Listen


MusicPlaylistView Profile
Create a playlist at MixPod.com
Showing posts with label Sajak dan Prosa 2009. Show all posts
Showing posts with label Sajak dan Prosa 2009. Show all posts
Thursday, December 23, 2010 0 comments

17th year of me - Last Symphony

Setelah semalaman terlelap, pukul 07.00 mama membangunkan aku dan Yola. Pagi itu adalah pertama dan terakhir kalinya aku menikmati bangun pagi di pulau. Rasanya enak sekali, aku membuka pintu untuk menikmati udara pagi yang tidak terlalu dingin dan berangin pastinya. Aku cukup menyesal bangun terlambat pagi itu, aku tidak sempat menikmati bahkan mengabadikan keindahan sunrise di pulau itu. Singkat cerita, aku dan Yola langsung bersiap-siap mandi dan berpakaian. Aku membawa kantong plastik kecil, berharap bisa menemukan kerang yang baru terdampar setelah semalam air laut pasang naik. Dari kejauhan aku dan Yola melihat pemandangan spektakuler, "kok air lautnya keliatan tinggi ya", "emang kayak gitu tau, karena kemaren gelap aja ga terlalu keliatan", jawabku. Tetapi penjelasan singkat itu tidak bisa menjawab pertanyaan yang ada dalam pikiranku sendiri; memang aneh. Setelah kami mendekati pantai, kami tidak menemukan bibir pantai yang kemarin kami pijak, ternyata hingga pagi itu air laut masih pasang dan belum surut juga. Perburuan kami lakukan di pinggir bibir pantai yang tidak di tutupi oleh pasang laut, kami hanya berburu beberapa kerang saja. Sebenarnya, dalam benakku aku ingin sekali berenang atau bermain pasir dan membuat istana dari pasir, tetapi karena tidak membawa peralatan, tidak ada yang menemani dan air sedang pasang, aku urungkan saja niatku itu.

Selesai berburu sedikit kerang, papa menawarkan aku dan Yola untuk ikut papa bersepeda keliling pulau. Aku menerima ajakan tersebut dengan senang hati, kapan lagi bisa seperti ini. Kami menyewa 3 sepeda sanki berkeranjang berwarna pink, dengan uang 5000 rupiah untuk 1 sepeda selama 1 jam, kami bisa mengelilingi satu pulau Untung Jawa ini. Perjalanan kami mulai. Ternyata dugaanku benar, ada pemandangan indah lainnya di sisi lain dari pulau kecil itu. Ada perkampungan kecil nan modern, ada pasar ikan, aku juga bisa melihat tanaman mangrove yang tertanam di rawa-rawa yang berbau amis (aku sedikit mual saat melewatinya); tanaman itu sudah tumbuh cukup tinggi dan membentuk canopy hijau yang indah di atas jalan setapak yang kami lewati. Sayang sekali, karena bersepeda aku tidak bisa mendokumentasikan semua keindahan yang aku lihat; "aku memilih untuk menikmati dari pada berusaha menyimpannya", tetapi aku punya rekaman singkat perjalananku melewati jalan setapak. Aku sangat menikmati hembusan angin pantai pagi itu, walaupun lagi-lagi angin pantai dalam perutku berpilin dan menyiksaku lagi. Perjalanan kami bersepeda tidak lebih dari 1/2 jam, aku senang bisa cukup berkeringat pagi itu, sisa waktu 1/2 jam itu kami berikan pada teman papa yang juga mau menyewa sepeda. Pas sekali, selesai bersepeda, waktu sarapan pagi tiba. Kali ini menu kami adalah nasi goreng. Dengan perut kosong dan lapar, aku mulai melahap habis nasi goreng, telur mata sapi dan kerupuk udang dalam sekejap. Selesai makan, aku menikmati nuansa pagi sambil menyeruput habis segelas teh manis hangat, enak sekali rasanya.

Selesai makan, aku kembali beristirahat di penginapan selama satu jam sambil menunggu perahu kami tiba. Setelah beristirahat selama 1 jam, aku dan Yola berjalan ke pantai lagi, kami melihat ada kaki lima yang menjual asesoris, masing-masing kami membeli 1 buah gantungan kunci berbentuk kerang, dengan hiasan kaca berisi kerang-kerang kecil dan kepiting kecil. Selesai membeli asesoris, kami kembali kepenginapan bersiap-siap membawa barang bawaan kami, karena perahu kami akan segera tiba. Ini adalah saat-saat paling menegangkan bagi Yola, sejak kejadian kemarin, ia takut sekali naik perahu. Bahkan sangkin takutnya Yola sampai bersumpah, ia akan menjadi anak yang rajin belajar kalau ia bisa selamat sampai seberang. Entah kenapa aku tidak yakin akan janji itu.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya perahu kami tiba, perahu kayu bermesin yang sama seperti kemari. Yola semakin tegang, ia terus berharap akan keajaiban; perahu kayu tersebut di ganti kapal Feri, tetapi harapan tinggal harapan, kami serombongan menaiki perahu kayu, aku dan keluargaku mengambil tempat duduk di tengah. Untuk mengusir ketegangan, aku mendengarkan lagu-lagu classic di ear phone-ku. Seorang anak buah perahu menutup bagian kanan perahu dengan tenda, mesin di nyalakan, sang nahkoda memundurkan perahu perlahan dan menambah kecepatan perahu hingga mesin kembali meraung. Perahu kembali melesat dengan kecepatan yang lebih tinggi dari kemarin, tetapi belum sampai 5 menit, perahu kami di ombang-ambing oleh gelombang besar, gelombang yang lebih besar dari pada kemarin, aku dapat merasakan sensasi seperti naik wahana Wing di Dufan dan jika ada ombak yang sedikit lebih besar lagi, perahu kami bisa terbalik. Kali ini aku mulai ketakutan, anak-anak kecil di dalam perahu mulai berteriak dan menangis memanggil ibunya, apalagi gadis kecil di sebelah kanan Yola, ia berteriak paling kencang diantara semua anak, teriakannya membuat hatiku semakin tidak tenang, ingin sekali rasanya aku berteriak DIAM atau membekap mulutnya, tapi apa daya, tapat disebelah kirinya ada ibu anak itu. Di belakangku, Michael bahkan Yola ikutan berteriak memanggil mama, sedangkan mama sendiri juga sudah ketakutan. Michael yang ketakutan duduk di tengah, mencengkram lengan mama dan papa, mama terus memeluknya, sementara Yola mencengkram kursi kayu, sekali-sekali ya berteriak memanggil mama, mama justru tambah marah padanya; hahaha, kasihan. Aku duduk sendirian di kursi kayu mulai berdoa memohon keselamatan, aku berusaha meyakinkan diriku, kami semua akan selamat, karena Tuhanku adalah seorang pelaut yang hebat yang dapat menenangkan badai. Perlahan-lahan gerakan perahu mulai stabil, tetapi lagi-lagi ada gelombang besar dari kanan yang menghempas perahu kami, aku bisa melihat ada muncratan air yang keluar dari cela-cela tenda yang membasahi sebelah kanan kapal. Aku melihat sang nahkoda tetap tenang memutar kemudinya dan anak buahnya hanya duduk bersantai di dek depan perahu, sepertinya mereka malah menikmati pemandangan dan cipratan air asin tersebut. Aku berusaha menenangkan diri dan mencoba menikmati alunan musik di ear phone, tetapi intro lagu Sleeping Beauty Ballet - Dance Of The Lilac Fairy dari Tchaikovsky malah menambah ketegangan dalam hatiku, aku segera mematikan lagu itu menenangkan diri selama 10 detik dan mengganti play list dengan lagu-lagu Gospel, hatiku langsung tenang saat itu juga. Aku kembali menikmati ayunan keras perahuku; "untuk apa aku takut, toh perahu ini tidak akan terbalik, kalaupun terbalik aku kan bisa berenang, tetapi aku yakin perahu ini tidak akan terbalik sampai di seberang sana", aku terus memikirkan hal tersebut. Lama-kelamaan rasa takutku hilang, aku kembali menikmati symphony alam yang menakjubkan, aku malah sempat merekam sedikit lukisan alam tersebut dalam hp-ku. Aku melihat anak kecil di sebelah kanan Yola hanya bisa berpasrah dalam pelukan mamanya, Yola duduk mematung mencengkram kursi kayunya, Michael dan mama juga ikut mematung. Aku dan papa hanya bisa tertawa melihat wajah mereka yang mulai pucat dan ketakutan setengah mati. Gelombang kembali menerpa, Yola semakin memperkuat cengkramannya, Michael berteriak "mama takut", mama hanya diam membisu, untuk mencairkan suasana papa berkata "udah liat aja di seberang, pulaunya udah deket", mama hanya memberi tatapan tajam pada papa. K
Karena pada kenyataannya kami masih harus bertahan 15 menit lagi di atas perahu ini.

15 menit berlalu, kuhentikan lagu di ear phone dan menyimpan HP ku ke dalam tas, bersiap-siap menurunkan barang. Perahu berhenti di bibir pantai, lantas kami harus turun. Lagi-lagi kami turun dengan tangga kayu kecil yang kami pakai pada hari pertama naik kapal. Sampai di pulau seberang, kami duduk-duduk di warung sambil minum air kelapa. Aku sangat menikmati kelezatan air kelapa itu, Yola masih terlihat shock, terkadang ia mengumpat, "dasar kapal terkutuk, pulau terkutuk, laut terkutuk". Begitu pula dengan mama, mama tidak bisa menikmati makanan atau minuman apapun. Selesai bersantap dan membeli oleh-oleh beberapa potong ikan asin, kami kembali ke mobil dan pulang.
Siang itu menjadi siang terakhirku menikmati symphony alam laut pulau seribu. Aku masih dapat mengingat dengan jelas deburan ombak yang selalu aku dengar di pulau itu.

