Kita punya banyak kesamaan; latar belakang, selera humor, hobi, pola pikir dan bahasan.
Kita sering bersama; hadir mengisi kekurangan satu sama lain, berbagi suka-duka. Berbagi tawa, senyum dan kegalauan.
Kadang aku merasa bodoh tidak bisa melihat hal itu, tetapi malah terfokus pada "hal lain" yang "menarik".
Tetapi sekali lagi... Hati tidak pernah berbohong; rasa itu memang gak ada. Aku dan kamu, kita hanya sahabat. :)
Gak ada lagi pemaksaan perasaan, aku biarkan semua mengalir. Senang rasanya bersahabat denganmu. :)
Bagaimana dengan dia? Si "hal menarik'? Dia juga sahabatku, biarkan saja hatiku yg memutuskan; aku mulai mati rasa dengannya. Hahaha XD
Listen
Showing posts with label Sharing 2011. Show all posts
Showing posts with label Sharing 2011. Show all posts
Both everything and everybody will change but I never expect it.
Mungkin aku adalah masa lalu yang terperangkap dalam masa modern saat ini. Aku sering berharap segala keadaan tidak akan pernah berubah. Semua yang dulu tampak baik, sekarang tampak buruk bagiku, sekecil dan sesepele apa pun perubahan sering membuatku kecewa dari pada bahagia. Aku hanya berharap... perubahan baiklah yang akan terus terjadi dalam diriku.
Mungkin aku adalah masa lalu yang terperangkap dalam masa modern saat ini. Aku sering berharap segala keadaan tidak akan pernah berubah. Semua yang dulu tampak baik, sekarang tampak buruk bagiku, sekecil dan sesepele apa pun perubahan sering membuatku kecewa dari pada bahagia. Aku hanya berharap... perubahan baiklah yang akan terus terjadi dalam diriku.
“Dengan kemampuan dan ilmu yang sudah kalian miliki, apakah siap kalian bersaing di dunia karir kedepan?”
Pendidikan merupakan sumbangsi terbesar dalam pembentukan karakter dan kematangan masyarakat, terutama dalam dunia karir. Masyarakat yang sadar pentingnya arti pendidikan, berlomba-lomba mengenyam pendidikan terbaik. Sekolah dan perguruan tinggi yang memiliki pendidikan terbaik di Indonesia masih sangat terbatas jumlahnya, sehingga hanya calon siswa-mahasiswa pilihanlah yang bisa mengenyam pendidikan terbaik tersebut.
Sekarang ini, para peserta didik sudah paham arti penting pendidikan bagi mereka. Melihat sekolah dan perguruan tinggi yang semakin selektif memilih calon peserta didik, para siswa dan mahasiswa tidak lagi mengandalkan The Power of Money, melainkan The Power of Brain. Mereka bersaing secara sehat; menambah ilmu, mengejar berbagai prestasi, mengumpulkan nilai-nilai baik, mengasah bakat dan kreativitas agar mereka terbentuk menjadi pribadi yang berkualitas, yang pantas mengenyam pendidikan terbaik. Bagi mereka,ini adalah jalan untuk meraih sebuah impian yaitu memperoleh pekerjaan yang dapat menjamin kehidupan mereka.
Dari sebuah poling, sebanyak 12 dari 12 siswa-mahasiswa yang mengakui bahwa mengenyam pendidikan di sekolah atau pun di perguruan tinggi merupakan hal yang bermanfaat. Karena di sekolah atau pun perguruan tinggi mereka tidak sekedar memperoleh wawasan akademis dan non akademis, tetapi mereka juga belajar hal baru seperti; bersosialisasi, menyiapkan mental untuk bersaing menjadi yang terbaik, belajar mandiri manage waktu, disiplin mengerjakan tugas dan bertanggung jawab. Mereka merasa hal-hal tersebut adalah bekal yang diperlukan untuk menyiapkan masa depan mereka.
Sepuluh peserta poling menyatakan setuju bahwa kuliah diperlukan untuk menambah ilmu dan mengasah kemampuan dan 4 di antara 12 berpendapat bahwa kuliah sangat diperlukan untuk memperoleh gelar setinggi-tingginya, karena masa kini gelar juga menjadi kebutuhan dan jaminan untuk bekerja. Ada pula 3 pendapat yang mengutarakan belajar tidak harus dari bangku kuliah saja dan bahwa ilmu saja tidak cukup, seseorang juga harus memiliki keberanian untuk mencoba kesempatan pengalaman bekerja dan mengambil resiko berbisnis, bahkan 1 dari 3 pendapat tersebut mengutarakan bahwa kuliah tidak sepenuhnya mutlak dan penting karena kenyataannya banyak orang yang mampu berkarir tanpa mengenyam bangku kuliah.
Di luar sana masih ada siswa-siswi, khususnya lulusan SMA yang belum siap bekerja sebelum menjejaki dunia perkuliahan, mereka khawatir tidak bisa mendapat pekerjaan yang dapat menjamin kehidupan mereka jika mereka tidak kuliah dan punya gelar sarjana. Tetapi ternyata dalam poling 10 dari 12 siswa-mahasiswa menyatakan bahwa diri mereka sudah siap bersaing di dunia karir dengan kemampuan yang mereka telah miliki.
Satu dari 12 poling menyatakan pekerjaan yang berhubungan dengan bahasa adalah pekerjaan yang sangat menjamin, karena bahasa tidak akan pernah mati dan dibutuhkan dalam segala pekerjaan, 2 dari 12 menyatakan bahwa pekerjaan yang berhubungan dengan jasa tidak akan pernah mati dan 2 dari 12 poling lain menyatakan pekerjaan yang berhubungan dengan inovasi juga merupakan pekerjaan yang menjamin. Selebihnya menyatakan bahwa segala pekerjaan bisa menjamin jika dikerjakan sesuai dengan keahlian dan dikerjakan dengan sepenuh hati dan maksimal.
Menurut saya, terjamin atau pun tidaknya suatu pekerjaan adalah hal relatif, tidak sekedar ditentukan dari jenis pekerjaan apa yang diambil atau pun berapa gaji yang akan ditetapkan bagi kita, tetapi lebih ditentukan oleh kesanggupan kita mengerjakan pekerjaan tersebut secara maksimal sehingga kita dapat memperoleh hasil yang setara dengan usaha kita. Bekerja hanya sarana, tidak ada pekerjaan yang menjamin 100% kehidupan kita, tetapi diri kita sendirilah yang menjamin kehidupan kita dengan bekerja. Sebenarnya ada banyak kesempatan kerja di luar sana, hanya saja terkadang orang-orang tidak bisa melihat kesempatan tersebut karena mereka dibutakan oleh ambisi mereka untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan keinginan mereka saja. Bekerja yang tidak sesuai dengan keinginan adalah ketakutan utama sekaligus batu sandungan bagi orang-orang yang baru terjun di dunia karir. Mendapat pekerjaan yang tidak sesuai kemampuan bukanlah alasan yang tepat untuk merasa terhambat; sama seperti di dunia pendidikan sebuah tugas, PR atau pun ulangan tidak akan diberikan ketika murid-murid belum siap menanggung kewajiban tersebut, jika kita sudah diterima pada suatu pekerjaan, dapat disimpulkan tidak ada pekerjaan yang tidak dapat kita kerjakan.
Jadi, tidak ada alasan untuk takut mencoba berkarir dini hari, walau pun tanpa gelar sekali pun. Lebih baik memiliki pengalaman bekerja dengan hal-hal kecil dari pada tidak memiliki pengalaman sama sekali. (DEER)
Pendidikan merupakan sumbangsi terbesar dalam pembentukan karakter dan kematangan masyarakat, terutama dalam dunia karir. Masyarakat yang sadar pentingnya arti pendidikan, berlomba-lomba mengenyam pendidikan terbaik. Sekolah dan perguruan tinggi yang memiliki pendidikan terbaik di Indonesia masih sangat terbatas jumlahnya, sehingga hanya calon siswa-mahasiswa pilihanlah yang bisa mengenyam pendidikan terbaik tersebut.
Sekarang ini, para peserta didik sudah paham arti penting pendidikan bagi mereka. Melihat sekolah dan perguruan tinggi yang semakin selektif memilih calon peserta didik, para siswa dan mahasiswa tidak lagi mengandalkan The Power of Money, melainkan The Power of Brain. Mereka bersaing secara sehat; menambah ilmu, mengejar berbagai prestasi, mengumpulkan nilai-nilai baik, mengasah bakat dan kreativitas agar mereka terbentuk menjadi pribadi yang berkualitas, yang pantas mengenyam pendidikan terbaik. Bagi mereka,ini adalah jalan untuk meraih sebuah impian yaitu memperoleh pekerjaan yang dapat menjamin kehidupan mereka.
Dari sebuah poling, sebanyak 12 dari 12 siswa-mahasiswa yang mengakui bahwa mengenyam pendidikan di sekolah atau pun di perguruan tinggi merupakan hal yang bermanfaat. Karena di sekolah atau pun perguruan tinggi mereka tidak sekedar memperoleh wawasan akademis dan non akademis, tetapi mereka juga belajar hal baru seperti; bersosialisasi, menyiapkan mental untuk bersaing menjadi yang terbaik, belajar mandiri manage waktu, disiplin mengerjakan tugas dan bertanggung jawab. Mereka merasa hal-hal tersebut adalah bekal yang diperlukan untuk menyiapkan masa depan mereka.
Sepuluh peserta poling menyatakan setuju bahwa kuliah diperlukan untuk menambah ilmu dan mengasah kemampuan dan 4 di antara 12 berpendapat bahwa kuliah sangat diperlukan untuk memperoleh gelar setinggi-tingginya, karena masa kini gelar juga menjadi kebutuhan dan jaminan untuk bekerja. Ada pula 3 pendapat yang mengutarakan belajar tidak harus dari bangku kuliah saja dan bahwa ilmu saja tidak cukup, seseorang juga harus memiliki keberanian untuk mencoba kesempatan pengalaman bekerja dan mengambil resiko berbisnis, bahkan 1 dari 3 pendapat tersebut mengutarakan bahwa kuliah tidak sepenuhnya mutlak dan penting karena kenyataannya banyak orang yang mampu berkarir tanpa mengenyam bangku kuliah.
Di luar sana masih ada siswa-siswi, khususnya lulusan SMA yang belum siap bekerja sebelum menjejaki dunia perkuliahan, mereka khawatir tidak bisa mendapat pekerjaan yang dapat menjamin kehidupan mereka jika mereka tidak kuliah dan punya gelar sarjana. Tetapi ternyata dalam poling 10 dari 12 siswa-mahasiswa menyatakan bahwa diri mereka sudah siap bersaing di dunia karir dengan kemampuan yang mereka telah miliki.
Satu dari 12 poling menyatakan pekerjaan yang berhubungan dengan bahasa adalah pekerjaan yang sangat menjamin, karena bahasa tidak akan pernah mati dan dibutuhkan dalam segala pekerjaan, 2 dari 12 menyatakan bahwa pekerjaan yang berhubungan dengan jasa tidak akan pernah mati dan 2 dari 12 poling lain menyatakan pekerjaan yang berhubungan dengan inovasi juga merupakan pekerjaan yang menjamin. Selebihnya menyatakan bahwa segala pekerjaan bisa menjamin jika dikerjakan sesuai dengan keahlian dan dikerjakan dengan sepenuh hati dan maksimal.
Menurut saya, terjamin atau pun tidaknya suatu pekerjaan adalah hal relatif, tidak sekedar ditentukan dari jenis pekerjaan apa yang diambil atau pun berapa gaji yang akan ditetapkan bagi kita, tetapi lebih ditentukan oleh kesanggupan kita mengerjakan pekerjaan tersebut secara maksimal sehingga kita dapat memperoleh hasil yang setara dengan usaha kita. Bekerja hanya sarana, tidak ada pekerjaan yang menjamin 100% kehidupan kita, tetapi diri kita sendirilah yang menjamin kehidupan kita dengan bekerja. Sebenarnya ada banyak kesempatan kerja di luar sana, hanya saja terkadang orang-orang tidak bisa melihat kesempatan tersebut karena mereka dibutakan oleh ambisi mereka untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan keinginan mereka saja. Bekerja yang tidak sesuai dengan keinginan adalah ketakutan utama sekaligus batu sandungan bagi orang-orang yang baru terjun di dunia karir. Mendapat pekerjaan yang tidak sesuai kemampuan bukanlah alasan yang tepat untuk merasa terhambat; sama seperti di dunia pendidikan sebuah tugas, PR atau pun ulangan tidak akan diberikan ketika murid-murid belum siap menanggung kewajiban tersebut, jika kita sudah diterima pada suatu pekerjaan, dapat disimpulkan tidak ada pekerjaan yang tidak dapat kita kerjakan.
Jadi, tidak ada alasan untuk takut mencoba berkarir dini hari, walau pun tanpa gelar sekali pun. Lebih baik memiliki pengalaman bekerja dengan hal-hal kecil dari pada tidak memiliki pengalaman sama sekali. (DEER)
Aku tidak percaya... Itu... Tidak logis!
