Listen


MusicPlaylistView Profile
Create a playlist at MixPod.com
Showing posts with label Sajak dan Prosa 2011. Show all posts
Showing posts with label Sajak dan Prosa 2011. Show all posts
Friday, October 12, 2012 0 comments

Random: Kacamata Hidup

Wilujeng Sumping...
Herzlich Wilkommen..
Bienvenue...
Welcome...
Selamat datang.



Yap, itu sedikit sapaan dalam beberapa bahasa yang aku pelajari (pamer dikit bisa macem-macem bahasa, hehe), sebenarnya masih ada satu bahasa lagi, yaitu bahasa Rusia, tetapi berhubung program yang terkait untuk menulis alfabet Rusia belum terinstal dalam Laptopku, jadi tidak usah saja.
Akhirnya, ada juga kesempatanku untuk berbagi cerita dalam blog ini.

Well... 1 bulan lebih 2 minggu sudah aku menetap di ranah Jatinangor yang cuacanya sedang adem-ademnya, seruuuu banget rasanya tinggal sendirian di kamar sepetak, di mana semua aktivitas dari tidur sampe tidur (lagi), aku lakukan di kamar ini. Belum lagi kegiatan-kegiatan yang kulakukan di luar kamar yang udah super cozy ini, entah itu kuliah, latihan paduan suara, pergi ke Bandung atau ngeceng... eeh maksudnya nangkring (FYI, ngeceng di Jatinangor itu diartikan sebagai... apa yah... kalau kata temenku dan yang aku tangkap, ngeceng di sini tuh artinya deketin cowo/cewe, macem pedekate atau semacamnya, sementara ngeceng yang aku tahu dulu yaah sama aja kayak nangkring a.k.a nongkrong a.k.a ngumpul sama temen2 a.k.a jalan-jalan ke mall-mall atau semacamnya. So, hati-hati menggunakan istilah di sini, bisa salah arti, nanti orang lain nangkepnya beda kita juga yang rugi, okeey?)

Kembali ke cerita. Ehemm...

Rasanya tinggal jauh dari rumah itu... SERUU! Walau pun aku masih sering kangeen banget sama suana rumah, keluarga dan sahabat-sahabat di Tangerang Selatan sana. Di sini aku dituntut super duper mandiri, aku gak bisa bergantung sepenuhnya sama orang lain, semuanya harus aku kerjain sendiri, mulai dari belajar, beres-beres kamar, nyari makan, nyiapin sarapan (ini yang lumayan repot), nyuci, manage waktu sampai ngatur keuangan (ini yang susah) aku harus tahu yang mana yang menjadi kebutuhan yang harus di prioritaskan dan yang mana yang bisa di tunda. Dulu waktu masih sekolah, aku bisa dengan seenak jidat foya-foyain duit jajan yang orang tua dan nenek kasih, mau pake beli baju atau sepatu seabrek, atau jalan-jalan sama temen atau disimpen sendiri yaah itu terserah aku karena biaya hidupku sehari-hari seperti makan dan lain-lainnya, yah orang tua yang tanggung. Sementara sekarang aku di kasih jatah uang saku 1 bulan sekian rupiah oleh orang tua dan aku gak bisa pakai itu seenak jidat kayak waktu zaman SD, SMP, SMA. Sekarang biaya apa pun harus aku yang manage sendiri. Aku gak bisa dengan seenak jidat menghabiskan uangku untuk hal-hal yang gak penting. Aku teringat sebuah statement yang pernah diutarakan guruku waktu SMA, begini katanya,

"apakah kalian bisa menghabiskan uang Rp 200.000 rupiah dalam waktu 1 hari?"

Lantas aku tertawa garing, dalam pikiran, aku membayangkan itu gampang banget tinggal pergi ke mall cari dress yang harganya 200.000 dan misi pun selesai. Lalu guruku bertanya lagi,

"tetapi, apakah kalian bisa menghasilkan uang sebanyak itu dalam waktu sehari?"

Pertanyaan ini yang membuat aku juga sadar untuk tidak menghambur-hamburkan uang.
Aku cukup menyesal karena rekening bank yang telah nyokap buat saat aku SMP gak pernah mencapai target, mencapai target sih tapi selalu aja, ada aja yang aku perlu sehingga tabungan itu habis. Menyesal banget sih enggak karena... yah aku sendiri menikmati apa yang ku dapat.

Waktu liburan kelulusan SMA, aku mencoba bekerja. Aku ngajar jadi guru les keyboard dan piano privat, menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan bagi aku dan penghasilanku sebagai guru amatiran yaah... tidak seberapa, tetapi aku suka itu. Dan aku juga mencoba magang dibidang administrasi di bengkel (ini jauuh lebih sulit dan memakan banyak waktu dari pada menjadi guru les), jujur, menjadi administrator bukan bidang yang aku suka, aku bekerja hanya 2 hari (karena setelah 2 hari bekerja, semua karyawan libur lebaran), tetapi aku membuktikan aku bisa bekerja dengan maksimal dan hasil usahanya pun, cukup. Dari hasil aku bekerja, aku bisa membuka rekening baru untuk menyimpan biaya hidupku selama di Jatinangor.

Kuliah di luar kota dan nge-kos sendirian itu adalah tantangan yang cukup besar bagiku. Aku bersyukur banget, Tuhan baik masih menyertaiku dan ngasih segala kemudahan, salah satunya tempat kosku ini. Walau kata orang nge-kos di tempat aku ini rawan maling lah, jauh dari keramaian kota dan terpencil, aku merasakan yang sebaliknya. FYI, aku tinggal di Cisaladah, tepat di sebelah jembatan Cingcing, yang menjadi jalan penghubung, objek wisata peninggalan Belanda sekaligus mitos masyarakat. Letaknya sangaaaaat dekat dengan Fakultasku (FIB), dari kamarku menuju kelas cuma butuh 5 menit. Aku udah kerasan banget tinggal di sini. Letaknya jauh dari keramaian kota, nah justru itu aku seneng karena selalu mengingatkan aku sama rumah aku yang juga jauh dari keramaian. Tempat ini justru mendukung semua kegiatanku, aku aktif di kegiatan kampus, jadi kalau mau apa-apa aku bisa tinggal pulang bentar ke kos-an, mungkin bisa curi-curi tidur siang dulu baru deh ikut UKM, dll.

Aku pribadi memang tipe orang yang suka jalan-jalan dan makan-makan, tetapi aku juga adalah orang yang sangat memperhitungkan jadwal kegiatan-kegiatanku, aku gak mungkin jalan-jalan setiap hari atau pergi makan-makan mewah setiap hari karena aku punya kegiatan lain yang lebih penting, jadi ada saat-saat tertentu aku mau memanjakan diri, aku menyebutnya sebagai "Hari Jenuh", di mana aku memang sangat jenuh dan butuh refreshing seperti hari ini. Aku jadi keinget terus sama nyokap, tiap minggu ada aja nyokap suka ngajak aku makan salad di Pizza Hut atau makan mi ayam atau sekedar keliling Pamulang saat aku emang lagi bosan. Saat bosan, aku inget SMA-ku tersayang, Santa Ursula BSD, aku memang sering merasa sangat bosan sekolah di sana, namun setiap hari aku menemukan dan menerima hal-hal luar biasa di sana, dan karena sekolah ini pula, aku bisa seperti ini :). Ternyata, rasa bosan pun bisa menjadi rindu.

Rasanya... Bener-bener gak nyangka aku bisa ada di sini sekarang, di Jatinangor, di kamar kos, di Universitas Padjadjaran. Memang benar, rancangan Tuhan itu jauuuh lebih indah dari pada mimpi kita. Aku inget, aku selalu memimpikan bisa kuliah di Sastra Perancis UI dan punya jaket kuning, jaket yang selalu mencolok dan menggoda. Dan ternyata aku mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari sekedar impian, aku mendapatkan realita, kenyataan. Memang Tuhan itu luar biasa merancangkan hidupku sedemikian rupa :). Sejak menjejakan kaki di Jatinangor dan Sastra Jerman, tidak pernah ada terlintas di pikiranku untuk minggat dan mengejar impianku yang dulu.