Sesempainya aku di rumah, aku masih merasakan boat syndrome, setiap kali aku diam, aku bisa merasakan secara nyata goyangan ombang-ambing pelan. Bahkan saat aku berbaring di tempat tidur, aku bisa merasakan tubuhku di ajak berlayar di atas perahu dan gelombang lembut ombak menina bobokan aku.
0 comments

17th year of me - Di pulau 1001 malam

Kami menuruni perahu mesin kami dan barang-barang kami, para awak kapal membantu para penumpang turun dan mengangkat barang-barang mereka, sementara aku mengangkat barangku sendiri, sebuah tas batik kecil berisi barang-barang pribadiku dan tas selempang bergambar wajah 2 anak anjing yang lucu. Dengan tubuh yang masih terhuyung-huyung oleh syndrome kapal, aku berjalan menelusuri jalan setapak dari kayu yang berdiri kokoh di atas air. Kanan-kiriku ombak bergemuru lembut menghantam bibir pantai. Aku bisa menyaksikan suasana dermaga secara langsung, aku dapat merasakan samar-samar aroma amis air asin, panas matahari yang mulai menyengat keningku yang tak berponi, seorang tour guide mengantarkan kami menuju penginapan. Ternyata kami bebas memilih penginapan manapun yang kami suka, aku dan keluargaku langsung memilih sebuah penginapan dengan design minimalis yang di perminimalis lagi, pengunapan itu berupa sebuah kamar dengan 1 ranjang dan 1 kasur busa kecil, dengan sebuah kamar mandi, AC dan TV, cukup sederhana.

Rombongan kami menikmati makan siang yang sangat lezat di bawah pohon rindang di taman. Aku pribadi menikmati nasi hangat dan aneka gorengan, aku mengambil tempe goreng, ikan goreng, cumi goreng dan udang goreng, lezaaat sekali rasanya, paduan nasi putih, daging udang yang manis, cumi goreng tepung yang gurih menjawab raungan genderang di dalam perutku,daging cumi dan udangnya terasa empuk dan lembut baik untuk mesin-mesin pencernaanku, dagingnya juga segar tidak seperti yang biasanya aku makan di rumah, terkadang kesegaran cumi dan udang yang sudah sampai di Jakarta sudah hilang dan dagingnya mulai keras karena sering diawetkan oleh es batu dan berbagai pengawet. Selesai menikmati hidangan, kurang abdol rasanya kalau belum minum, minuman kali ini adalah kelapa muda segar asli dari pulau Untung Jawa, rasanya segar bahkan manis walau tanpa gula, daging kelapanya lembut, gurih dan manis pula, aku suka makan siang hari itu.

Selesai makan siang, angin di perutku kambuh lagi, sial, padahal aku belum selesai menghabiskan air kelapanya, tetapi karena sakit perut yang sudah tak tertahankan, aku meninggalkan hidangan pencuci mulut dan langsung kembali ke penginapan untuk istirahat sejenak. Sepertinya, angin pantai yang tiada hentinya ini semakin memperburuk keadaan perut kembungku, berkali-kali aku buang angin tapi tiada habisnya, angin pantai mengisi ulang perutku lagi.

Aku tidur siang selama 2 jam, rasanya enak dan segar sekali setelah bangun dari tidur, melihat waktu yang menunjukan pukul 5, aku segera bergegas untuk menikmati acara soreku di pulau mungil ini dan aku tidak mau ketinggalan pemandangan indah sunset di pantai. Singkat cerita, selesai mandi, aku dan Yola pergi ke toko gift di pulau itu. Setelah memilah-milih aku memutuskan untuk membeli 2 kalung hati berwarna hijau muda dengan hiasan pasir, kuda laut dan kerang di dalamnya. Yola membeli beberapa buah gelang berwarna pink dan biru muda dengan hiasan pasir dan kerang didalamnya. Selesai membeli gift, kami kembali sebentar ke penginapan untuk menaruh gift kami dan segera bergegas ke bibir pantai untuk menikmati pemandangan sunset.

Aaah... Indah bukan, tapi lag-lagi sial, hembusan angin pantai menusuk perutku, tapi kali ini aku hiraukan saja. Aku mulai berfoto-foto lagi dengan Yola, kami menulis nama kami di pasir, berfoto dengan ombak, mengumpulkan kerang yang terserak di bibir pantai sebanyak satu kantong besar hingga matahari benar-benar tenggelam dan langit diselimuti permadani hitam dengan beberapa kilauan berlian kecilnya.
Ternyata kegiatan mencari kerang menjadi kegiatan rank 1 malam itu, aku dan Yola sampai lupa makan malam, dari pada kehabisan makan malam. Setelah mencuci tangan sampai bersih dari pasir, aku langsung mengambil piring dan teman-temannya. Lagi-lagi kami disuguhi dengan masakan laut segar dan enak, kali ini ditambah tahu goreng, telur dan kerupuk udang. Aku mengambil nasi putih yang masih hangat, cumi pedas, tahu dan kerupuk udang, rasanya benar-benar maknyusss! Di tepi pantai yang dingin, aku menikmati lezatnya paduan nasi hangat dengan cumi pedasnya yang menghangatkan tubuhku, kerupuk udangnya terasa manis, seperti daging udang yang kurasakan tadi siang. Selesai menghabiskan makan malam, ku teguk air putih dan lengkap sudah makan malamku. Selesai makan, kami semua para rombongan berkumpul membentuk lingkaran dalam satu meja panjang kami melakukan refleksi dan pembahasan sebuah buku yang menyinggung tentang 7 rahasia sukses yang di pimpin oleh seorang bapak. Bapak ini hanya mengungkapkan garis besar dari isi buku tersebut dan menyebutkan beberapa rahasia sukses. Karena sudah mulai ngantuk dan capek, aku hanya menangkap satu point, rahasia sebuah sukses adalah berkat doa dari orang tua. Tanpa kehadiran orang tua, kita tidak akan hadir disini pula, tanpa bimbingan baik dari orang tua, kita tidak akan bisa tumbuh dan berkembang menjadi orang yang baik dan sukses seperti sekarang ini.

Selesai refleksi, aku dan Yola melanjutkan acara mencari kerang sebentar dan bermain di taman bermain pantai. Pertama aku mencoba bermain jungkat-jungkit dengan Yola, tapi batal, karena aku takut tidak bisa turun karena beratku dan Yola yang sangat amat tidak seimbang. Aku mencoba bermain ayunan dengan si kecil Michael. Setiap kali aku mengayunkan tubuhku, aku teringat masa kecilku saat TK dulu, aku suka sekali bermain ayunan, bahkan dengan kaki kecilku aku berusaha untuk bisa mengayunkan ayunan setinggi-tingginya, aku suka menikmati terpaan angin saat naik ayunan, aku suka mengamati kakiku yang terayun tinggi ke angkasa saat berayun, tetapi malam itu aku bukan gadis kecil berumur 5 tahun lagi, aku adalah gadis remaja berumur 17 tahun. Wow! Sekarang aku benar-benar percaya bahwa selain berjalan, ternyata waktu juga bisa berlari. "Wohooo", itu adalah teriakan kebebasanku setiap kali aku bermain ayunan, malam itu aku berteriak dengan suara altoku; aku sangat menikmati kebebasanku malam itu. Merasa puas mengusutkan rambutku dengan terpaan kencang angin laut, aku turun dari ayunan dan membawa Michael bersama denganku kembali ke penginapan.

Setelah mengganti baju, sikat gigi, cuci kaki, mengecek Facebook-ku yang sudah dipenuhi ucapan selamat ulang tahun dan berdoa, aku membaringkan tubuhku di atas kasur busa kecil di lantai, sialnya malam itu aku harus berbagi kasur kecil dengan Yola. Tetapi karena sudah terlalu capek, lelah dan puas, itu tidak menjadi masalah bagiku, baru beberapa menit membaringkan tubuh, aku sudah bisa masuk kealam bawah sadarku dan terlelap. Lagi-lagi aku memimpikan Jelly malam itu, aku pernah bersumpah tidak ingin memimpikan itu lagi, tetapi karena tidak mau terbebani, ku nikmati malam itu, bertemu dengan Jelly di awang-awang untuk sesaat.

Apakah sebegitu rindunya diriku padanya hingga sehari saja tidak bertemu di dunia, aku pasti bertemu dengannya di dunia mimpi?
Entahlah, tapi kalau direka ulang dengan logika, memang dari pagi aku sangat menunggu kehadirannya untuk mengucapkan salam bagiku. Berlebihan memang, tetapi tidak ada salahnya berharap akan kehadiran seseorang dan malam itu sebelum aku tidur, harapanku terjawab.
Monday, December 20, 2010 0 comments

17th year of me - Perjalanan ke Pulau Untung Jawa

18 Desember 2010
hari yang paling aku nanti-nantiin sejak sebulan yang lalu. Aku bener-bener ga sabar memiliki status remaja 17 tahun, entah karena alasan apa aku merasakan aura kedewasaan dan kebebasan.

Sebelumnya izinkan aku melakukan sebuah pengakuan. Pada hari itu aku bolos sekolah atas persetujuan kedua orang tua gw dan pastinya atas persetujuan aku juga. Bukan kebetulan (karena aku ga pernah percaya akan kebetulan) pada tanggal 18 Desember lalu kami sekeluarga mau pergi ke Pulau Seribu (di Pulau Untung Jawa) yang merupakan program liburan gratis dari Jamsostek (kantor tempat papa bekerja), hari itu hari Sabtu dan sekolah masih berlangsung, aku di hadapi 2 pilihan, sekolah atau ikut liburan. Hanya dengan membuat sebuah alasan classic 'sakit', aku bisa bolos dengan leluasa, hahaha. Curang memang, tetapi aku menekankan, hidup adalah pilihan, aku ga mau menyia-nyiakan kesempatan yang langka ini, so aku pilih liburan, lagi pula nyokap dan bokap setuju. Tetapi setiap pilihan ada resikonya dan karma does exist! Sehari sebelum keberangkatan kita sekeluarga udah setuju akan acara bolos ini, bahkan aku dan Yola sudah memilih-milih penyakit apa yang akan kami jadikan alasan nanti, Yola milih sakit perut dan aku milih masuk angin dan kembung (alasan yang paling nendang karena pada hari kamis dan jumat (16-17) aku selalu pulang malam karena ada pergelaran Symphony Orchestra), dan ternyata pilihan penyakit itu menjadi penyakit beneran bagiku, beruntunglah Yola tidak mendapat karma hari itu. So hadiah pertamaku saat bangun pagi adalah tabuhan Bodhran (angin perut kembung yang berputar) dan tiupan Sangkakala (buang angin).

