Listen


MusicPlaylistView Profile
Create a playlist at MixPod.com
Showing posts with label Kumpulan Cerpen 2011. Show all posts
Showing posts with label Kumpulan Cerpen 2011. Show all posts
Friday, October 12, 2012 0 comments

Random: Kacamata Hidup

Wilujeng Sumping...
Herzlich Wilkommen..
Bienvenue...
Welcome...
Selamat datang.



Yap, itu sedikit sapaan dalam beberapa bahasa yang aku pelajari (pamer dikit bisa macem-macem bahasa, hehe), sebenarnya masih ada satu bahasa lagi, yaitu bahasa Rusia, tetapi berhubung program yang terkait untuk menulis alfabet Rusia belum terinstal dalam Laptopku, jadi tidak usah saja.
Akhirnya, ada juga kesempatanku untuk berbagi cerita dalam blog ini.

Well... 1 bulan lebih 2 minggu sudah aku menetap di ranah Jatinangor yang cuacanya sedang adem-ademnya, seruuuu banget rasanya tinggal sendirian di kamar sepetak, di mana semua aktivitas dari tidur sampe tidur (lagi), aku lakukan di kamar ini. Belum lagi kegiatan-kegiatan yang kulakukan di luar kamar yang udah super cozy ini, entah itu kuliah, latihan paduan suara, pergi ke Bandung atau ngeceng... eeh maksudnya nangkring (FYI, ngeceng di Jatinangor itu diartikan sebagai... apa yah... kalau kata temenku dan yang aku tangkap, ngeceng di sini tuh artinya deketin cowo/cewe, macem pedekate atau semacamnya, sementara ngeceng yang aku tahu dulu yaah sama aja kayak nangkring a.k.a nongkrong a.k.a ngumpul sama temen2 a.k.a jalan-jalan ke mall-mall atau semacamnya. So, hati-hati menggunakan istilah di sini, bisa salah arti, nanti orang lain nangkepnya beda kita juga yang rugi, okeey?)

Kembali ke cerita. Ehemm...

Rasanya tinggal jauh dari rumah itu... SERUU! Walau pun aku masih sering kangeen banget sama suana rumah, keluarga dan sahabat-sahabat di Tangerang Selatan sana. Di sini aku dituntut super duper mandiri, aku gak bisa bergantung sepenuhnya sama orang lain, semuanya harus aku kerjain sendiri, mulai dari belajar, beres-beres kamar, nyari makan, nyiapin sarapan (ini yang lumayan repot), nyuci, manage waktu sampai ngatur keuangan (ini yang susah) aku harus tahu yang mana yang menjadi kebutuhan yang harus di prioritaskan dan yang mana yang bisa di tunda. Dulu waktu masih sekolah, aku bisa dengan seenak jidat foya-foyain duit jajan yang orang tua dan nenek kasih, mau pake beli baju atau sepatu seabrek, atau jalan-jalan sama temen atau disimpen sendiri yaah itu terserah aku karena biaya hidupku sehari-hari seperti makan dan lain-lainnya, yah orang tua yang tanggung. Sementara sekarang aku di kasih jatah uang saku 1 bulan sekian rupiah oleh orang tua dan aku gak bisa pakai itu seenak jidat kayak waktu zaman SD, SMP, SMA. Sekarang biaya apa pun harus aku yang manage sendiri. Aku gak bisa dengan seenak jidat menghabiskan uangku untuk hal-hal yang gak penting. Aku teringat sebuah statement yang pernah diutarakan guruku waktu SMA, begini katanya,

"apakah kalian bisa menghabiskan uang Rp 200.000 rupiah dalam waktu 1 hari?"

Lantas aku tertawa garing, dalam pikiran, aku membayangkan itu gampang banget tinggal pergi ke mall cari dress yang harganya 200.000 dan misi pun selesai. Lalu guruku bertanya lagi,

"tetapi, apakah kalian bisa menghasilkan uang sebanyak itu dalam waktu sehari?"

Pertanyaan ini yang membuat aku juga sadar untuk tidak menghambur-hamburkan uang.
Aku cukup menyesal karena rekening bank yang telah nyokap buat saat aku SMP gak pernah mencapai target, mencapai target sih tapi selalu aja, ada aja yang aku perlu sehingga tabungan itu habis. Menyesal banget sih enggak karena... yah aku sendiri menikmati apa yang ku dapat.

Waktu liburan kelulusan SMA, aku mencoba bekerja. Aku ngajar jadi guru les keyboard dan piano privat, menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan bagi aku dan penghasilanku sebagai guru amatiran yaah... tidak seberapa, tetapi aku suka itu. Dan aku juga mencoba magang dibidang administrasi di bengkel (ini jauuh lebih sulit dan memakan banyak waktu dari pada menjadi guru les), jujur, menjadi administrator bukan bidang yang aku suka, aku bekerja hanya 2 hari (karena setelah 2 hari bekerja, semua karyawan libur lebaran), tetapi aku membuktikan aku bisa bekerja dengan maksimal dan hasil usahanya pun, cukup. Dari hasil aku bekerja, aku bisa membuka rekening baru untuk menyimpan biaya hidupku selama di Jatinangor.

Kuliah di luar kota dan nge-kos sendirian itu adalah tantangan yang cukup besar bagiku. Aku bersyukur banget, Tuhan baik masih menyertaiku dan ngasih segala kemudahan, salah satunya tempat kosku ini. Walau kata orang nge-kos di tempat aku ini rawan maling lah, jauh dari keramaian kota dan terpencil, aku merasakan yang sebaliknya. FYI, aku tinggal di Cisaladah, tepat di sebelah jembatan Cingcing, yang menjadi jalan penghubung, objek wisata peninggalan Belanda sekaligus mitos masyarakat. Letaknya sangaaaaat dekat dengan Fakultasku (FIB), dari kamarku menuju kelas cuma butuh 5 menit. Aku udah kerasan banget tinggal di sini. Letaknya jauh dari keramaian kota, nah justru itu aku seneng karena selalu mengingatkan aku sama rumah aku yang juga jauh dari keramaian. Tempat ini justru mendukung semua kegiatanku, aku aktif di kegiatan kampus, jadi kalau mau apa-apa aku bisa tinggal pulang bentar ke kos-an, mungkin bisa curi-curi tidur siang dulu baru deh ikut UKM, dll.

Aku pribadi memang tipe orang yang suka jalan-jalan dan makan-makan, tetapi aku juga adalah orang yang sangat memperhitungkan jadwal kegiatan-kegiatanku, aku gak mungkin jalan-jalan setiap hari atau pergi makan-makan mewah setiap hari karena aku punya kegiatan lain yang lebih penting, jadi ada saat-saat tertentu aku mau memanjakan diri, aku menyebutnya sebagai "Hari Jenuh", di mana aku memang sangat jenuh dan butuh refreshing seperti hari ini. Aku jadi keinget terus sama nyokap, tiap minggu ada aja nyokap suka ngajak aku makan salad di Pizza Hut atau makan mi ayam atau sekedar keliling Pamulang saat aku emang lagi bosan. Saat bosan, aku inget SMA-ku tersayang, Santa Ursula BSD, aku memang sering merasa sangat bosan sekolah di sana, namun setiap hari aku menemukan dan menerima hal-hal luar biasa di sana, dan karena sekolah ini pula, aku bisa seperti ini :). Ternyata, rasa bosan pun bisa menjadi rindu.

Rasanya... Bener-bener gak nyangka aku bisa ada di sini sekarang, di Jatinangor, di kamar kos, di Universitas Padjadjaran. Memang benar, rancangan Tuhan itu jauuuh lebih indah dari pada mimpi kita. Aku inget, aku selalu memimpikan bisa kuliah di Sastra Perancis UI dan punya jaket kuning, jaket yang selalu mencolok dan menggoda. Dan ternyata aku mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari sekedar impian, aku mendapatkan realita, kenyataan. Memang Tuhan itu luar biasa merancangkan hidupku sedemikian rupa :). Sejak menjejakan kaki di Jatinangor dan Sastra Jerman, tidak pernah ada terlintas di pikiranku untuk minggat dan mengejar impianku yang dulu.

Impian terbesarku masih tetap sama. Aku ingin menjadi musisi dan penulis yang luar biasa. Aku ingin tulisanku dipublish dan difilmkan, aku ingin pergi ke Perancis, menikmati keindahan negara itu, menonton pertunjukan opera di sana, berkeliling Eropa, bertemu dengan seniman jalanan dan belajar hal-hal menarik di sana. Aku ingin sekali menulis cerita tentang Perancis dan Jerman. Aku ingin merasakan tuts-tuts piano di Jerman, mungkin piano yang pernah dimainkan oleh Mozart atau Bethoven. Satu mimpi baru lagi, aku ingin mengukir puisiku di sebuah tempat di Perancis dan Jerman dalam 3 bahasa, Indonesia, Jerman dan Perancis. Mungkin juga Sunda dan Rusia, hahaha. XD



Monday, August 13, 2012 0 comments

Mengandalkan Kasih KaruniaNya

Setelah satu minggu pergi mengurus keperluan kuliah, sore ini aku kembali mengajar Grace, murid keyboard-ku. Aku terpukau dan bahagia, aku kira setelah kurang lebih 1 minggu melepas Grace, ia akan malas belajar, ternyata dugaanku salah. Aku ingat sekali ada 2 lagu yang belum bisa Grace mainkan; Happy Ya Ya Ya dan Balonku, lagu anak-anak yang menurutku cukup sulit untuk dimainkan. Tetapi, sore ini aku mendengar Grace dapat memainkan lagu itu dengan baik.

Aku pun menambahkan lagu baru dengan chord baru, lagu Kartini dengan chord Am. Hari ini ia dapat memainkan lagu tersebut tanpa iringan dengan cukup baik dan aku cukup puas melihat hasil itu, esok hari aku akan kembali mengajarkan permainan yang lebih baik.

Rasanya tidak sia-sia aku menyetujui keinginan mama Grace agar aku kembali mengajar Grace selama libur kuliah 2 minggu. Dan sore ini bukan pula sebuah kebetulan aku diundang mengajar Grace, aku percaya Tuhan punya rencana.

Selesai mengajar Grace, mama Grace mengajakku ngobrol panjang-lebar tentang banyak hal.

Pertama tante bercerita tentang pergumulan yang dialami Grace. Sebagai pengikut Kristus yang sangat muda, ia mengalami deskriminasi oleh teman-temannya. Mama Grace membesarkan hati anaknya, tante melarang Grace membalas perkataan teman-temannya, sebaliknya mama Grace menyuruh Grace berterima kasih dan berkata, "tidak apa-apa, saya tahu Tuhan Yesus sayang saya."
Aku tertegun mendengar itu. Aku tahu ada makna tersirat dalam kalimat itu, makna yang sangat dalam. Aku merasa itu adalah kalimat luar biasa yang dikeluarkan oleh seorang anak kecil. Pengakuan iman Kristus.
Sejak kecil Grace sudah membaca Alkitab, awalnya Grace iri melihat keluarganya bisa membaca Alkitab bersama-sama setiap pagi dan malam, ia pun mau belajar membaca. Selain belajar, dengan imannya Grace juga berdoa kepada Tuhan, ia berdoa agar ia bisa membaca. Doa orang benar, besar kuasanya, Tuhan memberi kemampuan Grace melebihi anak-anak seusianya. Ia suka membaca renungan anak setiap pagi, bahkan Alkitab yang Grace pakai adalah Alkitab bahasa sehari-hari, bukan Alkitab untuk anak-anak.

Selain bercerita tentang Grace, tante juga bercerita tentang masa mudanya saat kuliah. Ini sangat menarik untukku, mengingat aku adalah mahasiswa baru.

Mama Grace bercerita bagaimana nasibnya sebagai anak perantauan yang kuliah di Jakarta. Dengan uang yang pas-pasan ia harus kos dan mengatur pengeluaran sehari-harinya sendiri. Kehidupannya selama kuliah dipenuhi banyak tantangan dan pilihan. Satu hal yang membuat tante tetap bertahan dalam keadaan tersebut adalah doa. Tante bercerita ia selalu berserah kepada Tuhan selama masa mudanya dan terbukti, Tuhan selalu mencukupi kebutuhannya dan menjaga tante dalam setiap langkahnya. Setiap pagi jam 5 tante bangun untuk berdoa dan menaikan penyembahan lalu membaca firman Tuhan. Setiap 2 kali seminggu tante berpuasa. Awalnya tante berpuasa untuk menghemat pengeluaran, maklum mahasiswa juga punya banyak keinginan, tetapi lama kelamaan tante berpuasa karena ingin menguatkan diri dari godaan, tante pun tetap berpuasa bahkan saat dalam kelimpahan. Dalam puasanya tante mendoakan banyak orang. Saat ini tante sudah tidak mampu berpuasa karena sakit maag, tetapi doa tante tidak pernah berhenti.