Impian terbesarku masih tetap sama. Aku ingin menjadi musisi dan penulis yang luar biasa. Aku ingin tulisanku dipublish dan difilmkan, aku ingin pergi ke Perancis, menikmati keindahan negara itu, menonton pertunjukan opera di sana, berkeliling Eropa, bertemu dengan seniman jalanan dan belajar hal-hal menarik di sana. Aku ingin sekali menulis cerita tentang Perancis dan Jerman. Aku ingin merasakan tuts-tuts piano di Jerman, mungkin piano yang pernah dimainkan oleh Mozart atau Bethoven. Satu mimpi baru lagi, aku ingin mengukir puisiku di sebuah tempat di Perancis dan Jerman dalam 3 bahasa, Indonesia, Jerman dan Perancis. Mungkin juga Sunda dan Rusia, hahaha. XD



Monday, August 13, 2012 0 comments

Mengandalkan Kasih KaruniaNya

Setelah satu minggu pergi mengurus keperluan kuliah, sore ini aku kembali mengajar Grace, murid keyboard-ku. Aku terpukau dan bahagia, aku kira setelah kurang lebih 1 minggu melepas Grace, ia akan malas belajar, ternyata dugaanku salah. Aku ingat sekali ada 2 lagu yang belum bisa Grace mainkan; Happy Ya Ya Ya dan Balonku, lagu anak-anak yang menurutku cukup sulit untuk dimainkan. Tetapi, sore ini aku mendengar Grace dapat memainkan lagu itu dengan baik.

Aku pun menambahkan lagu baru dengan chord baru, lagu Kartini dengan chord Am. Hari ini ia dapat memainkan lagu tersebut tanpa iringan dengan cukup baik dan aku cukup puas melihat hasil itu, esok hari aku akan kembali mengajarkan permainan yang lebih baik.

Rasanya tidak sia-sia aku menyetujui keinginan mama Grace agar aku kembali mengajar Grace selama libur kuliah 2 minggu. Dan sore ini bukan pula sebuah kebetulan aku diundang mengajar Grace, aku percaya Tuhan punya rencana.

Selesai mengajar Grace, mama Grace mengajakku ngobrol panjang-lebar tentang banyak hal.

Pertama tante bercerita tentang pergumulan yang dialami Grace. Sebagai pengikut Kristus yang sangat muda, ia mengalami deskriminasi oleh teman-temannya. Mama Grace membesarkan hati anaknya, tante melarang Grace membalas perkataan teman-temannya, sebaliknya mama Grace menyuruh Grace berterima kasih dan berkata, "tidak apa-apa, saya tahu Tuhan Yesus sayang saya."
Aku tertegun mendengar itu. Aku tahu ada makna tersirat dalam kalimat itu, makna yang sangat dalam. Aku merasa itu adalah kalimat luar biasa yang dikeluarkan oleh seorang anak kecil. Pengakuan iman Kristus.
Sejak kecil Grace sudah membaca Alkitab, awalnya Grace iri melihat keluarganya bisa membaca Alkitab bersama-sama setiap pagi dan malam, ia pun mau belajar membaca. Selain belajar, dengan imannya Grace juga berdoa kepada Tuhan, ia berdoa agar ia bisa membaca. Doa orang benar, besar kuasanya, Tuhan memberi kemampuan Grace melebihi anak-anak seusianya. Ia suka membaca renungan anak setiap pagi, bahkan Alkitab yang Grace pakai adalah Alkitab bahasa sehari-hari, bukan Alkitab untuk anak-anak.

Selain bercerita tentang Grace, tante juga bercerita tentang masa mudanya saat kuliah. Ini sangat menarik untukku, mengingat aku adalah mahasiswa baru.

Mama Grace bercerita bagaimana nasibnya sebagai anak perantauan yang kuliah di Jakarta. Dengan uang yang pas-pasan ia harus kos dan mengatur pengeluaran sehari-harinya sendiri. Kehidupannya selama kuliah dipenuhi banyak tantangan dan pilihan. Satu hal yang membuat tante tetap bertahan dalam keadaan tersebut adalah doa. Tante bercerita ia selalu berserah kepada Tuhan selama masa mudanya dan terbukti, Tuhan selalu mencukupi kebutuhannya dan menjaga tante dalam setiap langkahnya. Setiap pagi jam 5 tante bangun untuk berdoa dan menaikan penyembahan lalu membaca firman Tuhan. Setiap 2 kali seminggu tante berpuasa. Awalnya tante berpuasa untuk menghemat pengeluaran, maklum mahasiswa juga punya banyak keinginan, tetapi lama kelamaan tante berpuasa karena ingin menguatkan diri dari godaan, tante pun tetap berpuasa bahkan saat dalam kelimpahan. Dalam puasanya tante mendoakan banyak orang. Saat ini tante sudah tidak mampu berpuasa karena sakit maag, tetapi doa tante tidak pernah berhenti.

Hal yang terpatri dalam ingatanku, tante berkata:
"Dalam doa, berdoa untuk banyak hal. Pertama tante selalu mendoakan keluarga tante, tetapi tante tidak sering mendoakan keluarga tante, tante lebih sering mendoakan hamba-hamba Tuhan yang Tuhan pakai sebagai penginjil baik di Gereja atau yang di daerah terpencil. Mereka butuh back up dari kita."

Aku diingatkan kembali betapa besarnya kuasa doa. Dan aku teringat video yang aku tonton pada hari Minggu di Gereja, tentang project kita sebagai anak-anak Tuhan; menjangkau jiwa-jiwa. Cara menjangkau jiwa yang aku lihat dalam cuplikan itu adalah bukan dengan merekrut orang-orang untuk datang ke Gereja atau pun KKR, tetapi dengan mendoakan orang-orang tersebut. Dengan meminta tangan Tuhan terlibat dan Roh Kudus memenuhi kita, Tuhan pasti membukakan jalan dan memberikan kemampuan bagi kita untuk menjangkau jiwa. Bukan karena kuat kita, tetapi karena kekuatan Tuhan.

Tante juga membahas tentang pergumulan yang akan aku hadapi, sebagai mahasiswi di Bandung.
"Tidak ada larangan untuk bergaul, berteman dengan orang-orang yang tidak seiman, tante juga punya banyak kenalan yang tidak seiman, tetapi jangan pernah menjalin cinta dengan mereka."
Ini bukan pertama kalinya aku mendengar nasehat ini, sudah kesekian kalinya, tetapi entahlah nasehat ini selalu menamparku.
Sampai saat ini, aku belum pernah berpacaran satu kali pun, baik dengan yang seiman apalagi yang tidak seiman, belum pernah. Aku seolah diingatkan selalu, Tuhan pasti sudah menyediakan seseorang yang paling tepat sebagai pendamping hidupku dan aku tidak perlu khawatir.

Tante juga berpesan:
"Ada 2 hal yang sering menggoyahkan anak-anak Tuhan. Pertama, rasa ingin coba-coba, karena belum tentu dia jodoh kamu jadi kamu menganggap pacaran itu sekedar main-main. Kedua, pacaran sebagai ajang menyelamatkan jiwa, kamu pikir karena dia sudah cinta sama kamu, dia mau ikut sejalan dengan kamu. Jangan sekali-kali kamu coba itu."
Hal yang terlintas dalam pikiranku, ini adalah firman taurat, tetapi aku percaya ada kasih karunia di balik firman yang menekan tersebut. Tuhan tidak ingin anakNya jatuh. Aku teringat firman dalam 2 Korintus 6:14 Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?
Sudah sangat jelas bagiku, tidak ada tawar menawar lagi. Aku tidak mau main-main dengan hal ini.

Semua yang aku lihat saat ini baik adanya, tetapi aku tidak tahu apa yang menungguku di depan sana. Aku tidak mau mengandalkan kekuatanku sendiri, aku ingin Tuhan turun tangan sepenuhnya dalam hidupku, aku ingin Roh Kudus aktif berperan dalam diriku dan mengontrol diriku, aku ingin menggunakan segala karunia yang Tuhan telah berikan kepadaku.

Tuhan menciptakan aku untukNya. Apa pun yang aku kerjakan, sekecil apa pun itu, semuanya untuk kemuliaan Tuhan.

Siang ini aku melihat pesan yang ditag oleh temanku melalui sebuah gambar. Pesan yang menjadi rhema bagiku:






Harapanku, Tuhan selalu menjaga hidupku. :)
Thanks Jesus...
For You I'm your beloved child.
Friday, June 15, 2012 0 comments

Cherished Moments

Another beautiful song, Cherished Moments by Jon Schmidt.
Romantis, lembut, penuh arti. Aku dapat merasakan pesan cinta yang begitu dalam yang disampaikan Jon Schmidt dalam setiap dentingan pianonya.