Tapi beruntunglah Tuhan memang baik, perut kembung itu sama sekali gak mengganggu akitivitasku saat belibur.

Perjalanan pertama kami tempuh dengan mobil, kami akan berangkat dari Muara Karang dan perjalanan berikutnya di lanjutkan dengan perahu motor kayu besar, sayang aku lupa nama kapalnya. Walaupun sempat merasa ketakutan, aku menikmati perjalanan 20 menit mengapung di atas laut Jawa tersebut, itu adalah pengalaman pertamaku nyebrang antar pulau dengan perahu, tidak jarang perahu yang kami tumpangi di terpa oleh ombak sedang yang cukup mengagetkan dan memukau. Ini pertama kalinya aku menaiki kapal dengan tangga kayu kecil dan pegangan dari bambu yang di pegang oleh awak kapal. Panjang tangga itu tidak sampai 5 meter, tetapi jantungku bertalu cukup keras dan tangan kiriku mulai mati rasa, aku takut kalau saja aku secara tidak sengaja menjatuhkan tas laptopku. Semua penumpang sudah duduk, mesin di nyalakan, sang nahkoda mulai memutar kemudinya, perahu berjalan mundur perlahan-lahan dan memutar 180 derajat, dengan penuh keyakinan sang nahkoda menambah kecepatan perahunya, mesin perahu mulai meraung ganas dan perahu mulai meluncur seperti mata peluru yang melawan ombak, kadang perahu tersebut sedikit oleng, tetapi disiinilah perjalanan berkesan itu dimulai.

Yola dan mama tampak ketakutan melihat ombak yang berkali-kali mengempas dan menggoyangkan kapal kami, mama terus merangkul Michael dan mencengkram tangan papa sedangkan Yola mencengkram kursi kayu. Tetapi berbeda dengan ku, justru aku sangat menikmati ombak tersebut, mungkin karena pengaruh latihan dan konser Orchestra, bagi ku, gelombang ombak tersebut melukiskan nyanyian alam yang tidak ada hentinya, bunyi gulungan ombak terdengar seperti tepuk tangan riuh dari penonton yang tidak ada hentinya yang mengharapkan penampilan lebih Orchestra alam tersebut, hempasan ombak pada body perahu terdengar seperti pukulan Crash Cymbal, gelombang seperti Crescendo besar yang di lukiskan oleh ayunan tongkat konduktor, deru mesin perahu terdengar seperti tabuhan Timpani dan Gran Cassa yang tidak ada henti-hentinya bergema hingga kami sampai ke seberang. Tidak hanya itu, ombak itu juga menampilkan lukisan permadani biru yang indah yang bergulung-gulung tanpa akhir dan ujung, buih air asin yang terhempas bak hiasan yang memperindah permadani tersebut. 20 menit berlalu Symphony dan lukisan alam tersebut harus berakhir, aku dan para penumpang harus turun dari kapal dan berjalan beberapa meter menuju penginapan kami. Kedatangan kami di sambut oleh tiupan angin pulau yang tidak ada hentinya. Aku suka hembusan angin tetapi aku terganggu oleh angin itu, selain karena merusak tataan rambutku, angin ini juga menambah parah keadaan perut kembungku. "Sial!!", umpatku dalam hati
Wednesday, December 15, 2010 0 comments

Jawaban Atas Senandung

Hari ini adalah hari terakhir latihan intensif untuk pentas Orchestra The Phantom of The Opera.
Sumpah, jujur aja gw capek, tiap hari dari jam 09.00-13.00 gw dan temen-temen orkestra latihan terus. Tapi walaupun demikian, gw bisa menikmati, gw bisa merasa puas dan bisa semakin akrab dengan temen kecil gw si Matilda, Clarinet 1 punya sekolah yang gw sayang banget. Gimana gak sayang, tiap kali gw bawa pulang ke rumah pasti ada aja perawatan buat si Matilda, entah itu gw bersiin ulang, ato gw kasih handbody ato gw bersiin kerak-kerak hijau  yang nempel di besi-besi Matilda pake pembersih make up (karena sebelum gw pake, Matilda gak terawat dengan baik oleh tuannya yang pertama), gw jadi ragu untuk melepaskan Matilda dari cengkraman gw tahun depan :'(

Kembali ke Orchestra. Besok adalah malam pertama gw tampil di depan umum sebagai bagian Orchestra. Sebenernya tadi siang udah ada gladi resik dan ditonton oleh temen-temen dan guru-guru (tebakan gw bener, Jelly juga nonton :D). Sumpeh gw tremor, jari-jari gw gemeteran gw belum terbiasa tampil kayak gitu, udah pake gaun lengkap, high heels yang tinggi banget, diliatin orang, tapi untungnya gw bisa berusaha tenang walaupun awal lagu Matilda ga bunyi sama sekali, padahal itu bagian yang paling gw suka, semoga aja itu ga terulang besok.
Gw ga mau usaha gw selama 2 minggu untuk pertunjukan 2 hari berakhir dengan kesia-siaan. Siang ini gw bener-bener merasakannya.
Total latihan Orchestra dan gladi resik hari ini berlangsung selama 4 jam. Setelah gladi resik gw lanjutin kegiatan gw latihan untuk Taize di rumah Nanad sampe jam 4 sore.

Perjalanan pulang ke rumah hari ini juga ikut melelahkan, gw numpang mobil Chila sampe depan perumahan rumah Nanad. Karena mau berhemat dan ga tau rute angkot,gw ngambil tindakan paling bijak dan memungkinkan, gw jalan kaki dari depan Puspita Loka sampe Sanur dan di lanjutkan ke pasar modern, gile gw menempuh jarak tersebut dalam waktu 15 menit, cukup luar binasa untuk sepasang kaki gw yang kecil.
Perjalanan berikutnya gw lanjutkan dalam angkot. Belum pernah gw bisa menikmati nyamannya duduk di atas angkot seperti sore ini, efek jalan dari Puspita Loka memberi sensasi kepuasan tersendiri saat gw duduk. Dalam perjalanan di atas angkot gw mengisi kembali tenaga gw untuk melanjutkan perjalanan dengan berlajan kaki dari tanah gusuran sampe rumah, jaraknya gak beda jauh kalo kita berjalan dari Puspita Loka sampe Autopart, mantab!
Singkat cerita gw nyampe di tanah gusuran dan menyiapkan kaki untuk melangkah sampe ke rumah. Gw mencoba melupakan keluh kesa gw atas kaki gw yang udah mulai pegel, gw menyenandungkan lagu yang gw mainkan dengan suling saat latihan Taize tadi, "dalam Tuhan-ku bersyukur dalam lagu pujian, Tuhanlah penyelamatku, dalam Dialah suka cita, dalam Dialah suka cita" dan lagu "Pujilah Tuhan, pujilah Nama-Nya, pujilah Tuhan, sumber kehidupan". Ternyata bukan cuma lewat doa, lewat senandungpun Tuhan tahu apa kebutuhan gw :D

Tiba-tiba saja datang seorang bapak dengan sepeda motor butut yang menawarkan tumpangan buat gw sampe ke atas (karena jalan di tanah gusuran itu turunan dan tanjakan), "dek mau ikut bapak gak?". Pertama-tama gw ragu dan takut dong, tapi setelah gw liat wajah bapak itu tidak menunjukan wajah kriminal dan ditambah kaki gw terasa pegel gw pun menerima tawaran bapak. Sepanjang jalan si bapak menyapa orang-orang yang lewat atau berpas-pasan dengannya, gak jarang si bapak itu juga bercanda dengan mereka; tiba-tiba saja bapak itu mengangkat tangan kirinya seraya hormat pada ibu-ibu yang lewat dengan motor dan mereka tertawa, atau menggoda ibu-ibu yang sedang bengong hingga ibu itu tertawa. Hahaha, lucu juga bapak ini dan ternyata banyak orang yang kenal dengan bapak ini, semua orang menyapanya. Sampai di depan gerbang rumah si bapak, gw minta turun, gak enak kalo ada orang asing yang nganterin gw sampe rumah (selain tukang ojek). "Terimakasih ya pak", ucap gw setelah turun dari motor. Oh my God! Gw lupa nanya siapa nama bapak berambut cepak itu, pas gw mau nanya si bapak udah masukin motor ke dalam rumah dan dia lagi keasikan bercanda sama anak cewe-nya,"ih cantik euy, manis deh senyumnya", celetuk si bapak, gw ga enak kalo harus mengganggu momen tersebut. Gw pun melanjutkan sisa perjalanan dengan berjalan kaki, gw berjalan melewati jalan tikus yang hanya bertanah merah dengan kebun singkong + ilalang di sebelah kanan gw dan tembok rumah dengan semen kasar di sebelah kiri gw. Dalam perjalanan tersebut gw bertemu dengan si mbok, ibu-nya kak Oges (catatan dia cewe) yang sedang membakar sampah. Si mbok sudah tua renta, tapi tetap masih terlihat sesegar saat 10 tahun yang lalu, tidak banyak yang berubah; mbok masih tinggal di gubur reot di sebelah kebun dan di antara tanaman pisang, pakaian mbok masih sama lusuhnya (baju biru tua dekil, sarung coklat dan sandal jepit adalah atribut-atribut utama mbok). Gw ngobrol cukup banyak, tentang kak Oges yang sedang kerja lembur di swalayan mengumpulkan uang untuk lanjut sekolah di sekolah kejuruan, gw merasa iba dan bangga juga mendengar cerita mbok, mereka (mbok, bapak dan kak Oges) bisa tinggal bersama dengan akur di gubuk tua yang hanya berupa lapisan seng sebagai dinding dan atap dan kayus sebagai penyangga atapnya, dengan 1 kamar tidur, tanpa ruang makan, dapur outdoor, dan lantai hanya berupa tanah kira-kira itulah hal yang gw inget dari rumah mbok saat pertama dan terakhir kalinya gw kunjungi dulu saat gw masih TK B, hingga tadi gw belum pernah di undang masuk lagi ke rumah si mbok. Mbok juga bercerita soal anak majikannya (mbok bekerja sebagai PRT), anak peremuan tunggal kelas 6 SD yang manja banget, apa-apa maunya dilayani, ditemeni, ya maklum kedua orang tuanya sibuk kerja untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Gw bisa melihat perbedaan yang sangat kontras di sini dan gw merasa sangat beruntung tidak menjadi kedua-nya, gw tinggal di rumah beratap genting dan gw bukan anak manja yang apa-apa harus dilayani. Tapi suatu hari nanti gw juga harus bisa mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan gw sendiri dan keluarga gw juga.