Hal yang terpatri dalam ingatanku, tante berkata:
"Dalam doa, berdoa untuk banyak hal. Pertama tante selalu mendoakan keluarga tante, tetapi tante tidak sering mendoakan keluarga tante, tante lebih sering mendoakan hamba-hamba Tuhan yang Tuhan pakai sebagai penginjil baik di Gereja atau yang di daerah terpencil. Mereka butuh back up dari kita."

Aku diingatkan kembali betapa besarnya kuasa doa. Dan aku teringat video yang aku tonton pada hari Minggu di Gereja, tentang project kita sebagai anak-anak Tuhan; menjangkau jiwa-jiwa. Cara menjangkau jiwa yang aku lihat dalam cuplikan itu adalah bukan dengan merekrut orang-orang untuk datang ke Gereja atau pun KKR, tetapi dengan mendoakan orang-orang tersebut. Dengan meminta tangan Tuhan terlibat dan Roh Kudus memenuhi kita, Tuhan pasti membukakan jalan dan memberikan kemampuan bagi kita untuk menjangkau jiwa. Bukan karena kuat kita, tetapi karena kekuatan Tuhan.

Tante juga membahas tentang pergumulan yang akan aku hadapi, sebagai mahasiswi di Bandung.
"Tidak ada larangan untuk bergaul, berteman dengan orang-orang yang tidak seiman, tante juga punya banyak kenalan yang tidak seiman, tetapi jangan pernah menjalin cinta dengan mereka."
Ini bukan pertama kalinya aku mendengar nasehat ini, sudah kesekian kalinya, tetapi entahlah nasehat ini selalu menamparku.
Sampai saat ini, aku belum pernah berpacaran satu kali pun, baik dengan yang seiman apalagi yang tidak seiman, belum pernah. Aku seolah diingatkan selalu, Tuhan pasti sudah menyediakan seseorang yang paling tepat sebagai pendamping hidupku dan aku tidak perlu khawatir.

Tante juga berpesan:
"Ada 2 hal yang sering menggoyahkan anak-anak Tuhan. Pertama, rasa ingin coba-coba, karena belum tentu dia jodoh kamu jadi kamu menganggap pacaran itu sekedar main-main. Kedua, pacaran sebagai ajang menyelamatkan jiwa, kamu pikir karena dia sudah cinta sama kamu, dia mau ikut sejalan dengan kamu. Jangan sekali-kali kamu coba itu."
Hal yang terlintas dalam pikiranku, ini adalah firman taurat, tetapi aku percaya ada kasih karunia di balik firman yang menekan tersebut. Tuhan tidak ingin anakNya jatuh. Aku teringat firman dalam 2 Korintus 6:14 Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?
Sudah sangat jelas bagiku, tidak ada tawar menawar lagi. Aku tidak mau main-main dengan hal ini.

Semua yang aku lihat saat ini baik adanya, tetapi aku tidak tahu apa yang menungguku di depan sana. Aku tidak mau mengandalkan kekuatanku sendiri, aku ingin Tuhan turun tangan sepenuhnya dalam hidupku, aku ingin Roh Kudus aktif berperan dalam diriku dan mengontrol diriku, aku ingin menggunakan segala karunia yang Tuhan telah berikan kepadaku.

Tuhan menciptakan aku untukNya. Apa pun yang aku kerjakan, sekecil apa pun itu, semuanya untuk kemuliaan Tuhan.

Siang ini aku melihat pesan yang ditag oleh temanku melalui sebuah gambar. Pesan yang menjadi rhema bagiku:






Harapanku, Tuhan selalu menjaga hidupku. :)
Thanks Jesus...
For You I'm your beloved child.
Friday, June 15, 2012 0 comments

Cherished Moments

Another beautiful song, Cherished Moments by Jon Schmidt.
Romantis, lembut, penuh arti. Aku dapat merasakan pesan cinta yang begitu dalam yang disampaikan Jon Schmidt dalam setiap dentingan pianonya.

Namun, lagu ini hanya lagu, aku bisa merasakan rasa cinta yang berbunga-bunga yang dirasakan Jon Schmidt sementara aku, tidak mampu merasakan cinta yang sebenarnya.
Sampai detik ini aku belum bisa jatuh cinta pada siapa pun. Rasanya kosong, tidak ada lagi nama spesial yang terekam dalam memoriku. Belum ada kisah cinta yang mampu menjadi inspirasiku.

Ingin rasanya aku merasakan momen yang namanya pacaran, namun hingga saat ini aku masih belum bisa merasakannya. Aku terus mencari orang yang tepat, walau pun aku sendiri tidak tahu seperti apa orang yang tepat. Setiap orang yang aku temui selalu saja ada kekurangan dalam diri mereka yang belum bisa aku terima. Aku tahu dunia berkata mustahil untuk mencari seseorang yang benar-benar sempurna.
Aku tidak mencari orang yang sempurna, aku hanya mencari seseorang yang... dapat membuatku merasa nyaman dan utuh.

Alunan piano Jon Schmidt terus berkumandang memenuhi ruang kerjaku, membawaku terus berpikir..
Apakah musik yang membuatku jatuh cinta?
Apakah aku jatuh cinta pada musik? Bukan pada seseorang?

Mustahil.

Sunday, November 27, 2011 0 comments

Lebih dari Harapan

Tanpa mahkota, aku bukan apa-apa. Aku hanya setangkai daun, tak indah dan tak menarik. Tanpa mahkota, tak ada yang bisa mengenaliku, siapa aku ini? Aku hanya setangkai bunga, bunga yang unik yang tak akan pernah kau temui di ujung dunia mana pun, selain di sini; dalam imajinasimu. Panggil saja aku Eli. Kau akan mengenalku sebagai Eli, bunga berkelopak ungu. Sebelum menjadi setangkai bunga, aku hanya setitik benih tak berdaya.

Benihku sudah lama tertanam di dalam tanah yang subur di sebuah pot. Tanah yang menguburku dalam-dalam, yang angkuh dan tak pernah mengajakku berbicara. Ia hanya memberiku asupan nutrisi yang aku butuhkan, sementara aku butuh lebih dari itu. Ingin aku mendengar suaranya, memanggil namaku, ehm... tak perlu namaku, cukup memanggilku saja dengan sebutan apapun, dengan senang hati aku akan mendengarkannya.

Terkubur, sendirian dan kesepian. Menyedihkan rasanya saat kau dekat dengan sosok yang sangat kau idamkan, tetapi ia tidak pernah mengajakmu berbicara. Benih dan tanah, kami begitu dekat, tetapi kami sangat jauh.

“Rafli, kau dengar aku? Aku....”

Rafli tak menjawab panggilanku. Sudah berkali-kali aku mencoba mengajaknya berbicara, tetapi aku tidak pernah berhasil. Apa ku sudahi saja perasaan tak bertuan ini? Lagi pula, kami berbeda; sangat berbeda, tidak ada ikatan genetik yang terhubung dalam sel kami.

Musim panas tiba. Aku sudah bertunas. Aku merasa tidak normal tumbuh sendirian sebagai tunas sementara benih-benih lagi masih tertidur dalam lingkupan tanah mereka. Lega rasanya bisa melihat dunia luar dengan tangkai mungilku. Aku tak akan bisa betunas tanpa kemurahan hati tanah.

“Terima kasih, Rafli.”

Ia tetap diam. Aku sempat berpikir, jangan-jangan selama ini aku mengajak bicara sosok yang bisu. Ah... tidak mungkin, aku pernah sekali mendengar suara Rafli, menyanyikan nyanyian musim semi, tentang bunga-bunga indah dan cantik. Entah mengapa aku iri mendengar sanjungan tanah pada bunga-bunga itu. Mengapa ia hanya memperhatikan bunga-bunga cantik di luar sana, sementara aku dicampakan seperti ini? Tidak pernah ia memuji setitik kecantikanku. Atau mungkin.... aku memang tidak cantik? Hmmm.... yah... kurasa itu wajar. Huh... dasar, kurasa semua tanah dalam pot mana pun sama saja! Tak bisa melihat kencantikan yang terpendam, hanya memperhatikan kecantikan di luar saja!

Sebagai tunas, aku hanya bisa memandang iri kecantikan bunga-bunga itu. Lihat saja mereka; berkelopak indah, anggun, wangi dan sangat mempesona. Tidak heran jika tanah selalu menyanjung diri mereka.

“Bunga-bunga, kelopakmu mempesona hatiku, tancapkan akar-akar serabutmu di lubuk hatiku,akan ku jaga dirimu.”

Aku mulai muak mendengar basa-basi gombalan Rafli si tanah. Tidak adakah kata lain yang bisa ia ucapkan?

“Ehm... Tunas. Tumben sekali beberapa hari ini kamu tidak mengajakku berbicara. Ada apa?”

Mungkin duniaku sempit, tetapi Rafli adalah tanah terbodoh yang pernah aku kenal. Ku diam saja.

“Kamu lapar? Maaf persediaan garam mineralku sudah menipis, jadi.... kamu diet dulu ya hari ini, hehe...”

Demi pupuk urea, ia sangat menyebalkan! Sangat tidak peka! Aku hanya butuh sosok pendengar, sosok yang mau mendengarkanku, sosok yang mau berbagi keluh kesah denganku, sosok yang mau berbagi cerita denganku. Aku butuh teman bicara!

****

Waktu berlalu dengan cepat. Kini aku bukan setangkai tunas lagi. Aku setangkai bunga kecil bermahkota ungu. Aku berhasil melewati tahap-tahap berat dalam hidupku. Rasanya... asik sekali menjadi bunga kecil bermahkota ungu. Aku menjadi pusat perhatian bunga-bunga besar bermahkota merah dan putih.

“Eli... selamat, kamu berhasil melewati tahap yang sangat sulit. Senang rasanya melihat kamu berhasil tumbuh menjadi setangkai bunga.”

Wow... ada apa ini? Sejak kapan Rafli tahu namaku?

“Bagaimana kamu tahu namaku? Kita kan belum pernah berbincang-bincang sebelumnya.”

“Tapi kamu kan sudah memperkenalkan dirimu. Kamu lupa?”

Astaga. Aku baru ingat. Aku tidak sangka, ternyata ingatan Rafli sangat kuat.

“Eh... iya, aku lupa, maaf.”

Sejak aku menjadi bunga, hubunganku dengan Rafli semakin membaik. Jujur, aku senang sekali, tetapi terkadang aku merasa sedih, mengapa tidak dari dulu saja ia memperlakukanku seperti ini? Aku terlanjur sakit hati dengannya. Terkadang aku merasa aneh, sejak aku menjadi bunga, aku tidak pernah mendengar Rafli menyanyikan gombalannya yang memuakan pada bunga-bunga lain. Sesekali ia menyanjung diriku, yah... memang tidak sesering yang ia lakukan pada bunga-bunga lain. Tidak peduli, aku tetap senang. Suatu hari aku bertanya pada Rafli:

“Rafli, kemana nyanyian gombalmu itu? Rasanya sudah cukup lama kau tidak menyanjung bunga-bunga itu.”

“Hahaha.... untuk apa? Aku sudah mendapatkan kesempurnaan yang tak bisa dilukiskan oleh nyanyian
gombal, yaitu dirimu.”

Walau baru menjadi bunga beberapa minggu, rasanya aku sudah mendengar gombalan ini 100 kali. Basi sih tapi.... aku suka itu.

“Eli... mungkin ucapan-ucapanku ini terdengar seperti humus busuk belaka, tetapi itulah kenyataan. Sudah berbulan-bulan aku membungkam mulut demi menyaksikan kamu tumbuh sempurna, menjadi bunga...”

“Aku tidak sempurna. Lihat bunga-bunga itu. Mereka lebih indah, lebih anggun dan menarik perhatian manusia. Sementara aku? Siapa yang mau memetik bunga ungu kecil seperti aku?”

“Justru karena kamu tidak menarik di mata manusia, maka kamu jadi terlihat semakin menarik bagiku. Karena selama tidak ada manusia yang berani memetik dirimu, maka selamanya kamu akan bersama denganku.”

“Apa yang menarik dari diriku?”

“Kehadiranmu.”

“Hanya itu?”

“Yap.”