Namun, lagu ini hanya lagu, aku bisa merasakan rasa cinta yang berbunga-bunga yang dirasakan Jon Schmidt sementara aku, tidak mampu merasakan cinta yang sebenarnya.
Sampai detik ini aku belum bisa jatuh cinta pada siapa pun. Rasanya kosong, tidak ada lagi nama spesial yang terekam dalam memoriku. Belum ada kisah cinta yang mampu menjadi inspirasiku.

Ingin rasanya aku merasakan momen yang namanya pacaran, namun hingga saat ini aku masih belum bisa merasakannya. Aku terus mencari orang yang tepat, walau pun aku sendiri tidak tahu seperti apa orang yang tepat. Setiap orang yang aku temui selalu saja ada kekurangan dalam diri mereka yang belum bisa aku terima. Aku tahu dunia berkata mustahil untuk mencari seseorang yang benar-benar sempurna.
Aku tidak mencari orang yang sempurna, aku hanya mencari seseorang yang... dapat membuatku merasa nyaman dan utuh.

Alunan piano Jon Schmidt terus berkumandang memenuhi ruang kerjaku, membawaku terus berpikir..
Apakah musik yang membuatku jatuh cinta?
Apakah aku jatuh cinta pada musik? Bukan pada seseorang?

Mustahil.

Thursday, December 22, 2011 0 comments

Total Eclipse Heart

I don't understand what I feel
I don't wanna feel this way
anymore
I can't hold it
any longer

I'm tired to dream
I'm tired to hope
I'm tired
I'm tired to think
about you
about us
about love

I don't even understand
what love is
whom the one I love
I always fail in love

I'm in love a thousand times
and break to pieces
as the loves gone

I don't want it
I don't want you
I don't hate you
I just...
I just don't want to fall
in love with you

I don't know whether
you love me or not
I don't mind
it's your right
to love someone
everyone

Bye love....
Sunday, December 18, 2011 0 comments

Please

I don't care
I don't mind

Buat apa galau
saat gak ada yang perlu digalaukan?
Buat apa mikirin dia
saat dia pun gak pernah mikirin lo?

Gw muak dengan pikiran-pikiran
yang muncul
menghantui gw
dengan segala ketidak pastian

Please... stop haunted me!!
Damn, gw gak mau numbuhin kesedihan
apalagi kebencian
pada dirinya
yang bahkan
tidak tahu
apa-apa
0 comments

Maybe...

Maybe you're not the one
maybe I'm not the one

I'm so fragile
and now
I'm broken
because of a little thing

I'm just a dreamer
thinking that
maybe you have the same feeling like me
to you

I like you
but I still don't know
do I love you?
will I love you?
do you love me?
will you...?

No no and no...
I don't wanna dream anymore

Maybe I'm not the one
who is special

I don't want you
Monday, December 5, 2011 0 comments

Terkadang

Terkadang... Aku merasa nyaman
saat menganggap kamu sahabat baikku

Entahlah, tapi
terkadang aku merasa bahagia
kalau kamu bisa menjadi
seseorang yang melengkapi hidupku;
tulang rusukku, hembusan napasku,
detak jantungku.

Terkadang aku ingin jari-jarimu
mengisi ruang kosong di antara jari-jariku
menggenggam erat jari-jariku
Tetapi, kadang...
aku sudah merasa cukup nyaman
dengan hadirmu di sisiku

Bimbang
Menimbang rasa yang ada di hatiku
Malu menyatakan isi hati
tetapi aku juga tidak rela
jika seseorang merebut hatimu
suatu saat nanti.
Friday, December 2, 2011 0 comments

Kamu di Hatiku

Mein Gott, bin ich verlieben? Liebe ich ihn??

Apa benar aku jatuh cinta dengannya? Apakah aku sungguh-sungguh menyayanginya?

Tantang aku bermain apa saja, pasti aku akan menerima tantangan itu; menang atau kalah urusan belakangan tetapi jangan pernah menantang aku bermain dalam satu permainan ini. Karena aku sudah kalah sebelum aku mencobanya, bahkan sebelum aku memikirkannya. Aku selalu menjadi pengecut dalam permainan cinta.

Dalam hidupku, cinta itu bak permainan petak umpet. Aku selalu kucing-kucingan dengan cinta. Aku ingin meraihnya, tetapi aku berhati-hati dan selalu bersembunyi, tidak berani menunjukan wajahku kepadanya. Aku terlalu takut... Aku takut ditolak. Entahlah, aku pernah merasakan satu kali patah hati dengan seseorang yang menawarkan cinta yang tidak pernah aku terima sampai suatu hari saat aku berusaha menerimanya ia mengambil kembali cinta itu. Rasanya... sakit sekali, sakit karena benci, muak dan merasa bodoh. Terlepas dari apa yang aku rasakan, itu hanya masa lalu. Sekarang aku menghadapi hal yang berbeda. Aku mencintai seseorang, ingin sekali aku menawarkan cintaku padanya tetapi aku bingung... Bagaimana caranya? Jujur aku belum pernah merasakan rasanya penolakan (karena aku belum pernah menawarkan cinta)dan aku takut merasakannya. Hatiku berkata,

"Rasanya tidak lebih dari digigit semut, sakitnya hanya sebentar aja."

Tetapi aku terlalu malu mengatakannya. Aku tak mampu berucap. Aku ingin menyatakannya lewat tindakanku saja. Lagi-lagi... Aku bingung, apa yang harus aku lakukan?? Ingin sekali rasanya aku memberi sinyal atau kode atau semacamnya, tetapi lagi-lagi aku takut... Aku malu... Aku malu jika harus tertolak dan aku takut jika aku salah memilih orang.

Dari kejauhan, ia terasa dekat, bayang-bayang dirinya selalu menyusup dalam mimpiku, dalam pikiranku. Dari dekat, ia terasa jauh, aku bingung bagaimana aku harus bertindak? Hidup dalam kenyataan terasa lebih sulit. Aku lebih memilih bermimpi, tetapi sampai kapan aku akan terus bermimpi? Bermimpi kami; aku dan dia bersama-sama, berjalan bergandengan tangan, bercakap-cakap dengan sangat akrab; membahas hal-hal yang kami suka, bercanda, menikmati hari berdua dengan senyum yang selalu tergores dalam wajah kami, menikmati apapun bersama. Tetapi lagi-lagi aku bertanya... akankah seperti itu?

Hal yang paling aku takuti adalah.... jika kami terperangkap dalam diam, tidak mampu berdialog, kami akan menjadi pasangan yang sunyi.

Aku ragu... apakah benar aku sungguh-sungguh mencintainya?

Setiap kali aku melihat dia, ketidak sempurnaanlah yang aku lihat, tetapi saat aku memikirkan dia, kesempurnaanlah yang aku pikirkan.

Saat aku berdekatan dengannya... kenyamananlah yang aku rasakan.

Ingin aku mengenal pribadimu lebih dalam. Aku tidak mau bertindak gegabah begitu saja.

Aku membiarkan tangan Tuhan membantu aku membuka mata dan membuka jalanku menuju dirimu. Sekian lama ini... Aku melihat...
Tuhan membuka banyak pintu dan memperlebar jalanku menuju dirimu.
Aku tinggal melangkah, tetapi aku terlalu mengecilkan hatiku, takut jika kamu tidak mau menerima uluran tanganku.

Hatiku siap terluka, tetapi pikiranku terlalu menjaga perasaan hatiku.

Sekarang... aku terperangkap dalam pikiran dan perasaanku sendiri.

Jatuh cinta sendirian itu menyakitkan.

Sampai kapan aku menunggu waktu yang tepat ketika tidak pernah ada waktu yang tepat???

Tuhan... yakinkan aku.
Monday, November 7, 2011 0 comments

Kunci F

Melihatmu
mengingatkanku pada satu masa
saat aku belajar Piano
pertama kali

Aku baru mengenal kunci F
kadang aku keliru menilainya
menyamakannya dengan kunci G
yang sama sekali berbeda

Kunci F
nyanyianmu tenang
walau tampil sesekali
namum kehadiranmu
mampu menggugah hatiku

Kunci F
sangat misterius
suaramu berbisik;
begitu rendah dan lembut
nada-nadamu sulit kuterka

Aku bingung
bagaimana aku harus memahami dirimu?