Thanks Father :D
Friday, December 3, 2010 0 comments

Mimpi

Prelude,
Mimpi itu bukanlah mimpi buruk, tetapi entah kenapa mimpi itu terasa seperti mimpi buruk, bahkan gue masih terbawa-bawa oleh bayangan mimpi itu.
Sebagai sang pemimpi, gue sangat bahagia mendapatkan mimpi itu.
Tetapi melihat pengalaman-pengalaman yang ada, gue takut untuk melirik mimpi itu lagi, gue ga mau terlalu berharap kenyataan akan terjadi atas mimpi itu.
-o0o-

Kemarin malem, gue bermimpi, gue jadian sama Jelly, gebetan gue.
Jujur gue seneng banget terlebih lagi, mimpi itu bener-bener terasa nyata, gue bener-bener bisa merasakan sentuhan si Jelly, pelukannya dan telapak tangannya yang berkeringat.

Kronologinya, dalam mimpi itu saat pagi hari gue nyampe di sekolah,
seperti biasa gue berdiri di depan papan pengumuman hijau dan membaca jadwal kegiatan, gue liat ada jadwal latihan koor gue, semua gambaran mimpi gue sama dengan yang ada di sekolah kecuali ada kursi duduk, panjang di depan papan pengumuman itu, di mimpi itu tiba-tiba Jelly dateng di sebelah kiri gue. Dia narik gue duduk di kursi itu, merangkul gue dengan cukup erat dan menyandarkan kepalanya di bahu gue dan gue ikutan bersandar di kepala dia. Gak berapa lama kemudian, gue naik ke lantai-2 masuk ke kelas (kenyataannya kelas gue di lantai 1). Di dalam kelas gue bisa ngeliat temen-temen gue di kelas bahasa lagi ngobrol, bercanda, main-main. Yang gue heran, di mimpi itu gue udah pake jaket dan tiba-tiba udara di luar kelas dingin banget. Dalam mimpi itu gue duduk merengkuh di kabin lantai 2 sambil pegangan pinggir balkon lantai 2, tiba-tiba dari belakang si Jelly dateng dan meluk gue sambil ngomong, "kamu kedinginan ya?", gue cuma menjawab,"hmm" dan gue kembali ke dalam kelas. Tiba-tiba gue udah nyampe aja di perpustakaan, gue lagi baca buku dan dia dateng megang tangan gue. Kemudian mimpi itu berakhir.


Gue menceritakan mimpi ini ke Clarine (nama disamarkan). Ekspresi Clarine bahagia, kaget, kagum seneng gitu. Sedangkan gue merasakan ekspresi gue ga sinkron dengan gejolak hati gue, saat gue senyum seneng, tiba-tiba muncul keresahan gitu, gue ga mau berharap lebih.
Pas gue jelasin keresahan itu, Clarine cuma nanya, "Deb, lo seneng ato stres?". Gue menjawab dengan maruk "seneng banget sih, tapi stres juga, gue ga mau ngarep!".

Selanjutnya gue ga mau mendapat mimpi semacam ini lagi.
Friday, October 8, 2010 0 comments

not one and the same

I don't know how and why
really, I don't know
why do I always think about you
how could I in love with you

what's wrong little feeling?
you're grow up as wild flowers
you're blooming everywhere in my heart
but I never smell your fragrant
your beauty is a nonsense!
I need your fragrant!
I won't feel satisfy

I don't need much beauty
I only need blossom fragrant
i beg you..
stop blooming in my garden, please...
stop drag me into your beauty
you are just little flowers

my bouquet,
maybe you are flowers
you are one
but you are not the same
you are my lavender
and you are my rose

and i only little girl
who just learned what love is

I was so naive,
I can't take my eyes of you
you are my calmness and wildness
show me you're best
let me sense you
in side and out side
Saturday, September 25, 2010 0 comments

Kabar dan Janji

Kabar dan Nazar
“Mama udah cek tensi sama kolestrol mama ke dokter tadi”.
“Hasilnya gimana? Gak ada kan kolestrolnya?”, tanyaku penuh harapan pada mama.
“Dokter bilang, ga ada kolestrolnya, terus tensi mama di cek hasilnya normal”.

Mendengar hasil kesehatan mama yang sangat baik membuat aku merasakan suatu kebahagiaan. Jujur saja teman, aku orang yang egois, aku jarang bisa merasakan kebahagiaan saat orang lain bahagia, tapi sore ini, aku bisa merasakan detak jantungku berdebar cepat, bibirku mulai menarik sebuah senyuman, mataku hampir berkaca-kaca tetapi aku berusaha agar kaca-kaca itu tidak pecah menjadi butiran air yang akan membahasi pipiku, aku tidak mau terlihat cengeng di depan mamaku ;o)

Bagaimana aku tidak bisa merasakan kebahagiaan seperti ini. Hampir 1 bulan lebih aku melihat mama berjuang melawan darah tinggi yang ia derita, mama harus rutin mengkonsumsi obat, jamu akar dewa dan harus bisa menahan diri untuk tidak emosi. Tidak emosi? Terdengar aneh dari pada menahan emosi memang, tetapi kata itulah yang lebih tepat untuk mendeskripsikan mama. Mama harus menjaga diri agar emosinya tidak terpancing, karena kalau emosi mama terpancing, mama tidak bisa dan tidak boleh menahan emosi tersebut, mama harus mengungkapkan semua emosinya karena bila mama menahan emosinya, tensi mama akan naik, kepala mama akan menjadi berat dan mama akan jatuh lemas. Tidak heran jika aku, adikku dan embak(orang yang paling sering membuat mama emosi) menjadi sasaran yang tepat untuk luapan emosi mama. Bagaimana tidak, aku dan adikku adalah remaja yang sedang menghadapi masa-masa sulit, kami berjiwa pemberontak, kami sedang gila dengan kebebasan dan tidak mau di atur, sedangkan mama menuntut keteraturan., jadi habislah kami di marahi karena hal-hal kecil, aku sebagai anak yang lebih dewasa harus bisa mengerti keadaan mama, aku menurut saja walaupun tidak jarang aku tidak mempedulikan amarah tersebut, karena aku tau tidak semua luapan emosi yang mama limpahkan padaku itu benar karena kesalahanku, pathetic ! Embak. Jangan ditanya, hampir setiap hari mama harus ngomel-ngomel karena pekerjaan embak yang ugal-ugalan. Tidak emosi adalah pantangan tersulit yang harus mama hadapi, aku harus mengingatkan mama berkali-kali agar tidak bawel dan marah-marah, karena jika tidak aku yang bisa ikutan darah tinggi. Aku hanya bisa berdoa dan berharap emosi mama cepat surut, aku tidak mau terus-terusan mendengar omelan dan mendapat tekanan negatif, karena itu hanya akan memperlemah diriku dalam segala hal.

Seminggu terakhir ini aku melihat emosi mama sudah mulai surut. Mama yang tidak pernah tidur siang, kini setiap siang aku melihat mama yang sedang berselonjoran, bersantai-santai di kursi atau tidur di kamarku. Aku dan adikku sudah jarang di marahi lagi. Kecuali embak, ada saja kesalahan yang ia perbuat yang membuat mama jengkel,ckckck. Sampai akhirnya sore hari ini perjuangan mama berhasil dan doaku terdengar. Aku berjanji tidak akan memancing emosi mama, karena aku tahu bagaimana harus berkomunikasi dengan baik dengan mama.

Thanks Father :D
Tuesday, September 14, 2010 0 comments

Tak Berujung, Tak Berwujud ~2~

Entah kenapa hari libur selalu cepat berlalu, gak kerasa hari ini udah menjadi penghujung hari libur lebaran. Guess what I think?
Yeap... Tomorrow i'm going back to school.
Tapi gak kayak yang gw biasa rasain, gw masih tetep merasa seneng dan gw masih tetep bersemangat untuk sekolah. Gw rasa itu memang pantes untuk gw rasakan, karena sekarang gw udah berada di kelas yang selama ini gw idam-idamin, kelas bahasa :D
Gw harus punya semangat untuk belajar di kelas itu, karena kelas itu adalah jalan bagi gw untuk memilih tujuan gw selanjutnya untuk melangkah kedepan. Walaupun gw udah di kelas bahasa, gw masih aja bingung gw mau masuk jurusan apa nanti pas kuliah, apa gw mau ambil Sastra Inggris/ Indonesia/ Prancis? Kebudaan Prancis? Tourism? International Relation? bahkan mulai muncul pilihan baru Fashion Design? Orang-orang menganggap pilihan yang paling "aman" adalah International Relation, tapi gw gak bisa nentuin langsung itu yang akang pilih nanti, karena gw gak mau menelan suapan tangan orang, gw gak peduli segala kemungkinan buruk yang mereka sebut, gw gak boleh takut dengan segala kemungkinan buruk yang akan gw hadapi di setiap jurusan yang akan gw pilih nanti, gw anggap itu sebgai tantangan, bukanlah hambatan!