Aku memilih berdiam diri saja, semakin banyak bertanya, semakin banyak aku mendapat jawaban yang tidak enak.

“Eli. Jangan salah sangka. Kehadiranmu itulah segalanya. Aku tidak butuh bunga yang indah, aku hanya butuh bunga yang selalu berada di sampingku. Karena kehadiranmu, mengindahkan hari-hariku.”

Suasana mendung di hatiku berganti, menjadi cerah. Rasanya matahari terpancar 24 jam hari ini. Bahagia.... aku sangat bahagia mendengar pengakuan Rafli, si tanah gombal.

****

Tubuhku sudah renta. Aku tak lebih dari setangkai bunga yang layu. Perlahan-lahan kelopakku berguguran. Sedih rasanya, mengetahui sebentar lagi, kebersamaan ku dan Rafli harus berakhir. Akankah ini berakhir? Saat tubuhku menjadi humus, menjadi makanan bagi Rafli, menjadi sumber nutrisi bagi benih berikutnya? Aku tak sanggup memikirkannya, itu hanya membuatku semakin sedih.

“Eli, tumben sekali kamu berdiam diri pagi ini? Ada apa? Ada sesuatu?”

“Aku layu Rafli...”

“Tenang saja, kamu tetap cantik walau mahkotamu sudah berguguran.”

“Bukan itu yang aku takuti.”

“Apa? Katakan saja padaku.”

“Aku takut menjadi tiada.”

“.....”
Rafli terdiam. Bingung ingin berkata apa.

“Rafli... Sudah berapa lama kamu menjadi tanah?”

“Tidak tahu. Rasanya sudah lama sekali, mungkin.... 100 tahun?”

“Sudah berapa kali kamu menyaksikan bunga yang layu?”

“Ehm... Tidak ingat mungkin 100 kali?”

“Berapa bunga yang sudah melebur menjadi humus dengan dirimu?”

“Ehm... Tidak ada.”

Aneh. Tidak masuk akal. Aku tidak yakin.

“Kenapa? Yah... aku tahu itu aneh, tapi... itulah kenyataan pahit yang aku alami.”

“Pahit? Maksudmu.”

“Selama 100 tahun itu sudah 100 kali aku gagal menjaga benih yang tertanam dalam diriku. Mereka.... calon bunga-bunga yang indah. Aku berusaha memenuhi segala kebutuhan mereka, demi mereka akan ku lakukan apapun. Rasanya bahagia sekali saat kamu berhasil menjaga setitik benih hingga ia tumbuh menjadi setangkai atau bahkan rangkaian bunga yang indah. Selama ini, aku mengira, dengan meladeni setiap ucapan dan pertanyaan mereka maka aku telah memberi yang terbaik. Tetapi semakin hari aku belajar, cinta yang sesungguhnya, bukanlah dari perkataan, melainkan dari tindakan nyata. Dan.... aku berhasil. Dengan kehadiranmu Eli, bunga ungu kecilku, hidupku terasa lengkap.”

Aku tidak percaya. Ternyata... ini alasan mengapa ia begitu diam, tidak pernah menggubris ocehanku yang tidak jelas. Tetapi, mendengar penjelasan tanah, hatiku semakin rapuh, aku semakin tidak sanggup berpisah dengannya. Aku tidak mau!

“Tapi Rafli. Aku tidak seabadi dirimu.”

“Kamu tetap abadi. Sebagai humus yang akan menyatu dengan tanah kering, kita akan saling melengkapi.”

“Abadi? Apakah keabadian akan ku dapat setelah aku sudah mati nanti?”

“Justru, kematian adalah awal dari keabadian. Aku tidak akan menjadi tanah sebelum batu menjadi pasir. Begitu pula dengan dirimu. Tak perlu takut, kematian itu... tidak menyakitkan. Lebih cepat dari pada kau bernafas.”

Tak perlu menunggu berlama-lama lagi. Aku biarkan panas merenggut tubuhku, melayukan setiap jengkal tubuhku, hingga aku lapuk, tergeletak di atas tanah kering, menunggu saat aku menjadi humus.

oleh:
(DEER) dan (Angelia)
Sunday, October 23, 2011 0 comments

Butterfly -2-

Langit senja berganti langit kelam. Aku lapar. Saat aku masih menjadi ulat, aku akan mencari beberapa helai daun muda untuk makan malamku. Di hadapanku berdiri kokoh sebuah pohon besar dengan daun-daun hijau muda yang segar, seharusnya dengan sayap ini aku bisa mencapai pucuk pohon dengan mudah, tetapi, entah mengapa sekarang aku tidak berselera mengunyah daun. Ada apa dengan lidahku? Aneh... Yang aku inginkan sekarang adalah sesuatu yang harum, manis dan..... lengket??? Entahlah benda apa itu?

Aku tetap terbang melintasi udara, dengan indra penciumanku, aku berusaha mencari sesuatu yang harum dan manis. Indra penciumanku menangkap aroma harum dan manis. Hmmmm.... Aku terbang merendah mendekati sumber aroma itu dan aku menemukan...

"Setangkai bunga?"

"Hai nona manis, ada yang bisa aku bantu?"
Bunga ini bisa berbicara? Sejak kapan aku mengerti bahasa bunga?

"Oh... Kamu pasti bingung, kenapa kamu bisa mengerti bahasa kami para bunga, iya kan?"
Aku hanya mengangguk.

"Tidak apa-apa, lama kelamaan kau juga akan mengerti."
Jawabnya sambil menebarkan senyumnya yang mempesona.

"Oh iya, kamu ada perlu apa di sini? Hmmm... Kamu lapar ya?"
Gosh... Bagaimana ia bisa tahu? Lagi-lagi aku hanya mengangguk.

"Sini, kemari dan lihat lah ke dalam."
Ia membuka lebar kelopaknya, aku melihat tangkai-tangkai yang dipenuhi sebuk-sebuk kuning dan pada dasar kelopak aku menemukan cairan yang aromanya harum dan manis, sangat menggoda seleraku.

"Kamu lihat cairan itu? Itu nektar, ambillah sebanyak yang kamu mau, kamu pasti sangat kelaparan."

"Ehm... Terima kasih bunga."
Ku tak dapat menahan hasratku untuk mencicipi nektar itu.
Ternyata.... Rasanya nikmat sekali, seperti.... madu? Aku tidak tahu, yang pasti nektar ini enak! Lengket, harum dan manis.

"Bagaimana menurutmu? Nektarku enakkan?"

"Hehe... Iya"
Jawabku sambil terus mengunyah nektar itu.

"Di antara sekian bunga, nektarku lah yang terenak, hahaha."
Aku hanya tersenyum, antara percaya dan tidak dengan ucapan bunga ini, tetapi memang nektar ini sangat spesial.

"Bagaimana? Kamu masih lapar? Ambillah yang banyak."

"Ehm... Tidak, terima kasih, aku sudah kenyang. Jika aku memakan semua nektarmu, nanti kau tidak kebagian."

"Tidak kebagian? Hahaha... Nona biru, walau pun aku yang menghasilkan nektar ini, tetapi nektar ini bukan untukku, tetapi untuk siapa pun yang membutuhkannya."

"Tetapi, kau pasti membutuhkan nektar ini juga kan? Kau juga perlu makan bunga."

"Nona, mungkin kamu belum paham, tetapi kita diciptakan untuk saling melengkapi, apa yang aku miliki itu untukmu."

Aku masih belum mengerti apa maksud bunga, tetapi aku salut dengan dirinya yang masih mau berbagi dalam kesederhanaannya.

"Maaf, nona biru, boleh ku tahu siapa namamu?"

"Oh, kenalkan, aku Butterfly. Siapa namamu?"

"Aku Dafodil, senang berkenalan denganmu nona."

"Terima kasih, maaf Dafodil, aku harus kembali ke rumah pohon, kami akan berpesta nektar."

"Wow... Berpesta? Sepertinya asik sekali rasanya... saat kau bisa bebas, terbang ke sana kemari tanpa halangan."

"Kau mau ikut? Aku bisa mengajakmu terbang bersamaku."

"Oh... Tidak terima kasih, aku masih mau menikmati kehidupanku."

"Bagaimana kamu bisa menikmati hidup tanpa berpindah sejengkal dari sini? Kamu butuh hiburan, Dafodil."

"Iya, tetapi bukan itu caranya. Kehadiran dirimu saja sudah menjadi hiburan untukku."
Senyuman menawan itu merekah lagi.

Aku masih tidak mengerti apa maksud bunga ini.
"Oh, baiklah, besok aku akan berkunjung lagi. Sampai jumpa Dafodil."

"Sampai jumpaaa... Jaga dirimu!!"
Suara itu terdengar seperti sayup-sayup, aku terus mengepakkan sayapku, terbang melintasi langit kelam.
0 comments

Butterfly -1-

In loneliness, I learnt how to having each other.
In my sadness, I learnt how to smiling without tears.
In silent, I learnt a lot how to loving without pain.
In my cocon, I learnt how to fly without wings.

Bergulat dalam balutan kepompong sutraku yang hangat. Sudah saatnya aku keluar, mengejar impianku; terbang. Walau pun aku belum mengerti apa itu terbang dan kata itu masih terdengar asing, entah mengapa saraf-sarafku menegang saat aku memikirkan kata itu. Jantungku berdetak keras, adrenalin mengalir deras dalam tubuhku, seolah-olah terbang adalah sesuatu yang sangat menantang, lebih menantang dari pada memanjat pucuk pohon demi mengunyah sehelai daun muda.

Aku semakin tidak sabar, ku gerakan tubuhku kesegala arah, berusaha menembus pertahanan kain putih ini. Aku yakin hidup di luar sana sebagai kupu-kupu pasti sangat indah. Aku jadi tidak sabar!! Dengan segenap kekuatanku, akhirnya aku berhasil menembus kepompong ini.

Setelah tak terhitung berhari-hari lamanya, akhirnya aku bisa menghirup udara segar lagi. Sekali tarikan napas udara dingin dan segar langsung memenuhi paru-paru kecilku, sekali hembusan aku merasakan tubuhku mulai memanas, energi mulai terbakar dalam diriku. Ku lihat diriku, sekarang aku bukan seekor ulat lagi, aku adalah seekor kupu-kupu. Walau pun aku belum bisa melihat seperti apa sayapku, tetapi aku sudah bisa merasakannya. Aku punya sepasang sayap yang lembut.

Dengan kakiku yang masih lunglai, aku bertengger di ranting pohon, aku menunggu diriku sepenuhnya sadar. Aku merasakan cairan dalam tubuhku mengalir memompa sayapku yang masih rapuh. Perlahan namun pasti, ku rasakan sayap-sayap ini kian mengembang. Sepasang sayap yang layu kini membentang dengan indah di punggungku.

Dari ranting ini aku menyaksikan pemandangan spektakuler langit senja yang manis, burung-burung camar berterbangan di angkasa bunga-bunga mulai menguncupkan keopaknya, hewan-hewan nokturnal berkeliaran dari sarangnya. Indah sekali. Aku melihat ke bawah, ternyata aku berada di pucuk tertinggi pohon, daratan jauh sekali dari jangkauan ku. Aku yakinkan diriku untuk siap meluncur ke depan. Ku bentangkan kedua sayapku. Jantungku berdebar keras, semakin tidak karuan; bimbang apakah aku bisa terbang dengan sayap ini atau aku akan jatuh menghantam humus? Adrenalin membasahi dinding nadi-nadiku. Ku pejamkan mata, ku coba melangkah beberapa langkah ke depan dan ku kepakan kedua sayapku.

"Wuuush....", angin berhembus mengangkatku semakin tinggi ke angkasa. Sayap-sayapku meronta, tidak bisa melawan arah angin ini.

"Wuuuuush....", angin semakin keras, aku mulai kehilangan keseimbangan, kakiku meronta-ronta di udara.

"Tolong! Tolong!!", tetapi tidak ada satu makhluk pun yang mendengar diriku.

"Wuuuuush.....", angin membalik tubuhku.

"Aku akan jatuh... aku akan jatuuh!!"
Tubuhku tertarik gravitasi, menukik ke bawah siap menghantam bumi. Bau humus semakin pekat, ku kumpulkan segenap kekuatanku ku kepakan kedua sayapku yang rapuh dan.....

Aku berhasil melayang di udara, perlahan aku terbang ke depan mengikuti arah angin berhembus, ku kepakan kembali sayapku dan diriku semakin melambung tinggi, tinggi dan tinggi.