Aku ingin mengenalmu

Nyanyikanlah melodimu
aku akan mendengarkannya
0 comments

Balada Harmoni

Menjadi harmoni yang indah
impianku tentang dirimu
bersama diriku kelak

Kita berada dalam dunia yang sama
tertoreh pada selembar partitur
kita begitu dekat
hanya terpisah dalam 2 bar berbeda

Kita pribadi yang berbeda
aku kunci G
dan kau kunci F
menyanyikan melodi berbeda
namun seirama dalam harmoni

Kadang aku menangkap melodi indahmu
yang selaras dengan melodiku
kau separuh jiwaku dalam harmoni
yang menyempurnakan kekuranganku
tanpamu,
melodiku hanyalah nyanyian kering

Kita dua kunci yang berbeda
melaju dalam dua bar berbeda
mengejar tempo hingga akhir lagu

Tak perlu aku sama dengan dirimu
dengan perbedaan
kita ciptakan harmoni yang indah

Tak ada lelah mengejar tempo
walau tiada akhir lagu
selama aku
bersama denganmu
bergelung dalam harmoni
0 comments

Curahan Hati

Apakah aku mencintaimu?

Aku rasa
aku hanya mengagumimu saja
kau tidak rupawan
tetapi kau menawan

Rasanya
aku merasa nyaman denganmu
sebagai teman bermain saja
kau bukan penghiburku
namun kau adalah hiburanku

Kau sangat berbakat
terkadang
aku iri denganmu
tetapi kau ajariku banyak hal
kau guruku yang hebat

Kau jenaka
tetapi kau bisa bungkam seribu bahasa
sulit aku memahami dirimu saat kau sendirian
aku lebih suka dirimu yang jenaka

Mungkin...
salahku mengartikan rasa ini
atau
aku belum mengerti arti rasa ini?

Apa pun itu
aku tidak ingin memaksa diriku
untuk selalu mengingini dirimu
yang dekat
namun nun jauh di sana
Sunday, November 6, 2011 0 comments

Balada Hati

Satu rasa
berbaris dalam untaian kata
yang tak mampu dilafalkan lidah

Ia hanya bergulat,
meringkuk dipojok ruang gelap
menunggu seberkas cahaya
menyinari tubuhnya

Ketika cahaya terpantul
pada kulitnya yang berkilau
ia berharap
seseorang akan melihatnya,
seseorang akan mengerti,
seseorang akan menjamahnya

Tetapi sampai kapan
ia harus menunggu
terkunci dalam lorong gelap
dingin dan tak bertuan?

Sampai kapan ia menunggu
seseorang datang
membuka lorong gelap
membopong dirinya keluar dari sana?

Ia hanya sebuah rasa
teruntai dalam tiga kata
terpahat dalam loh hatiku
ia ingin didengar
ia siap berteriak
namun hanya mampu berbisik

Aku sayang kamu...
Sunday, October 23, 2011 0 comments

Butterfly -2-

Langit senja berganti langit kelam. Aku lapar. Saat aku masih menjadi ulat, aku akan mencari beberapa helai daun muda untuk makan malamku. Di hadapanku berdiri kokoh sebuah pohon besar dengan daun-daun hijau muda yang segar, seharusnya dengan sayap ini aku bisa mencapai pucuk pohon dengan mudah, tetapi, entah mengapa sekarang aku tidak berselera mengunyah daun. Ada apa dengan lidahku? Aneh... Yang aku inginkan sekarang adalah sesuatu yang harum, manis dan..... lengket??? Entahlah benda apa itu?

Aku tetap terbang melintasi udara, dengan indra penciumanku, aku berusaha mencari sesuatu yang harum dan manis. Indra penciumanku menangkap aroma harum dan manis. Hmmmm.... Aku terbang merendah mendekati sumber aroma itu dan aku menemukan...

"Setangkai bunga?"

"Hai nona manis, ada yang bisa aku bantu?"
Bunga ini bisa berbicara? Sejak kapan aku mengerti bahasa bunga?

"Oh... Kamu pasti bingung, kenapa kamu bisa mengerti bahasa kami para bunga, iya kan?"
Aku hanya mengangguk.

"Tidak apa-apa, lama kelamaan kau juga akan mengerti."
Jawabnya sambil menebarkan senyumnya yang mempesona.

"Oh iya, kamu ada perlu apa di sini? Hmmm... Kamu lapar ya?"
Gosh... Bagaimana ia bisa tahu? Lagi-lagi aku hanya mengangguk.

"Sini, kemari dan lihat lah ke dalam."
Ia membuka lebar kelopaknya, aku melihat tangkai-tangkai yang dipenuhi sebuk-sebuk kuning dan pada dasar kelopak aku menemukan cairan yang aromanya harum dan manis, sangat menggoda seleraku.

"Kamu lihat cairan itu? Itu nektar, ambillah sebanyak yang kamu mau, kamu pasti sangat kelaparan."

"Ehm... Terima kasih bunga."
Ku tak dapat menahan hasratku untuk mencicipi nektar itu.
Ternyata.... Rasanya nikmat sekali, seperti.... madu? Aku tidak tahu, yang pasti nektar ini enak! Lengket, harum dan manis.

"Bagaimana menurutmu? Nektarku enakkan?"

"Hehe... Iya"
Jawabku sambil terus mengunyah nektar itu.

"Di antara sekian bunga, nektarku lah yang terenak, hahaha."
Aku hanya tersenyum, antara percaya dan tidak dengan ucapan bunga ini, tetapi memang nektar ini sangat spesial.

"Bagaimana? Kamu masih lapar? Ambillah yang banyak."

"Ehm... Tidak, terima kasih, aku sudah kenyang. Jika aku memakan semua nektarmu, nanti kau tidak kebagian."

"Tidak kebagian? Hahaha... Nona biru, walau pun aku yang menghasilkan nektar ini, tetapi nektar ini bukan untukku, tetapi untuk siapa pun yang membutuhkannya."

"Tetapi, kau pasti membutuhkan nektar ini juga kan? Kau juga perlu makan bunga."

"Nona, mungkin kamu belum paham, tetapi kita diciptakan untuk saling melengkapi, apa yang aku miliki itu untukmu."

Aku masih belum mengerti apa maksud bunga, tetapi aku salut dengan dirinya yang masih mau berbagi dalam kesederhanaannya.

"Maaf, nona biru, boleh ku tahu siapa namamu?"

"Oh, kenalkan, aku Butterfly. Siapa namamu?"

"Aku Dafodil, senang berkenalan denganmu nona."

"Terima kasih, maaf Dafodil, aku harus kembali ke rumah pohon, kami akan berpesta nektar."

"Wow... Berpesta? Sepertinya asik sekali rasanya... saat kau bisa bebas, terbang ke sana kemari tanpa halangan."

"Kau mau ikut? Aku bisa mengajakmu terbang bersamaku."

"Oh... Tidak terima kasih, aku masih mau menikmati kehidupanku."

"Bagaimana kamu bisa menikmati hidup tanpa berpindah sejengkal dari sini? Kamu butuh hiburan, Dafodil."

"Iya, tetapi bukan itu caranya. Kehadiran dirimu saja sudah menjadi hiburan untukku."
Senyuman menawan itu merekah lagi.

Aku masih tidak mengerti apa maksud bunga ini.
"Oh, baiklah, besok aku akan berkunjung lagi. Sampai jumpa Dafodil."

"Sampai jumpaaa... Jaga dirimu!!"
Suara itu terdengar seperti sayup-sayup, aku terus mengepakkan sayapku, terbang melintasi langit kelam.
0 comments

Butterfly -1-

In loneliness, I learnt how to having each other.
In my sadness, I learnt how to smiling without tears.
In silent, I learnt a lot how to loving without pain.
In my cocon, I learnt how to fly without wings.

Bergulat dalam balutan kepompong sutraku yang hangat. Sudah saatnya aku keluar, mengejar impianku; terbang. Walau pun aku belum mengerti apa itu terbang dan kata itu masih terdengar asing, entah mengapa saraf-sarafku menegang saat aku memikirkan kata itu. Jantungku berdetak keras, adrenalin mengalir deras dalam tubuhku, seolah-olah terbang adalah sesuatu yang sangat menantang, lebih menantang dari pada memanjat pucuk pohon demi mengunyah sehelai daun muda.

Aku semakin tidak sabar, ku gerakan tubuhku kesegala arah, berusaha menembus pertahanan kain putih ini. Aku yakin hidup di luar sana sebagai kupu-kupu pasti sangat indah. Aku jadi tidak sabar!! Dengan segenap kekuatanku, akhirnya aku berhasil menembus kepompong ini.