Tapi gw masih bingung, apa yang akan gw ambil nanti

Ya Tuhan, bantu aku memilih! Aku cuma percaya kepadaMU..
0 comments

Tak Berujung, Tak Berwujud

Gw benci unek-unek ga jelas yang akhir-akhir ini dateng gak diundang di dalam pikiran gw.
Semua ini berawal dari pesta ulang tahun temen-temen gw, atau yang lebih tepat di sebut Sweet Seventeen Party.
Sejak gw di menghadiri, di undang dan tahu kalau temen-temen gw merayakan Sweet Seventeen mereka, gw mulai berpikir mau merayakan Sweet Seventeen gw yang sepertinya "sebentar lagi" akan tiba.
Gw sempet heran sama diri gw sendiri, gw yang gak pernah tertarik buar ngerayain birthday party gw tiba-tiba jadi ngebet sendiri pengen ngerayain Sweet Seventeen yang sebenernya masiiiih lama (bulan Desember gitu). Gw inget banget waktu Sweet Sixteen gw cuma ngerayain dengan kue buatan nyokap gw (dan tanpa lilin) di rumah dan paginya gw hang out sama Dona dan Indira. Gw juga inget waktu di ulang tahun Sandra (temen gw yang ngundang gw di Sweet Seventeen Party-nya), gw ngobrol ama Cindy, gw bilang kalo gw gak pernah tertarik ngadain birthday party yang besar-besaran, palingan cuma nikmatin kue buatan nyokap atau hang out sama beberapa temen aja.

Nah... Sekarang, entah kenapa, gw udah sibuk sendiri mau ngerayain Sweet Seventeen Party gw. Yang terbayang dalam pikiran gw, gw mau menraktir temen-temen gw. Gw sampe buat list siapa aja yang mau gw undang, gw mau traktir mereka di mana, gw juga udah bayangin gw mau pake dress apa nantin, gw ampe udah punta rencana mau nabung buat neraktir mereka, bener-bener udah di set sama pikiran gw semuanya.

Dan setiap kali gw berpikir untuk batalin, selalu aja ada pikiran lain yang nyela niat gw itu.
Hampir setiap hari gw juga menimbang-nimbang siapa aja yang mau gw undang, ternyata karakter gw yang gak suka party yang besaar-besaran yang harus ngundang banyak orang, masih belum berubah. Kalau di total dengan diri gw, semuanya cuma 14 orang dari semua temen gw. Bukan bermaksud membedakan, di samping gw memang gak suka pesta yang rame, gw juga harus menghemat pengeluaran dong :P

Rencana gw, gw memilih untuk mentraktir temen-temen gw di J.Co di PIM.
Menurut gw tempatnya itu cozy, banyak yang bisa di pesen, gak mahal-mahal banget, enak dan sesuai dengan perayaan gw. Gw mau merayakan Sweet Seventeen gw dengan berbagai hal yang manis :D

Gak tau bener atau enggak,gw rasa unek-unek ini adalah semacam pertanda agar gw menjalankan rencana gw, karena setiap unek-unek yang gw pernah rasain dan kalau itu gw jalanin pasti menghasilkan sesuatu yang "Ih... Waw!", "Voila!", dan "RUDE!!". Karena ini baru rencana dan gw belum tau seperti apa nanti jadinya..
So...
Doain aja, semoga rencana ini bisa gw jalanin dan untuk 13 orang misterius yang akan gw undang, semoga mereka bisa dateng, itu aja harapan gw :D
Amin...
Wednesday, September 1, 2010 0 comments

Bapaku sangatlah baik (repost from my facebook note)

Allah, Bapaku sangatlah baik,

Ia menciptakanku pada hari ke-7, saat segalanya telah tersedia.

Ia menciptakanku dengan segala perhitungan,

Ia tahu segala kemungkinan tentangku, seperti apa wujudku, jadi apakah aku nanti, apa yang akan aku alami hari ini dan esok.

Bapaku itu maha tau :o)

Allah, Bapaku memang serba tahu, tetapi Ia tidak menciptakanku sebagai boneka, karena aku manusia!

Bapa tidak mentakdirkan jalan hidupku seenak skenarionya (enak saja! Aku tidak mau!),

melainkan Ia memberiku banyak jalan dan tawaran. Di ujung jalan-jalan itu, Bapa sudah menyediakan kejutan bagiku dan aku diberi kebebasan untuk memilih jalanku sendiri. Ia mengaruniai aku kehendak bebas.

Terlalu banyak jalan yang bisaku pilih, hingga terkadang Bapa harus turun tangan menolongku untuk memilih,

tetapi... aku tidak mau mendengarNya, aku bukan anak kecil lagi, aku tahu apa yang kupilih itu benar!

Hingga suatu hari.... aku salah memilih jalan.

Itu bukan jalan yang di tawarkan oleh Bapa. aku tersesat!



Tolong aku!!!!!!!!!!



Tetapi tidak ada seorangpun yang mendengar teriakanku.

Tidak ada gunanya, aku harus keluar dari jalan itu sendiri....

Tetapi apa yang aku dapat? Kegelapan dimana-mana,

aku tidak bisa melihat apa-apa....



Cahaya... Aku butuh cahaya....

Aku tahu! Aku butuh Bapaku!



Bapa.... Tolong aku.....



Allah, Bapaku memang sangatlah baik. Ia mendengar teriakanku.

Ia menerangi jalanku agar aku dapat keluar dan terbebas dari kesesatan itu.

Terimakasih Bapa :o)



~ D ~
Sunday, August 22, 2010 0 comments

Je t'aime

Cher Jelly,
Bonnuit Monsieur Jelly

By the time you say my name
I'll say your name

why do I call you jelly?
because jelly is my favorite food,
and so do you,
you are my favorite one

Nobody's like you Jelly,
every time I catch your eyes,
you give me your candy smile,
my favorite smile
you're so lipped-candy
may I...?

Non...
for a holiness
I won't ever try to taste it
even you give me a chance,
I won't do it

'cause I've promised
I'll do it
by the time I say 'I do'
in a peace full place,
when roses and jasmines bloom
and you're holding my hands
and you put a ring on my little finger

What do I do?
Dreaming about...

about you,
ya.. you...

If I have enough braveness,
If I have no doubt in my heart
I'll spill my heart for you...

Je vais dire Je t'aime
Je veux être avec vous

Au revoir.
Tuesday, August 10, 2010 0 comments

Tidak Ada Tidak Mungkin

~Bersemangat Dalam Suka Cita :D

Setetes embun yang dibuat oleh guru-guru untuk para murid SMA.
Bukan setetes embun yang biasa bagiku.

Pelajaran jam pertamaku hari ini sebagai anak Bahasa adalah Bahasa Indonesia.
Kami membahas tentang bagaimana cara melakukan wawancara yang baik, santai dan tepat pada tujuan.

Membosankan...

Tidak! Kutarik kata-kataku kembali...

Ini bukan Pelajaran Bahasa Indonesia yang biasa saja, karena hari ini aku mendapat pengetahuan umum lainnya...

Bu Marcel memberi sedikit penjelasan mengenai kata mutiara hari ini.

Lagi-lagi aku bertemu seseorang yang secara tidak langsung memotivasiku untuk meraih impian-ku sebagai penulis. Harus ku katakan, lagi-lagi ia adalah guru Bahasa Indonesiaku.
Dulu saat aku kelas 8 SMP, aku bertemu Bu Wiwiek, guru Bahasa Indonesia yang pertama kali memberi aku nilai ulangan 30, sebagai Bangsa Indonesia itu sungguh memalukan, tetapi nilai itu tidak ada apa-apanya dari yang beliau lakukan hingga membuatku selalu bersemangat untuk menulis.
Begitu juga untuk guru Bahasa Indonesiaku sekarang, Ibu Marcel, ku akui walaupun ia bisa menjadi orang yang menyebalkan, tetapi beliau adalah motivator yang hebat, kali ini bukan cuma semangat saja yang aku terima, aku juga merasa sangat tertantang untuk mewujudkan angan-anganku.
Bu Marcel akan melakukan apa saja untuk mewujudkan tujuan murid-muridnya, asal ada niat yang kuat.

Dari cerita yang beliau bagi pada kami, aku dapat mengambil sehelai benang merah, unik, gila dan hebat, beberapa kata yang bisa menggambarkan sebagian karakter guruku itu.

Ternyata kunci menjadi penulis adalah pandai berselasi, tekun dan selalu memandang kedepan.

"Tidak ada kata tidak bisa, yang ada hanya mau atau tidak mau". Kutipan kalimat Bu Marcel pagi ini yang terngiang-ngiang dalam pikiranku :o).



Lalu apa yang aku dapat dari setetes embun hari ini??

Aku belum bertemu pengalaman dramatis yang nyata dan "whoa" hari ini,
tapi bukan berarti aku tidak punya.

Sebuah refleksi...

Hari ini ada pelatihan dari Personal Growth yang membahas khusus mengenai keluarga.

Sungguh tema yang amat-sangat tepat, mengingat sekarang adalah masa-masa sulit aku dan teman-temanku sebagai remaja.

Keluarga bisa jadi tempat yang sangat nyaman, tetapi tidak menutup kemungkinan bisa menjadi neraka di bumi.

Hari ini aku mendengar beberapa sharing dari teman-temanku,
sungguh,, aku merasakan dunia yang aku kenal selama 16 tahun 8 bulan ini masihlah dunia yang sempit, aku tidak pernah mengetahui di balik wajah-wajah bahagia, gelak tawa, penampilan konyol mereka, ternyata teman-temanku menyimpan seonggok kenangan pahit dengan keluarganya.

Hampir berpisah, ketidak setiaan, kebencian, kesedihan, duka, dendam terpancar lewat perkataan mereka yang blak-blakan mengenai keluarga mereka.