"Wohooooo! Ini asik sekali!!"
Aku tak pernah melihat pemandangan seindah ini, rumput-rumput hijau menari, bunga-bunga memandangku takjub, aku melihat segerombol kupu-kupu kuning terbang dari arah berlawanan, senyuman merekah di wajah mereka,

"Selamat bergabung sobat!"

"Nikmati hari barumu"

"Sampai berjumpa malam nanti di pesta nektar di bawah pohon mapel"

"Terima kasih!!", seruku pada mereka. Ku kepakan kembali sayapku.

Aku terbang menuju sebuah danau, aku melihat sekumpulan angsa putih sedang berpesta ikan. Kasihan, ikan-ikan yang malang, aku terbang melintasi permukaan danau yang jernih. Kini aku melihat sosok bayangan indah yang terbang dengan gemulai,

"Hah?? Apakah itu diriku?", aku bertanya-tanya sambil terus terbang mengamati bayangan itu.

"Iya. Itu kamu cantik." Ucap seekor angsa padaku.

Aku masih tidak percaya, ternyata.... Aku seekor kupu-kupu bersayap biru yang cantik. Aku melihat gradasi warna hitam dan biru yang memukau, di tambah totolan warnah putih dan sedikit corak coklat pada tepi sayapku.

Ini... Luar biasa. Aku suka sayap-sayapku, bahkan aku mulai jatuh cinta dengan bayanganku. Aku segera terbang menjauhi danau, takut bila aku kehilangan akal sehatku.
0 comments

Aurel -1- (2010)

Ini adalah kisah dari sebuah keluarga kecil 100 tahun yang lalu. Keluarga itu terdiri dari bapak Jhon dan ibu Ema. Meski keluarga mereka kecil, mereka adalah salah satu dari orang-orang kaya di desa Iris dan mereka terkenal sebagai orang yang dermawan dan rendah hati, mereka tidak sungkan menolong warga di desa Iris setiap kali mereka membutuhkan bantuan. Bapak Jhon adalah pengusaha hebat yang berlayar keliling dunia dan ibu Ema adalah ibu rumah tangga yang bekerja seharian mengurus rumah dengan bantuan para pelayannya. Mereka adalah pasangan paling serasi yang dikagumi oleh teman-teman mereka.

Tetapi sayang, walaupun kekayaan mereka melimpah, orang-orang desa mengagumi mereka dan mereka punya banyak teman, mereka merasa kesepian. Mengapa? Karena mereka belum memiliki seorang anak. Hal yang paling diimpikan oleh bapak Jhon dan ibu Ema. Setiap malam mereka berdoa pada Tuhan, meminta kehadiran seorang anak.
Tuhan memang baik, setelah 5 tahun penantian, ibu Ema pun mengandung seorang anak. Sungguh keluarga kecil itu merasa sangat bahagia. Setiap malam ibu Ema membacakan dongeng bagi si calon bayi di dalam perutnya, setiap pagi pun ibu Ema menyanyikan lagu-lagu indah untuk menghibur anak dalam perutnya.

Sebulan, dua bulan, tiga bulan, empat bulan..... hingga sembilan bulan menunggu, akhirnya tepat pada malam Natal, ibu Ema melahirkan bayi perempuan yang ia namakan Aurel. Sungguh, Aurel adalah kado Natal istimewa bagi bapak Jhon dan ibu Ema.
Tujuh tahun kemudian, Aurel tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik, pintar dan riang. Tetapi.... Aurel sedih, ia malu. Karena sampai saat ini belum ada sehelai rambut yang tumbuh di kepalanya. Aurel tidak berani keluar rumah bertemu dengan anak-anak seumurannya, karena setiap kali ia bertemu dengan teman-temannya, mereka malah mengejek Aurel.

“Hahaha, Aurel botak!”
“Aurel jelek!”
“Aku gak mau main sama orang botak kayak kamu, hahaha”

Aurel pun memutuskan untuk kembali ke rumahnya, ia hanya bisa menangis dan bermain sendirian di rumahnya. Aurel kesepian tanpa teman, ayahnya bekerja dan ibunya sekarang juga sudah bekerja di toko kue, tidak ada yang menemani Aurel, hanya ia dan dirinya.

Suatu malam sebelum tidur mama berpesan pada Aurel, “ Aurel sayang, apa pun yang kamu inginkan, minta sama Tuhan dalam doa. Jangan pernah lelah atau malas berdoa demi impian kamu. Tetapi kamu juga harus berusaha ya, karena doa tanpa perbuatan
tidak akan menghasilkan apa-apa”.
“Apakah itu benar ma?”, tanya Aurel.
“Iya, kamu tahu sayang? Kamu adalah doa terbesar mama yang telah dikabulkan”, jawab mama tersenyum, lalu mencium kening Aurel dan meninggalkan Aurel.
“Selamat tidur sayang, jangan lupa berdoa”
“Iya mama”
Aurel berlutut di depan kasur, melipat tangan, menutup mata dan mulai berdoa.
“Tuhan, selamat malam. Malam ini Aurel ingin tidur, berkati agar Aurel bisa tidur dengan nyenyak. Ehm. Oh ya. Tuhan, Aurel ingin sekali punya rambut, gak apa-apa deh kalau rambutnya gak seindah rambut teman-teman Aurel, asal Aurel sudah punya saja, Aurel sudah senang kok, terimakasih ya Tuhan, amin”. Setelah berdoa, Aurel naik ke tempat tidurnya dan tertidur lelap.

Malam itu Aurel bermimpi bertemu dengan malaikat. Malaikat itu sangat cantik, kulitnya putih, bersinar, matanya hijau, rambutnya coklat, lurus, indah dan sangat panjang melebihi punggungnya. Aurel takjub melihat malaikat yang begitu cantik itu.

“Hai Aurel, aku malaikat Glory dan aku tahu apa impianmu, sayang”, ucap malaikat Glory sambil tersenyum.
“Hah? Benarkah? Kau ingin memberiku rambut?”, Aurel bertanya-tanya penuh semangat.
“Ya, benar sekali sayang. Kau lihat rambutku ini? Bagaimana menurutmu?”
“Wah, rambutmu sangat indah Glory, tetapi mana mungkin aku bisa punya rambut seindah itu”, Aurel mengusap-usap kepala botaknya sambil cemberut kecewa.
“Tidak juga sayang. Lihat ini”, di tangan malaikat Glory terdapat sebilah belatih perak, lalu ia memotong rambut panjangnya hingga sependek bahunya.
“Astaga, apa yang kau lakukan Glory?”
Malaikat Glory hanya tersenyum, ia mengusap kepala Aurel dengan rambut panjangnya dan dalam sekejap, rambut itu menempel di kepala Aurel.
“Ini tidak mungkin! Aku punya rambut panjang, indah, ini tidak mungkin Glory”, Aurel mengusap kepalanya yang sekarang telah ditumbuhi rambut indah malaikat Glory.
“Tidak ada yang tidak mungkin sayang”, malaikat Glory tersenyum.
“Terimakasih malaikat Glory, terimakasih atas rambut indah ini. Tetapi apa kau tidak apa-apa?”
“Hahaha, sayang, rambutku masih bisa tumbuh. Oh ya, aku ingin berpesan, jaga rambutmu baik-baik, rawatlah agar tetap indah dan gunakan rambutmu untuk kemuliaan Tuhan. Dan ingat, jangan sombong ya”, lagi-lagi Glory tersenyum.
“Oke malaikat Glory, aku janji”, jawab Aurel penuh semangat.
“Oh ya, sekarang bangunlah dari tidurmu dan bermainlah bersama teman-temanmu”.
Dalam sekejap, Aurel terbangun dari mimpi indahnya.
“Ah, mimpiku indah sekali. Yah, sayang itu hanya mimpi. Jadi tidak mungkin itu terjadi padaku”, Aurel beranjak dari tempat tidurnya dan bercermin.
“ASTAGA! Mimpiku jadi kenyataan! Asik aku punya rambut! MAMA!!! PAPA!!! KEMARI”
Papa dan mama berlari menuju kamar Aurel dan menemukan Aurel dengan rambut barunya sedang tersenyum bahagia. Mereka pun ikut bahagia dan langsung memeluk Aurel.
“Pa, ma, lihat! Doa ku semalam telah dikabulkan”
“Iya sayang, ternyata kamu menuruti nasehat mama. Sekarang kamu percaya dengan kuasa doa kan?, tanya mama pada Aurel.
“Wah, anak papa cantik sekali dengan rambut barunya. Sekarang mandi dan pergilah bermain bersama teman-temanmu sayang”.
“Iya papa”. Aurel langsung bergegas mandi, berpakaian dan menyisir rambutnya agar tetap rapih.
Pada pagi hari, Aurel mendatangi teman-temannya di taman. Aurel yang biasanya dihina, tiba-tba menjadi primadona di mata teman-temannya.
“Wah Aurel cantik sekali”
‘Aku tidak berani mengejek Aurel lagi ah”
“Ayo Aurel, ayo kita bermain bersama”
“Wah, terimakasih ya teman-teman, kalian sudah mau bermain denganku”, jawab Aurel dan ikut bermain bersama.

Aurel begitu bahagia, baru kali ini ia bisa merasakan bermain kejar-kejaran di taman yang indah, yang dipenuhi bunga-bunga dan dedaunan hijau, Aurel juga menikmati permainan ayunan yang menghempas rambut indahnya ke udara.

Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan hingga enam bulan berlalu, rambut indah Aurel terus menjadi topik pembicaraan teman-temannya sepanjang hari. Hal ini membuat Aurel merasa sangat bangga terhadap dirinya yang berambut panjang. Tetapi sayang, kebanggaan Aurel berubah menjadi kesombongan, ia menjadi gadis kecil yang angkuh, yang suka memilih-milih teman, yang suka mengejek dan merendahkan teman-temannya yang tidak cantik di matanya.

Pada suatu sore, Aurel sedang bermain di taman bersama teman-temannya, mereka anak pengusaha kaya seperti Aurel. Tiba-tiba Clara datang.

“Hai Aurel, Cindy, Saly, aku ikut bermain bersama kalian ya”, Clara ingin sekali bergabung dengan mereka.
“Apa? Hahaha, kau yakin ingin bermain bersama kami?”, tanya Cindy dengan nada mengejek.
“Ih, pergi sana, kau kan hanya anak tukang kayu yang miskin, pakaianmu saja jelek, aku tidak mau bermain denganmu”, ucap Aurel dengan penuh kesinisan.
“Aurel, kenapa kamu jadi sombong? Dulu kamu masih mau bermain bersama aku?”
“Itu dulu, sekarang lain. Sudah sana, jangan ganggu kami”, ucap Cindy.
“Huss, pergi sana!”, Aurel mulai mengusir Clara.
“Kamu jahat Aurel!”, Clara pergi sambil menangis.

Datang Ricky, sahabat karib Aurel yang mengajak Aurel bermain. “Hai Aurel, ayo kita bermain bersama, bagaimana kalau kita memancing ikan di danau. Nanti aku akan memasak ikan yang lezat untukmu”, Ricky mengajak Aurel dengan penuh semangat.

“Gak mau! Kamu pergi sana! Kamu cuma anak yatim miskin, aku tidak mau makan ikan kotor itu lagi!”, ucap Aurel.
“Kenapa kamu jadi sombong begini sih? Dulu kita sahabat dekat Aurel, sama kamu lupa?”
“Pokoknya aku gak mau main sama orang miskin dan jelek seperti kamu, pergi sana!”, Aurel mulai mengusir Ricky.

Ricky pun pergi, begitu juga dengan teman-teman Aurel yang lainnya, merka tidak suka dengan sifat Aurel yang angkuh dan suka menghina itu. Walaupun mama dan papa sudah mengingatkan, Aurel masih saja tidak mau mendengarkan. Hingga lama- kelamaan Aurel tidak punya teman lagi, ia sendirian lagi, ia sedih dan bingung bagaimana ia harus mendapatkan teman-temannya.