“Ssst... Udah jangan diomongin lagi! Nanti ketahuan lho!”, bisik Lila pada Sela dan Toni sambil buru-buru beranjak dari meja Grace.
“Eh dia dateng, dia dateng”, teriak Darla dari depan pintu kelas.
Mereka berempat berkumpul di meja pojok belakang kelas, berbisik-bisik sambil mengamati sosok nona cantik, ya itu Grace yang mulai memasuki kelas. Saat Grace menoleh pada mereka, mereka berpura-pura memalingkan pandangan mereka dari Grace. Grace merasa ada sesuatu yang sangat aneh pagi ini, walaupun hampir setiap hari ia mengalami kejadian yang aneh, tetapi... Ya sudahlah pikir Grace, tidak ada gunanya juga memikirkan hal-hal aneh.
Kriiiing.... Bel sekolah berdering.
Semua murid XI-IPB mulai memasuki ruang kelas. Ruang kelas menjadi semakin ramai dengan obrolan, gelak tawa dan teriakan 20 murid kelas bahasa yang terkenal bawel dan usil. Dalam sekejab suara gaduh itu menjadi hening. Ibu Saly, guru muda sastra Indonesia yang terkenal killer mulai memasuki ruangan.
“Selamat pagi anak-anak”
“Selamat pagi bu!”
“Anak-anak, pagi ini kita kedatangan teman baru.”
“YES! Asik! Gak ada ujian puisi!!”, teriak Toni penuh kegirangan disambut tepuk tangan riuh teman-teman IPB.
“DIAM! Ujian memang ditiadakan pagi ini, tetapi akan diganti besok pagi.”
“Yah.....”, keluh 20 murid secara bersamaan.
Tok.. tok.. tok.. Seseorang mengetok pintu.
“Itu pasti dia, anak-anak tunggu sebentar”, ibu Saly mulai membuka pintu dan tersenyum pada seseorang.
“Anak-anak, perkenalkan ini teman baru kita Fransisco”.
Sesosok pemuda dengan wajah yang sangat rupawan, berkulit coklat, berpostur tubuh tinggi, tegap dan.... wow! Memukau! Terdengar bisik-bisik diantara 14 gadis-gadis yang sepertinya terkagum-kagum, sedangkan keenam pemuda hanya berdeham dan menggelengkan kepala; sepertinya akan ada yang menyaingi mereka sebentar lagi.
“Ayo Fransisco, perkenalkan dirimu”, pinta ibu Saly sambil tersenyum-senyum, hmmm... sepertinya ibu Saly juga ikut terpukau ketampanan Fransisco.
“Ehm..”, dehaman suaranya berat tetapi lembut, membuat hati gadis-gadis yang mendengarnya melonjak.
“Nama saya Fransisco Danielle, tetapi saya lebih suka dipanggil Danielle atau Danil. Saya pindah dari SMA Santo Yakobus kelas XI-IPB juga”. Danielle menutup presentasinya dengan senyum memukau.
“Anak-anak ada yang mau bertanya?” tampak tangan-tangan terangkat ke atas, siap melontarkan pertanyaan.
“Oke karena Lila yang mengangkat tangan terlebih dahulu, silahkan ajukan pertanyaanmu.”
“Ehm... Danil, udah punya pacar belum?”
“Wooo nyari kesempatan wooo!”, pertanyaan Lila disambut dengan sorakan teman-teman sekelas.
“Pertanyaan kamu tidak penting Lila, tapi... kamu emang masih single gak Dan?”, tanya ibu Saly dengan senyum genit. Tetapi kali ini tidak ada yang berani menyoraki pertanyaan ibu Saly, yang terdengar hanya bisik-bisik dan tawa kecil.
“Belum”, jawab Danielle singkat, mulai terdengar bisik-bisik “yes!”, “asik!”.
“Pertanyaan selanjutnya kamu yang pilih.”
Danielle terdiam sejenak memandangi tangan-tangan yang terangkat, tetapi pandangannya tertuju pada satu orang yang dudu ditengah kelas yang hanya melipat manis tangannya.
“Ehm, lo gak mau nanya apa-apa?” tanya Danielle pada Grace. Mata Grace terbelalak kaget sementara dari setiap sudut ruangan terdengar suara anak-anak terkesiap kaget dan beberapa desisan sinis.
“Eng... Enggak kok”, jawab Grace, wajahnya memerah karena ia merasakan setiap mata tertuju padanya.
“Kalau gitu, gue yang tanya ya. Siapa nama lo?” tanya Danielle sambil datang menghampiri Grace dan menyodorkan tangannya.
“Oh... ehm... nama gue Gracia Danielle, biasa dipanggil Grace. Salam kenal.”
“Salam kenal juga Grace. Ternyata nama belakang kita sama ya?”, senyuman lebar merekah di bibir Danielle, membuatnya terlihat semakin manis.
“ Ehm, kalau boleh tau hobi lo apa ya?” tanya Grace.
“Lho? Katanya tadi gak mau nanya, kok sekarang nanya?”, pipi Grace memerah kembali saat Danielle bertanya balik.
“Hahaha, sorry sorry Grace, gue bercanda, hobi gue main musik, kalau lo?”
“Ehm. Danielle, ini adalah sesi tanya jawab kelas bukan pribadi”, ibu Saly menyangga pertanyaan Danielle.
“Oh iya. Maaf bu, saya kebablasan”, jawab Danielle.
“Tidak apa-apa. Ayo maju ke depan kelas lagi.”
“Ehm... Grace kita lanjutin pas istirahat nanti ya”, bisik Danielle pada Grace. Gadis-gadis di kelas itu semakin memandang iri ke arah Grace.
“Oke anak-anak, ada yang mau bertanya lagi?”. Tetapi kali ini tidak ada satu tangan pun yang terangkat.
“Sepertinya sudah tidak ada yang mau bertanya lagi. Ya sudah, kalian bisa lanjutkan pertanyaan kalian sambil jalan. Danielle, silahkan pilih tempat dudukmu”, ibu Saly mempersilahkan Danielle duduk. Daniell memilih duduk di meja kosong urutan ke dua dari depan, tepat di depan Grace.
“Oke anak-anak 3 jam ke depan kita akan memperdalam materi puisi baru Indonesia. Oh sebelumnya, Danil, materi kamu sudah sampai mana?”
“Sama ibu, terakhir kelas saya membahas soal puisi mbeling karya Remy Sylado.”
“Bagus sekali! Karena hari ini kita akan membahas bentuk puisi mbeling juga. Oke, anak-anak kumpulkan PR contoh puisi mbeling yang saya minta kemarin.”
Semua anak mulai maju ke depan mengumpulkan puisi. Tiba-tiba
“AAAAAAAA!”, Grace berteriak keras.
“Ada apa Grace??”, tanya bu Saly kaget.
Wajah Grace sangat ketakutan, ia hanya terisak-isak, matanya berlinang air mata. Danielle mendatangi Grace dan mengambil tas yang Grace pangku. Danielle menemukan ada 2 ekor tikus buduk besar di dalam tas Grace.
“EH! Siapa yang masukin tikus ke tas Grace?!”, tanya Danielle dengan nada kesal.
“Ada apa Danielle?”, tanya bu Saly.
“Ada orang yang masukin tikus ke dalam tas Grace bu”
“Selalu saja kalian mem-bully Grace! Ada apa ini? Sekarang yang merasa memasukan tikus ke dalam tas Grace maju ke depan kelas!”
Ketegangan meliputi kelas selama beberapa menit, murid-murid duduk terdiam dan kaku.
“CEPAT! Atau kalian semua, kecuali Grace dan Danielle akan saya skors!”
Bisik-bisik kembali memenuhi kelas. Lila, Sela dan Toni tampak gelisah, perlahan tapi pasti mereka berdiri dari tempat duduk mereka.
“Kami yang bersalah bu”, ucap Lila mewakili teman-temannya.
***
Kriiing.....
Tiga jam berlajar sastra Indonesia pun berlalu, bel istirahat berbunyi, semua murid XI IPB berjalan keluar kelas, kecuali Lila, Sela dan Toni. Dari jendela luar kelas tampak mereka sedang duduk di pojok kelas menyalin catatan dari beberapa buku paket ke dalam sebuah buku catatan, sepertinya bu Saly menghukum mereka untuk membuat rangkuman materi dari awal hingga akhir semester, ckckck.
Sementara, di taman sekolah duduk Grace yang sedang membaca novel sambil mengunyah beberapa potong kentang goreng. Danielle yang melihat Grace sedang menyendiri langsung menghampirinya lalu duduk di sebelah kanan Grace.
“Ehm. Hai. Sendirian aja?”
Grace hanya terpaku menatap Danielle yang duduk begitu dekat dengannya.
“Kok bengong sih? Kenapa? Takut sama gue? Hahaha”
“Hahaha, enggak lah, ia gue sendirian aja.”
Danielle tersenyum melihat Grace tertawa lepas, sepertinya ada hal berbeda yang mengagumkan dari gadis ini?
“Emm, Grace, kenapa sih lo keliatan kaku banget di dalam kelas?”
“Hah? Kaku? Maksud lo?”
“Ya begitu, yang gue amati seharian ini, lo selalu diem, saat temen-temen lagi asik ngobrol lo cuma baca-baca buku atau nyalin catetan atau pas yang lain udah mulai ngantuk lo masih aja fokus dengerin bu Saly berkotbah, heran gue sama lo”
“Ehm... Danil, jadi dari tadi lo meratiin gue doang nih di kelas?”, tanya Grace polos.
Suasana canggung terbentang di antara mereka, Danielle mulai salah tingkah dan Grace tiba-tiba mengunyah kentang gorengnya lebih cepat, “bodoh!” ucap Grace dalam hati pada dirinya.
“Ehm maksud gue...”, Danielle dan Grace mengucapkan frasa yang sama bersamaan. Danielle tersenyum menatap Grace, sementara Grace merasakan wajahnya memerah mulai tersenyum juga.
“Hahahahaha...”, tawa terlepas dari senyum mereka berdua.
“Ah, apaan sih lo Dan?!”
“Lho? Apanya yang apaan??”
“Ngapain sih senyum-senyum kayak tadi?”
“Lo malu ya gue liatin? Atau lo suka gue senyumin? Atau mungkin lo malu-malu tapi suka sama gue? Hahahahaha”, ucap Danielle sambil tersenyum lebar menatap Grace.
“Idih! Pede banget sih? Baru aja kenal masa udah suka? Gak mungkinlah Nil”.
“Ehm, lo pernah denger yang namanya cinta pandangan pertama gak?”
“Sering banget, apalagi di novel-novel atau cerpen remaja, tapi gue gak percaya tuh”.
“Yap, lo gak percaya karena belum pernah merasakan, iya kan?”
“Errr... Iya sih, tapi gak logis aja, masa baru kenal udah jatuh cinta?”
“Hahaha... Grace... Grace... Makanya jangan sering melogika segala hal, ada beberapa hal yang cuma butuh perasaan kok Grace, contohnya..... cinta”.
“Ehm, cinta itu kan cuma hormon, gak lebih dari itu, buat apa terus-terusan dirasain kalau ujung-ujungnya selalu nyakitin”.
“Itu kan kata teori, kata novel-novel dan cerpen remaja yang lo baca Grace”.
Grace hanya terdiam, berpikir, berusaha mendebat pernyataan Danielle, tetapi sial, pernyataan Danielle mutlak benar.
“Atau lo pernah patah hati ya Grace?”
Mata Grace terbelalak lebar, ia menatap heran pada Danielle.
“Eng... Iya...”
“Oh, pantesan. Tapi baguslah”. Ucap Danielle enteng.
“Apa? Bagus? Gara-gara kejadian itu gue gak bisa fokus belajar selama sebulan, nilai gue jatuh, prestasi gue berantakan, itu gara-gara dia!”
“Tenang Grace, tenang. Kalo boleh tahu gimana ceritanya?”
“Kejadiaanya udah 3 bulan yang lalu, dia ninggalin gue pergi gitu aja, dia lanjutin sekolah ke luar negeri, tapi dia gak bilang apa-apa sama gue, dia cuma ninggalin surat mohon maaf doang. Gak ada perpisahan, gak ada pertemuan terakhir. Bahkan dia udah punya cewe di sana”, tutur Grace penuh rasa kesal.
“Lo masih sayang sama dia?”
“Enggak. Udah gak ada rasa apa-apa lagi.”
“Lo masih benci sama dia?”
Grace terdiam sesaat.
“Enggak. Lagi pula gak ada untungnya dendam sama dia.”
“Ehm.. Grace, gue rasa lo harus maafin dia.”
“Maksud lo?”