Aku juga pernah mengalami masalah yang cukup besar dengan keluargaku. Aku lihat hal itu dengan mata kepalaku sendiri saat aku masih SMP, tapi untung saja Tuhan selalu besertaku, badai itu telah berlalu.
Tetapi badai itu tak sebesar yang beberapa temanku alami.

Tapi aku tidak melihat dari masalah yang mereka hadapi,
melainkan bagaimana mereka bisa tegar dan tetap bisa tertawa saat di hadapi tekanan tersebut?
Sunday, August 1, 2010 0 comments

Semua Itu Nyata!

Kasihan, takut, jijik, sedih menjadi satu dalam benak.

Sekitar Pukul 09.45 gw dan nyokap jalan kaki dari depan Dharmala Sakti menuju jembatan penyebrangan Benhills di depan BRI.

Bagi gw hari ini adalah pengalaman buruk gw pergi-pulang Gereja dengan angkutan umum, gw harus naik turun angkot, metro mini, patas AC dan berjalan kaki, berpanas-panasan di bawah terik matahari (-.-")

Tapi itu gak seburuk yang gw temukan di jembatan Benhills.
Saat gw melewati lorong jembatan yang gw lakukan hanya berpegangan erat pada lengan jembatan, takut jika jembatan berlapis "kaleng sarden" yang gw naikin akan ambruk.
Sampai di tikungan akhir, langkah nyokap gw di depan semakin cepat dari pada gw. Gw mengikuti irama langkah tersebut, tapi langkah gw terhenti.
SUNGGUH MENGERIKAN! Gw melihat sosok pria dengan kaus abu-abu lusuh, mengemis bisu, tangannya hanya memegang semacam keranjang kecil yang kosong. Tapi bukan keranjang itu yang membuat gw mgeri, tatapan pria itu...... Mata pria itu!!! Dia buta, tapi ia tidak buta seperti semestinya, entah apa yang terjadi kedua mata pria itu seperti habis di cungkil! Ia tidak memiliki mata,
HANYA RONGGA MERAH MUDA YANG GW LIAT!!!!!!!!
Tubuh gw mulai bergetar...
Belum 5 detik sempet menenangkan diri, gw melihat pemandangan yang paling menjijikan.
1 meter dari pria buta itu gw melihat ada seorang pria lain,
separuh baya...
Kaki kiri pria itu...
KAKINYA MEMBUSUK!
Gw melihat dengan mata kepala gw sendiri, kaki kiri pria itu terluka parah, berdarah-darah dan sudah bernanah kuning dan di kerumuni lalat...
GW MAU MUNTAH!!!
Gw langsung berlari menggenggam tangan nyokap gw sambil terisak-isak.

"Ma aku takut!"

Gw berharap itu hanya mimpi buruk.
Gw berharap itu hanya tipuan,
tapi batin gw gak bisa di ajak kerja sama.
Friday, July 30, 2010 0 comments

Sadar

Belum ada orang yang berkata seperti itu....

Hal pertama yang terlintas dalam hati dan pikiran gw saat seseorang berkata,
"Kamu itu.... Terlalu sibuk dengan diri sendiri. Bergaul dong sama yang lain"
Seseorang yang baru kenal gw gak lebih dari sebulan, seseorang yang udah gw lupain gitu aja, yang gak gw peduliin, bisa menyampaikan satu hal yang bikin mata gw terbuka, selama ini gw terlalu eksklusif, gw kenal banyak orang, tapi gw gak mengenal mereka. Gw lebih suka mengurus diri gw, gw, gw dan gw...
Walaupun gw punya temen yang sangat deket, gw kenal mereka luar dalem, tapi itu hanya segelintir dari yang gw kenal.

Gw merasa mereka yang membatasi diri, padahal bukan, gw lah yang membangun pembatas itu sendiri.

Gw mengira orang lain antisosial, karena mereka gak deket sama orang lain, padahal gw lah yang antisosial, kenapa gw gak berusaha mengajak dia berbicara? Kenapa gw gak peduli sama kehadiran dia?

Gw gak berani mendekati seseorang yang gw suka, yang gw sayang, gw terlalu ciut..
Karena gw ga punya semangat buat mengenal dia, bagi gw, memandang dari kejauhan, berbicara sejenak, membayangkan wajahnya dikala malam sudah cukup bagi gw untuk memiliki dia, padahal gw terlalu bodoh buat mengenal apa itu cinta dan memiliki.

Sulit untuk mengeluarkan isi hati gw, rasa sayang, bahagia, sedih dan haru gw terhadap orang-orang sekitar gw, karena gw terlalu melogika semua tindak-tanduk gw, padahal gw yang bilang sendiri, kalo orang yang penuh logika itu gak akan pernah maju.

Gw gak mau jadi diri gw yang lama yang selalu tenggelam dalam tangisan gw sendiri, gw mau bebas, menjadi orang yang gak di kekang dirinya sendiri....
0 comments

Riwayat Secangkir Susu Coklat

Tidak hanya manusia yang memiliki kisah,
semua yang ada dimuka bumi ini memiliki kisah mereka masing-masing.
Hanya saja hanya satu makhluk hidup saja, yaitu manusia yang dapat merasakan kisah tersebut.
Begitu pula dengan secangkir susu coklat, ia memiliki kisahnya sendiri.
Bagaimana ia di perah dari seekor sapi ternak.
Jangan kira sapi itu ingin di paksa seperti itu.
Berpisah dari kawanan mereka, bertemu dengan kawanan lain tak dikenal yang sama unggulnya dalam satu kandang, di beri makan hal yang sama setiap harinya sampai akhir hayat mereka sebagai kurban ataupun kornet, mereka tidak bisa merasakan kebahagiaan yang semestinya.

Bagitu pula saat mereka di perah, manusia belum tentu bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Di kurung berhari-hari, diberi pakan agar cepat subur, kemudian di perah, di kawin paksa, begitu seterusnya.

Susu mereka di olah dengan kelihaian manusia hingga melahirkan produk yang bervariasi dan bermutu. Salah satunya adalah susu coklat, yang di lahirkan di dunia yang kejam ini hanya untuk mengisi perut manusia.

Tapi apa yang orang lakukan pada susu coklat itu?
Mereka membuangnya.

Apa yang akan di rasakan sang sapi?
Tidak ada.

Tidak ada yang tahu....
0 comments

Satu Cup Susu Coklat

Gw mau share pengalaman yang baru aja gw alamin siang menjelang sore hari ini.
Sekitar jam setengah tiga siang menjelang sore, gw nemenin nyokap gw belanja di Super Indo Pamulang, tempat tongkrongan favorit gw yang paling murah bahkan gratis (Free Parking gitu :D).

Pas nyokap gw lagi sibuk milah-milih sayur, gw ninggalin nyokap gw,
bukan gw tinggal pulang, tapi gw tinggal buat nyari sirup rasa jeruk.
Pas gw lagi ke bagian sirup, di depan gang rak sirup gw ketemu SPG susu FF (Merk di samarkan). Mbak mungil ini nawarin gw satu cup kecil susu coklat manis dan dingin. Kebetulan banget gw lagi haus dan gw suka banget tester (karena gratis :D). Setelah melepas dahaga dengan susu, si mbak-mbak ini nawarin gw, "dek mau sekalian beli susunya gak?", gw jawab aja dengan bonus sebuah pertanyaan "enggak mbak, emangnya susunya buat anak umur berapa tahun?". Si mbak jawab, "buat anak umur 6 tahun". Busyee... Gw udah ketuaan 10 tahun buat minum susu kayak gitu, gw jawab aje lage, "Waduh mbak, saya udah 16 tahun, udah ketuaan", tapi si mbak ini gak menyerah dia masih nawarin lagi. "Tapi gak apa-apa kok, susunya bisa di minum buat satu keluarga".
Gw jawab aja lagi dengan jujur, "yah tapi saya lebih suka susu yang khusus buat remaja 16 tahun", eh si mbak-nya nyeletuk, "Oh iya.. iya... buat pertumbuhan ya?". Wuih.... sebagai remaja bertubuh mungil dengan tinggi kurang lebih 153 cm, pertanyaan itu cukup menyayat setajam silet. Gw iya-in aja sambil nyengir (tepatnya menyeringai) dan kembali memilah-milih sirup. Tak sampai 1 menit, si mbak SPG tadi dateng lagi, kali ini membawa seorang temannya, dengan ramah ia berkata, "dek aku minta tolong kamu di fotoin sama temen aku sambil minum susunya lagi ya". " VOILA! Durian runtuh dari mana neh? Dapet susu gratis lagi plus jadi model susu,,whoa... siapa tau entar ada produser yang tertarik dan gw di kontrak jadi model produk,,ahahahaha....
"OH, oke mbak, dengan bersemangat gw rapihin poni gw yang udah mulai aut-autan, mengambil secangkir susu dan meminumnya. *Cekrit*, pemotretan selesai.
Si mbak berterima kasih sama gw dan MENAWARKAN kembali secangkir susu. What? yang gw pegang aja belum abis udah di tawarin lagi, dan perut gw udah mulai terasa kembung.
Gw memastikan apakah si mbak ini salah, "lho? kenapa ga di tawarin yang lain aja?".
Tiba-tiba tanpa di sadari, si mbak-mbak ini curhat ama gw :D
"Lagi sepi dek, sampelnya aja masih banyak, sehari aja bisa kebuang 100 sampel, sehari bisa bikin 2 kotak besar susu ini loh".
Emang bener banget, Siang-sore tadi super indo emang lagi sepi, dan 100 sampel kebuang sia-sia gitu aja? Itukan pemborosan, so gw tanya sama si mbak-nya, "kenapa gak bikin sedikit aja sampelnya mbak?". Si mbak ini cuma bisa pasrah, ternyata itu perintah dari agen susu tersebut, walaupun SPG mungil ini gak tega buang banyak sampel,tetep aja si mbak gak berani ngapa-ngapain, namanya juga perintah atasan,ckckck. So, gw abisin susu dai tangan gw kemudian mengambil lagi susu coklat yang di tawarin dan menghabiskannya, alhasil perut gw bener-bener kembung dan gw mulai mual karena susunya yang manis.
Si mbak terlihat bahagia dan MENAWARKAN LAGI sisa satu cup susu coklat yang tersisa. Karena gw gak mau repotin orang dengan muntahan susu, so gw tolak aja dengan alesan "Udah eneg mbak, tapi lumayanlah mbak udah abis", sambil nyengir, mbak SPG membalas gw dengan senyuman. Merasa sudah selesai tugas si mbak ini berjalan meninggalkan gw, sambil berkata, "iya,kalo dibuangkan sayang, nanti sapinya nangis kalo tau susunya di buang-buang, nanti kalo sapinya nangis, gak mau ngasih susu lagi deh", hahaha... konyol juga neh si mbak mungil, gw cuma bisa mengumandangkan tawa gw aja.