Pada suatu sore, Aurel sedang duduk di ayunan sendirian, menikmati hembusan angin yang mengibarkar rambutnya
“Mengapa mereka membenciku?”, Aurel bertanya-tanya.
Tiba-tiba muncul sosok cahaya putih di depan Aurel.
“Hai Aurel, masih ingat aku?”, ternyata itu malaikat Glory.
“Malaikat Glory? IYA! Tentu aku masih mengingatmu. Eh, ada apa dengan rambutmu? Kemana rambut indahmu? Emm... maksudku mengapa rambutmu....”
“Iya Aurel, rambutku mulai menipis, rambutku rontok Aurel”, jawab malaikat Glory dengan wajah sedih.
“Lho? Bagaimana bisa? Bukannya rambutmu bisa tumbuh memanjang lagi?”
“Iya, tetapi karena rambutmu itu, rambutku jadi seperti ini”, jawab malaikat Glory lirih.
“Lho? Bagaimana bisa? Lagi pula aku merawat rambut ini kok, aku mencucinya, menyisirnya, merapikannya. Lihat saja, rambutku masih indah sampai sekarang”, jawab Aurel polos.
“Iya, rambutmu memang terlihat indah, tetapi tidak seindah akibat dari rambutmu itu. Aurel sayang, mengapa kamu ingkar janji? Mengapa kamu menjadi anak yang sombong, Aurel?”
Aurel terdiam. Ia melihat rambutnya yang indah, lalu ia teringat perbuatan yang ia lakukan pada teman-temannya. Aurel mulai menyesal atas perbuatannya,
“Lalu, aku harus bagaimana sekarang?”
“Minta maaflah pada teman-temanmu”, jawab malaikat Glory sambil tersenyum.
“Tetapi, mereka sudah membenciku, apa mereka mau memaafkan aku?”
“Jangan pikirkan itu dahulu, meminta maaflah terlebih dahulu”, jawab malaikat Glory dan tiba-tiba ia menghilang.
“Malaikat Glory? Kau sudah pergi?”, Aurel bertanya-tanya. Sekarang hati Aurel di landa rasa bersalah, tanpa berpikir panjang Aurel berjalan menuju rumah teman-temannya untuk meminta maaf.

Pertama Aurel mendatangi rumah Charlie, ia anak seorang tukang roti, tetapi Charlie tidak mau bertemu dengannya. Kemudian ia berjalan ke rumah Emy, tetapi Emy sedang tidak ada di rumah. Lalu Aurel menemukan teman-temannya yang lain, mereka sedang berkumpul di taman, sedang bermain, Aurel pun mendatangi mereka,
“Ehm. Teman-teman, aku datang kemari. Aku... Aku mau meminta maaf, aku menyesal sudah bertindak sombong dengan kalian”, ucap Aurel tertunduk malu. Teman-teman Aurel tidak mau memaafkan Aurel, mereka meninggalkan Aurel, kecuali satu orang, ia adalah Clara.
“Iya Aurel, aku memaafkanmu. Aku kira kau memang sangat sombong, ternyata tidak juga”, ucap Clara sambil tersenyum pada Aurel.
“Benarkah? Terimakasih Clara”, kemudian Aurel memeluk Clara penuh dengan rasa bahagia.

Perjalanan Aurel berlanjut menuju rumah di tepi danau. Iya, itu rumah Ricky. Aurel mengendap-endap mendekati pondok kumuh itu. Aurel mengintip dari lubang dinding kayu, ia melihat Ricky sedang duduk di samping ibunya yang sedang terkapar di ranjang. Ternyata itu Ricky sedang sakit parah.

“Uhuk... Uhuk.. Uhuk.... Sudah Ricky, waktu ibu tinggal sedikit, biar saja.”
“ Tidak ibu, Ricky akan bantu cari uang untuk ibu, ibu tenang saja, ibu pasti bisa bertahan.”
“Tidak usah nak, ibu masih bisa bekerja. OHOK... OHOK...”, batuk keras itu menyebabkan darah terhambur dari mulut itu Ricky.
“Astaga darah lagi! Ibu istirahat saja di sini. Sekarang Ricky akan bekerja mencari kayu di hutan”. Ricky membersihkan darah yang terhambur dari mulut ibunya, mencium kening ibunya lalu berjalan menuju pintu keluar. Saat itu juga Aurel langsung mendatangi Ricky.
“Ricky!”, seru Aurel.
“Ricky hanya menoleh sebentar sambil tersenyum kecut, lalu pergi”
“Ricky tunggu sebentar. Aku ke sini untuk meminta maaf. Aku jahat, aku sombong, maafin aku Ricky”, Aurel mulai memohon-mohon pada Ricky.
Senyum kecut Ricky berganti dengan senyum manis, Ricky mengusap kepala Aurel dan berkata,
“Iya, aku maafin. Tapi aku harus pergi sekarang, aku mau cari uang untuk ibuku, ia sedang sakit”
“Aku ikut kamu Ricky!”
“Jangan, bahaya lho gadis kecil kayak kamu masuk hutan mencari kayu bakar. Kamu pulang saja sana”, ucap Ricky sampil meninggalkan Aurel menuju hutan.
Aurel yang tidak bisa berbuat apa-apa kembali pulang, sambil terus memikirkan bagaimana cara memperoleh uang sendiri untuk membantu Ricky. Dalam perjalanan, tiba-tiba ia bertemu seorang wanita gelandangan, wanita itu menatap takjub pada Aurel,
“Amboi! Apakah kau seorang malaikat? Wajahmu cantik dan rambutmu indah”, ucap wanita itu sambil membelai rambut Aurel.
“Maaf, tapi jangan sentuh aku”, ucap Aurel sopan.
“Oh, maafkan wanita tua ini. Ohoho, tetapi aku belum pernah melihat rambut seindah ini? Sekali lagi aku bertanya, apakah kau malaikat?”
Lalu Aurel menjawab, “bukan, aku bukan malaikat, aku manusia biasa. Tetapi rambutku ini memang pemberian malaikat, Glory namanya”
“Ah, Glory, sukacita. Yah, memang seharusnya kamu menjadi pembawa sukacita itu nak”, wanita tua itu mulai berseru.
“Haruskah begitu, bu?”

Wanita tua itu menghiraukan pertanyaan Aurel, ia terus berbicara sendiri, “amboi, rambutmu itu pasti mahal sekali harganya, jika aku punya rambut seperti itu, pasti sudah ku jadikan rumah, ohoho. Tapi ya sudahlah, pulanglah nak, hari sudah hampir malam, tak usah kau dengarkan ocehan wanita tua ini”. Wanita tua itu pergi meninggalkan Aurel.

Aurel terus berjalan hingga sampai rumah. Sepanjang jalan Aurel masih memikirkan kembali percakapannya dengan wanita tua itu. Ia terus merenung hingga ia tertidur lelap malam itu.
0 comments

Aurel -2-

Keesokan paginya Aurel terbangun. Ia mandi, berpakaian, menyisir rambut, menyisipkan rambutnya ke dalam topi, sarapan dan bersiap-siap pergi. Kemana ia akan pergi? Hanya Aurel yang tahu, ia sudah punya rencana dan belum ada seorang pun yang tahu.

Aurel berjalan menuju jalan pertokoan menuju sebuah rumah cukur rambut Joy, bangunannya besar, milik pengusaha ternama. Sampai di rumah cukur rambut, Aurel langsung mendatangi seorang bapak tukang cukur.
“Pak, apa aku bisa menjual rambut di sini?”
“Oh bisa, tapi tergantung kualitas rambutnya.”
“Paling murah berapa?”
“50 Gold, kau bisa beli sepasang sepatu dengan itu”
“Kalau paling mahal?”
“Ehm... Bisa 1000 Gold, kau bisa membeli rumah sekaligus mobil dengan itu”
“Apa kau punya uang sebanyak itu?”
“Aku? Hahaha... Tentu saja nak, aku adalah Joy, pengusaha kaya raya.”
“Tetapi mengapa kau menjadi tukang cukur?”, tanya Aurel penasaran.
“Aku sedang berlibur, aku memanfaatkan waktu luangku untuk membantu orang lain, lewat cara ini, nak”, jawab pak Joy sambil tersenyum.
“Baiklah kalau begitu pak Joy, aku ingin menjual rambutku seharga 1000 Gold”, jawab Aurel sambil membuka topinya. Rambutnya yang indah pun terurai.
“WAW! Indah sekali rambutmu nak, panjang, halus, sehat dan rapih. Aku bersedia memberimu 1050 Gold untuk ini”
“Wah benarkah? Kalau begitu, potong rambutku dan sisakan sebahu untuku”, ucap Aurel.
“Oh, maaf nak. Jika, aku baru mau menjual 1000 Gold jika rambutmu ku potong habis. Itu perjanjian yang berlaku di sini”, jawab bapak Joy.
Aurel menimbang-nimbang, berapa biaya yang dibutuhkan ibu Ricky, apa cukupkah 1050 Gold atau malah kelebihan? Akhirnya Aurel memutuskan,
“Ya sudah, potong saja semua rambut saya”, jawab Aurel lirih.
Dengan gunting rambut, bapak Joy memangkas habis semua rambut Aurel. Kurang lebih satu jam, rambut Aurel sudah terpangkas habis. Aurel menatap ke kaca, melihat kepalanya yang kembali botak tanpa sehelai rambut. Aurel merasa sedih.
Melihat wajah sedih Aurel, pak Joy pun mulai menghiburnya, “Nak, bapak tidak tahu untuk apa kamu menjual rambut indahmu untuk uang sebanyak itu, tetapi bagi bapak, kamu tampak lebih cantik dan bersinar tanpa rambutmu itu lagi”.
Hati Aurel berbunga-bunga, ia merasa sangat bahagia. Ia memakai topinya kembali dan dengan sekantong 1050 Gold, Aurel berlari penuh semangat menuju rumah tepi danau. Aurel melihat Ricky sedang duduk memancing ikan di tepi danau, Aurel mendatanginya.
“Hai Ricky, sedang apa kau?”
“Hai Aurel, aku sedang memancing. Ehm, tumben sekali kau memakai topi?”
“Ah, tidak apa-apa. Oh ya, Ricky, aku membawa sesuatu untukmu”, Aurel langsung menyodorkan sekantong logam emas untuk Ricky.
“A...Apa ini? Kau dapat dari mana? Kau mencuri?”, Ricky bertanya-tanya.
“Tidak! Enak saja, ini hasil usahaku Ricky”
“Bagaimana bisa kau menghasilkan uang sebanyak ini dalam semalam?”
Aurel membuka topinya dan Ricky menemukan jawabannya.
“Jadi.... Ini rambutmu?”, tanya Ricky
“Yap. Kau harus menerimanya Ricky, aku melakukan ini untuk sahabatku”,jawab Aurel penuh nada riang.
“Hiks.... Terimakasih Aurel!”, Ricky memeluk Aurel sambil menangis bahagia.
“Sama-sama Ricky”.

Sejak saat itu, ibu Ricky mendapat perawatan yang layak, dari hari ke hari kondisi tubuhnya membaik. Sementara Aurel, ia mendapatkan teman-temannya kembali. Mereka begitu takjub dengan kebaikan Aurel. Mama Ema dan papa Jhon juga sangat bangga memiliki anak sebaik Aurel. Aurel merasa sangat bahagia, walaupun ia tidak memiliki rambut lagi.

Pada suatu malam, Aurel bermimpi.
“Hai Aurel, masih ingat aku?”
“Malaikat Glory. Waw! Rambut indahmu sudah kembali!”
“Iya, ini berkat kebaikanmu dan rambutmu.”
“Iya, aku senang sekali bisa melakukan hal semacam itu dan sekarang aku tidak perlu pusing memikirkan berambut ataupun tidak”
“Oh iya? Coba kau usap kepalamu”
Aurel mengusap kepalanya dan....”wah, rambutku sudah tumbuh?”
“Tetapi rambutmu masih pendek, tidak apa-apakan?”, tanya malaikat Glory.
“Ya, tidak apa-apa kok, kan rambutku sudah bisa tumbuh”, jawab Aurel penuh semangat.
“Iya. Jaga baik-baik ya rambutmu, rawat agar tetap indah”, ucap malaikat Glory
Aurel terbangun dari tidurnya, melihat ke kaca dan tersenyum bahagia dengan rambut barunya.
Monday, October 10, 2011 0 comments

Jangan Biarkan Cahayamu Redup (Part 2)

Aku terus mengikuti mu ke dalam cahaya itu, kau tetap terfokus pada sesuatu tak terlihat di ujung cahaya putih ini sementara aku terfokus pada dirimu, apa yang ingin kau raih. Kita terus berjalan, berjalan tanpa arah. Aku tidak tahu apakah dirimu sadar akan hadirku. Ku beranikan diri memanggil dirimu

"Hei.... Mulia, ke mana kamu akan pergi?"
Kau memelankan langkahmu, tetapi kau tidak berhenti. Apa sih mau mu? Aku berjalan lebih cepat, sedikit mendekati dirimu lagi.