“Mungkin lo udah gak mau ambil pusing soal masalah lo sama dia. Tapi dari lubuk hati lo yang paling dalam belum ada pengampunan buat dia. Coba liat diri lo tadi di kelas, lo bener-bener orang yang membosankan, pendiem, kaku, geek lah padahal penampilan luar lo jauh dari kata membosankan. Lo masih terbawa suasana hati lo yang jengkel dan benci sama cowo lo sampai-sampai lo gak bisa tampil jadi diri lo sendiri kayak sekarang; yang cerewet, bawel, lucu, riang. Ehm... gimana Grace?”
“Tapi kan....”
“Demi kebaikan lo Grace”
Grace hanya terdiam. Ia menundukan wajah memandangi sampul novel yang ia baca. Beberapa saat keheningan mengisi waktu. Danielle terus menunggu reaksi Grace.
Kemudian Grace mengangkat wajahnya, menatap Danielle dan tersenyum.
“Yah, memang seharusnya gue maafin dia”.
“Lantas? Tindakan nyata lo?”
“Hari ini gue mau hubungin dia. Gue berharap aja, semoga nomor yang dia kasih masih sama, atau mungkin lewat chat juga bisa”
“Bagus Grace!”, Danielle tersenyum kembali menatap Grace.
“Ehm by the way Grace, waktu itu gimana sih proses lo bisa jadian sama dia?”
“Oh iya gue belum cerita, nama dia Mike. Prosesnya? Bisa dibilang kami jatuh cinta pada pandangan pertama”, mata Grace menerawang jauh.
“Terus?”
“Yah gitu, setelah PDKT beberapa minggu kita jadian. Ehm baru jadian 2 bulan udah ditinggal pergi gue. Hmm”
“Gak apa-apa Grace, jangan patah harapan, asal lo juga ubah pembawaan diri lo, jangan tampil kayak geek. Gak heran temen-temen jadi suka isengin lo.”
“Iya sih, gue udah capek juga diisengin terus”.
“Tenang, jangan takut ada yang isengin lo. Ada gue di sini”, ucap Danielle sambil menepuk dada.
“Iya yah ada body guard gratisan, hahaha. Bercanda Dan. Eh, thanks banget loh udah mau jadi temen sharing dan ngasih gue pemecahan masalah. Lega rasanya setelah 3 bulan mendem sendiri hari ini ada lo yang mau jadi temen sharing gue”, Grace tersenyum lebar menatap Danielle.
Danielle merangkul pundak Grace sambil berkata, “itulah gunanya teman, Grace”.
“Iya Dan, teman”, Grace merangkul pundak Danielle juga.
“Ehm... Grace..”
“Ya Dan?”
“Apa lo udah percaya dengan cinta pandangan pertama?” Danielle menatap dalam ke mata Grace sambil tersenyum.
Grace membalas tatapan Danielle dan tersenyum.
“Seperti yang dikatakan novel-novel dan cerpen remaja”. Jawab Grace sambil tersenyum lebar pada Danielle.
“Ssst... Udah jangan diomongin lagi! Nanti ketahuan lho!”, bisik Lila pada Sela dan Toni sambil buru-buru beranjak dari meja Grace.
“Eh dia dateng, dia dateng”, teriak Darla dari depan pintu kelas.
Mereka berempat berkumpul di meja pojok belakang kelas, berbisik-bisik sambil mengamati sosok nona cantik, ya itu Grace yang mulai memasuki kelas. Saat Grace menoleh pada mereka, mereka berpura-pura memalingkan pandangan mereka dari Grace. Grace merasa ada sesuatu yang sangat aneh pagi ini, walaupun hampir setiap hari ia mengalami kejadian yang aneh, tetapi... Ya sudahlah pikir Grace, tidak ada gunanya juga memikirkan hal-hal aneh.
Kriiiing.... Bel sekolah berdering.
Semua murid XI-IPB mulai memasuki ruang kelas. Ruang kelas menjadi semakin ramai dengan obrolan, gelak tawa dan teriakan 20 murid kelas bahasa yang terkenal bawel dan usil. Dalam sekejab suara gaduh itu menjadi hening. Ibu Saly, guru muda sastra Indonesia yang terkenal killer mulai memasuki ruangan.
“Selamat pagi anak-anak”
“Selamat pagi bu!”
“Anak-anak, pagi ini kita kedatangan teman baru.”
“YES! Asik! Gak ada ujian puisi!!”, teriak Toni penuh kegirangan disambut tepuk tangan riuh teman-teman IPB.
“DIAM! Ujian memang ditiadakan pagi ini, tetapi akan diganti besok pagi.”
“Yah.....”, keluh 20 murid secara bersamaan.
Tok.. tok.. tok.. Seseorang mengetok pintu.
“Itu pasti dia, anak-anak tunggu sebentar”, ibu Saly mulai membuka pintu dan tersenyum pada seseorang.
“Anak-anak, perkenalkan ini teman baru kita Fransisco”.
Sesosok pemuda dengan wajah yang sangat rupawan, berkulit coklat, berpostur tubuh tinggi, tegap dan.... wow! Memukau! Terdengar bisik-bisik diantara 14 gadis-gadis yang sepertinya terkagum-kagum, sedangkan keenam pemuda hanya berdeham dan menggelengkan kepala; sepertinya akan ada yang menyaingi mereka sebentar lagi.
“Ayo Fransisco, perkenalkan dirimu”, pinta ibu Saly sambil tersenyum-senyum, hmmm... sepertinya ibu Saly juga ikut terpukau ketampanan Fransisco.
“Ehm..”, dehaman suaranya berat tetapi lembut, membuat hati gadis-gadis yang mendengarnya melonjak.
“Nama saya Fransisco Danielle, tetapi saya lebih suka dipanggil Danielle atau Danil. Saya pindah dari SMA Santo Yakobus kelas XI-IPB juga”. Danielle menutup presentasinya dengan senyum memukau.
“Anak-anak ada yang mau bertanya?” tampak tangan-tangan terangkat ke atas, siap melontarkan pertanyaan.
“Oke karena Lila yang mengangkat tangan terlebih dahulu, silahkan ajukan pertanyaanmu.”
“Ehm... Danil, udah punya pacar belum?”
“Wooo nyari kesempatan wooo!”, pertanyaan Lila disambut dengan sorakan teman-teman sekelas.
“Pertanyaan kamu tidak penting Lila, tapi... kamu emang masih single gak Dan?”, tanya ibu Saly dengan senyum genit. Tetapi kali ini tidak ada yang berani menyoraki pertanyaan ibu Saly, yang terdengar hanya bisik-bisik dan tawa kecil.
“Belum”, jawab Danielle singkat, mulai terdengar bisik-bisik “yes!”, “asik!”.
“Pertanyaan selanjutnya kamu yang pilih.”
Danielle terdiam sejenak memandangi tangan-tangan yang terangkat, tetapi pandangannya tertuju pada satu orang yang dudu ditengah kelas yang hanya melipat manis tangannya.
“Ehm, lo gak mau nanya apa-apa?” tanya Danielle pada Grace. Mata Grace terbelalak kaget sementara dari setiap sudut ruangan terdengar suara anak-anak terkesiap kaget dan beberapa desisan sinis.
“Eng... Enggak kok”, jawab Grace, wajahnya memerah karena ia merasakan setiap mata tertuju padanya.
“Kalau gitu, gue yang tanya ya. Siapa nama lo?” tanya Danielle sambil datang menghampiri Grace dan menyodorkan tangannya.
“Oh... ehm... nama gue Gracia Danielle, biasa dipanggil Grace. Salam kenal.”
“Salam kenal juga Grace. Ternyata nama belakang kita sama ya?”, senyuman lebar merekah di bibir Danielle, membuatnya terlihat semakin manis.
“ Ehm, kalau boleh tau hobi lo apa ya?” tanya Grace.
“Lho? Katanya tadi gak mau nanya, kok sekarang nanya?”, pipi Grace memerah kembali saat Danielle bertanya balik.
“Hahaha, sorry sorry Grace, gue bercanda, hobi gue main musik, kalau lo?”
“Ehm. Danielle, ini adalah sesi tanya jawab kelas bukan pribadi”, ibu Saly menyangga pertanyaan Danielle.
“Oh iya. Maaf bu, saya kebablasan”, jawab Danielle.
“Tidak apa-apa. Ayo maju ke depan kelas lagi.”
“Ehm... Grace kita lanjutin pas istirahat nanti ya”, bisik Danielle pada Grace. Gadis-gadis di kelas itu semakin memandang iri ke arah Grace.
“Oke anak-anak, ada yang mau bertanya lagi?”. Tetapi kali ini tidak ada satu tangan pun yang terangkat.
“Sepertinya sudah tidak ada yang mau bertanya lagi. Ya sudah, kalian bisa lanjutkan pertanyaan kalian sambil jalan. Danielle, silahkan pilih tempat dudukmu”, ibu Saly mempersilahkan Danielle duduk. Daniell memilih duduk di meja kosong urutan ke dua dari depan, tepat di depan Grace.
“Oke anak-anak 3 jam ke depan kita akan memperdalam materi puisi baru Indonesia. Oh sebelumnya, Danil, materi kamu sudah sampai mana?”
“Sama ibu, terakhir kelas saya membahas soal puisi mbeling karya Remy Sylado.”
“Bagus sekali! Karena hari ini kita akan membahas bentuk puisi mbeling juga. Oke, anak-anak kumpulkan PR contoh puisi mbeling yang saya minta kemarin.”
Semua anak mulai maju ke depan mengumpulkan puisi. Tiba-tiba
“AAAAAAAA!”, Grace berteriak keras.
“Ada apa Grace??”, tanya bu Saly kaget.
Wajah Grace sangat ketakutan, ia hanya terisak-isak, matanya berlinang air mata. Danielle mendatangi Grace dan mengambil tas yang Grace pangku. Danielle menemukan ada 2 ekor tikus buduk besar di dalam tas Grace.
“EH! Siapa yang masukin tikus ke tas Grace?!”, tanya Danielle dengan nada kesal.
“Ada apa Danielle?”, tanya bu Saly.
“Ada orang yang masukin tikus ke dalam tas Grace bu”
“Selalu saja kalian mem-bully Grace! Ada apa ini? Sekarang yang merasa memasukan tikus ke dalam tas Grace maju ke depan kelas!”
Ketegangan meliputi kelas selama beberapa menit, murid-murid duduk terdiam dan kaku.
“CEPAT! Atau kalian semua, kecuali Grace dan Danielle akan saya skors!”
Bisik-bisik kembali memenuhi kelas. Lila, Sela dan Toni tampak gelisah, perlahan tapi pasti mereka berdiri dari tempat duduk mereka.
“Kami yang bersalah bu”, ucap Lila mewakili teman-temannya.
***
Kriiing.....
Tiga jam berlajar sastra Indonesia pun berlalu, bel istirahat berbunyi, semua murid XI IPB berjalan keluar kelas, kecuali Lila, Sela dan Toni. Dari jendela luar kelas tampak mereka sedang duduk di pojok kelas menyalin catatan dari beberapa buku paket ke dalam sebuah buku catatan, sepertinya bu Saly menghukum mereka untuk membuat rangkuman materi dari awal hingga akhir semester, ckckck.
Sementara, di taman sekolah duduk Grace yang sedang membaca novel sambil mengunyah beberapa potong kentang goreng. Danielle yang melihat Grace sedang menyendiri langsung menghampirinya lalu duduk di sebelah kanan Grace.
“Ehm. Hai. Sendirian aja?”
Grace hanya terpaku menatap Danielle yang duduk begitu dekat dengannya.
“Kok bengong sih? Kenapa? Takut sama gue? Hahaha”
“Hahaha, enggak lah, ia gue sendirian aja.”
Danielle tersenyum melihat Grace tertawa lepas, sepertinya ada hal berbeda yang mengagumkan dari gadis ini?
“Emm, Grace, kenapa sih lo keliatan kaku banget di dalam kelas?”
“Hah? Kaku? Maksud lo?”
“Ya begitu, yang gue amati seharian ini, lo selalu diem, saat temen-temen lagi asik ngobrol lo cuma baca-baca buku atau nyalin catetan atau pas yang lain udah mulai ngantuk lo masih aja fokus dengerin bu Saly berkotbah, heran gue sama lo”
“Ehm... Danil, jadi dari tadi lo meratiin gue doang nih di kelas?”, tanya Grace polos.
Suasana canggung terbentang di antara mereka, Danielle mulai salah tingkah dan Grace tiba-tiba mengunyah kentang gorengnya lebih cepat, “bodoh!” ucap Grace dalam hati pada dirinya.
“Ehm maksud gue...”, Danielle dan Grace mengucapkan frasa yang sama bersamaan. Danielle tersenyum menatap Grace, sementara Grace merasakan wajahnya memerah mulai tersenyum juga.
“Hahahahaha...”, tawa terlepas dari senyum mereka berdua.
“Ah, apaan sih lo Dan?!”
“Lho? Apanya yang apaan??”
“Ngapain sih senyum-senyum kayak tadi?”