Tapi gw mulai berpikir, ia juga ya... Kasian sapinya, udah di ternak, di perah-perah, eh hasil karyanya dibuang sia-sia, ckckck... Pathetic.. :/
Monday, July 19, 2010 0 comments

Jangan meremehkan 1 menit

Hari pertamamu masuk sekolah menjadi hari pertamamu terlambat datang kesekolah mungkin adalah hari terburuk yang pernah kau rasakan, apalagi jika kau sama sekali belum pernah merasakan terlambat ke sekolah. Yah, itu juga yang aku dan teman-teman sejemputanku rasakan pagi ini.

Hari ini adalah hari pertamaku menjadi siswi kelas 11 IPB, hal yang paling aku tunggu dan banggakan dan hari pertama bagi dua siswa/i kelas 10 sebagai anak SMA. Tapi kesan pertama yang ditunggu-tunggu ini rusak hanya karena terlambat masuk sekolah dan di hokum 90 menit di depan gerbang area SMA.

Ada sedikit kesalah pahaman yang membuang sedikit waktu, ada perbaikan jalan yang membuat mobil kami harus berputar mencari jalan lain yang lebih jauh, tetapi diantara sekian faktor, faktor utama keterlambatan ini terletak padaku (walaupun tidak sepenuhnya itu salahku), sebagai kapten yang di percayakan mama, aku salah membuat sebuah keputusan.

Aku hanya tau ada 4 jalan menuju sekolahku, jalan pertama aku sudah lupa, jalan kedua adalah jalan potong lewat kelurahan tetapi jalan ini sedang di perbaiki, jalan ke tiga adalah jalan di belakang rumahku (tidak persis di belakang rumahku, lebih jauh dari rumah ku tepatnya), aku menyebutnya Jalan Gusuran, dan jalan alternative Pamulang 2. Aku pernah mengatut strategi, jika sudah lewat pukul 6.15 aku tidak boleh memilih jalan Pamulang 2, aku akan memilih jalan belakang rumahku.

Setelah semua anak sudah berkumpul di mobil, waktu menunjukan pukul 6.18, aku bingung harus memilih jalan yang mana? Jalan terdekat dari Villa Pamulang Mas adalah Pamulang 2, tetapi jalan teraman adalah dari gusuran. Aku memilih Pamulang 2 dengan pertimbangan lebih dekat dan waktu masih menunjukan pukul 6.18, hanya beda 3 menit dari 6.15.

Ternyata aku salah pilih, kami terjebak macet yang parah, aku belum pernah mengalami hal ini sebelumnya, dulu saat aku masih naik jemputan lamaku…. YA! Tentu saja, karena pada saat itu aku lewat Pamulang 2 setiap pukul 6.10, paling lambat juga 6.15. Bodohnya aku… Tapi mau bagaimana lagi, aku dan beberapa teman sudah mulai pasrah dan menenangkan diri, dari pada membuat syaraf kami tegang sia-sia, lagi pula ini masih hari pertama sekolah, belum ada pelajaran yang dimulai, bagiku,aku hanya perlu mendengar cerama suster tentang “Wholistic, Intelligence and Serviam” . Tapi tidak bagi anak-anak yang baru masuk SMA lainnya, hari ini adalah kesan pertama mereka sebagai anak SMA, dan secara tidak langsung aku sudah merusaknya. Ya ampun…. Maafkan kakak, dek… (T~T)
Saturday, May 1, 2010 0 comments

Light Shadow :D

Setiap gw baca judul di atas, yang muncul dalam pikiran gw, itu nama kuda..??
Setau gw, nama kuda selalu berakhiran shadow, entah kenapa beberapa pemilik kuda ngasih nama kudanya seperti itu,,, apa karena saat mereka berlari, mereka terlihat seperti bayangan yang melintas cepat, atau karena lari mereka lebih cepat dari pada bayangan...??
I don't know :\

Tapi gw gak mau sharing soal kuda malem ini, itu sekedar pengantar aja..
Hmmm... Gw mau sharing sedikit pengalaman memalukan, lucu dan unik yang baru gw rasain malam ini... :D

Sekedar info dan kabar gembira aja, gw baru beli sepeda sore ini :D
Sebuah sepeda Cewe (kata nyokap gw sih jenisnya Sangki), berkeranjang, merwarna merah metalik favorit gw, dan yang pasti ber-bell :D

Gw suka banget sepeda itu, sangkin sukanya, gw rela keluar malem-malem, nemenin ade gw si Yola, pulang bulu tangkis sambil bersepeda. Jaraknya gak terlalu jauh, tapi cukup melelahkan, karena sepeda gw gak ada giginya... Tapi, tetap saja seru...


Karena gw pergi malam hari dan gw gak bisa liat jalanan gelap-gelap, gw mencari ide agar jalanan gw nanti masih bisa di terangi cahaya.

Munculah ide gila gw :D



Yap seperti yang anda lihat Feellez... Inilah modifikasi sepeda ala Debby :D

Jadi,nyokap gw punya lampu elektrik yang bisa di cas dan tahan lama dan jangkauan cahayanya jauh, gw pinjem lampu itu dan gw iket di keranjang sepeda gw pake karet sedemikian rupa

Alhasil, keranjang sepeda gw Glowing gitu jadinya...
Sepanjang jalan, semua mata tertuju pada gw (tepatnya keranjang sepeda gw)
gak sedikit orang yang ngomongin gw and My Glowing Basket :D
"eh liat keranjangnya nyala", "kok ada lampunya" ,"oh ada senternya"

Gw cuma bisa tertawa mendengar komentar mereka dan bertapa bangganya gw dengan keranjang bersinar gw

Gw jadi tertarik buat namain sepeda gw Light shadow :D

"Run away through the darkness... Light shadow!"

0 comments

With my tired Feet, I'm walking through the darkness,, alone... ;o)

I'm come back Feelley... :D

Seperti biasanya, sore ini gw mau men-sharing cerita dan pengalaman gw
Hmm...
Sekilas gw membaca title di atas, gw merasakan ada sedikit nuansa horor, dingin dan gelap pastinya, nuansa hati gw semakin didukung oleh mp3 media player gw yang berjudul Requiem of Dream, soundtrack Clint Mansell dari Film favorit gw, Lord of The Ring..

Tetapi sebenarnya, cerita yang mau gw shared sore ini gak sehoror judul dan mp3 yang lagi gw dengerin sekarang.
Cerita ini hanya sekedar pengalaman yang gw rasain kemaren, saat pergi dan pulang latihan kelompok drama di rumah temen gw Bernadette.

--------------------------------Part 1--------------------



Pembagi waktu dan Pengambil keputusan yang buruk

Jumat, 30 Mei 2010
adalah hari tersibuk dan termeletihkan yang pernah gw rasain.
Bagaimana tidak, gw pulang sekolah jam 11.45 + 15 menit karena ada pengarahan dari Suster Fransisco.
Dengan bermodal istirahat 30 menit, gw ikut kegiatan Pelajaran Tambahan Kimia selama kurang lebih 45 menit. Setelah selesai kegiatan Peltam, gw dan Nene melanjutkan ikut latihan paduan suara hingga pukul 14.30.

Sumpeh hari itu gw capek banget, malah pulang sekolah gw harus jalan kaki ke pasar modern buat nyari angkot hijau kuning Turun angkot jalan kaki lagi untuk masuk ke perumahan (tepatnya perkampungan) rumah gw, ckckck...
Gw sampe di rumah sekitar jam 15.45, gw bener-bener harus bisa memanage waktu yang singkat itu untuk bersiap-siap.

Setelah selesai bersiap-siap dengan properti drama, perut berbekal nasi+telor dadar+kecap, dan sebotol susu coklat untuk nanti malam, gw berangkat ke rumah Bernadette.
Tidak lupa, gw berdoa dan memakai minyak urapan dulu sebelum pergi, karena gw tau, gw akan pergi jauh dan kembali pada malam hari, waktu yang sangat rawan kejahatan.
Dan gw yakin Tuhan selalu bersetaku... :D

Seperti biasa, ke BSD-pun gw menggunakan angkot hijau-kuning. Waktu gw berjalan ke tempat pemberhentian angkot,di Pertigaan Makam, gw melihat 1 angkot hijau melintas dengan cepat, sebelum gw sempat melambaikan tangan. Dengan sabar, gw menanti angkot hijau yang lain.
Ternyata tidak perlu berlama-lama, tidak sampai 2 menit, angkot hijau lain datang menghampiri gw.
Oh shit! Sumpeh, angkot itu penuh banget!
Memang masih ada tempat duduk yang tersisa untuk gw, tapi itu gak layak disebut tempat duduk, ukurannya sempit banget!!
Sempat terpikir oleh gw untuk berdiri aja di pintu angkot bersama seorang abang-abang yang juga sedang gelayutan di pintu tersebut, tetapi karena sudah terlanjur masuk kedalam angkot, gw duduk aja di tempat itu.
Sumpeh, gw cuma kebagian duduk 3 CM, kurang lebih selama 15 menit gw duduk seperti itu. Tulang ekor gw bener-bener terasa sakit, kaki gw udah mulai keram, gw cuma berharap ada seorang penumpang yang turun.