Setelah tak terhitung berhari-hari lamanya, akhirnya aku bisa menghirup udara segar lagi. Sekali tarikan napas udara dingin dan segar langsung memenuhi paru-paru kecilku, sekali hembusan aku merasakan tubuhku mulai memanas, energi mulai terbakar dalam diriku. Ku lihat diriku, sekarang aku bukan seekor ulat lagi, aku adalah seekor kupu-kupu. Walau pun aku belum bisa melihat seperti apa sayapku, tetapi aku sudah bisa merasakannya. Aku punya sepasang sayap yang lembut.

Dengan kakiku yang masih lunglai, aku bertengger di ranting pohon, aku menunggu diriku sepenuhnya sadar. Aku merasakan cairan dalam tubuhku mengalir memompa sayapku yang masih rapuh. Perlahan namun pasti, ku rasakan sayap-sayap ini kian mengembang. Sepasang sayap yang layu kini membentang dengan indah di punggungku.

Dari ranting ini aku menyaksikan pemandangan spektakuler langit senja yang manis, burung-burung camar berterbangan di angkasa bunga-bunga mulai menguncupkan keopaknya, hewan-hewan nokturnal berkeliaran dari sarangnya. Indah sekali. Aku melihat ke bawah, ternyata aku berada di pucuk tertinggi pohon, daratan jauh sekali dari jangkauan ku. Aku yakinkan diriku untuk siap meluncur ke depan. Ku bentangkan kedua sayapku. Jantungku berdebar keras, semakin tidak karuan; bimbang apakah aku bisa terbang dengan sayap ini atau aku akan jatuh menghantam humus? Adrenalin membasahi dinding nadi-nadiku. Ku pejamkan mata, ku coba melangkah beberapa langkah ke depan dan ku kepakan kedua sayapku.

"Wuuush....", angin berhembus mengangkatku semakin tinggi ke angkasa. Sayap-sayapku meronta, tidak bisa melawan arah angin ini.

"Wuuuuush....", angin semakin keras, aku mulai kehilangan keseimbangan, kakiku meronta-ronta di udara.

"Tolong! Tolong!!", tetapi tidak ada satu makhluk pun yang mendengar diriku.

"Wuuuuush.....", angin membalik tubuhku.

"Aku akan jatuh... aku akan jatuuh!!"
Tubuhku tertarik gravitasi, menukik ke bawah siap menghantam bumi. Bau humus semakin pekat, ku kumpulkan segenap kekuatanku ku kepakan kedua sayapku yang rapuh dan.....

Aku berhasil melayang di udara, perlahan aku terbang ke depan mengikuti arah angin berhembus, ku kepakan kembali sayapku dan diriku semakin melambung tinggi, tinggi dan tinggi.

"Wohooooo! Ini asik sekali!!"
Aku tak pernah melihat pemandangan seindah ini, rumput-rumput hijau menari, bunga-bunga memandangku takjub, aku melihat segerombol kupu-kupu kuning terbang dari arah berlawanan, senyuman merekah di wajah mereka,

"Selamat bergabung sobat!"

"Nikmati hari barumu"

"Sampai berjumpa malam nanti di pesta nektar di bawah pohon mapel"

"Terima kasih!!", seruku pada mereka. Ku kepakan kembali sayapku.

Aku terbang menuju sebuah danau, aku melihat sekumpulan angsa putih sedang berpesta ikan. Kasihan, ikan-ikan yang malang, aku terbang melintasi permukaan danau yang jernih. Kini aku melihat sosok bayangan indah yang terbang dengan gemulai,

"Hah?? Apakah itu diriku?", aku bertanya-tanya sambil terus terbang mengamati bayangan itu.

"Iya. Itu kamu cantik." Ucap seekor angsa padaku.

Aku masih tidak percaya, ternyata.... Aku seekor kupu-kupu bersayap biru yang cantik. Aku melihat gradasi warna hitam dan biru yang memukau, di tambah totolan warnah putih dan sedikit corak coklat pada tepi sayapku.

Ini... Luar biasa. Aku suka sayap-sayapku, bahkan aku mulai jatuh cinta dengan bayanganku. Aku segera terbang menjauhi danau, takut bila aku kehilangan akal sehatku.
0 comments

Aurel -1- (2010)

Ini adalah kisah dari sebuah keluarga kecil 100 tahun yang lalu. Keluarga itu terdiri dari bapak Jhon dan ibu Ema. Meski keluarga mereka kecil, mereka adalah salah satu dari orang-orang kaya di desa Iris dan mereka terkenal sebagai orang yang dermawan dan rendah hati, mereka tidak sungkan menolong warga di desa Iris setiap kali mereka membutuhkan bantuan. Bapak Jhon adalah pengusaha hebat yang berlayar keliling dunia dan ibu Ema adalah ibu rumah tangga yang bekerja seharian mengurus rumah dengan bantuan para pelayannya. Mereka adalah pasangan paling serasi yang dikagumi oleh teman-teman mereka.

Tetapi sayang, walaupun kekayaan mereka melimpah, orang-orang desa mengagumi mereka dan mereka punya banyak teman, mereka merasa kesepian. Mengapa? Karena mereka belum memiliki seorang anak. Hal yang paling diimpikan oleh bapak Jhon dan ibu Ema. Setiap malam mereka berdoa pada Tuhan, meminta kehadiran seorang anak.
Tuhan memang baik, setelah 5 tahun penantian, ibu Ema pun mengandung seorang anak. Sungguh keluarga kecil itu merasa sangat bahagia. Setiap malam ibu Ema membacakan dongeng bagi si calon bayi di dalam perutnya, setiap pagi pun ibu Ema menyanyikan lagu-lagu indah untuk menghibur anak dalam perutnya.

Sebulan, dua bulan, tiga bulan, empat bulan..... hingga sembilan bulan menunggu, akhirnya tepat pada malam Natal, ibu Ema melahirkan bayi perempuan yang ia namakan Aurel. Sungguh, Aurel adalah kado Natal istimewa bagi bapak Jhon dan ibu Ema.
Tujuh tahun kemudian, Aurel tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik, pintar dan riang. Tetapi.... Aurel sedih, ia malu. Karena sampai saat ini belum ada sehelai rambut yang tumbuh di kepalanya. Aurel tidak berani keluar rumah bertemu dengan anak-anak seumurannya, karena setiap kali ia bertemu dengan teman-temannya, mereka malah mengejek Aurel.

“Hahaha, Aurel botak!”
“Aurel jelek!”
“Aku gak mau main sama orang botak kayak kamu, hahaha”

Aurel pun memutuskan untuk kembali ke rumahnya, ia hanya bisa menangis dan bermain sendirian di rumahnya. Aurel kesepian tanpa teman, ayahnya bekerja dan ibunya sekarang juga sudah bekerja di toko kue, tidak ada yang menemani Aurel, hanya ia dan dirinya.

Suatu malam sebelum tidur mama berpesan pada Aurel, “ Aurel sayang, apa pun yang kamu inginkan, minta sama Tuhan dalam doa. Jangan pernah lelah atau malas berdoa demi impian kamu. Tetapi kamu juga harus berusaha ya, karena doa tanpa perbuatan
tidak akan menghasilkan apa-apa”.
“Apakah itu benar ma?”, tanya Aurel.
“Iya, kamu tahu sayang? Kamu adalah doa terbesar mama yang telah dikabulkan”, jawab mama tersenyum, lalu mencium kening Aurel dan meninggalkan Aurel.
“Selamat tidur sayang, jangan lupa berdoa”
“Iya mama”
Aurel berlutut di depan kasur, melipat tangan, menutup mata dan mulai berdoa.
“Tuhan, selamat malam. Malam ini Aurel ingin tidur, berkati agar Aurel bisa tidur dengan nyenyak. Ehm. Oh ya. Tuhan, Aurel ingin sekali punya rambut, gak apa-apa deh kalau rambutnya gak seindah rambut teman-teman Aurel, asal Aurel sudah punya saja, Aurel sudah senang kok, terimakasih ya Tuhan, amin”. Setelah berdoa, Aurel naik ke tempat tidurnya dan tertidur lelap.

Malam itu Aurel bermimpi bertemu dengan malaikat. Malaikat itu sangat cantik, kulitnya putih, bersinar, matanya hijau, rambutnya coklat, lurus, indah dan sangat panjang melebihi punggungnya. Aurel takjub melihat malaikat yang begitu cantik itu.