“Lo malu ya gue liatin? Atau lo suka gue senyumin? Atau mungkin lo malu-malu tapi suka sama gue? Hahahahaha”, ucap Danielle sambil tersenyum lebar menatap Grace.
“Idih! Pede banget sih? Baru aja kenal masa udah suka? Gak mungkinlah Nil”.
“Ehm, lo pernah denger yang namanya cinta pandangan pertama gak?”
“Sering banget, apalagi di novel-novel atau cerpen remaja, tapi gue gak percaya tuh”.
“Yap, lo gak percaya karena belum pernah merasakan, iya kan?”
“Errr... Iya sih, tapi gak logis aja, masa baru kenal udah jatuh cinta?”
“Hahaha... Grace... Grace... Makanya jangan sering melogika segala hal, ada beberapa hal yang cuma butuh perasaan kok Grace, contohnya..... cinta”.
“Ehm, cinta itu kan cuma hormon, gak lebih dari itu, buat apa terus-terusan dirasain kalau ujung-ujungnya selalu nyakitin”.
“Itu kan kata teori, kata novel-novel dan cerpen remaja yang lo baca Grace”.
Grace hanya terdiam, berpikir, berusaha mendebat pernyataan Danielle, tetapi sial, pernyataan Danielle mutlak benar.
“Atau lo pernah patah hati ya Grace?”
Mata Grace terbelalak lebar, ia menatap heran pada Danielle.
“Eng... Iya...”
“Oh, pantesan. Tapi baguslah”. Ucap Danielle enteng.
“Apa? Bagus? Gara-gara kejadian itu gue gak bisa fokus belajar selama sebulan, nilai gue jatuh, prestasi gue berantakan, itu gara-gara dia!”
“Tenang Grace, tenang. Kalo boleh tahu gimana ceritanya?”
“Kejadiaanya udah 3 bulan yang lalu, dia ninggalin gue pergi gitu aja, dia lanjutin sekolah ke luar negeri, tapi dia gak bilang apa-apa sama gue, dia cuma ninggalin surat mohon maaf doang. Gak ada perpisahan, gak ada pertemuan terakhir. Bahkan dia udah punya cewe di sana”, tutur Grace penuh rasa kesal.
“Lo masih sayang sama dia?”
“Enggak. Udah gak ada rasa apa-apa lagi.”
“Lo masih benci sama dia?”
Grace terdiam sesaat.
“Enggak. Lagi pula gak ada untungnya dendam sama dia.”
“Ehm.. Grace, gue rasa lo harus maafin dia.”
“Maksud lo?”
“Mungkin lo udah gak mau ambil pusing soal masalah lo sama dia. Tapi dari lubuk hati lo yang paling dalam belum ada pengampunan buat dia. Coba liat diri lo tadi di kelas, lo bener-bener orang yang membosankan, pendiem, kaku, geek lah padahal penampilan luar lo jauh dari kata membosankan. Lo masih terbawa suasana hati lo yang jengkel dan benci sama cowo lo sampai-sampai lo gak bisa tampil jadi diri lo sendiri kayak sekarang; yang cerewet, bawel, lucu, riang. Ehm... gimana Grace?”
“Tapi kan....”
“Demi kebaikan lo Grace”
Grace hanya terdiam. Ia menundukan wajah memandangi sampul novel yang ia baca. Beberapa saat keheningan mengisi waktu. Danielle terus menunggu reaksi Grace.
Kemudian Grace mengangkat wajahnya, menatap Danielle dan tersenyum.
“Yah, memang seharusnya gue maafin dia”.
“Lantas? Tindakan nyata lo?”
“Hari ini gue mau hubungin dia. Gue berharap aja, semoga nomor yang dia kasih masih sama, atau mungkin lewat chat juga bisa”
“Bagus Grace!”, Danielle tersenyum kembali menatap Grace.
“Ehm by the way Grace, waktu itu gimana sih proses lo bisa jadian sama dia?”
“Oh iya gue belum cerita, nama dia Mike. Prosesnya? Bisa dibilang kami jatuh cinta pada pandangan pertama”, mata Grace menerawang jauh.
“Terus?”
“Yah gitu, setelah PDKT beberapa minggu kita jadian. Ehm baru jadian 2 bulan udah ditinggal pergi gue. Hmm”
“Gak apa-apa Grace, jangan patah harapan, asal lo juga ubah pembawaan diri lo, jangan tampil kayak geek. Gak heran temen-temen jadi suka isengin lo.”
“Iya sih, gue udah capek juga diisengin terus”.
“Tenang, jangan takut ada yang isengin lo. Ada gue di sini”, ucap Danielle sambil menepuk dada.
“Iya yah ada body guard gratisan, hahaha. Bercanda Dan. Eh, thanks banget loh udah mau jadi temen sharing dan ngasih gue pemecahan masalah. Lega rasanya setelah 3 bulan mendem sendiri hari ini ada lo yang mau jadi temen sharing gue”, Grace tersenyum lebar menatap Danielle.
Danielle merangkul pundak Grace sambil berkata, “itulah gunanya teman, Grace”.
“Iya Dan, teman”, Grace merangkul pundak Danielle juga.
“Ehm... Grace..”
“Ya Dan?”
“Apa lo udah percaya dengan cinta pandangan pertama?” Danielle menatap dalam ke mata Grace sambil tersenyum.
Grace membalas tatapan Danielle dan tersenyum.
“Seperti yang dikatakan novel-novel dan cerpen remaja”. Jawab Grace sambil tersenyum lebar pada Danielle.
Aku bangga mengenal kalian.
Semakin hari ku sadari, pribadi kalian tumbuh menjadi lebih dewasa.
Banyak hal-hal baru yang mengejutkan yang aku temukan dalam diri kalian.
Aku bangga bisa mengenal kalian.
Aku sayang kalian.
Walau terkadang kalian mengecewakan aku,
kalian lah orang-orang yang paling aku cintai di dunia ini.
Rasanya, aku yang lebih sering mengecewakan kalian.
Sudah tak terhitung berapa deret bilur
yang ku gores pada hati kalian.
Tetapi kalian selalu ada untukku.
Aku senang belajar dari kalian.
Kalian berhasil membuka kelopak mata hatiku.
Kalian tunjukan padaku, apa itu dunia.
Kalian ajari aku, apa itu pengetahuan.
Kalian yang mengajari aku merajut hidup dan mimpi-mimpiku.
Aku bangga memiliki kalian.
Tuhan sangat baik padaku.
Ia tidak memberikan buli-buli emas.
Ia tidak menyediakan anggur manis untuk pestaku.
Ia tidak membaringkanku di ranjang yang nyaman.
Tetapi Ia memberi emas terbaik,
anggur termanis
dan ranjang terhangat dan ternyaman untukku,
yaitu kalian.
Semakin hari ku sadari, pribadi kalian tumbuh menjadi lebih dewasa.
Banyak hal-hal baru yang mengejutkan yang aku temukan dalam diri kalian.
Aku bangga bisa mengenal kalian.
Aku sayang kalian.
Walau terkadang kalian mengecewakan aku,
kalian lah orang-orang yang paling aku cintai di dunia ini.
Rasanya, aku yang lebih sering mengecewakan kalian.
Sudah tak terhitung berapa deret bilur
yang ku gores pada hati kalian.
Tetapi kalian selalu ada untukku.
Aku senang belajar dari kalian.
Kalian berhasil membuka kelopak mata hatiku.
Kalian tunjukan padaku, apa itu dunia.
Kalian ajari aku, apa itu pengetahuan.
Kalian yang mengajari aku merajut hidup dan mimpi-mimpiku.
Aku bangga memiliki kalian.
Tuhan sangat baik padaku.
Ia tidak memberikan buli-buli emas.
Ia tidak menyediakan anggur manis untuk pestaku.
Ia tidak membaringkanku di ranjang yang nyaman.
Tetapi Ia memberi emas terbaik,
anggur termanis
dan ranjang terhangat dan ternyaman untukku,
yaitu kalian.
Malam ini akan menjadi acara perenungan yang panjang bagi gue. Terbukti, hingga detik ini pikiran gue masih dilintasi banyak pertanyaan dan jawaban-jawaban yang masih belum bisa gue tangkap. Dengan bantuan segenggam es krim coklat; gue mencoba menyusun semua itu lewat tulisan ini. :)
Interlude: Setelah kesepakatan bersama, malam ini gue dan regu 4 (regu saat Youth Camp) gathering untuk Brother Keeper, hal pertama yang gue denger tentang Brother Keeper adalah kegiatan ini merupakan acara kebersamaan untuk sharing, berbagi pengalaman dan dukungan. Dalam imajinasi gue, Brother Keeper ini akan mirip dengan kegiatan Komsel. TERNYATA! Brother Keeper pertama gue ini memberi jawaban yang lain dari pada yang lain :D
Gue kira hari ini kita akan membahas soal firman atau hal sejenisnya yang "berat-berat", ternyata malam ini kita sharing, mengenang kenangan masa lalu. Di antara sekian kenangan, hanya kenangan saat LTC yang bisa gue rasain kembali. Selebihnya temen-temen gue mulai nge-random pengalaman mereka saat kegiatan-kegiatan bersama lainnya, soal pelayanan dan lain-lain. Nah... Di saat ini gue cuma bisa diem, membayangkan yang mereka ceritakan dan ikut tertawa; ikut terlarut di dalam atmosfer kebahagiaan yang tercipta.
Dalam hati gue cuma berkata: Astaga! Sudah berapa momen indah yang gue lewati selama 2 tahun menghilang?? Menghilang menuju gemerlap kegelapan hidup duniawi.
Selama perjalanan pulang, ada perasaan yang berusaha menembus jantung gue.
Gue teringat kata-kata yang sering gue ucapin, untaian kata yang gak pernah absen dari bibir gue, "hidup gue kok bosenin sih?" atau "gue bosen hidup" (penegasan: dalam konteks ini gue gak berniat untuk mati muda!) atau sebuah kata singkat dan padat "bosan".
Egois. Yap, dalam diri manusia sudah tertanam sifat egois, entah kapan ada benih egois yang tersebar dalam hati manusia hingga benih itu tumbuh menjalar dan akarnya merasuk kedalam diri manusia.
Kalau melihat kembali perjalanan hidup gue, bisa dibilang hidup gw penuh dengan kepuasan, kenikmatan; party, hang out, shopping, lunch, gathering, watching movies, not only studying at home like a freak-geek. Intinya hidup gue gak membosankan, tetapi tetap saja ada yang terasa membosankan di sini.
Walaupun bisa bertahan dengan kehidupan yang terasa sama aja, tapi gue selalu ingin sesuatu yang baru, aktif dan seru.
Ternyata gue menemukan jawabannya. Ada sesuatu yang tidak seimbang sehingga hidup gue jadi terasa membosankan. Gue terlalu sibuk memberi asupan bagi daging gue sementara rohani gue mulai terkikis. Percaya tidak percaya, kedua hal ini harus seimbang, tidak berlebih ke kanan ataupun ke kiri. Kacau banget rasanya hidup gue waktu masih sangat duniawi; hampir setiap minggu gue ngambur-ngamburin duit dari bokap, bahkan tabungan gue makin menipis gara-gara kemarukan gue, yang suka ngumpul-ngumpul, hang out, makan-makan, belanja baju, dateng ke pesta-pesta, pokoknya hidup hura-hura itu asik deh bahkan selalu aja setiap satu acara berakhir, ada aja acara baru yang dateng lagi, lagi dan lagi... Terus, sampai gue bingung harus datang ke acara yang mana. Gue semakin kecanduan hal-hal hura-hura hingga pada satu kesempatan gue memutuskan untuk keluar dari gaya hidup semacam ini. Capek mann tiap minggu pulang malem -.-".
Sekarang gue udah komitmen sama diri gue, nyokap dan juga Tuhan, kalo gue berusaha membendung hasrat hura-hura itu. Terkadang ada saatnya kita harus santai, tetapi ada saatnya juga kita harus fokus bekerja; yang gue alami dalam hal ini adalah study dan pelayanan. Gue tegaskan, ini gak mudah kawan, terkadang gue harus dilanda rasa bimbang antara ikut ngumpul makan siang atau pulang ke rumah mengerjakan tugas proyek, atau pergi ngumpul bersama untuk acara ngobrol-ngobrol dan makan bersama saat akhir pekan atau bertanggung jawab dalam pelayanan. Hal-hal kecil ini tidak sepele dan perlu pertimbangan matang. Seperti yang dikatakan Alice Cullen dalam Twilight bahwa setiap keputusan yang diambil manusia akan mengubah kehidupannya kelak di masa depan. Gue hanya bisa membayangkan saja apa yang gue inginkan di masa depan nanti, tetapi gue gak tau bagaimana gue di masa depan nanti :).