Akhirnya yang gw harapin gak sia-sia, ada 1 ibu-ibu yang akhirnya turun, gw segera mengambil tempat duduk bekas ibu tersebut. Wajah gw bener-bener menunjukan wajah bahagia, damai dan tentram, sampe-sampe seorang ibu menertawai gw, ckckck... Menyedihkan.

Setelah sampai Pasar Modern, gw segera melanjutkan perjalanan ke rumah Bernadette.
Sungguh, ini perjalanan paling menyebalkan bagi gw!


------------------------------------Part 2---------------------


Cowo Terkutuk!


Dalam perjalanan menuju rumah Bernadette, gw melewati jalan-jalan perumahan, yang cukup sepi. Untung saja kali ini hari masih terang, jadi gw gak perlu takut seperti minggu lalu, saat ke rumah Bernadette dengan tujuan yang sama seminggu yang lalu.

Gw berjalan dengan penuh damai hari ini, walaupun disepanjang jalan dari pasar modern, gw mendengar siulan-siulan kurang ajar para pemuda gak perlu dikenal dan supir angkot yang melintasi gw. Gw sih udah biasa dengan keadaan seperti ini. Bagi gw, itu hak mereka untuk siul-siulin orang sampe bibir kering. Merasa risih udah pasti, tapi gw gak ada masalah dengan hal tersebut, pokoknya selama mereka gak nyentuh gw.

Lega rasanya telah melewati siulan kurang ajar orang-orang yang gak cendikiawan itu, sekarang gw melanjutkan perjalanan lagi. Kali ini gw melewati sebuah gang yang terdapat warung dengan kaleng kerupuk merah dan Warteg Cemara. Di gang ini banyak motor yang lewat sana-sini, gw memilih berjalan di pinggir kiri di samping trotoar bersemak-semak saja. Tiba-tiba dari arah berlawanan datang seorang pemuda (lagi!) yang mengendarai motor dengan lambat(kira-kira kecepatannya 20km/jam), kurang ajarnya, gw rasa dia sengaja mengambil jalur lurus di depan gw tanpa berbelok, sehingga gw harus naik ke trotoar bersemak-semak. Padahal jelas-jelas dia ngeliat gw di depannya dan jalanan tidak rame saat itu.

"FUCK!", itu umpatan yang keluar dari mulut gw buat cowo brengsek itu!
Sumpeh, gw gak gau apa yang ada dipikiran orang itu. Waktu gw naik ke trotoar gw ngeliat dia natap gw, rasanya mau gw tonjok mukanya!

Akhirnya gw berjalan lagi dengan hati dan wajah yang udah memanas, sepanjang jalan gw selalu mencurigai orang-orang bermotor di sekeliling gw.


--------------------------------Part 3-------------------------


What a damp, cold, dark night

Selesai latihan drama, gw dan temen-temen jalan bareng ke arah taman jajan. Yemi, Gaby, Bernadette, Cindy, Nanda, Nio dan Kangga punya acara mau makan malam bersama, sedangkan gw dan Saskia langsung pulang, karena pertimbangan waktu, apalagi gw, rumah gw jauh, gw takut aja keabisan angkot. Sebenarnya gw pengen banget nyoba nikmatin suasana makan malem di taman jajan bareng temen-temen gw, tapi... ya sudahlah, lain kesempatan aja.

Saskia dijemput mamanya, dengan berbaik hati mamanya Saskia mau mengantar gw ke Pasar Modern BSD. Beruntungnya gw, seenggaknya gw bisa menghemat energi.
Setelah sampai tepat di samping Santa Ursula, gw turun, gak lupa berterimakasih sama mamanya Saski dan Saski tentunya :D, gw segera menelusuri jalan menuju pangkalan angkot.

Malam itu, gelap dan dingin, gw gak bisa melakukan apa-apa selain diam atau bersenandung kecil saja. Minimnya penerangan, membuat gw hampir ga bisa liat apa-apa, jalan yang gw lalui cuma di terangi seberkas sinar lampu yang berasal dari, lampu jalan orange remang-remang, warung pecel, warteg dan kedai makan kecil yang masih buka. Gak heran gw sering kesandung kerikil-kerikil.
Lagi-lagi kejadian sore saat perjalanan gw ke rumah Dette terulang, gw mendengar siulan-siulan minta dihajar kali ini, tetapi lagi-lagi gw berdiam diri. Gak sedikit gw melihat orang yang berdiri mengamati gw di balik pagar pembatas Pasar Modern dan jalan yang gw lalui. Gw cuma bisa berdoa aja, minta ketenangan diri dan perlindungan pastinya, dan gw percaya gw gak sendirian malam itu.

Terbukti, gw selamat dari hal-hal yang gak gw inginin malam itu. Gw bisa sampai di pangkalan angkot, tanpa memilah-milah, gw langsung naik angkot yang lampunya menyala, ternyata itu angkot terakhir, beruntungnya gw :D....
Dan yang membuat gw merasa lebih aman, malam itu hampir semua penumpangnya adalah ibu-ibu rumah tangga yang baru pulang Shopping, "wah!! sepertinya sudah bulan baru nih bagi para mama :D", pikirku saat melihat seorang ibu-ibu yang menggendong anak bayinya yang berusia 9 bulan dan dikawal oleh baby siternya yang sibuk sekali membawa tas dan bungkusan besar berlabel MATAHARI.
Ckckck... Kasihan juga si mbak, yah... tapi mau bagaimana lagi, itu karir :)

Akhirnya, gw sampai di Pertigaan Makam, bertemu papa dan gw pulang dengan selamat, utuh dan lelah :o)
Sambil menikmati perjalanan pulang di atas motor, gw ngecek HP gw...
Gw menemukan bejibun sms dari mama, papa dan Yola,,
Ckckck.... Thanks for your attentions :D


Really.....
I do believe, God won't leave me alone...
I'm lonely now, but I'm not feel alone... :D
Because I know, You always loves me
Thanks Jesus...
Tuesday, April 27, 2010 0 comments

Tertawa atau Menangis kah aku? :o)

Walaupun telat....

Lewat blog ini, gw mau ucapin selamat buat kakak-kakak kelas 12 gw yang udah lulus bersama-sama 1 angkatan..

Wow... Sungguh itu moment yang indah, karena gw udah pernah merasakan setahun yang lalu, di kelas 9 :o)

Kemaren (senin) siang di sekolah, dari aula gw bisa mendengar bertapa bahagianya kakak-kakak kelas gw saat mereka menerima pengumuman kelulusan..
Suasana aula yang tadinya tenang menjadi gaduh karena teriakan bahagia mereka dan hentakan kaki mereka...
"yeaa... gw lulus..", "aaaa....", "horee...", "Thanks God..."....
semua kata bergabung menjadi satu di udara...

Waktu mendengar itu hati gw tersentuh, gw ikut bahagia, dari kelas gw hanya bertepuk tangan pelan... Selamat ya kakak... :D


Malam ini, seperti biasa gw melakukan aktifitas rutin gw, mengecek facebook.

Iseng-iseng gw melihat profil seorang kakak kelas yang gw kenal, kak Acha namanya :)
Gw melihat wallnya dipenuhi ucapan selamat, beberapa temannya juga menyatakan perasaan bahagia mereka pada wall Kak Acha..

Gw sempat membayangkan wajah-wajah bahagia mereka saat menerima surat pernyataan lulus..

Mereka terlihat bahagia, sangkin bahagianya tak sedikit dari mereka yang menangis terharu karena perjuangan mereka tidak sia-sia...

Gw juga mencoba membayangkan, saat kelulusan angkatan gw nanti..
Gw menemukan ada 2 kemungkinan yang akan terjadi sama gw,
saat gw menerima pernyataan lulus
Gw gak tau, apa yang akan terjadi sama gw, apakah gw ketawa bahagia atau menangis sedih, karena masa SMA gw udah berakhir... :o)

Kadang gw berharap agar masa SMA ini cepat berlalu,,
gw merasa masa SMP dan SMA gw gak ada bedanya...
ini juga merupakan salah satu kebodohan gw.
Gw mau merasakan kebebasan, gw bisa melakukan apa saja yang gw mau, gw bisa punya waktu luang lebih banyak. Dan yang lebih utama, gw bisa merasakan bagai mara rasanya menjadi seseorang yang dewasa, dengan emosional yang udah matang dengan pengalaman-pengalaman hidup yang tak terduga.

Tapi dilain sisi,, kapan lagi gw bisa merasakan pengalaman seperti ini??
Kesekolah dengan seragam dan buku yang banyak, gak lupa kotak bekal yang diisi dengan menu yang cenderung sama. Disuguhi berderet peraturan tertulis, bertemu dengan teman-teman disuatu tempat yang sama... Jatuh hati dengan beberapa teman satu angkatan, bergosip saat pelajaran Trigonometri, tidur di kelas saat pelajaran Geografi, menghabiskan waktu 1 jam pelajaran untuk mengerjakan 2 soal Fisika di kelas,mengamati teman-teman yang lewat di depan kelas, menikmati latihan drama Ande-ande Lumut saat pelajaran Bahasa Indonesia, ngupil disaat-saat genting di balik sapu tangan, membicarakan seseorang yang kita suka saat ada waktu luang... Hihihi...
Gw jadi malu sendiri mengakui dosa-dosa gw di atas ini :D hehehe....


Gw yakin, beberapa lama setelah gw menulis post ini, saat gw membacanya kembali...
Gw akan tertawa mengingat bertapa gila, aneh dan uniknya gw saat SMA dulu....
Atau sebaliknya gw akan menangis(?terharu atau sedihkah?) ingin kembali kemasa SMA ini???

:D :D :D :D :D :D :D :D :D :D :D :D :D :D :D :D :D :D :D :D :D :D :D :D :D :D :D :D :D
 
;