bisa melihatmu, duduk di ayunan memandangiku, tertawa dengan senyum sumringah, kamu basah kuyup seperti anak kecil. Aku berlari mendekatimu, kamu pun berjalan menghampiriku, tetap tenang dalam hujan. Rasanya ingin sekali aku marah-marah dan menjewer telingamu, dasar anak nakal! Namun aku tidak bisa, saat melihatmu berdiri di depanku, dengan senyuman manis bibir merahmu, dibalik kacamata berframe setengah warna hitam yang basah itu aku bisa melihat tatapan matamu yang berbinar-binar menatap mataku.
Sial! Kamu memang tahu kelemahanku.

"Kamu cantik sore ini."

"Dan kamu basah kuyup seperti sore-sore yang lalu."
Kamu tertawa lebar, aku juga. Tidak tahan rasanya melihat kekonyolan kamu setiap sore, yang selalu menungguku di taman, entah hari cerah atau saat hari hujan.

"Tapi kamu suka kan?"
Tanyamu sambil tersenyum. Entah kamu hanya asal bicara atau kamu memang tahu, aku cukup mengagumi bentuk tubuhmu yang kekar dibalik kemeja putihmu yang basah kuyup. Aku hanya mengernyitkan dahi, berusaha menutupi jawaban yang sebenarnya.

"Enggak sih."
Jawabku sambil menjulurkan lidah, walau pun aku tahu wajahku cukup panas dan mungkin sudah memerah.

"Well, Lili kita mau ke mana?"

"Aku mau kita pulang ke rumah kamu dulu, ganti semua baju kamu!"

"Hahaha... Enggak ah, malas rumahku jauh Lili, aku udah bawa kaos ganti kok."

"Rumah kamu cuma beda 3 blok dari taman ini. Ayo ganti baju dulu, kalau males nyetir mobil, sini aku aja yang bawa deh, masa setiap pulang Friday Jazz sama aku kamu sakit terus?"

"Iya deh, kamu galak deh kalo lagi perhatian sama aku."
Aku hanya tersenyum mengiyakan. Lalu kita berjalan ke mobilmu. Yaris merah mungil itu langsung melaju menuju pekarangan rumahmu. Kamu menyuruhku menunggu di mobil sebentar saja. Dan benar saja, kurang dari 5 menit kamu sudah berganti pakaian. Kali ini kemeja putih dibalut vest hitam, celana panjang jeans dan sepatu hitam. Kamu mengganti kacamatamu dengan frame penuh berwarna hitam.

"Kok dandanan kamu beda banget sama yang tadi?"

"Aku cuma mau serasiin pakaianku sama kamu aja."
Alasan yang cukup bisa diterima, hari ini aku memakai dress putih selutut dengan cardigan rajutan berwarna hitam. Aku tersenyum senang.

"Ver, kamu itu lucu banget sih, bikin aku tambah sayang tau gak?"
Kita tertawa kecil. Lalu kamu menggenggam tanganku.

"Lili, aku sayang kamu. Aku mau rayain 7 tahun kita jadian dengan cara yang istimewa."
Aku hanya tersenyum, tertegun mendengar perkataan kamu.

"Terimakasih ya Lili, dari SMP kita sahabatan sampai sekarang, aku udah 24 tahun kamu masih setia nemenin aku."
Aku hanya menunduk merenung, mengingat kembali masa-masa kita di sekolah, saat kita pacaran pertama kali, kamu menyatakan cinta kamu lewat sekotak coklat, benar-benar sesuatu yang lucu dan tidak akan mudah aku lupain. Aku kembali menatap matamu, perlahan ku dekatkan wajahku, lalu kukecup pipimu.

Kita tersenyum kecil, malu-malu. Kita sudah saling terbuka dan saling tahu kita ingin lebih dari itu. Kamu tahu dalam hatiku aku ingin sekali mengecup bibirmu dan aku tahu kamu juga ingin melumat habis bibirku. Tetapi kita tahu, kecupan ini adalah hal yang sakral. Kita sudah berjanji saling mengingatkan, tidak sebelum waktu yang tepat. Di depan altar suci, saat janji sehidup semati diikrarkan, kita akan mengikat janji itu dengan kecupan pertama di bibir.

"Ehm... Ver, kita mau pergi ke mana jadinya?"

"Hmmm... ke mana ya? Kamu lihat aja nanti."
Kamu tersenyum lebar, membuatku semakin antusias sekaligus penasaran.

Mobil Yaris merah melaju dalam hujan, membawaku dan kamu, entah ke mana kamu mau membawaku pergi.
0 comments

Cherished Moments

Another beautiful song, Cherished Moments by Jon Schmidt.
Romantis, lembut, penuh arti. Aku dapat merasakan pesan cinta yang begitu dalam yang disampaikan Jon Schmidt dalam setiap dentingan pianonya.

Namun, lagu ini hanya lagu, aku bisa merasakan rasa cinta yang berbunga-bunga yang dirasakan Jon Schmidt sementara aku, tidak mampu merasakan cinta yang sebenarnya.
Sampai detik ini aku belum bisa jatuh cinta pada siapa pun. Rasanya kosong, tidak ada lagi nama spesial yang terekam dalam memoriku. Belum ada kisah cinta yang mampu menjadi inspirasiku.

Ingin rasanya aku merasakan momen yang namanya pacaran, namun hingga saat ini aku masih belum bisa merasakannya. Aku terus mencari orang yang tepat, walau pun aku sendiri tidak tahu seperti apa orang yang tepat. Setiap orang yang aku temui selalu saja ada kekurangan dalam diri mereka yang belum bisa aku terima. Aku tahu dunia berkata mustahil untuk mencari seseorang yang benar-benar sempurna.
Aku tidak mencari orang yang sempurna, aku hanya mencari seseorang yang... dapat membuatku merasa nyaman dan utuh.

Alunan piano Jon Schmidt terus berkumandang memenuhi ruang kerjaku, membawaku terus berpikir..
Apakah musik yang membuatku jatuh cinta?
Apakah aku jatuh cinta pada musik? Bukan pada seseorang?

Mustahil.

 
;