Terkadang gue sebel sendiri dengan keputusan yang gue ambil belakangan ini yang mulai merubah hidup gw 90 derajat, gue mulai lebih fokus dengan PR dan tugas-tugas gue di rumah dan setiap hari kegiatan di luar rumah (setelah pulang sekolah) lebih terfokus pada Gereja. Gue pernah bertanya sendiri, "apakah gaya hidup gue saat ini terkesan old-fashion, kuno?", karena beberapa kesempatan bersenang-senang gue tolak dengan alasan belajar, ngerjain tugas ataupun pelayanan. Tetapi setelah gue diem sejenak, jawaban yang muncul adalah.... "enggak, justru ini gaya hidup yang sangat wajar dan modern".
Kapan lagi di zaman yang dilingkup paham hedonisme dan semua hal serba individu seperti ini, orang mau mengutamakan hal spiritual dan kebersamaan dalam komunitas?
Kapan lagi di zaman yang serba realistis; nyata dan berwujud ini orang mau berjuang untuk sebuah mimpi? Entahlah, mumgkin perasaan gue doang, tapi beberapa orang udah gak percaya dengan sebuah mimpi, mereka selalu menyusun rencana masa depan mereka dengan hal-hal yang realistis dan penuh pertimbangan demi mencapai keuntungan-keuntungan.
Naif. Yap, gue akui gue cuma sang pemimpi yang naif, polos dan blak-blakan. Gue menyusun masa depan gue dengan rentetan mimpi. Tetapi yang perlu kalian ketahui, gue bukan sekedar penonton mimpi, tetapi gue lah pencipta mimpi-mimpi itu. Mimpi itu terasa semakin nyata setiap kali gue mengambil sebuah keputusan kecil. Gue gak perlu berpikir muluk-muluk, seperti hal yang sedang hangat dibicarakan angkatan gue: mempertimbangkan dengan matang apa pilihan kuliah yang paling menjamin di masa depan dan pekerjaan apa yang paling menjanjikan dan memberi keuntungan besar.
Yang gue pikirkan malah apa sesuatu yang sangat gue sukai dan gue menguasai itu, maka gue akan mengambil itu. Polos... iya gue polos banget, sangkin polosnya gue gak pernah mikirin sebesar apa keuntungan yang gue ingin raih.
Ingin melihat simulasi mimpi gue?
Mari, sini gue akan menunjukan sesuatu:
Gue pengen jadi penulis yang menerbitkan buku, menyumbang sesuatu dari Indonesia dan untuk Indonesia. Lalu gue pengen banget terbang ke Prancis, jujur di tengah arus teknologi modern, gue masih gak tahu banyak hal tentang Prancis, tetapi hasrat gue menggebu-gebu pengen ke sana dan menulis sesuatu tentang Prancis dan untuk Prancis :), baru deh gue mau keliling dunia :)
Gue juga pengen banget membangun perpustakaan kota, yang lengkap, modern dan cozy. Gue pengen minat membaca orang-orang bisa tumbuh :)
Gue mau terus melayani dengan talenta bermain Piano yang udah Tuhan kasih,gw pengen nangis tiap kali menyadari betapa bodohnya gue nyia-nyiain talenta ini selama bertahun-tahun
Lantas, terkadang gue bertanya pada diri gue sendiri,
"Deb, uangnya dari mana?"
Lalu gue menjawab dengan sendiri.
"Dari Tuhan, udah tenang aja, kalau Tuhan bolehin pasti dikasih"
Untuk apa khawatir tentang apa yang mau kita makan besok, toh semua ini Tuhan yang punya, kalau kita tahu kita anakNya, ya gak usah sungkan minta, karena pasti dikasih. Seperti yang temen gue (namanya Putri) katakan, jawaban doa Tuhan itu "Iya" dan "Nanti" dan kalau seandainya gak dijawab, Tuhan pasti punya rancangan yang lebih baik! :)
Interlude: Setelah kesepakatan bersama, malam ini gue dan regu 4 (regu saat Youth Camp) gathering untuk Brother Keeper, hal pertama yang gue denger tentang Brother Keeper adalah kegiatan ini merupakan acara kebersamaan untuk sharing, berbagi pengalaman dan dukungan. Dalam imajinasi gue, Brother Keeper ini akan mirip dengan kegiatan Komsel. TERNYATA! Brother Keeper pertama gue ini memberi jawaban yang lain dari pada yang lain :D
Gue kira hari ini kita akan membahas soal firman atau hal sejenisnya yang "berat-berat", ternyata malam ini kita sharing, mengenang kenangan masa lalu. Di antara sekian kenangan, hanya kenangan saat LTC yang bisa gue rasain kembali. Selebihnya temen-temen gue mulai nge-random pengalaman mereka saat kegiatan-kegiatan bersama lainnya, soal pelayanan dan lain-lain. Nah... Di saat ini gue cuma bisa diem, membayangkan yang mereka ceritakan dan ikut tertawa; ikut terlarut di dalam atmosfer kebahagiaan yang tercipta.
Dalam hati gue cuma berkata: Astaga! Sudah berapa momen indah yang gue lewati selama 2 tahun menghilang?? Menghilang menuju gemerlap kegelapan hidup duniawi.
Selama perjalanan pulang, ada perasaan yang berusaha menembus jantung gue.
Gue teringat kata-kata yang sering gue ucapin, untaian kata yang gak pernah absen dari bibir gue, "hidup gue kok bosenin sih?" atau "gue bosen hidup" (penegasan: dalam konteks ini gue gak berniat untuk mati muda!) atau sebuah kata singkat dan padat "bosan".
Egois. Yap, dalam diri manusia sudah tertanam sifat egois, entah kapan ada benih egois yang tersebar dalam hati manusia hingga benih itu tumbuh menjalar dan akarnya merasuk kedalam diri manusia.
Kalau melihat kembali perjalanan hidup gue, bisa dibilang hidup gw penuh dengan kepuasan, kenikmatan; party, hang out, shopping, lunch, gathering, watching movies, not only studying at home like a freak-geek. Intinya hidup gue gak membosankan, tetapi tetap saja ada yang terasa membosankan di sini.
Walaupun bisa bertahan dengan kehidupan yang terasa sama aja, tapi gue selalu ingin sesuatu yang baru, aktif dan seru.
Ternyata gue menemukan jawabannya. Ada sesuatu yang tidak seimbang sehingga hidup gue jadi terasa membosankan. Gue terlalu sibuk memberi asupan bagi daging gue sementara rohani gue mulai terkikis. Percaya tidak percaya, kedua hal ini harus seimbang, tidak berlebih ke kanan ataupun ke kiri. Kacau banget rasanya hidup gue waktu masih sangat duniawi; hampir setiap minggu gue ngambur-ngamburin duit dari bokap, bahkan tabungan gue makin menipis gara-gara kemarukan gue, yang suka ngumpul-ngumpul, hang out, makan-makan, belanja baju, dateng ke pesta-pesta, pokoknya hidup hura-hura itu asik deh bahkan selalu aja setiap satu acara berakhir, ada aja acara baru yang dateng lagi, lagi dan lagi... Terus, sampai gue bingung harus datang ke acara yang mana. Gue semakin kecanduan hal-hal hura-hura hingga pada satu kesempatan gue memutuskan untuk keluar dari gaya hidup semacam ini. Capek mann tiap minggu pulang malem -.-".
Sekarang gue udah komitmen sama diri gue, nyokap dan juga Tuhan, kalo gue berusaha membendung hasrat hura-hura itu. Terkadang ada saatnya kita harus santai, tetapi ada saatnya juga kita harus fokus bekerja; yang gue alami dalam hal ini adalah study dan pelayanan. Gue tegaskan, ini gak mudah kawan, terkadang gue harus dilanda rasa bimbang antara ikut ngumpul makan siang atau pulang ke rumah mengerjakan tugas proyek, atau pergi ngumpul bersama untuk acara ngobrol-ngobrol dan makan bersama saat akhir pekan atau bertanggung jawab dalam pelayanan. Hal-hal kecil ini tidak sepele dan perlu pertimbangan matang. Seperti yang dikatakan Alice Cullen dalam Twilight bahwa setiap keputusan yang diambil manusia akan mengubah kehidupannya kelak di masa depan. Gue hanya bisa membayangkan saja apa yang gue inginkan di masa depan nanti, tetapi gue gak tau bagaimana gue di masa depan nanti :).
Terkadang gue sebel sendiri dengan keputusan yang gue ambil belakangan ini yang mulai merubah hidup gw 90 derajat, gue mulai lebih fokus dengan PR dan tugas-tugas gue di rumah dan setiap hari kegiatan di luar rumah (setelah pulang sekolah) lebih terfokus pada Gereja. Gue pernah bertanya sendiri, "apakah gaya hidup gue saat ini terkesan old-fashion, kuno?", karena beberapa kesempatan bersenang-senang gue tolak dengan alasan belajar, ngerjain tugas ataupun pelayanan. Tetapi setelah gue diem sejenak, jawaban yang muncul adalah.... "enggak, justru ini gaya hidup yang sangat wajar dan modern".
Kapan lagi di zaman yang dilingkup paham hedonisme dan semua hal serba individu seperti ini, orang mau mengutamakan hal spiritual dan kebersamaan dalam komunitas?
Kapan lagi di zaman yang serba realistis; nyata dan berwujud ini orang mau berjuang untuk sebuah mimpi? Entahlah, mumgkin perasaan gue doang, tapi beberapa orang udah gak percaya dengan sebuah mimpi, mereka selalu menyusun rencana masa depan mereka dengan hal-hal yang realistis dan penuh pertimbangan demi mencapai keuntungan-keuntungan.
Naif. Yap, gue akui gue cuma sang pemimpi yang naif, polos dan blak-blakan. Gue menyusun masa depan gue dengan rentetan mimpi. Tetapi yang perlu kalian ketahui, gue bukan sekedar penonton mimpi, tetapi gue lah pencipta mimpi-mimpi itu. Mimpi itu terasa semakin nyata setiap kali gue mengambil sebuah keputusan kecil. Gue gak perlu berpikir muluk-muluk, seperti hal yang sedang hangat dibicarakan angkatan gue: mempertimbangkan dengan matang apa pilihan kuliah yang paling menjamin di masa depan dan pekerjaan apa yang paling menjanjikan dan memberi keuntungan besar.
Yang gue pikirkan malah apa sesuatu yang sangat gue sukai dan gue menguasai itu, maka gue akan mengambil itu. Polos... iya gue polos banget, sangkin polosnya gue gak pernah mikirin sebesar apa keuntungan yang gue ingin raih.
Ingin melihat simulasi mimpi gue?
Mari, sini gue akan menunjukan sesuatu:
Gue pengen jadi penulis yang menerbitkan buku, menyumbang sesuatu dari Indonesia dan untuk Indonesia. Lalu gue pengen banget terbang ke Prancis, jujur di tengah arus teknologi modern, gue masih gak tahu banyak hal tentang Prancis, tetapi hasrat gue menggebu-gebu pengen ke sana dan menulis sesuatu tentang Prancis dan untuk Prancis :), baru deh gue mau keliling dunia :)
Gue juga pengen banget membangun perpustakaan kota, yang lengkap, modern dan cozy. Gue pengen minat membaca orang-orang bisa tumbuh :)
Gue mau terus melayani dengan talenta bermain Piano yang udah Tuhan kasih,
Lantas, terkadang gue bertanya pada diri gue sendiri,
"Deb, uangnya dari mana?"
Lalu gue menjawab dengan sendiri.
"Dari Tuhan, udah tenang aja, kalau Tuhan bolehin pasti dikasih"
Untuk apa khawatir tentang apa yang mau kita makan besok, toh semua ini Tuhan yang punya, kalau kita tahu kita anakNya, ya gak usah sungkan minta, karena pasti dikasih. Seperti yang temen gue (namanya Putri) katakan, jawaban doa Tuhan itu "Iya" dan "Nanti" dan kalau seandainya gak dijawab, Tuhan pasti punya rancangan yang lebih baik! :)
Suatu hari Mee Maisalf mengirim surat pada Seorang Sahabat, yaitu Kawan.
Dear Kawan,
Ini lanjutan suratku untuMu tentang dia. Dia, seseorang yang pernah aku ceritakan kepadaMu. Aku harap Kau bisa membantuku.
Entahlah Kawan, ada perasaan yang aneh setiap kali aku melihat apalagi menatapnya.
Ya... Menatap wajah datar, kurang berekspresi, bibir yang jarang melengkung dan senyum yang kering. Bahkan... Ia sama sekali tidak tampan. Aneh, aku bisa tersenyum sendiri jika memandang wajahnya.
Apakah ini ilusi atau perasaanku yang berlebihan saja, tetapi setiap kali aku menatapnya, aku bisa merasakan pancaran dari dalam tubuhnya. Pancaran kewibawaan; tenang, damai dan penuh kesabaran.
Ia... tampak manis saat tersenyum, bahkan aku bisa tertawa saat melihat ia tersenyum kecut, ia tampak lucu.
Kawan, mungkin Kau berpikir aku ini sedang jatuh cinta.
Ku tekankan padaMu, aku tidak cinta padanya.
Aku tidak ingin mencintainya,sudah cukup bagiku terluka karena cinta.