"Mulia, apa yang kamu cari di dalam cahaya ini? Bahkan kau tidak tahu arah mana yang kau tuju!"
Tetapi kau tetap diam, geram rasanya berbicara denganmu. Kau terus melangkah, tak acuh pada hadirku. Aku tidak bisa tinggal diam, aku berjalan lebih-lebih cepat lagi dan berhasil meraih dirimu, kutarik lenganmu hingga kau berhenti berjalan.

Tubuhmu bergeming, pandanganmu tetap lurus ke depan seolah tak ada aku di hadapanmu. Setelah sekian lama, rasanya baru kali ini aku kembali berdiri di hadapanmu, baru kusadari ternyata tinggimu juga sudah bertambah, semakin tinggi meninggalkan tubuh kecilku. Kuberanikan diri menatap wajahmu, matamu berkilau, tetapi keras seperti batu, bibirmu, tetap sama, merah merona, tetapi aku tidak menemukan segaris senyuman di sana.

Ku tarik wajahmu lembut dekat dengan wajahku. Aku masih mendengar hembusan napas menderu dari hidungmu, puji Tuhan kau masih hidup, lalu ku tatap matamu dalam-dalam....

Aku kecewa.

Aku tidak menemukan cahaya di dalam sana. Ke mana cahaya hidupmu? Mengapa kau matikan cahaya itu?

"Mulia... Ke mana cahaya itu?"
Kau tetap diam tak merespon. Ku tatap matamu lebih dalam lagi, berharap masih menemukan seberkas cahaya di dalam sana. Aku merasa iba, lagi-lagi tidak ku temukan cahaya itu, ku belai lembut pipimu, matamu yang keras perlahan-lahan melembut.

"Mulia.... Ke mana cahaya itu?"
Sekali lagi kutanyakan padamu, berharap kau memberi jawaban.

Aku tidak mendapat jawaban, tetapi aku lihat butiran intan berjatuhan dari bola matamu. Ku siapkan jari-jari tanganku untuk menghapus tiap butir intan itu, aku takut butiran intan itu melukai wajahmu.

"Mulia.... Apa yang terjadi? Ada apa denganmu? Ke mana kah sumber cahaya itu? Aku tidak melihatnya di sana."
Mulia hanya menggeleng. Matanya menatap ke dalam mataku yang mulai basah. Kedua ibu jarimu yang besar menghapus air mataku dengan lembut.

"Mulia... Ke mana kah sumber cahaya itu?"

Kau mencengkram pundakku dengan lembut, matamu terus menatap ke dalam mataku.

"Sumber itu sudah kembali," jawabmu singkat, matamu tetap awas menatapku, tanganmu membelai lembut rambutku dan kau.... TERSENYUM!! Astaga, setelah sekian lama, akhirnya aku kembali melihat senyumanmu!!

"Jangan bawa cahayamu sendiri, aku membutuhkanmu, Pelita." Ucapmu padaku sambil mengembangkan senyum terbaik yang kau miliki, senyuman favoritku.

Sekarang aku mengerti.
0 comments

Jangan Biarkan Cahayamu Redup (Part 1)

"Aku suka kamu".

Tidak tidak tidak! Tidak mungkin aku mengucapkan kata itu di hadapannya. Rasanya kuingin mati saja dari pada menyatakan cinta duluan. Bukankah wanita ditakdirkan untuk menunggu seumur hidupnya? Menunggu sampai sang Pangeran Tampan datang menjemputnya dengan kuda putih, lalu sang Pangeran membungkuk hormat di hadapan Putri Cantik seraya memberi setangkai mawar putih dan membisikan sepatah kata,

"Maukah kau jadi milikku?"

Bukan sekedar kata-kata, tetapi mantra yang mampu menyihir pikiran sang Putri sehingga ia tidak bisa membedakan yang mana dunia nyata dan yang mana dunia mimpi, yang mana rasio dan yang mana imajinasi. Tetapi lepas dari semua itu, kebahagiaan lah yang selalu diinginkan dua hati yang menyatu.

Sekarang...
Di mana dirimu, Pangeran?
Sejak dari pagi aku menunggu kehadiran wajahmu. Ingin rasanya, sekali saja aku melihat senyuman manis itu terbaring di bibirmu lagi. Tetapi... Ke mana senyuman itu? Ke mana ia pergi? Senyum yang selalu ku nanti, senyum yang selalu kau berikan kepada setiap orang, senyum yang aku ingini jadi milikku.

Ke mana? Ke mana senyuman itu? Satu pertanyaan yang tak pernah berhenti berdengung di telingaku, pertanyaan yang haus akan jawaban.
Adakah seseorang yang merebut senyuman itu darimu? Siapakah orang itu??! Katakan padaku, biar kuambil kembali senyumanmu dari genggaman tangannya.

Binaran cahaya matamu. Aku suka kilauan matamu yang besar dan hitam. Matamu lelah, aku tahu itu, lihatlah kantung hitam di bawah matamu, sudah berapa hari kau bergadang dengan tugas-tugasmu? Sudah berapa hari kau lupa beristirahat?
Aku juga merasakan yang sama, kantung hitamku malah kian bertambah gelap seiring bertambahnya waktu, hampir setiap malam aku memikirkan dirimu. Memikirkan ke mana senyumanmu dan ke mana binaran cahaya matamu?

Kau di sini, di sisiku, tetapi, di mana dirimu? Di mana semangatmu? Aku tak merasakan kehadiranmu di sini, aku berdiri tepat di sampingmu, tetapi kau mengabaikan hadirku, ada apa denganmu? Ada apa denganku? Ada apa dengan kita? Bukankah sudah cukup lama kita saling mengenal? Sudah lupakah kau siapa diriku? Kalau begitu, ajak saja aku kembali berkenalan, aku tidak keberatan, sangat tidak keberatan, justru aku merasa senang jika kau mau mengingat kembali siapa diriku ini.
Kau tetap berlalu, dengan wajah dingin, datar, sinar mata redup dan senyuman yang mati.

"Kreeeeeek...."
Ku dengar suara pintu kayu besar dibuka. Aku melihat sekelebat cahaya putih terang di sana. Semua mata terpana pada pintu besar itu. Tak ada yang berani masuk ke dalam cahaya putih itu. Tetapi bukan dirimu jika kau tidak melakukan sesuatu yang dianggap aneh oleh orang lain, kau berjalan perlahan menuju cahaya besar itu, perlahan-lahan, kau seperti terhipnotis cahaya itu. Aku tidak mau membiarkan kau pergi sendirian, aku ikut denganmu.
Sunday, October 9, 2011 0 comments

Musim Gugur di Hatiku (Part 3)

Malam itu berbeda dengan malam lainnya, malam milik kami, begitu indah. Pagi hari aku terbangun, sendirian, aku tak menemukan Angin di sisiku lagi. Aku tak tahu kemana alam memerintahkan dia pergi. Ku dengar riak dedaunan. Itukah nyanyianmu Angin? Indah sekali. Tetapi aku tidak melihat sosok dirinya.

Sore hari, aku sedang menyaksikan keindahan langit senja, sendirian. Inilah langit favorit kami. Kami selalu menghabiskan waktu berdua menikmati langit temaram. Terkadang Angin bercerita bagaimana tentang keajaiban langit, bagaimana eksotisnya muka bumi dari angkasa dan bagaimana asiknya memiliki kekuatan untuk terbang menjelajahi dunia. Ah, enak sekali rasanya!

Ingin saja sehari aku bertukar raga dengannya. Tetapi ada 2 pertanyaan umum selalu memupus harapanku; pertama, apakah aku mempunyai jiwa? Kedua apakah Angin mempunyai raga? Sederet pertanyaan yang menyakitkan karena mata kami semakin terbuka, kami merasa seperti ditelanjangi, malu melihat kebodohan kami. Kami dua makhluk yang sangat berbeda, tak ada relefansi diantara kami.

Hanya cinta kami yang menjadi relefansi.

"Alasan klasik!" Kata orang-orang menertawakan kenaifan kami.

Tetapi bagaimana lagi, karena kenaifan kami adalah kebenaran.

"Aku ingin menjadi seperti dirimu, Angin, agar kita bisa bersatu selamanya. Dan aku tahu apa yang bisa kita lakukan."

"Hahahahaha... Ada saja ide yang dipikirkan kepala kecilmu ini", balasnya sambil berhembus lembut mengayun-ayunkan tubuhku.

"Aku serius Angin."

"Tidak Dandelion, tidak mungkin bisa, aku hanya jiwa tanpa raga sedangkan kau..."

"AKU SUDAH TAU!! Berhentilah mendikteku dengan ucapan dan stigma benda biotik dan abiotik itu! Sekarang, lakukan saja sebisamu."

"Apa? Apa yang bisa aku lakukan?"

"Caranya mudah..."

Angin terdiam seperti menunggu jawabanku selanjutnya.

"Hancurkan diriku!"

Aku melihat mata Angin terbelalak lebar, kanget setengah mati mendengar permintaan sederhanaku.

"Tidak Dandelion, aku tidak akan merusak keindahanmu."

"Ku mohon Angin, lakukanlah, aku yakin ini pasti berhasil."

"jika ini tidak berhasil?" Tanya Angin mencoba menggoyahkan keyakinanku.

"Ya sudah, aku akan memulai kisah baru."

Dengan penuh keraguan Angin berusaha meyakinkan dirinya pula. Ia berusaha apapun alasannya ia tidak akan pernah merusak keindah Dandelion. Tetapi kali ini dia dihadapi 2 dilema, antara mencoba ide gila itu atau membiarkan segalanya.

Keputusan bulat pun diambil.

"Baiklah Dandelion, tetapi sebelumnya, maafkan aku jika semua ini tidak berhasil"
Aku tersenyum padanya, berusaha meyakinkan dirinya bahwa aku sudah siap.

"Fuufh........" Dengan satu hembusan keras, Angin melontarkan tubuhku, aku tercabik-cabik menjadi helaian bulu-bulu halus. Angin merengkuh seluruh tubuhku.
Sekarang aku adalah bulu-bulu Dandelion yang terbang dibawa pusaran angin.

Memang tubuhku sudah tercabik, molekul tubuhku tak bersatu lagi, tetapi aku masih bisa merasakan kehidupan mengalir dalam tubuhku, aku seperti memiliki jiwa dan.... LIHAT! Aku sudah bisa terbang!! Ragaku melayang dalam dekapan jiwa Angin. Kami terbang bersama menikmati keindahan hutan musim gugur.

"Angin, terimakasih, kareka kau telah menjadi jiwa yang tangguh bagi ragaku yang rapuh ini."

"Sama-sama Dandelionku sayang, tetapi aku lebih berterimakasih lagi, karena kau memberi tumpangan bagi jiwaku di dalam ragamu yang lembut ini."

Kami menghabiskan hari-hari kami dengan terbang, menelusuri langit dan setiap sudut bumi.
Saturday, October 8, 2011 0 comments

Musim Gugur di Hatiku (Part 2)

"Kukira, kau bisa berdesir lebih dekat lagi dariku. Kau kuat namun kau lembut, kuyakin kau tidak akan menyakitiku..."

"Aku juga mengira demikian, tetapi sayang, aku terlalu labil, tak mudah ditebak. Aku tidak ingin kehadiranku justru merusak keindahanmu."

"Tetapi... Kita sudah bersama lebih dari beberapa bulan ini dan kau lihat, aku baik-baik saja", jawabku meyakinkan dirinya.

Angin tampak berpikir keras, wajahnya murung, sedih, penuh dengan kebingungan, antara memilih mengacuhkan egonya atau egoku. Aku tidak ingin melihat dirinya tertekan seperti itu, ia sudah terlalu lelah bekerja seharian ini, mungkin ini memang saatnya aku mengalah.

"Angin, baiklah... Aku mengalah. Tempatmu memang bukan di sini, tetapi di alam bebas sana. Tetapi, berjanjilah padaku untuk tinggal malam ini saja bersamaku, oke?"

Senyum mengembang diwajah angin, kurasakan hembusan tubuhnya semakin kuat. Aneh, dalam hatiku tak ada rasa khawatir diriku akan hancur oleh satu tiupan keras bibirnya, aku justru menyukainya, kekuatan tubuhnya membuatku semakin bergairah, ingin rasanya aku meledakan tubuhku berkeping-keping.

"Ups... Maafkan aku", ucapnya sambil perlahan-lahan mengurangi hembusan itu.

"Dandelionku, ternyata kau bunga tertangguh yang pernah kutemukan." Ia menyunggingkan senyum nakal yang menggoda. Itulah senyum favoritku.

"Sudah berapa bunga yang kau temui Angin?"

"Banyak... Tetapi hanya kau yang berhasil mencuri hatiku," ia tersenyum lagi, aku tersipu malu dibuatnya.