“Hai Aurel, aku malaikat Glory dan aku tahu apa impianmu, sayang”, ucap malaikat Glory sambil tersenyum.
“Hah? Benarkah? Kau ingin memberiku rambut?”, Aurel bertanya-tanya penuh semangat.
“Ya, benar sekali sayang. Kau lihat rambutku ini? Bagaimana menurutmu?”
“Wah, rambutmu sangat indah Glory, tetapi mana mungkin aku bisa punya rambut seindah itu”, Aurel mengusap-usap kepala botaknya sambil cemberut kecewa.
“Tidak juga sayang. Lihat ini”, di tangan malaikat Glory terdapat sebilah belatih perak, lalu ia memotong rambut panjangnya hingga sependek bahunya.
“Astaga, apa yang kau lakukan Glory?”
Malaikat Glory hanya tersenyum, ia mengusap kepala Aurel dengan rambut panjangnya dan dalam sekejap, rambut itu menempel di kepala Aurel.
“Ini tidak mungkin! Aku punya rambut panjang, indah, ini tidak mungkin Glory”, Aurel mengusap kepalanya yang sekarang telah ditumbuhi rambut indah malaikat Glory.
“Tidak ada yang tidak mungkin sayang”, malaikat Glory tersenyum.
“Terimakasih malaikat Glory, terimakasih atas rambut indah ini. Tetapi apa kau tidak apa-apa?”
“Hahaha, sayang, rambutku masih bisa tumbuh. Oh ya, aku ingin berpesan, jaga rambutmu baik-baik, rawatlah agar tetap indah dan gunakan rambutmu untuk kemuliaan Tuhan. Dan ingat, jangan sombong ya”, lagi-lagi Glory tersenyum.
“Oke malaikat Glory, aku janji”, jawab Aurel penuh semangat.
“Oh ya, sekarang bangunlah dari tidurmu dan bermainlah bersama teman-temanmu”.
Dalam sekejap, Aurel terbangun dari mimpi indahnya.
“Ah, mimpiku indah sekali. Yah, sayang itu hanya mimpi. Jadi tidak mungkin itu terjadi padaku”, Aurel beranjak dari tempat tidurnya dan bercermin.
“ASTAGA! Mimpiku jadi kenyataan! Asik aku punya rambut! MAMA!!! PAPA!!! KEMARI”
Papa dan mama berlari menuju kamar Aurel dan menemukan Aurel dengan rambut barunya sedang tersenyum bahagia. Mereka pun ikut bahagia dan langsung memeluk Aurel.
“Pa, ma, lihat! Doa ku semalam telah dikabulkan”
“Iya sayang, ternyata kamu menuruti nasehat mama. Sekarang kamu percaya dengan kuasa doa kan?, tanya mama pada Aurel.
“Wah, anak papa cantik sekali dengan rambut barunya. Sekarang mandi dan pergilah bermain bersama teman-temanmu sayang”.
“Iya papa”. Aurel langsung bergegas mandi, berpakaian dan menyisir rambutnya agar tetap rapih.
Pada pagi hari, Aurel mendatangi teman-temannya di taman. Aurel yang biasanya dihina, tiba-tba menjadi primadona di mata teman-temannya.
“Wah Aurel cantik sekali”
‘Aku tidak berani mengejek Aurel lagi ah”
“Ayo Aurel, ayo kita bermain bersama”
“Wah, terimakasih ya teman-teman, kalian sudah mau bermain denganku”, jawab Aurel dan ikut bermain bersama.

Aurel begitu bahagia, baru kali ini ia bisa merasakan bermain kejar-kejaran di taman yang indah, yang dipenuhi bunga-bunga dan dedaunan hijau, Aurel juga menikmati permainan ayunan yang menghempas rambut indahnya ke udara.

Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan hingga enam bulan berlalu, rambut indah Aurel terus menjadi topik pembicaraan teman-temannya sepanjang hari. Hal ini membuat Aurel merasa sangat bangga terhadap dirinya yang berambut panjang. Tetapi sayang, kebanggaan Aurel berubah menjadi kesombongan, ia menjadi gadis kecil yang angkuh, yang suka memilih-milih teman, yang suka mengejek dan merendahkan teman-temannya yang tidak cantik di matanya.

Pada suatu sore, Aurel sedang bermain di taman bersama teman-temannya, mereka anak pengusaha kaya seperti Aurel. Tiba-tiba Clara datang.

“Hai Aurel, Cindy, Saly, aku ikut bermain bersama kalian ya”, Clara ingin sekali bergabung dengan mereka.
“Apa? Hahaha, kau yakin ingin bermain bersama kami?”, tanya Cindy dengan nada mengejek.
“Ih, pergi sana, kau kan hanya anak tukang kayu yang miskin, pakaianmu saja jelek, aku tidak mau bermain denganmu”, ucap Aurel dengan penuh kesinisan.
“Aurel, kenapa kamu jadi sombong? Dulu kamu masih mau bermain bersama aku?”
“Itu dulu, sekarang lain. Sudah sana, jangan ganggu kami”, ucap Cindy.
“Huss, pergi sana!”, Aurel mulai mengusir Clara.
“Kamu jahat Aurel!”, Clara pergi sambil menangis.

Datang Ricky, sahabat karib Aurel yang mengajak Aurel bermain. “Hai Aurel, ayo kita bermain bersama, bagaimana kalau kita memancing ikan di danau. Nanti aku akan memasak ikan yang lezat untukmu”, Ricky mengajak Aurel dengan penuh semangat.

“Gak mau! Kamu pergi sana! Kamu cuma anak yatim miskin, aku tidak mau makan ikan kotor itu lagi!”, ucap Aurel.
“Kenapa kamu jadi sombong begini sih? Dulu kita sahabat dekat Aurel, sama kamu lupa?”
“Pokoknya aku gak mau main sama orang miskin dan jelek seperti kamu, pergi sana!”, Aurel mulai mengusir Ricky.

Ricky pun pergi, begitu juga dengan teman-teman Aurel yang lainnya, merka tidak suka dengan sifat Aurel yang angkuh dan suka menghina itu. Walaupun mama dan papa sudah mengingatkan, Aurel masih saja tidak mau mendengarkan. Hingga lama- kelamaan Aurel tidak punya teman lagi, ia sendirian lagi, ia sedih dan bingung bagaimana ia harus mendapatkan teman-temannya.

Pada suatu sore, Aurel sedang duduk di ayunan sendirian, menikmati hembusan angin yang mengibarkar rambutnya
“Mengapa mereka membenciku?”, Aurel bertanya-tanya.
Tiba-tiba muncul sosok cahaya putih di depan Aurel.
“Hai Aurel, masih ingat aku?”, ternyata itu malaikat Glory.
“Malaikat Glory? IYA! Tentu aku masih mengingatmu. Eh, ada apa dengan rambutmu? Kemana rambut indahmu? Emm... maksudku mengapa rambutmu....”
“Iya Aurel, rambutku mulai menipis, rambutku rontok Aurel”, jawab malaikat Glory dengan wajah sedih.
“Lho? Bagaimana bisa? Bukannya rambutmu bisa tumbuh memanjang lagi?”
“Iya, tetapi karena rambutmu itu, rambutku jadi seperti ini”, jawab malaikat Glory lirih.
“Lho? Bagaimana bisa? Lagi pula aku merawat rambut ini kok, aku mencucinya, menyisirnya, merapikannya. Lihat saja, rambutku masih indah sampai sekarang”, jawab Aurel polos.
“Iya, rambutmu memang terlihat indah, tetapi tidak seindah akibat dari rambutmu itu. Aurel sayang, mengapa kamu ingkar janji? Mengapa kamu menjadi anak yang sombong, Aurel?”
Aurel terdiam. Ia melihat rambutnya yang indah, lalu ia teringat perbuatan yang ia lakukan pada teman-temannya. Aurel mulai menyesal atas perbuatannya,
“Lalu, aku harus bagaimana sekarang?”
“Minta maaflah pada teman-temanmu”, jawab malaikat Glory sambil tersenyum.
“Tetapi, mereka sudah membenciku, apa mereka mau memaafkan aku?”
“Jangan pikirkan itu dahulu, meminta maaflah terlebih dahulu”, jawab malaikat Glory dan tiba-tiba ia menghilang.
“Malaikat Glory? Kau sudah pergi?”, Aurel bertanya-tanya. Sekarang hati Aurel di landa rasa bersalah, tanpa berpikir panjang Aurel berjalan menuju rumah teman-temannya untuk meminta maaf.