(lupakan!)
(tenang Kawan, aku sudah tidak terluka lagi, percayalah :D)
Tetapi, aku merasakan hal lain.
Aku menyayanginya.
Sayang, bukan sekedar cinta yang sering tak beralasan.
Aku menyayanginya, sosok yang sangat berarti bagiku, entahlah sebagai teman, sahabat atau kakak.
Jujur,
pernah terlintas di benak ku, aku ingin menjadi kekasihnya. Ingin memandangi matanya seharian, memeluk tubuhnya, mengecup pipinya atau bersandar di bahunya. Tetapi aku terus menampik bayangan itu, aku tidak ingin menjadi kekasihnya terlebih dahulu. Aku ingin merajut persahabatan yang istimewa dengannya.
Aku tidak mau menodai persahabatan kami dengan rasa cinta.
Ya... cinta remaja labil; cinta sesaat, bak tebu habis manis sepah dibuang.
Aku... Menyayanginya
Sahabatku, kawanku, temanku, kakakku... Si Misterius.
Kawan, bukakan mata hatiku, ajari aku agar tidak sekedar mencintai ataupun sayang padanya.
Ajari aku bagaimana harus mengasihi dia.
Aku sayang padanya.
Aku ingin mengasihi dia, apa adanya.
Dear Kawan,
Ini lanjutan suratku untuMu tentang dia. Dia, seseorang yang pernah aku ceritakan kepadaMu. Aku harap Kau bisa membantuku.
Entahlah Kawan, ada perasaan yang aneh setiap kali aku melihat apalagi menatapnya.
Ya... Menatap wajah datar, kurang berekspresi, bibir yang jarang melengkung dan senyum yang kering. Bahkan... Ia sama sekali tidak tampan. Aneh, aku bisa tersenyum sendiri jika memandang wajahnya.
Apakah ini ilusi atau perasaanku yang berlebihan saja, tetapi setiap kali aku menatapnya, aku bisa merasakan pancaran dari dalam tubuhnya. Pancaran kewibawaan; tenang, damai dan penuh kesabaran.
Ia... tampak manis saat tersenyum, bahkan aku bisa tertawa saat melihat ia tersenyum kecut, ia tampak lucu.
Kawan, mungkin Kau berpikir aku ini sedang jatuh cinta.
Ku tekankan padaMu, aku tidak cinta padanya.
Aku tidak ingin mencintainya,
(tenang Kawan, aku sudah tidak terluka lagi, percayalah :D)
Tetapi, aku merasakan hal lain.
Aku menyayanginya.
Sayang, bukan sekedar cinta yang sering tak beralasan.
Aku menyayanginya, sosok yang sangat berarti bagiku, entahlah sebagai teman, sahabat atau kakak.
Jujur,
pernah terlintas di benak ku, aku ingin menjadi kekasihnya. Ingin memandangi matanya seharian, memeluk tubuhnya, mengecup pipinya atau bersandar di bahunya. Tetapi aku terus menampik bayangan itu, aku tidak ingin menjadi kekasihnya terlebih dahulu. Aku ingin merajut persahabatan yang istimewa dengannya.
Aku tidak mau menodai persahabatan kami dengan rasa cinta.
Ya... cinta remaja labil; cinta sesaat, bak tebu habis manis sepah dibuang.
Aku... Menyayanginya
Sahabatku, kawanku, temanku, kakakku... Si Misterius.
Kawan, bukakan mata hatiku, ajari aku agar tidak sekedar mencintai ataupun sayang padanya.
Ajari aku bagaimana harus mengasihi dia.
Aku sayang padanya.
Aku ingin mengasihi dia, apa adanya.
Salam, kecup dan pelukan hangat
SahabatMu
Mee Maisalf
Today is awesome!
Maybe I had spent a bunch of time with you, my beloved twina, I had felt a lot of amazing moment with you, but today is special. :D
Since we were in the same class in our Junior High School, we'd spent our time together; watching movies, window shopping, hanging out, sharing, and the most important thing EATING! XD (I don't know why, I always hungry all the time if I spend my time with ya :P, haha...)
Every single time we'd spent is a worth thing in my life.
Now, we've got our own choice, you've got your college and you've stayed in Kuala Lumpur, I'm happy to know that you've got many friends and you like staying there. And me... everything is same, I'm staying here, still with my beloved grey skirt and dorky High School life, well, never mind about it, coz I enjoy it. :D
Today's meeting is a rare chance, I can't keep up myself to postpone this chance.
I almost thought to cancel our meeting today for my unreasonable reason, but praise the Lord I didn't.
And always, there's no regret.
Even I'm so glad to meet you. Although you didn't bring me a chocolate (I won't stop asking for it, dammit I swear, LOL :P), but you brought something extraordinary, fresh and inspiring. Maybe your appearance, the way you act and talk do not change, but don't know how you always bring something new. Gosh! 10 for you twina!! I've learned more than enough today.
I'll pray you for best!
Never give up, always cheering, loving, caring and crazy.
My Happy Girl.
xoxo
Your buddy:
-Penyu-
Wishing we'll have another time to spend together (soon :D).
Maybe I had spent a bunch of time with you, my beloved twina, I had felt a lot of amazing moment with you, but today is special. :D
Since we were in the same class in our Junior High School, we'd spent our time together; watching movies, window shopping, hanging out, sharing, and the most important thing EATING! XD (I don't know why, I always hungry all the time if I spend my time with ya :P, haha...)
Every single time we'd spent is a worth thing in my life.
Now, we've got our own choice, you've got your college and you've stayed in Kuala Lumpur, I'm happy to know that you've got many friends and you like staying there. And me... everything is same, I'm staying here, still with my beloved grey skirt and dorky High School life, well, never mind about it, coz I enjoy it. :D
Today's meeting is a rare chance, I can't keep up myself to postpone this chance.
I almost thought to cancel our meeting today for my unreasonable reason, but praise the Lord I didn't.
And always, there's no regret.
Even I'm so glad to meet you. Although you didn't bring me a chocolate (I won't stop asking for it, dammit I swear, LOL :P), but you brought something extraordinary, fresh and inspiring. Maybe your appearance, the way you act and talk do not change, but don't know how you always bring something new. Gosh! 10 for you twina!! I've learned more than enough today.
I'll pray you for best!
Never give up, always cheering, loving, caring and crazy.
My Happy Girl.
xoxo
Your buddy:
-Penyu-
Wishing we'll have another time to spend together (soon :D).
"Siapa kita?"
"PERAJURIT KRISTUS!!", teriakan penuh semangat menggema dalam udara pegunungan yang dingin di puncak.
Sungguh luar biasa, pengalaman yang sangat tidak terlupakan saat camping bersama teman-teman Gereja. Dengan perlengkapan terbatas kami harus bertahan selama 3 hari 2 malam dalam pelatihan Leadership Teamwork Character. Selama 17 tahun menikmati hidup, aku belum pernah merasakan bagaimana rasanya camping di hutan. Bisa dibilang ini adalah pengalaman pertamaku menikmati camping sungguhan di hutan.
Aku merasakan bagaimana harus tidur di tenda di atas matras keras yang rasanya kurang nyaman, aku harus bisa bertahan dengan pakaian yang seadanya, bertahan dengan udara dingin yang terkadang menusuk kulit dan menggetarkan tulang-tulangku.
Aku juga harus membawa barang pribadiku sendiri melewati jalan-jalan menanjak. Belum lagi berbagai permainan yang menantang adrenalinku. Aku dapat merasakan dengan nyata bagaimana tangan Tuhan menopangku, karena rasanya mustahil tubuh semungil ini bisa bertahan hingga hari terakhir. Bahkan kelompokku berhasil memperoleh pin sang singa, pin paling terbaik di antara yang terbaik.
Begitu menajubkan jika aku nemelusuri kembali jejak perjalananku.
Keikut sertaanku dalam camping ini tidak lebih dari suatu kebetulan, bahkan ada sedikit rasa keterpaksaan.
Sebenarnya, aku tidak ingin ikut Youth Camp ini dengan alasan pertama kegiatan itu dilakukan pada akhir bulan yang notabenenya adalah "hari tersulit" bagiku. kedua aku merasa malas dan tidak sanggup harus bertahan di alam terbuka; aku gak bisa masak, makan terkadang pilih-pilih, takut susah dapat sumber air untuk mandi, ketiga aku ingin segera liburan ke Bandung. Tetapi entah kenapa pada hari Sabtu saat Pra-Camp, hatiku mulai tergerak untuk ikut, karena rasa penasaran dan ingin mencoba suasana liburan yang baru (dari pada di rumah doang gak ngapa-ngapain) akhirnya akupun mendaftar. Tetapi setelah mendaftar dan merasakan pra-camp yang "seperti itu" dan ternyata aku dipilih menjadi ketuaa regu, aku jadi agak takut, ragu dan menyesal mendaftar Youth Camp, tetapi mau bagaimana lagi aku gak mau mengundurkan diri begitu aja, aku positive thinking aja "lumayan nyoba pengalaman liburan yang berbeda". Akhirnya dengan napas yang mulai terengap-engap aku mengumpulkan keberanian untuk ikut Youth Camp dan mempersiapkan segala hal. Sangkin takutnya aku jadi sulit tidur malam itu.
Dengan persiapan yang sudah siap, akhirnya pada hari Sabtu, 25 Juni aku berangkat Youth Camp dan di sinilah perjuanganku bermula. Ternyata beban yang aku bawa selama camping bukanlah tas yang berat atau perlengkapan yang banyak, melainkan beban yang ada dalam hatiku. Beribu-ribu kepahitan yang aku simpan, itulah yang aku bawa. Pada suatu kesempatan renunang pagi bersama, pada saat semua orang bisa merasakan kehadiran Tuhan yang begitu dekat, aku malah tidak bisa merasakan apa-apa, rasanya hambar, seperti ada yang mengganjal hatiku, pintu hatiku tertahan tidak bisa terbuka untuk menerima damai ataupun sukacita. Dan Pingping (komandan) regu yang membinaku akhirnya turun tangan membantuku, ia membuka pintu hatiku, pada saat itu air mataku menderu, aku sedih mengingat kebencian yang tersimpan dalam hatiku; kekecewaan atas masa laluku, teman dan keluargaku. Semuanya aku luapkan dan Dan Pingping berusaha memberiku solusi, aku harus mengampuni mereka, aku harus menyatakan kejujuran; betapa kecewanya aku pada mereka (tertama orang tuaku) dan rasanya lega sekali ketika aku mulai bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam hatiku.
Setelah melewati berbagai simulasi, hatiku semakin terbuka; segala amarah, kesedihan, kekecewaan terangkat berganti dengan sukacita yang luar biasa. Kalau selama ini biasanya hatiku dipenuhi kesedihan, air mata kepedihan selalu menetes, tetapi lain sekali rasanya dari yang kurasakan, aku merasa bahagia, senyuman merekah dari hatiku :) bahkan tidak ada setetes air mata yang turun dari mataku, luar biasa sekali rasanya :D
Dengan pemulihan yang aku dapat dari Tuhan, aku berkomitmen untuk selalu menjaga hatiku, aku tidak mau merusak hatiku lagi. Biarlah hati yang sepahit sari empedu berlalu, digantikan dengan hati semanis madu :)
Hebat, hati yang mau mengampuni, jujur dan tulus tidak akan pernah menyimpan kepahitan.
"PERAJURIT KRISTUS!!", teriakan penuh semangat menggema dalam udara pegunungan yang dingin di puncak.
Sungguh luar biasa, pengalaman yang sangat tidak terlupakan saat camping bersama teman-teman Gereja. Dengan perlengkapan terbatas kami harus bertahan selama 3 hari 2 malam dalam pelatihan Leadership Teamwork Character. Selama 17 tahun menikmati hidup, aku belum pernah merasakan bagaimana rasanya camping di hutan. Bisa dibilang ini adalah pengalaman pertamaku menikmati camping sungguhan di hutan.
Aku merasakan bagaimana harus tidur di tenda di atas matras keras yang rasanya kurang nyaman, aku harus bisa bertahan dengan pakaian yang seadanya, bertahan dengan udara dingin yang terkadang menusuk kulit dan menggetarkan tulang-tulangku.
Aku juga harus membawa barang pribadiku sendiri melewati jalan-jalan menanjak. Belum lagi berbagai permainan yang menantang adrenalinku. Aku dapat merasakan dengan nyata bagaimana tangan Tuhan menopangku, karena rasanya mustahil tubuh semungil ini bisa bertahan hingga hari terakhir. Bahkan kelompokku berhasil memperoleh pin sang singa, pin paling terbaik di antara yang terbaik.
Begitu menajubkan jika aku nemelusuri kembali jejak perjalananku.
Keikut sertaanku dalam camping ini tidak lebih dari suatu kebetulan, bahkan ada sedikit rasa keterpaksaan.