"Hmmm.... Tidak usah berlama-lama lagi. Kau mau mulai dari mana?" bisiknya lembut padaku.

"Dari ujung kepala hingga ke dalam akar hatiku."

Tanpa berlama-lama, Angin kembali mendesir dan bergelung merengkuh lembut seluruh tubuhku.
0 comments

Musim Gugur di Hatiku (Part 1)

Desir angin, membisik mesra di telingaku. Daun-daun kering berdansa dalam pusaran angin, membumbung tinggi ke angkasa, seperti balerina, melenggok anggun di atas panggung teater, dedaunan dan kelopak bunga berterbangan. Dedaunan pohon menguning, melepaskan diri dari ranting, jatuh sehelai demi sehelai. Aspal dipenuhi dedaunan emas. Indahnya pemandangan di dunia emas ini.

Di sini aku. Duduk termenung di depan pintu hatiku, sedang menikmati drama musim gugur ini. Tak lama kemudian, kau kembali berhembus lembut, mengecup pipiku, membelai tengkukku, memeluk tubuhku erat. Ku gapai dirimu, kupeluk erat, berharap kau tidak akan pernah berlalu dari sisiku barang semenit saja.

"Angin, maukah kau terus berhembus bagiku? Tubuhku panas, aku butuh kesejukan dirimu di sini."

"Aku mau, aku ingin sekali mendesir, membelai wajahmu, bergelung dalam pelukanmu, tetapi... aku tidak tega, Dandelionku."

Aku tak perlu membantah dirinya, cukup mendengar namaku disebutnya saja, aku sudah mengerti.

"Dandelionku, kau begitu rapuh sayang dan diriku terlalu berbahaya untukmu, terutama untuk musim ini."

"Tapi Angin, aku tidak mau berpisah denganmu..."

"Aku tidak akan pergi jauh, aku selalu di dekatmu. Setiap hari aku berdesir halus untuk melelapkanmu dari terjaga dan membuatmu terjaga dari terlelap. Jika kau rindu aku, dengarlah riakan daun-daun itu, itulah nyanyian yang kumainkan untukmu."
Monday, October 3, 2011 0 comments

Au Revoir (Part 3)

Kisah serupa terulang kembali sekarang, saat aku berumur 21 dan David 23 tahun. Setelah bertahun-tahun meninggalkan aku ke Batam tanpa kabar, akhirnya 3 tahun yang lalu, David kembali dan merajut kisah baru denganku. Pertemuan kami semakin intens, aku semakin mengenal David luar dan dalam. Tetapi hari kemarin, segala hal yang ku tahu tentang David seperti terputar balik. Mengapa ia tidak mempercayaiku? Mengapa ia menyimpan semua ini sendirian? Mengapa ia baru jujur padaku kemarin? Aku benci harus mengingat kejadian kemarin di taman bunga.

"Darla... aku mendapat program beasiswa dan akan pergi ke Prancis..."

"APA? Prancis?? Kamu studi banding ke sana??"

"Ehm... semacam itu..."

"Astaga! Hebat!! Jangan lupa oleh-olehnya saat kembali nanti yaa." aku girang sekali mendengar berita ini, kapan lagi David bisa jalan-jalan ke Prancis? Negara yang sangat ia impi-impikan.

"Kamu gak apa-apa aku tinggal Darla?" David bertanya, menurutku itu pertanyaan yang sangat konyol.

"Hahahaha... tidak apa-apa lah, masa aku gak seneng melihat kamu pergi jalan-jalan ke Prancis? Itu impianmu kan? Kapan lagi kamu bisa ke Prancis gratis selama beberapa bulan, iya kan?" senyumku semakin girang, antusias mendengar berita keberhasilan David.

"Ehm.... maaf Darla, tapi... aku akan pergi ke Prancis dalam waktu dekat."

"Eh... apa?"

"Aku akan segera pergi."

"Oh... tidak apa-apa, kamu kan masih harus persiapan ini dan itu, masih sebulan lagi kan?"

David menundukan wajahnya, bermuram durja.

"Hei... Kamu kenapa? Kok gak semangat sih? Ini Prancis lho."

"Sebenarnya, aku sudah dapat kabar ini beberapa bulan lalu dan.... 2 hari lagi Darla."

Aku hanya terdiam; marah, kesal, aku tidak tahu harus menungkapkan apa.

"Mengapa kamu gak ngomong sama aku dari awal??!"

"Aku takut kamu sedih dan gak izinin aku."

"Apa??! Itu alasan kamu Dave? Kamu tahu gak? Kamu itu bodoh banget! Aku benci kamu!"
Aku berjalan menjauhi Dave, tetapi Dave berhasil menarik tanganku dan mendekapku erat dalam pelukannya.

"Maafin aku Darla, aku tahu aku egois banget, tetapi ini untuk masa depan kita juga Darla, makanya aku menerima beasiswa itu."

Aku meronta dalam dekapannya, ku dorong dirinya.

"Kita katamu??! Persetan dengan masa depan kita! Kamu hanya memikirkan masa depanmu saja, sekarang terserah kamu, aku gak peduli!"

"Tapi Darla, aku akan segera kembali...."

"Tujuh tahun menunggu sudah cukup bagiku! Aku lelah harus menunggu dan berharap selama bertahun-tahun!"

"Darla... Darla..."

Aku beranjak dari tempat tidurku menuju jendela. Hujan masih turun, masih deras, tetapi dia masih setia menunggu di sana. David, sehabatku yang malang dan kekasihku yang bodoh. Tetapi aku benci sekali jika harus mengingat hal itu lagi. Tetapi... Aku tidak kuasa menghukum dia seperti itu. Tampak ia kedingingan di bawah sana. David duduk meringkuk di bawah siraman hujan, wajahnya tetap mengadah pada jendela kamarku. Di balik jendela, di balik siraman hujan aku bisa melihat segaris senyuman tertarik pada bibir Dave, senyuman hangat yang mencairkan segalanya. Senyuman itu seolah berkata, "tenang Darla... aku akan terus menunggumu di sini."

Aku tak kuasa membendung air mataku. Semuanya tumpah, aku tidak tahan lagi melihat ia kedinginan di bawah sana. Aku segera keluar dari kamarku, menuruni tangga dan mengambil payung pink-ku dari dalam guci. Dengan dua putaran aku berhasil membuka kunci pintu rumahku. Perlahan aku berjalan menuju teras dan membuka payungku. Aku sampai lupa memakai sendal, tetapi aku tidak peduli. Ada nyawa yang harus terselamatkan dari pada kakiku. Ku buka gerbang dan... ku temukan dia.
Masih duduk meringkuk di bawah hujan. Hatiku semakin sakit melihat wajahnya yang basah, tubuhnya yang menggigil kedinginan, di balik senyumannya yang hangat, aku tahu giginya sedang bergemeletuk dahsyat.

"Darla" ucapnya sambil mulai berdiri.

"Jangan berdiri! Tetaplah di sana!" Aku tidak tahan jika dia harus mendekati diriku.

Perlahan aku berjalan melangkah mendekati dirinya yang masih duduk manis, patuh dibawah perintahku. Teman macam apa aku ini dan orang macam apa kamu ini Dave yang mau saja patuh pada perintahku?? Mengapa kau tidak melawan?!

Aku merasa berada di dalam ruang sesak saat berdiri tepat di samping Dave. Ku lindungi dia di bawah payungku. Senyum Dave mulai merekah kembali

"Terimakasih Princess, ehm... kok kamu gak pake alas kaki? Nanti kamu sakit lho."

Hatiku kembali bergetar. Dave, kali ini aku benar-benar membencimu!
Ku lempar payungku ke belakang, ku jatuhkan diriku duduk berlutut di samping Dave. Kuberanikan diriku, kusentuh wajahnya dengan sebelah tanganku, kulitnya dingin sekali. Mata kami saling bertemu, tangisku pun semakin menjadi-jadi. Di balik kacamatanya yang basah aku masih bisa melihat matanya berbinar bahagia dan tanpa merespon lama, ia memelukku dengan erat.

"Sssshhh... udah-udah jangan nangis lagi, aku di sini Darla, aku janji gak akan ninggalin kamu lagi," bisik Dave sambil membelai lembut rambutku.

"Enggak... Jangan Dave, kamu harus mengejar impianmu."

"No Darla... No... Aku tidak akan pergi meninggalkan orang yang aku cintai lagi."

Isak tangisku mereda. Apa katanya tadi? Cinta? Dave menatap mataku lekat dengan matanya. Cukup lama, perlahan namun pasti, wajahnya semakin mendekati wajaku, dengan lembut, ia mengecup bibirku.

Astaga... Aku pasti bermimpi!
Tubuhku membatu, mataku semakin tidak bisa terlepas menatap matanya.
This is our first kiss.

"Darla ma cherrie... Aku tidak jadi mengambil beasiswa 4 tahun itu, tetapi akan membawamu pergi ke Prancis..." segaris senyum terurai dari bibirnya yang lembut.
Friday, August 19, 2011 0 comments

Au Revoir (Part 2)

Kegalauan membawaku ke dalam masa lalu yang lebih dalam. Saat itu aku masih berumur 11 tahun dan David 13 tahun. David dan keluarganya pindah ke Batam untuk memenuhi panggilan dinas ayahnya sebagai PNS. Walaupun David sudah mengabariku sejak 2 bulan sebelumnya, perasaanku (sebagai bocah kecil) masih saja direlung rasa gelisah.
Sungguh, berat sekali rasanya saat berpisah dengan David; saat acara perpisahan, hanya aku satu-satunya tamu undangan yang tidak bisa mnenikmati pesta itu, tetapi untunglah ada David yang merubah suasana hatiku saat itu.

"Darla... Kamu kok diem aja sih?"

"Aku sedih Dave."

"Loh? Sedih kenapa? Pestanya kurang seru? Atau kamu masih laper? Sini aku temenin makan deh."

Mendengar tawaran David, aku mengangguk dan tersenyum, walaupun perutku tidak lapar sama sekali.
Yah... Aku hanya bocah ingusan yang tidak mengerti apa isi hatiku saat itu, yang aku tahu aku hanya sedih melihat pesta itu dan aku hanya ingin selalu berada di samping David. Sepanjang hari itu kami menghabiskan waktu bersama. David mengajakku ke sebuah ruangan besar, ruang pribadi miliknya. Lantai ruangan itu berupa kayu pelitur dan dinding-dindingnya dibalut wallpaper coklat muda dengan gambar not balok. Dinding ruangan ini juga di gantungi lukisan-lukisan abstrak karya ayah David. Inilah ruang musik milik David. Di tengah ruangan hangat ini berdiri sebuah Grand Piano hitam. David mempersilahkan aku duduk di sebuah sofa, sementara ia berjalan menuju Grand Pianonya dan mulai melantunkan sebuah lagu, ia bilang judulnya Je Chante Pour Passer le Temps karya Giovanni Mirabassi seorang pianis Prancis, lagu itu cukup panjang, tetapi aku menyukai lagu itu. David sangat suka hal-hal berbau Prancis, bahkan menurutku sejak kecil ada bibit pria romantis Prancis yang tertanam dalam dirinya, ku rasa itu gen dari ayahnya yang memiliki darah campuran Prancis-Jawa.

Selesai bermain Piano, David menuntunku ke taman bunga milik ibunya. Rasanya baru kali itu David mengajakku ke dalam taman bunga yang indah itu. Taman itu di penuhi bunga-bunga, ada Lili, bunga Matahari, Lavender, bunga Pukul Empat yang sedang mengerutkan kelopaknya dan beraneka Mawar merah, alba dan ada juga mawar merah muda. Mataku terpana pada setangkai mawar merah muda yang lembut dan menjanjikan itu. Aku menjulurkan tanganku perlahan ingin menyentuh kelopaknya, tetapi tangan David segera menahan tanganku dengan lembut.

"Jangan... Aku tidak ingin mengecewakan mamaku."

Aku hanya menatapnya dengan tatapan bingung.

"Mamaku berjuang cukup keras untuk menciptakan mawar ini. Mama sudah puluhan kali mencoba menggabungkan dua mawar yang berbeda tetapi gagal dan inilah satu-satunya Mawar yang berhasil mama buat. Jadi maaf ya Darla."

Akupun paham, aku tersenyum dan mengangguk padanya. Ia membalas tersenyum. Ia menyuruhku menunggu sebentar di taman sementara ia pergi ke dalam rumah. Cukup lama, sambil menunggu, aku duduk di atas batu dekat sebuah kolam ikan buatan. Aku mendengar suara derap sepatu berlari menyusuri rerumputan dan suara desah nafas yang keras. Yap itu David. Ia menyembunyikan sesuatu di belakangnya.