Pertama Aurel mendatangi rumah Charlie, ia anak seorang tukang roti, tetapi Charlie tidak mau bertemu dengannya. Kemudian ia berjalan ke rumah Emy, tetapi Emy sedang tidak ada di rumah. Lalu Aurel menemukan teman-temannya yang lain, mereka sedang berkumpul di taman, sedang bermain, Aurel pun mendatangi mereka,
“Ehm. Teman-teman, aku datang kemari. Aku... Aku mau meminta maaf, aku menyesal sudah bertindak sombong dengan kalian”, ucap Aurel tertunduk malu. Teman-teman Aurel tidak mau memaafkan Aurel, mereka meninggalkan Aurel, kecuali satu orang, ia adalah Clara.
“Iya Aurel, aku memaafkanmu. Aku kira kau memang sangat sombong, ternyata tidak juga”, ucap Clara sambil tersenyum pada Aurel.
“Benarkah? Terimakasih Clara”, kemudian Aurel memeluk Clara penuh dengan rasa bahagia.

Perjalanan Aurel berlanjut menuju rumah di tepi danau. Iya, itu rumah Ricky. Aurel mengendap-endap mendekati pondok kumuh itu. Aurel mengintip dari lubang dinding kayu, ia melihat Ricky sedang duduk di samping ibunya yang sedang terkapar di ranjang. Ternyata itu Ricky sedang sakit parah.

“Uhuk... Uhuk.. Uhuk.... Sudah Ricky, waktu ibu tinggal sedikit, biar saja.”
“ Tidak ibu, Ricky akan bantu cari uang untuk ibu, ibu tenang saja, ibu pasti bisa bertahan.”
“Tidak usah nak, ibu masih bisa bekerja. OHOK... OHOK...”, batuk keras itu menyebabkan darah terhambur dari mulut itu Ricky.
“Astaga darah lagi! Ibu istirahat saja di sini. Sekarang Ricky akan bekerja mencari kayu di hutan”. Ricky membersihkan darah yang terhambur dari mulut ibunya, mencium kening ibunya lalu berjalan menuju pintu keluar. Saat itu juga Aurel langsung mendatangi Ricky.
“Ricky!”, seru Aurel.
“Ricky hanya menoleh sebentar sambil tersenyum kecut, lalu pergi”
“Ricky tunggu sebentar. Aku ke sini untuk meminta maaf. Aku jahat, aku sombong, maafin aku Ricky”, Aurel mulai memohon-mohon pada Ricky.
Senyum kecut Ricky berganti dengan senyum manis, Ricky mengusap kepala Aurel dan berkata,
“Iya, aku maafin. Tapi aku harus pergi sekarang, aku mau cari uang untuk ibuku, ia sedang sakit”
“Aku ikut kamu Ricky!”
“Jangan, bahaya lho gadis kecil kayak kamu masuk hutan mencari kayu bakar. Kamu pulang saja sana”, ucap Ricky sampil meninggalkan Aurel menuju hutan.
Aurel yang tidak bisa berbuat apa-apa kembali pulang, sambil terus memikirkan bagaimana cara memperoleh uang sendiri untuk membantu Ricky. Dalam perjalanan, tiba-tiba ia bertemu seorang wanita gelandangan, wanita itu menatap takjub pada Aurel,
“Amboi! Apakah kau seorang malaikat? Wajahmu cantik dan rambutmu indah”, ucap wanita itu sambil membelai rambut Aurel.
“Maaf, tapi jangan sentuh aku”, ucap Aurel sopan.
“Oh, maafkan wanita tua ini. Ohoho, tetapi aku belum pernah melihat rambut seindah ini? Sekali lagi aku bertanya, apakah kau malaikat?”
Lalu Aurel menjawab, “bukan, aku bukan malaikat, aku manusia biasa. Tetapi rambutku ini memang pemberian malaikat, Glory namanya”
“Ah, Glory, sukacita. Yah, memang seharusnya kamu menjadi pembawa sukacita itu nak”, wanita tua itu mulai berseru.
“Haruskah begitu, bu?”

Wanita tua itu menghiraukan pertanyaan Aurel, ia terus berbicara sendiri, “amboi, rambutmu itu pasti mahal sekali harganya, jika aku punya rambut seperti itu, pasti sudah ku jadikan rumah, ohoho. Tapi ya sudahlah, pulanglah nak, hari sudah hampir malam, tak usah kau dengarkan ocehan wanita tua ini”. Wanita tua itu pergi meninggalkan Aurel.

Aurel terus berjalan hingga sampai rumah. Sepanjang jalan Aurel masih memikirkan kembali percakapannya dengan wanita tua itu. Ia terus merenung hingga ia tertidur lelap malam itu.
0 comments

Aurel -2-

Keesokan paginya Aurel terbangun. Ia mandi, berpakaian, menyisir rambut, menyisipkan rambutnya ke dalam topi, sarapan dan bersiap-siap pergi. Kemana ia akan pergi? Hanya Aurel yang tahu, ia sudah punya rencana dan belum ada seorang pun yang tahu.

Aurel berjalan menuju jalan pertokoan menuju sebuah rumah cukur rambut Joy, bangunannya besar, milik pengusaha ternama. Sampai di rumah cukur rambut, Aurel langsung mendatangi seorang bapak tukang cukur.
“Pak, apa aku bisa menjual rambut di sini?”
“Oh bisa, tapi tergantung kualitas rambutnya.”
“Paling murah berapa?”
“50 Gold, kau bisa beli sepasang sepatu dengan itu”
“Kalau paling mahal?”
“Ehm... Bisa 1000 Gold, kau bisa membeli rumah sekaligus mobil dengan itu”
“Apa kau punya uang sebanyak itu?”
“Aku? Hahaha... Tentu saja nak, aku adalah Joy, pengusaha kaya raya.”
“Tetapi mengapa kau menjadi tukang cukur?”, tanya Aurel penasaran.
“Aku sedang berlibur, aku memanfaatkan waktu luangku untuk membantu orang lain, lewat cara ini, nak”, jawab pak Joy sambil tersenyum.
“Baiklah kalau begitu pak Joy, aku ingin menjual rambutku seharga 1000 Gold”, jawab Aurel sambil membuka topinya. Rambutnya yang indah pun terurai.
“WAW! Indah sekali rambutmu nak, panjang, halus, sehat dan rapih. Aku bersedia memberimu 1050 Gold untuk ini”
“Wah benarkah? Kalau begitu, potong rambutku dan sisakan sebahu untuku”, ucap Aurel.
“Oh, maaf nak. Jika, aku baru mau menjual 1000 Gold jika rambutmu ku potong habis. Itu perjanjian yang berlaku di sini”, jawab bapak Joy.
Aurel menimbang-nimbang, berapa biaya yang dibutuhkan ibu Ricky, apa cukupkah 1050 Gold atau malah kelebihan? Akhirnya Aurel memutuskan,
“Ya sudah, potong saja semua rambut saya”, jawab Aurel lirih.
Dengan gunting rambut, bapak Joy memangkas habis semua rambut Aurel. Kurang lebih satu jam, rambut Aurel sudah terpangkas habis. Aurel menatap ke kaca, melihat kepalanya yang kembali botak tanpa sehelai rambut. Aurel merasa sedih.
Melihat wajah sedih Aurel, pak Joy pun mulai menghiburnya, “Nak, bapak tidak tahu untuk apa kamu menjual rambut indahmu untuk uang sebanyak itu, tetapi bagi bapak, kamu tampak lebih cantik dan bersinar tanpa rambutmu itu lagi”.
Hati Aurel berbunga-bunga, ia merasa sangat bahagia. Ia memakai topinya kembali dan dengan sekantong 1050 Gold, Aurel berlari penuh semangat menuju rumah tepi danau. Aurel melihat Ricky sedang duduk memancing ikan di tepi danau, Aurel mendatanginya.
“Hai Ricky, sedang apa kau?”
“Hai Aurel, aku sedang memancing. Ehm, tumben sekali kau memakai topi?”
“Ah, tidak apa-apa. Oh ya, Ricky, aku membawa sesuatu untukmu”, Aurel langsung menyodorkan sekantong logam emas untuk Ricky.
“A...Apa ini? Kau dapat dari mana? Kau mencuri?”, Ricky bertanya-tanya.
“Tidak! Enak saja, ini hasil usahaku Ricky”
“Bagaimana bisa kau menghasilkan uang sebanyak ini dalam semalam?”
Aurel membuka topinya dan Ricky menemukan jawabannya.
“Jadi.... Ini rambutmu?”, tanya Ricky
“Yap. Kau harus menerimanya Ricky, aku melakukan ini untuk sahabatku”,jawab Aurel penuh nada riang.
“Hiks.... Terimakasih Aurel!”, Ricky memeluk Aurel sambil menangis bahagia.
“Sama-sama Ricky”.

Sejak saat itu, ibu Ricky mendapat perawatan yang layak, dari hari ke hari kondisi tubuhnya membaik. Sementara Aurel, ia mendapatkan teman-temannya kembali. Mereka begitu takjub dengan kebaikan Aurel. Mama Ema dan papa Jhon juga sangat bangga memiliki anak sebaik Aurel. Aurel merasa sangat bahagia, walaupun ia tidak memiliki rambut lagi.

Pada suatu malam, Aurel bermimpi.
“Hai Aurel, masih ingat aku?”
“Malaikat Glory. Waw! Rambut indahmu sudah kembali!”
“Iya, ini berkat kebaikanmu dan rambutmu.”
“Iya, aku senang sekali bisa melakukan hal semacam itu dan sekarang aku tidak perlu pusing memikirkan berambut ataupun tidak”
“Oh iya? Coba kau usap kepalamu”
Aurel mengusap kepalanya dan....”wah, rambutku sudah tumbuh?”
“Tetapi rambutmu masih pendek, tidak apa-apakan?”, tanya malaikat Glory.
“Ya, tidak apa-apa kok, kan rambutku sudah bisa tumbuh”, jawab Aurel penuh semangat.
“Iya. Jaga baik-baik ya rambutmu, rawat agar tetap indah”, ucap malaikat Glory
Aurel terbangun dari tidurnya, melihat ke kaca dan tersenyum bahagia dengan rambut barunya.
Saturday, October 22, 2011 0 comments

Membalik Segelas Harapan

Semua itu telah lepas
Semudah membalikan gelas berisi air

Tetapi membalikan hati yang terlalu penuh
lebih berat dari pada membalik segelas air

Harapan
Mimpi
dan keinginan
hanya sederet ketidak pastian
membumbung, memenuhi dan menyesaki hatiku

Tak kuatku menyimpannya
tak kuatku menahannya
sesak, hati kecilku hampir pecah

Kubalik segelas harapan itu
biarlah mereka mengalir
mengarungi perairan dangkal selokan
berkumpul dan bersatu
dengan sejuta harapan dan mimpi
yang telah ku sia-siakan juga
0 comments

Kebenaran di Balik Aksara

(Puisi ini terinspirasi dari sahabat baikku Sesil, ia yang mengajariku; bahkan dalam terdiam kita bisa belajar lebih banyak mencintai)

alif kaf wau sin ya nga kaf alif mim wau
alif kaf wau mim nga ha alif ra fa kaf nun ha dal ra mim wau
tetapi aku bodoh
alif kaf wau mim nga ha alif ra fa kaf nun ha dal ra nya jim wau ga

lam ba ha ba ya kaf
kaf lam wau fa alif kaf nun kaf lam ya alif nun
aku tidak mau tertawan jeruji kasmaran
Sunday, October 16, 2011 0 comments

Hanya Kasmaran

Aku, kamu dan dia
Tiga pribadi berbeda
dengan kisah hidup yang berbeda

Aku, kamu dan dia
Aku terkagum
pada kehebatan dirimu
dan keunikan dirinya

Aku, kamu dan dia
Aku naif
menginginkan kamu
dan juga dirinya

Aku, kamu dan dia
Siapakah kita?
Siapa kamu? Kamu hanya penyegar jiwaku yang kering
Siapa dia? Dia hanya padang pasir yang mengeringkan jiwaku

Aku, kamu dan dia

Ah...
aku tidak mau ambil pusing
perasaanku... biasa saja
tidak ada lagi kamu
atau pun
dirinya

:)
0 comments

Setitik Bintang di Langit Malam

Aku masih berdiam diri. Diam bukan berarti tidak mau melakukan apa-apa, melainkan karena tidak ada yang bisa aku kerjakan.

Aku melihat mereka sudah sibuk mengurus ini dan itu. Mengajukan nama ke berbagai universitas, mengikuti interview bahkan ada yang sudah diterima di universitas impiannya. Sedangkan aku? Masih menunggu hingga waktu itu datang.
Nasib mendaftar di perguruan tinggi negeri, test baru dibuka menjelang akhir tahun ajaran nanti. Tak terbayang seberapa berat beban yang aku tanggung dalam hal ini. Berbagai pertanyaan menyebalkan menggeliat di dalam kepalaku; apakah aku bisa menembus saringan masuk perguruan tinggi negeri? Mampukah otak bahasaku ini memecahkan soal-soal IPS? Apa yang harus aku persiapkan? Apakah benar masuk ke perguruan tinggi negeri didasari oleh keberuntungan belaka? Jika iya, apakah keberuntungan akan menghampiri diriku?

Kalau sudah seperti ini, perasaan galau pasti datang menghampiri. Yeap... aku sudah beberapa kali merasakan elegi dalam rangkulan kegalauan dan itu sangat tidak enak. Perasaan-perasaan itu hanya semakin membuatku gelisah dan tidak bisa berpikir jernih. Tidak ada seorang pun yang bisa menenangkan perasaan ini, hanya aku seorang yang bisa mengendalikan perasaanku, dan tidak ada seorang pun yang mampu memberi jalan pasti untuk menyelesaikan segala tetek-bengek ini.

Tetapi, ada satu sosok yang tidak pernah meninggalkan diriku dalam kesendirian, sosok yang selalu memberiku penghiburan, Dia yang selalu memberiku kekuatan dan ketenangan sehingga inspirasi terus mengalir dalam hidupku. Yeap, Dialah Tuhanku.

Tak peduli tentang kata orang bahwa aku harus berpikir lebih rasional, tahu apa kalian tentang jalan pikiranku? Aku juga tahu bagaimana berpikir yang rasional (setidaknya rasional dengan caraku). Entah mengapa, aku yakin sekali bisa di terima di fakultas impianku, FIB UI Sastra Prancis.

Jujur saja, aku belum mahir berbahasa Prancis, tetapi aku lebih memilih bahasa ini daripada bahasa Inggris ataupun Jerman yang sudah kuperoleh dasar-dasarnya. Jawabanku simple. Passion :D
Hahaha... terkadang aku menertawakan pikiranku dan pikiranku juga menertawakan aku. Aku manusia yang hidup karena passionku; aku suka musik maka aku mendengarkan musik, aku suka piano maka aku bermain piano, aku suka buku, aksara dan bahasa maka aku mengambil kelas bahasa, aku suka menulis maka aku menulis. Karena aku suka menulis dan Prancis maka aku ambil sastra Prancis. Hidup itu.... mudah bukan? :D
Aku sangat sadar bahwa benang hidupku sudah terlalu kusut, maka aku tidak mau menambah simpul-simpul rumit pada bentangan benang hidupku lagi.

Dalam hidup ini, aku tidak sendirian, aku dikelilingi orang-orang biasa yang sangaaat luar biasa; teman-teman yang selalu menyemangatiku, orang tua yang sangat berjasa dalam hidupku dan orang-orang lain di luar sana yang tak dikenal yang juga menjadi inspirasi dalam hidupku.
Terkadang aku merasa sendirian saat orang-orang di dekatku mulai terasa jauh. Tetapi aku punya penghibur yang tidak pernah meninggalkanku, ialah Tuhanku :).
Sok religius sekali ya? Hahaha... tidak peduli apa pun sebutan untuk diriku, tetapi aku sangat percaya akan hadirnya Tuhan. Tidak hanya pada saat aku merasa tertekan saja, bahkan saat aku merasa sangat bahagia aku bisa merasakan kehadiranNya.

Soal perguruan tinggi? Bukanlah hal yang harus aku khawatirkan, melainkan hal yang menjadi pengharapan bagiku. Jadi, lebih baik berharap dalam Tuhan, karena pengharapan dalam Kristus selalu membuahkan hasil yang manis, tetapi kekhawatiran tidak akan pernah menambah sehasta bahkan sejengkal kebahagiaan dalam hidup ku ini.

Aku terima janji-janji Tuhan dan aku tidak merasa khawatir lagi menghadapi segala hal, karena aku tahu Tuhan punya rancangan yang terbaik untuk hidupku :).
 
;