Sebenarnya, aku tidak ingin ikut Youth Camp ini dengan alasan pertama kegiatan itu dilakukan pada akhir bulan yang notabenenya adalah "hari tersulit" bagiku. kedua aku merasa malas dan tidak sanggup harus bertahan di alam terbuka; aku gak bisa masak, makan terkadang pilih-pilih, takut susah dapat sumber air untuk mandi, ketiga aku ingin segera liburan ke Bandung. Tetapi entah kenapa pada hari Sabtu saat Pra-Camp, hatiku mulai tergerak untuk ikut, karena rasa penasaran dan ingin mencoba suasana liburan yang baru (dari pada di rumah doang gak ngapa-ngapain) akhirnya akupun mendaftar. Tetapi setelah mendaftar dan merasakan pra-camp yang "seperti itu" dan ternyata aku dipilih menjadi ketuaa regu, aku jadi agak takut, ragu dan menyesal mendaftar Youth Camp, tetapi mau bagaimana lagi aku gak mau mengundurkan diri begitu aja, aku positive thinking aja "lumayan nyoba pengalaman liburan yang berbeda". Akhirnya dengan napas yang mulai terengap-engap aku mengumpulkan keberanian untuk ikut Youth Camp dan mempersiapkan segala hal. Sangkin takutnya aku jadi sulit tidur malam itu.
Dengan persiapan yang sudah siap, akhirnya pada hari Sabtu, 25 Juni aku berangkat Youth Camp dan di sinilah perjuanganku bermula. Ternyata beban yang aku bawa selama camping bukanlah tas yang berat atau perlengkapan yang banyak, melainkan beban yang ada dalam hatiku. Beribu-ribu kepahitan yang aku simpan, itulah yang aku bawa. Pada suatu kesempatan renunang pagi bersama, pada saat semua orang bisa merasakan kehadiran Tuhan yang begitu dekat, aku malah tidak bisa merasakan apa-apa, rasanya hambar, seperti ada yang mengganjal hatiku, pintu hatiku tertahan tidak bisa terbuka untuk menerima damai ataupun sukacita. Dan Pingping (komandan) regu yang membinaku akhirnya turun tangan membantuku, ia membuka pintu hatiku, pada saat itu air mataku menderu, aku sedih mengingat kebencian yang tersimpan dalam hatiku; kekecewaan atas masa laluku, teman dan keluargaku. Semuanya aku luapkan dan Dan Pingping berusaha memberiku solusi, aku harus mengampuni mereka, aku harus menyatakan kejujuran; betapa kecewanya aku pada mereka (tertama orang tuaku) dan rasanya lega sekali ketika aku mulai bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam hatiku.
Setelah melewati berbagai simulasi, hatiku semakin terbuka; segala amarah, kesedihan, kekecewaan terangkat berganti dengan sukacita yang luar biasa. Kalau selama ini biasanya hatiku dipenuhi kesedihan, air mata kepedihan selalu menetes, tetapi lain sekali rasanya dari yang kurasakan, aku merasa bahagia, senyuman merekah dari hatiku :) bahkan tidak ada setetes air mata yang turun dari mataku, luar biasa sekali rasanya :D
Dengan pemulihan yang aku dapat dari Tuhan, aku berkomitmen untuk selalu menjaga hatiku, aku tidak mau merusak hatiku lagi. Biarlah hati yang sepahit sari empedu berlalu, digantikan dengan hati semanis madu :)
Hebat, hati yang mau mengampuni, jujur dan tulus tidak akan pernah menyimpan kepahitan.
Hidup gue dipenuhi oleh kemendadakan.
Entah mendadak jatuh cinta, mendadak laper, mendadak galau, mendadak pengen nulis cerita, mendadak pengen nonton, mendadak pengen hang out, mendadak pengen jadi vegetarian, mendadak ditunjuk jadi koordinator ticket-ing, dapet kabar dadakan kalau anggota gue gak boleh double job <--- ( yang itu beban mental -.-"), mendadak pengen punya kakak *abaikan*. Yang masih anget-anget-nya juga, gue ditunjuk pelayanan jadi keyboardist dikaum muda. Bermula saat gue duduk-duduk bengong di ruang seminar di Gereja. Maklum abis acara makan malam, bawaan gue pengennya tidur x). Tiba-tiba temen gue (sebut saja Edmund) datengin gue dan nanya kesediaan gue buat ngisi pelayanan jadi keyboardist. Mann, gue yang masi rada lola sempet bingung. Mann? Yang bener aja orang kayak gue ngisi pelayanan? --> (yang kadang-kadang ibadahnya bolong, yang pernah vakum 2 tahun non stop gak ikut ibadah kaum muda lagi; alesannya sih sibuk, hehehe :P). Tapi setelah gue inget-inget lagi, gue pernah doa sama Tuhan, minta izin supaya gue dikasih kesempatan ngisi pelayanan lagi di Gereja.
Kalau diinget-inget lagi, kisah pelayanan gue itu miris banget. Pertama kali gue gabung di ibadah kaum muda itu pas gue kelas 8, waktu itu gue iseng-iseng curhat sama temen gue (Sebut saja Ginny) dan akhirnya gue diajak ikut ibadah kaum muda. Kesan pertama, gue suka banget ibadah kaum muda kayak gini, kita bener-bener bebas berekspresi dan di sini gue bisa kenal sama temen-temen baru dan belajar banyak hal soal Alkitab, sampai akhirnya beberapa bulan kemudian ada kakak pembimbing yang nawarin gue pelayanan di keyboard, tanpa mikir panjang gue terima tawaran itu. Tetapi, karena emang dasar gue belum berkomitmen sama diri gue dan gue masih labil dan sangat duniawi (ciee elah bahasa gue xD), gue bukannya tambah rajin malah semakin jarang ibadah, gue datengnya bolong-bolong jadi 2 kali sebulan, kadang-kadang cuma sekali sebulan, sampai akhirnya ga dateng sama sekali 2 tahun ke depan. Sempet dateng juga sih waktu gue udah kelas 9, itu juga cuma beberapa kali dan kelas 10 gue gak dateng sama sekali (karena hari Sabtu gue selalu harus belajar untuk ulangan hari Senin atau hari hang out di kala stress).
Setelah masa kelas 10 yang begitu jahanam, kelas 11 gue mulai bebas, lega tanpa beban (udah masuk kelas bahasa gitu :D). Karena gak ada beban di hari Sabtu, gue berusaha mengisi kegiatan gue dengan hal bermanfaat, kadang-kadang gue baca buku, atau pergi ke rumah Dira, atau hang out sama temen, atau latihan teknik baru piano (saat itu masa-masa gue baru belajar piano) atau kadang-kadang melakukan kegiatan yang gak ada meaning-nya, entah online dari pulang sekolah-selesai atau cuma males-malesan. Tetep aja rasanya ada yang kurang, sampe suatu hari terpikir oleh gue untuk kembali ke persekutuan.
Saat mulai terpikir oleh gue untuk dateng kembali, masih ada bagian diri gue yang merasa nyaman dengan kegiatan hari Sabtu yang kadang-kadang gak ada manfaatnya sama sekali. Tapi gue pengen banget bisa pelayanan, cuma rada gak enak untuk dateng kembali ke persekutuan. Gue pun mencoba menenangkan dan meyakinkan diri gue, kalau satu saat nanti pasti ada kesempatan lain bagi gue untuk mengisi pelayanan selain di persekutuan itu.
Gak lama kemudian bener aja. Saat gue pulang Gereja hari Minggu (FYI tempat persekutuan kaum muda dan Gereja gue beda tempat). Gue dapet tawaran dari anak choir untuk pelayanan jadi anggota choir yang anggotanya juga anak-anak muda. Gue seneng banget tuh, karena biasanya gue cuma nontonin choir yang jingkrak-jingkrak di depan mimbar dan memeriahkan setiap lagu penyembahan. Akhirnya gue terima, bahkan nomor HP gue juga dicatet, untuk ngingetin supaya hari Sabtu gue dateng ke Gereja untuk latihan. Selama beberapa hari kedepan gue mulai nyiapin hati, hingga tiba hari Sabtu, gue udah dapet sms dari si kakak, TAPI... karena gw lagi bete, hari panas dan tempat latihannya jauh di BSD sana, waktunya juga jam 17.00, gue langsung angkat tangan, gak sanggup gue menuhin panggilan yang ini. Kalau dipikir, ini parah banget, karena nyatanya saat ada pesta ultah temen gue atau janji hang out hari Sabtu, hujan pun gue bela-belain dateng, dan tempatnya juga sama di BSD, malah pernah ada yang di Alam Sutra, ckckck.
Panggilan berikutnya, di Gereja gue baca buletin mingguan dan gue nemuin ada perndaftaran pelayanan Orchestra. Mann, gue udah seneng banget tuh, itu bidang gue banget musik dan belum lagi orchestra itu juga menerima alat musik Clarinet. Dengan hati menggebu-gebu gue bela-belain untuk daftar jadi anggota orchestra ini. FYI, pendaftarannya dilakukan sekaligus bersama audisinya dan di laksanakan di Senayan City 2 minggu yang akan datang pada hari Sabtu. Kali ini gue udah buat komitmen sama diri gue dan gue udah sampe buat janji sama Tuhan, apapun yang terjadi gue akan datang. Persiapan gue juga gak main-main, karena gak punya alat gue minjem Clarinet sekolah untuk latihan, gue minta bokap gue nulis surat izin (karena Audisi dilaksanakan pada pukul 14.00, sedangkan pada hari Sabtu gue ikut ekskul orchestra sampai pukul 13.00, jadi kurang lebih gue harus izin gak ikut ekskul pukul 10.00 kalau mau sampai tepat waktu), bukan cuma itu gue juga harus izin sama kepala sekolah, kepala pembina orchestra dan kakak tutornya. Tapi gue gak mau nyerah. Untungnya sahabat gue, Twina bersedia nemenin gue ke Sensi dengan kendaraan umum. Singkat cerita 2 hari sebelum hari H gw udah ngasih surat ke kepala sekolah dan minta izin, hasilnya gue di izinin tapi gak boleh keluar jam 10.00, bolehnya jam 11.30, mann -.-", tapi okelah gue terima dan satu tantangan selesai. Pada hari H gue minta izin sama kepala pembinanya, minta izin keluar orchestra jam 11.15 dan minta izin pinjem clarinet sehari aja, untungnya pembina gue ini baik dan pengertian, dengan mudah gue dikasih izin. Sambil menunggu waktu menjelang pukul 11.15, gue di kasih teknik dan kiat-kiat apa aja yang harus gue perhatiin saat audisi nanti, setelah semua fix, gue berangkat dari auditorium kembali ke gedung sekolah untuk minta surat izin keluar gerbang. Astaga udah gitu gue harus nunggu 5 menitan sampe bener-bener jam 11.30 baru gue di izinin keluar gebang sekolah,ckckck.
Gue langsung tancap gas ke rumah pake taksi, Twina udah siap sedia nunggu di situ, tanpa mandi gue langsung siapin clarinet, dompet dan isinya, pokoknya semuanya dan kami langsung cao ke terminal patas AC di Ciputat. Perjalanan berlangsung macet total, gila banget, dari rumah itu sekitar jam 13.00, kami sampe Glora Bung Karno udah 15.30, telat 1 1/2 jam, parah, udah gitu karena turunnya di Glora Bung Karno, gue harus jalan kaki lagi ke Senayan City (mau hemat ongkos), bayangin aja capeknya kayak apa itu. Tapi gue tetep komit sama diri gue, apapun yang terjadi gue harus tetep audisi, hasinya diterima atau enggak itu urusan belakangan, kata guru bahasa Indonesia gue "menang-kalah itu urusan nanti, yang penting jam terbang", gue mulai mengatur mind-set gue untuk selalu positif. Hal yang gue dapet sepanjang hari itu masih jauh lebih berharga. Ternyata audisinya gak kayak yang gue bayangin. Yang daftar audisi cuma 5 orang (termasuk gue) dan mereka semua mainnya violin dan viola. Setelah ngisi formulir, audisi pun berlangsung; waktu itu gue harus bisa improvisasi, harus bisa ngisi iringan gitu lah. Sekali denger beberapa nada keyboard gue berhasil nemuin beberapa kunci, cuma gue bingung gimana cara improvenya, di tambah lagi posisi bibir gue geser gara-gara grogi yang menyebabkan kualitas suara clarinet gue jadi jelek, ckckck. Jadi intinya, audisi gue gagal. Dan benar saja, seminggu setelah audisi gue gak dikasih kabar keterima atau nggak.