"Apa itu?", tanyaku polos.

"Bukan apa-apa sampai kamu mau menuruti instruksiku, kamu mau?"

Permainan apa yang akan David tunjukan kepadaku? Aku mengangguk tanda setuju.

"Oke, pejamkan matamu."

Tanpa membantah ataupun bertanya, aku langsung memejamkan mataku. Aku mendengar suara sepatu David melangkah menjauhiku, ingin ku buka mata tetapi aku tidak mau, aku tidak mau mengecewakannya. Kupejamkan mataku kuat-kuat, kubalik tubuhku membelakangi David dan pekerjaannya. Cukup lama, aku mendengar suara-suara seperti tangkai bunga yang digunting, ranting yang dipatahkan dan desir angin. Aku semakin penasaran, apa yang dikerjakan David di luar sana? Tak lama aku mendengar langkah kaki David mendekat padaku.

"Buka matamu", ucapnya lembut. Lalu aku buka mataku. Aku melihat pemandangan yang tidak biasa. Di atas kedua belah tanggannya aku melihat rangkaian mahkota bunga mawah putih dengan mawar merah di tengah-tengahnya. Aku tercengang, kagum menyaksikan rangkaian bunga indah itu.

"Mahkota ini untuk yang mulia sang putri. Semoga kecantikan dan kelembutan hati sang putri terus terpancar seperti pancaran putih mahkota ini". Aku hanya tertawa. Tertawa bahagia menerima pujian itu.

"Masih ada sesuatu yang ingin aku beri untuk yang mulia."

"Apa itu?"

"Emm... sebelumnya yang mulia berbalik arah dulu ya, jangan ngintip, hehehe..."

"Hehe... Oke", seruku menikmati permainan itu seraya membalikan tubuh.

Tidak lama kemudian David menepuk bahuku dan menyuruhku berdiri. Ia menyembunyikan sesuatu lagi di belakangnya. David berlutut di hadapanku, lalu menyodorkan serangkai mawar merah untukku.

"Princess, would you be my queen?"

Aku tersenyum, tertawa melihat aksi lucu David hari itu. David yang semula wajahnya serius juga ikut tertawa.

"Hahaha... Princess, I'm waiting for your answer."

"Hihihi... Yes, I would be your queen", jawabku seraya menerima rangkaian bunga itu.

Aku suka sekali permainan ini, entahlah, ada sesuatu yang membuat aku ingin selalu berada di dekat David.

"Oh tidak David, tangan kamu!", seruku menunjuk tangan David yang berdarah tersayat-sayat duri Mawar.

"Oh ini? Gak apa-apa, udah biasa kok."

"Loh, gak bisa dibiarin begini aja Dave, ayo kita obatin dulu lukanya, oke?"

Di dalam rumah, aku mulai membersihkan lukanya dan memberinya larutan iodin.

"Bagaimana rasanya Dave?"

"Lebih baik. Terima kasih ya Princess."
Aku hanya tersenyum malu.

Kami berjalan menuju taman lagi, waktu berjalan cepat, langit siang berubah menjadi senja dengan semburat merah keemasan yang cantik. Sambil berjalan aku memerhatikan seikat bunga mawar yang Dave beri untukku. Aku menemukan setangkai mawar merah muda, aku mulai was-was mengingat ibu Dave, tetapi untunya ini bukan mawar asli, ini hanya mawar plastik. Aku penasaran apa maksud Dave menyisipkan mawar ini?

"Dave, kenapa kamu nyisipin mawar plastik merah muda di antara bunga mawar merah?"

David tersenyum, seperti merasa lucu.

"Darla. Mawar merah itu adalah janji-janji yang aku kasih buat kamu".

"Dan mawar merah muda plastik ini?"

"Itu... adalah sebuah harapan."

"Maksudmu?"

"Darla, kamu itu sahabat terbaik yang pernah aku punya, aku beruntung banget bertemu orang kayak kamu. Tetapi, di setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Aku benci mengatakan ini, tetapi... sudah saatnya kita berpisah Darla."

Aku tak sanggup menahan air mataku, hari itu pertama kali dalam hidup aku menangisi kepergian seseorang, seorang sahabat.

"Ta....tapi... aku.. Gak mau pisah.. hiks... sama kamu.."

"Tenang Darla, aku janji, cepat atau lambat aku akan kembali suatu saat nanti".

"Tapi... bagaimana kalau kamu gak kembali?"

"Selalu ada harapan Darla. Sekecil apapun itu, simpanlah baik-baik di dalam hatimu".

Aku tidak bisa menahan tangis kepedihanku. Ditinggal seorang sahabat jauh lebih menyakitkan. David memelukku, membelai lembut rambutku, membiarkan setiap tetes air mataku membasahi bajunya, merembes hingga ke dadanya. Membiarkan air mata itu mengering di sana. Ia merengkuh wajah kecilku dengan tangannya yang besar dan kasar. Jari-jarinya menghapus air mataku dengan lembut dan hati-hati agar tidak menyakiti mataku.

"Aku akan kembali, sahabat", ucapnya sambil mengecup keningku. Kecupan persahabatan.
Tuesday, August 16, 2011 0 comments

Au Revoir (Part 1)

Tik... Tok... Tik... Tok...
"Bagaimana, aku harus bagaimana?", jariku mulai mengetuk-ngetuk kaca jendela seraya menimbang-nimbang.

Tik... tik... tik...

Di balik kaca jendela kamarku, ku perhatikan titik-titik air itu berjatuhan satu persatu dari langit. Begitu anggun mendarat di atas dedaunan, bunga, dinding, atap dan kaca jendela kamarku. Titik-titik itu semakin banyak, mereka turun dengan cepat, membrutal menghantam segala objek yang ku lihat. Tiupan angin kencang memutar, mengaduk titik-titk hujan itu hingga berpilin dan menghantam keras kaca jendelaku.

"Praaak", benturan itu memudarkan lamunanku.

"Astaga! Ah! Aku harus bagaimana?". Rasanya aku sudah mulai frustasi memikirkan hal ini terus-terusan.

Di balik jendela, ku pandangi lagi jalanan komplek di bawah sana. Hujan masih mengguyur, mengguyur semakin deras. Di tengah derasnya guyuran hujan itu, di jalanan yang basah berdiri seseorang. Seseorang yang masih setia menunggu. Aku tak tahu apa yang masih ia tunggu, yang aku tahu di luar sana sangat dingin terutama di bawah guyuran hujan seperti itu dan aku harap orang itu segera baranjak dari sana. Sayangnya, harapanku sirna, tubuhnya yang tinggi, tegap dan kekar itu tetap diam, seperti ada paku yang menancapkan kakinya di atas aspal. Wajahnya membeku seperti patung sesosok malaikat, iya tidak peduli hujan menghantam keras wajahnya. Ia bekacamata dengan bingkai hitam putih. Bola matanya coklat tua menjadi gelap dan tajam. Mata itu tidak berkedip, mata yang terus memandang ke dalam mataku dan memerhatikan gerak-gerikku. Entahlah, rasanya tidak ada kaca pembatas di antara kami saat aku melihat mata itu, bahkan aku merasa seperti ditelanjangi saat menatap ke dalam bola mata itu, sepertinya ia tahu segala hal tentang diriku dari kulit hingga ke dalam sumsum tulangku. Jari-jari tangannya yang panjang menggenggam selembar kertas gambar besar. Walaupun kertas besar itu basah dan hampir hancur karena terpaan hujan, tetapi untaian kata pada kertas itu masih terngiang-ngiang di dalam pikiranku.

"Maafin aku :(", ujar tulisan dengan spidol hitam yang mulai luntur itu.

Bukan hanya itu, ia juga membawa serangkai besar mawar putih (kesukaanku disaat seperti ini) yang kelopaknya mulai rontok dan beterbangan disapu angin.

Aku tidak mau menatap mata itu, aku tahu diriku akan lemah terpedaya olehnya.

"Pergilah!", teriakku di balik kaca jendela. Walaupun pada akhirnya aku sadar ini tidak akan berhasil. Kemudian ku buka kaca jendelaku. Hujan mulai menerpa wajahku

"UDAH! PERGI! Aku bilang PERGI Dave!", teriakku di tengah gemuruh hujan. Hatiku sakit, tetapi aku harus membiasakannya. "Rasa sakit ini hanya sementara", bisik hatiku.

Ternyata usahaku sia-sia. David diam membatu, ia hanya menggelengkan kepalanya saja. Apa sih yang cowo ini mau? Ku tutup kembali jendelaku berikut dengan tirai birunya. Aku tidak sanggup melihatnya. Aku duduk bersandar di bawah ranjangku. Persis di sebelah kiriku ada bufet kayu kecil, di atasnya ada vas bunga kaca berisi rangkaian mawar merah yang mulai layu, di tengah rangkaian mawar merah itu, berdiri setangkai mawar merah muda terbuat dari plastik yang ukurannya lebih kecil dari mawar merah.

"Okeh, ini hanya imajinasiku saja, pemandangan itu tidak nyata", ucapku mulai membodohi diriku. Wajahku basah sekali, walaupun sudah tidak diterpa hujan, aku masih merasakan air mengalir dari mata membasahi pipiku. Sakit sekali rasanya, ditelan emosi dan keegoisanku sendiri. Aku berdiri dari lantai beranjak ke atas tempat tidurku. ku baringkan tubuhku di atas sprai biru muda polos dan ku peluk bantal bulu berwarna merah muda. Lembut, perlahan-lahan kelembutannya menenangkan amarah dalam hatiku. Tetapi kini kegalauan mulai menyelimuti diriku. Air mataku kembali menetes. Kelembutan bantal bulu ini membawaku ke dalam kenangan indah masa laluku dengan dia. Sakit rasanya saat mengingat lagi keindahan, cinta dan masa-masa manis yang ku lalui dengannya.

"Tidak... Itu bukan salahnya. Pilihan ada padanya, itu hak Dave memutuskan memilih aku atau...", aku tak sanggup memikirkannya lagi.

"Memang sudah pasti bahwa suatu pertemuan pasti diakhiri perpisahan. Dan... mungkin ini sudah saatnya.... a... aku.... harus... harus.... berpisah... dengannya". Ku tarik napasku dalam-dalam saat mengucapkan kata itu.

Pikiranku terlintas dilema, bertahan atau berakhir? Mempertahankan atau mengakhiri saja? Aku tidak sanggup dengan perasaan seperti ini. Ingin aku mengakhirinya karena aku takut hubungan ini tidak akan bertahan lama lagi, melihat dia yang akhir-akhir ini mulai dingin padaku, tidak memancarkan senyum manis kesuakaanku, sibuk dengan dunianya bahkan mulai (sengaja) menghindar dari diriku, membuatku semakin tertekan. Tetapi chemistry yang sudah kami bangun sejak kecil dan berbagai kisah manis hubungan istimewa kami yang sudah berjalan hampir 3 tahun, hal ini yang membuatku ingin terus mempertahankan hubungan kami. Tetapi... lagi-lagi hal itu.... Mengapa dia membohongiku? Mengapa tidak dari awal saja? Aku benci harus menghadapi hal seperti ini. Akupun bingung apa yang ingin aku lakukan, memeluknya agar tidak terlepas dari diriku? Atau menampar dan memaki-maki dia habis-habisan?

"Egois!", bisik hatiku sinis.

"Go to hell!!", jeritku seraya guntur membelah langit.

Keheningan mengisi kamarku, hanya derap suara hujan yang aku dengar, aku mulai khawatir. Ku buka tiraiku dan... Aku masih menemukan dia di sana. Ia basah kuyup dari ujung rambut hingga kaki, kertas gambar dengan tulisan itu sudah hancur menjadi bubur kertas. Ia sedang mondar-mandir, sambil menjaga beberapa tangkai mawar putih, ia berusaha menghangatkan tubuhnya di tengah udara dingin yang menusuk. Nampak sekali kemeja putihnya tidak bisa menghangatkan dirinya lagi. Seolah-olah ia tahu aku memperhatikannya, ia berhenti, kembali berdiri, menatapku dan menyunggingkan senyum favoritku.

"Darla, aku mau berbicara denganmu!", seru Dave padaku.

Melihatnya saja aku sudah tidak mampu, apa lagi berbicara dengannya. Tetapi aku ingin sekali membicarakan hal ini dengannya, hanya saja... Tidak untuk sekarang.
 
;