Apa yang gue rasain? Kecewa, tapi cukup sampe disitu aja, gak lebih. Karena gue udah tahu; clarinetist amatiran kayak gue pasti agak meragukan untuk diterima. Tapi hari itu gue belajar, kalau Tuhan juga gak mau dipermainkan sama halnya kayak gue yang setelah berjuang capek-capek ternyata gak lolos audisi. Kalau Tuhan berkehendak gue gak boleh ikut pelayanan Orchestra pasti Tuhan udah ngasih tanda-tanda. Selama persiapan itu gue cuma ngerasain gerak hati doang, tapi karena gue udah komit gue abaikan gerak hati gue; gue berusaha nunjukin ke Tuhan kalau gue mau serius, tapi nyatanya Tuhan lebih serius dari pada gue. Jangan pernah nyoba tantangin Tuhan deh, pasti kalah. -.-"
Setelah petulangan gue mengejar pelayanan yang cocok, gue dapet gerak hati lagi untuk kembali ke persekutuan kaum muda, kali ini gue udah menghapus rasa canggung dan gak enak gue, gue dateng ke ibadah bukan untuk temen-temen gue, tapi untuk Tuhan dan diri gue sendiri. Tanpa komitmen yang muluk-muluk, gue berusaha untuk hadir ke persekutuan. Walaupun baru beberapa minggu bergabung kembali, gue udah merasa menjadi bagian dari persekutuan lagi (domba yang hilang akhirnya pulang ke kandang xD).
Akhirnya pada malam seminar itu Tuhan mengkehendaki gue bergabung dalam pelayanan, jadi keyboardist. Gue gak berani bersumpah, tapi gue harus tetep berani berkomitmen menyempatkan diri gue ikut pelayanan. Berkat pelayanan ini, teknik belajar piano yang udah gue peroleh gak sia-sia, walaupun baru 2 minggu pelayanan, gue belajar banyak hal, gue jadi mulai rajin latihan sehingga jari-jari gue mulai melentur, belajar untuk semakin disiplin dan pastinya belajar teknik mengiringi dan lagu-lagu rohani.
Well, sepertinya gue harus semakin rajin mendengarkan lagu-lagu rohani :D.
Harus tambah playlist kalau begitu :).
Entah mendadak jatuh cinta, mendadak laper, mendadak galau, mendadak pengen nulis cerita, mendadak pengen nonton, mendadak pengen hang out, mendadak pengen jadi vegetarian, mendadak ditunjuk jadi koordinator ticket-ing, dapet kabar dadakan kalau anggota gue gak boleh double job <--- ( yang itu beban mental -.-"), mendadak pengen punya kakak *abaikan*. Yang masih anget-anget-nya juga, gue ditunjuk pelayanan jadi keyboardist dikaum muda. Bermula saat gue duduk-duduk bengong di ruang seminar di Gereja. Maklum abis acara makan malam, bawaan gue pengennya tidur x). Tiba-tiba temen gue (sebut saja Edmund) datengin gue dan nanya kesediaan gue buat ngisi pelayanan jadi keyboardist. Mann, gue yang masi rada lola sempet bingung. Mann? Yang bener aja orang kayak gue ngisi pelayanan? --> (yang kadang-kadang ibadahnya bolong, yang pernah vakum 2 tahun non stop gak ikut ibadah kaum muda lagi; alesannya sih sibuk, hehehe :P). Tapi setelah gue inget-inget lagi, gue pernah doa sama Tuhan, minta izin supaya gue dikasih kesempatan ngisi pelayanan lagi di Gereja.
Kalau diinget-inget lagi, kisah pelayanan gue itu miris banget. Pertama kali gue gabung di ibadah kaum muda itu pas gue kelas 8, waktu itu gue iseng-iseng curhat sama temen gue (Sebut saja Ginny) dan akhirnya gue diajak ikut ibadah kaum muda. Kesan pertama, gue suka banget ibadah kaum muda kayak gini, kita bener-bener bebas berekspresi dan di sini gue bisa kenal sama temen-temen baru dan belajar banyak hal soal Alkitab, sampai akhirnya beberapa bulan kemudian ada kakak pembimbing yang nawarin gue pelayanan di keyboard, tanpa mikir panjang gue terima tawaran itu. Tetapi, karena emang dasar gue belum berkomitmen sama diri gue dan gue masih labil dan sangat duniawi (ciee elah bahasa gue xD), gue bukannya tambah rajin malah semakin jarang ibadah, gue datengnya bolong-bolong jadi 2 kali sebulan, kadang-kadang cuma sekali sebulan, sampai akhirnya ga dateng sama sekali 2 tahun ke depan. Sempet dateng juga sih waktu gue udah kelas 9, itu juga cuma beberapa kali dan kelas 10 gue gak dateng sama sekali (karena hari Sabtu gue selalu harus belajar untuk ulangan hari Senin atau hari hang out di kala stress).
Setelah masa kelas 10 yang begitu jahanam, kelas 11 gue mulai bebas, lega tanpa beban (udah masuk kelas bahasa gitu :D). Karena gak ada beban di hari Sabtu, gue berusaha mengisi kegiatan gue dengan hal bermanfaat, kadang-kadang gue baca buku, atau pergi ke rumah Dira, atau hang out sama temen, atau latihan teknik baru piano (saat itu masa-masa gue baru belajar piano) atau kadang-kadang melakukan kegiatan yang gak ada meaning-nya, entah online dari pulang sekolah-selesai atau cuma males-malesan. Tetep aja rasanya ada yang kurang, sampe suatu hari terpikir oleh gue untuk kembali ke persekutuan.
Saat mulai terpikir oleh gue untuk dateng kembali, masih ada bagian diri gue yang merasa nyaman dengan kegiatan hari Sabtu yang kadang-kadang gak ada manfaatnya sama sekali. Tapi gue pengen banget bisa pelayanan, cuma rada gak enak untuk dateng kembali ke persekutuan. Gue pun mencoba menenangkan dan meyakinkan diri gue, kalau satu saat nanti pasti ada kesempatan lain bagi gue untuk mengisi pelayanan selain di persekutuan itu.
Gak lama kemudian bener aja. Saat gue pulang Gereja hari Minggu (FYI tempat persekutuan kaum muda dan Gereja gue beda tempat). Gue dapet tawaran dari anak choir untuk pelayanan jadi anggota choir yang anggotanya juga anak-anak muda. Gue seneng banget tuh, karena biasanya gue cuma nontonin choir yang jingkrak-jingkrak di depan mimbar dan memeriahkan setiap lagu penyembahan. Akhirnya gue terima, bahkan nomor HP gue juga dicatet, untuk ngingetin supaya hari Sabtu gue dateng ke Gereja untuk latihan. Selama beberapa hari kedepan gue mulai nyiapin hati, hingga tiba hari Sabtu, gue udah dapet sms dari si kakak, TAPI... karena gw lagi bete, hari panas dan tempat latihannya jauh di BSD sana, waktunya juga jam 17.00, gue langsung angkat tangan, gak sanggup gue menuhin panggilan yang ini. Kalau dipikir, ini parah banget, karena nyatanya saat ada pesta ultah temen gue atau janji hang out hari Sabtu, hujan pun gue bela-belain dateng, dan tempatnya juga sama di BSD, malah pernah ada yang di Alam Sutra, ckckck.
Panggilan berikutnya, di Gereja gue baca buletin mingguan dan gue nemuin ada perndaftaran pelayanan Orchestra. Mann, gue udah seneng banget tuh, itu bidang gue banget musik dan belum lagi orchestra itu juga menerima alat musik Clarinet. Dengan hati menggebu-gebu gue bela-belain untuk daftar jadi anggota orchestra ini. FYI, pendaftarannya dilakukan sekaligus bersama audisinya dan di laksanakan di Senayan City 2 minggu yang akan datang pada hari Sabtu. Kali ini gue udah buat komitmen sama diri gue dan gue udah sampe buat janji sama Tuhan, apapun yang terjadi gue akan datang. Persiapan gue juga gak main-main, karena gak punya alat gue minjem Clarinet sekolah untuk latihan, gue minta bokap gue nulis surat izin (karena Audisi dilaksanakan pada pukul 14.00, sedangkan pada hari Sabtu gue ikut ekskul orchestra sampai pukul 13.00, jadi kurang lebih gue harus izin gak ikut ekskul pukul 10.00 kalau mau sampai tepat waktu), bukan cuma itu gue juga harus izin sama kepala sekolah, kepala pembina orchestra dan kakak tutornya. Tapi gue gak mau nyerah. Untungnya sahabat gue, Twina bersedia nemenin gue ke Sensi dengan kendaraan umum. Singkat cerita 2 hari sebelum hari H gw udah ngasih surat ke kepala sekolah dan minta izin, hasilnya gue di izinin tapi gak boleh keluar jam 10.00, bolehnya jam 11.30, mann -.-", tapi okelah gue terima dan satu tantangan selesai. Pada hari H gue minta izin sama kepala pembinanya, minta izin keluar orchestra jam 11.15 dan minta izin pinjem clarinet sehari aja, untungnya pembina gue ini baik dan pengertian, dengan mudah gue dikasih izin. Sambil menunggu waktu menjelang pukul 11.15, gue di kasih teknik dan kiat-kiat apa aja yang harus gue perhatiin saat audisi nanti, setelah semua fix, gue berangkat dari auditorium kembali ke gedung sekolah untuk minta surat izin keluar gerbang. Astaga udah gitu gue harus nunggu 5 menitan sampe bener-bener jam 11.30 baru gue di izinin keluar gebang sekolah,ckckck.
Gue langsung tancap gas ke rumah pake taksi, Twina udah siap sedia nunggu di situ, tanpa mandi gue langsung siapin clarinet, dompet dan isinya, pokoknya semuanya dan kami langsung cao ke terminal patas AC di Ciputat. Perjalanan berlangsung macet total, gila banget, dari rumah itu sekitar jam 13.00, kami sampe Glora Bung Karno udah 15.30, telat 1 1/2 jam, parah, udah gitu karena turunnya di Glora Bung Karno, gue harus jalan kaki lagi ke Senayan City (mau hemat ongkos), bayangin aja capeknya kayak apa itu. Tapi gue tetep komit sama diri gue, apapun yang terjadi gue harus tetep audisi, hasinya diterima atau enggak itu urusan belakangan, kata guru bahasa Indonesia gue "menang-kalah itu urusan nanti, yang penting jam terbang", gue mulai mengatur mind-set gue untuk selalu positif. Hal yang gue dapet sepanjang hari itu masih jauh lebih berharga. Ternyata audisinya gak kayak yang gue bayangin. Yang daftar audisi cuma 5 orang (termasuk gue) dan mereka semua mainnya violin dan viola. Setelah ngisi formulir, audisi pun berlangsung; waktu itu gue harus bisa improvisasi, harus bisa ngisi iringan gitu lah. Sekali denger beberapa nada keyboard gue berhasil nemuin beberapa kunci, cuma gue bingung gimana cara improvenya, di tambah lagi posisi bibir gue geser gara-gara grogi yang menyebabkan kualitas suara clarinet gue jadi jelek, ckckck. Jadi intinya, audisi gue gagal. Dan benar saja, seminggu setelah audisi gue gak dikasih kabar keterima atau nggak.
Apa yang gue rasain? Kecewa, tapi cukup sampe disitu aja, gak lebih. Karena gue udah tahu; clarinetist amatiran kayak gue pasti agak meragukan untuk diterima. Tapi hari itu gue belajar, kalau Tuhan juga gak mau dipermainkan sama halnya kayak gue yang setelah berjuang capek-capek ternyata gak lolos audisi. Kalau Tuhan berkehendak gue gak boleh ikut pelayanan Orchestra pasti Tuhan udah ngasih tanda-tanda. Selama persiapan itu gue cuma ngerasain gerak hati doang, tapi karena gue udah komit gue abaikan gerak hati gue; gue berusaha nunjukin ke Tuhan kalau gue mau serius, tapi nyatanya Tuhan lebih serius dari pada gue. Jangan pernah nyoba tantangin Tuhan deh, pasti kalah. -.-"
Setelah petulangan gue mengejar pelayanan yang cocok, gue dapet gerak hati lagi untuk kembali ke persekutuan kaum muda, kali ini gue udah menghapus rasa canggung dan gak enak gue, gue dateng ke ibadah bukan untuk temen-temen gue, tapi untuk Tuhan dan diri gue sendiri. Tanpa komitmen yang muluk-muluk, gue berusaha untuk hadir ke persekutuan. Walaupun baru beberapa minggu bergabung kembali, gue udah merasa menjadi bagian dari persekutuan lagi (domba yang hilang akhirnya pulang ke kandang xD).
Akhirnya pada malam seminar itu Tuhan mengkehendaki gue bergabung dalam pelayanan, jadi keyboardist. Gue gak berani bersumpah, tapi gue harus tetep berani berkomitmen menyempatkan diri gue ikut pelayanan. Berkat pelayanan ini, teknik belajar piano yang udah gue peroleh gak sia-sia, walaupun baru 2 minggu pelayanan, gue belajar banyak hal, gue jadi mulai rajin latihan sehingga jari-jari gue mulai melentur, belajar untuk semakin disiplin dan pastinya belajar teknik mengiringi dan lagu-lagu rohani.
Well, sepertinya gue harus semakin rajin mendengarkan lagu-lagu rohani :D.
Harus tambah playlist kalau begitu :).
Subscribe to:
Posts (Atom)


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact