Listen


MusicPlaylistView Profile
Create a playlist at MixPod.com
Showing posts with label Sharing 2012. Show all posts
Showing posts with label Sharing 2012. Show all posts
Friday, October 12, 2012 0 comments

Random: Kacamata Hidup

Wilujeng Sumping...
Herzlich Wilkommen..
Bienvenue...
Welcome...
Selamat datang.



Yap, itu sedikit sapaan dalam beberapa bahasa yang aku pelajari (pamer dikit bisa macem-macem bahasa, hehe), sebenarnya masih ada satu bahasa lagi, yaitu bahasa Rusia, tetapi berhubung program yang terkait untuk menulis alfabet Rusia belum terinstal dalam Laptopku, jadi tidak usah saja.
Akhirnya, ada juga kesempatanku untuk berbagi cerita dalam blog ini.

Well... 1 bulan lebih 2 minggu sudah aku menetap di ranah Jatinangor yang cuacanya sedang adem-ademnya, seruuuu banget rasanya tinggal sendirian di kamar sepetak, di mana semua aktivitas dari tidur sampe tidur (lagi), aku lakukan di kamar ini. Belum lagi kegiatan-kegiatan yang kulakukan di luar kamar yang udah super cozy ini, entah itu kuliah, latihan paduan suara, pergi ke Bandung atau ngeceng... eeh maksudnya nangkring (FYI, ngeceng di Jatinangor itu diartikan sebagai... apa yah... kalau kata temenku dan yang aku tangkap, ngeceng di sini tuh artinya deketin cowo/cewe, macem pedekate atau semacamnya, sementara ngeceng yang aku tahu dulu yaah sama aja kayak nangkring a.k.a nongkrong a.k.a ngumpul sama temen2 a.k.a jalan-jalan ke mall-mall atau semacamnya. So, hati-hati menggunakan istilah di sini, bisa salah arti, nanti orang lain nangkepnya beda kita juga yang rugi, okeey?)

Kembali ke cerita. Ehemm...

Rasanya tinggal jauh dari rumah itu... SERUU! Walau pun aku masih sering kangeen banget sama suana rumah, keluarga dan sahabat-sahabat di Tangerang Selatan sana. Di sini aku dituntut super duper mandiri, aku gak bisa bergantung sepenuhnya sama orang lain, semuanya harus aku kerjain sendiri, mulai dari belajar, beres-beres kamar, nyari makan, nyiapin sarapan (ini yang lumayan repot), nyuci, manage waktu sampai ngatur keuangan (ini yang susah) aku harus tahu yang mana yang menjadi kebutuhan yang harus di prioritaskan dan yang mana yang bisa di tunda. Dulu waktu masih sekolah, aku bisa dengan seenak jidat foya-foyain duit jajan yang orang tua dan nenek kasih, mau pake beli baju atau sepatu seabrek, atau jalan-jalan sama temen atau disimpen sendiri yaah itu terserah aku karena biaya hidupku sehari-hari seperti makan dan lain-lainnya, yah orang tua yang tanggung. Sementara sekarang aku di kasih jatah uang saku 1 bulan sekian rupiah oleh orang tua dan aku gak bisa pakai itu seenak jidat kayak waktu zaman SD, SMP, SMA. Sekarang biaya apa pun harus aku yang manage sendiri. Aku gak bisa dengan seenak jidat menghabiskan uangku untuk hal-hal yang gak penting. Aku teringat sebuah statement yang pernah diutarakan guruku waktu SMA, begini katanya,

"apakah kalian bisa menghabiskan uang Rp 200.000 rupiah dalam waktu 1 hari?"

Lantas aku tertawa garing, dalam pikiran, aku membayangkan itu gampang banget tinggal pergi ke mall cari dress yang harganya 200.000 dan misi pun selesai. Lalu guruku bertanya lagi,

"tetapi, apakah kalian bisa menghasilkan uang sebanyak itu dalam waktu sehari?"

Pertanyaan ini yang membuat aku juga sadar untuk tidak menghambur-hamburkan uang.
Aku cukup menyesal karena rekening bank yang telah nyokap buat saat aku SMP gak pernah mencapai target, mencapai target sih tapi selalu aja, ada aja yang aku perlu sehingga tabungan itu habis. Menyesal banget sih enggak karena... yah aku sendiri menikmati apa yang ku dapat.

Waktu liburan kelulusan SMA, aku mencoba bekerja. Aku ngajar jadi guru les keyboard dan piano privat, menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan bagi aku dan penghasilanku sebagai guru amatiran yaah... tidak seberapa, tetapi aku suka itu. Dan aku juga mencoba magang dibidang administrasi di bengkel (ini jauuh lebih sulit dan memakan banyak waktu dari pada menjadi guru les), jujur, menjadi administrator bukan bidang yang aku suka, aku bekerja hanya 2 hari (karena setelah 2 hari bekerja, semua karyawan libur lebaran), tetapi aku membuktikan aku bisa bekerja dengan maksimal dan hasil usahanya pun, cukup. Dari hasil aku bekerja, aku bisa membuka rekening baru untuk menyimpan biaya hidupku selama di Jatinangor.

Kuliah di luar kota dan nge-kos sendirian itu adalah tantangan yang cukup besar bagiku. Aku bersyukur banget, Tuhan baik masih menyertaiku dan ngasih segala kemudahan, salah satunya tempat kosku ini. Walau kata orang nge-kos di tempat aku ini rawan maling lah, jauh dari keramaian kota dan terpencil, aku merasakan yang sebaliknya. FYI, aku tinggal di Cisaladah, tepat di sebelah jembatan Cingcing, yang menjadi jalan penghubung, objek wisata peninggalan Belanda sekaligus mitos masyarakat. Letaknya sangaaaaat dekat dengan Fakultasku (FIB), dari kamarku menuju kelas cuma butuh 5 menit. Aku udah kerasan banget tinggal di sini. Letaknya jauh dari keramaian kota, nah justru itu aku seneng karena selalu mengingatkan aku sama rumah aku yang juga jauh dari keramaian. Tempat ini justru mendukung semua kegiatanku, aku aktif di kegiatan kampus, jadi kalau mau apa-apa aku bisa tinggal pulang bentar ke kos-an, mungkin bisa curi-curi tidur siang dulu baru deh ikut UKM, dll.

Aku pribadi memang tipe orang yang suka jalan-jalan dan makan-makan, tetapi aku juga adalah orang yang sangat memperhitungkan jadwal kegiatan-kegiatanku, aku gak mungkin jalan-jalan setiap hari atau pergi makan-makan mewah setiap hari karena aku punya kegiatan lain yang lebih penting, jadi ada saat-saat tertentu aku mau memanjakan diri, aku menyebutnya sebagai "Hari Jenuh", di mana aku memang sangat jenuh dan butuh refreshing seperti hari ini. Aku jadi keinget terus sama nyokap, tiap minggu ada aja nyokap suka ngajak aku makan salad di Pizza Hut atau makan mi ayam atau sekedar keliling Pamulang saat aku emang lagi bosan. Saat bosan, aku inget SMA-ku tersayang, Santa Ursula BSD, aku memang sering merasa sangat bosan sekolah di sana, namun setiap hari aku menemukan dan menerima hal-hal luar biasa di sana, dan karena sekolah ini pula, aku bisa seperti ini :). Ternyata, rasa bosan pun bisa menjadi rindu.

Rasanya... Bener-bener gak nyangka aku bisa ada di sini sekarang, di Jatinangor, di kamar kos, di Universitas Padjadjaran. Memang benar, rancangan Tuhan itu jauuuh lebih indah dari pada mimpi kita. Aku inget, aku selalu memimpikan bisa kuliah di Sastra Perancis UI dan punya jaket kuning, jaket yang selalu mencolok dan menggoda. Dan ternyata aku mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari sekedar impian, aku mendapatkan realita, kenyataan. Memang Tuhan itu luar biasa merancangkan hidupku sedemikian rupa :). Sejak menjejakan kaki di Jatinangor dan Sastra Jerman, tidak pernah ada terlintas di pikiranku untuk minggat dan mengejar impianku yang dulu.

Impian terbesarku masih tetap sama. Aku ingin menjadi musisi dan penulis yang luar biasa. Aku ingin tulisanku dipublish dan difilmkan, aku ingin pergi ke Perancis, menikmati keindahan negara itu, menonton pertunjukan opera di sana, berkeliling Eropa, bertemu dengan seniman jalanan dan belajar hal-hal menarik di sana. Aku ingin sekali menulis cerita tentang Perancis dan Jerman. Aku ingin merasakan tuts-tuts piano di Jerman, mungkin piano yang pernah dimainkan oleh Mozart atau Bethoven. Satu mimpi baru lagi, aku ingin mengukir puisiku di sebuah tempat di Perancis dan Jerman dalam 3 bahasa, Indonesia, Jerman dan Perancis. Mungkin juga Sunda dan Rusia, hahaha. XD



Monday, August 13, 2012 0 comments

Mengandalkan Kasih KaruniaNya

Setelah satu minggu pergi mengurus keperluan kuliah, sore ini aku kembali mengajar Grace, murid keyboard-ku. Aku terpukau dan bahagia, aku kira setelah kurang lebih 1 minggu melepas Grace, ia akan malas belajar, ternyata dugaanku salah. Aku ingat sekali ada 2 lagu yang belum bisa Grace mainkan; Happy Ya Ya Ya dan Balonku, lagu anak-anak yang menurutku cukup sulit untuk dimainkan. Tetapi, sore ini aku mendengar Grace dapat memainkan lagu itu dengan baik.

Aku pun menambahkan lagu baru dengan chord baru, lagu Kartini dengan chord Am. Hari ini ia dapat memainkan lagu tersebut tanpa iringan dengan cukup baik dan aku cukup puas melihat hasil itu, esok hari aku akan kembali mengajarkan permainan yang lebih baik.

Rasanya tidak sia-sia aku menyetujui keinginan mama Grace agar aku kembali mengajar Grace selama libur kuliah 2 minggu. Dan sore ini bukan pula sebuah kebetulan aku diundang mengajar Grace, aku percaya Tuhan punya rencana.

Selesai mengajar Grace, mama Grace mengajakku ngobrol panjang-lebar tentang banyak hal.

Pertama tante bercerita tentang pergumulan yang dialami Grace. Sebagai pengikut Kristus yang sangat muda, ia mengalami deskriminasi oleh teman-temannya. Mama Grace membesarkan hati anaknya, tante melarang Grace membalas perkataan teman-temannya, sebaliknya mama Grace menyuruh Grace berterima kasih dan berkata, "tidak apa-apa, saya tahu Tuhan Yesus sayang saya."
Aku tertegun mendengar itu. Aku tahu ada makna tersirat dalam kalimat itu, makna yang sangat dalam. Aku merasa itu adalah kalimat luar biasa yang dikeluarkan oleh seorang anak kecil. Pengakuan iman Kristus.
Sejak kecil Grace sudah membaca Alkitab, awalnya Grace iri melihat keluarganya bisa membaca Alkitab bersama-sama setiap pagi dan malam, ia pun mau belajar membaca. Selain belajar, dengan imannya Grace juga berdoa kepada Tuhan, ia berdoa agar ia bisa membaca. Doa orang benar, besar kuasanya, Tuhan memberi kemampuan Grace melebihi anak-anak seusianya. Ia suka membaca renungan anak setiap pagi, bahkan Alkitab yang Grace pakai adalah Alkitab bahasa sehari-hari, bukan Alkitab untuk anak-anak.

Selain bercerita tentang Grace, tante juga bercerita tentang masa mudanya saat kuliah. Ini sangat menarik untukku, mengingat aku adalah mahasiswa baru.

Mama Grace bercerita bagaimana nasibnya sebagai anak perantauan yang kuliah di Jakarta. Dengan uang yang pas-pasan ia harus kos dan mengatur pengeluaran sehari-harinya sendiri. Kehidupannya selama kuliah dipenuhi banyak tantangan dan pilihan. Satu hal yang membuat tante tetap bertahan dalam keadaan tersebut adalah doa. Tante bercerita ia selalu berserah kepada Tuhan selama masa mudanya dan terbukti, Tuhan selalu mencukupi kebutuhannya dan menjaga tante dalam setiap langkahnya. Setiap pagi jam 5 tante bangun untuk berdoa dan menaikan penyembahan lalu membaca firman Tuhan. Setiap 2 kali seminggu tante berpuasa. Awalnya tante berpuasa untuk menghemat pengeluaran, maklum mahasiswa juga punya banyak keinginan, tetapi lama kelamaan tante berpuasa karena ingin menguatkan diri dari godaan, tante pun tetap berpuasa bahkan saat dalam kelimpahan. Dalam puasanya tante mendoakan banyak orang. Saat ini tante sudah tidak mampu berpuasa karena sakit maag, tetapi doa tante tidak pernah berhenti.

Hal yang terpatri dalam ingatanku, tante berkata:
"Dalam doa, berdoa untuk banyak hal. Pertama tante selalu mendoakan keluarga tante, tetapi tante tidak sering mendoakan keluarga tante, tante lebih sering mendoakan hamba-hamba Tuhan yang Tuhan pakai sebagai penginjil baik di Gereja atau yang di daerah terpencil. Mereka butuh back up dari kita."

Aku diingatkan kembali betapa besarnya kuasa doa. Dan aku teringat video yang aku tonton pada hari Minggu di Gereja, tentang project kita sebagai anak-anak Tuhan; menjangkau jiwa-jiwa. Cara menjangkau jiwa yang aku lihat dalam cuplikan itu adalah bukan dengan merekrut orang-orang untuk datang ke Gereja atau pun KKR, tetapi dengan mendoakan orang-orang tersebut. Dengan meminta tangan Tuhan terlibat dan Roh Kudus memenuhi kita, Tuhan pasti membukakan jalan dan memberikan kemampuan bagi kita untuk menjangkau jiwa. Bukan karena kuat kita, tetapi karena kekuatan Tuhan.

Tante juga membahas tentang pergumulan yang akan aku hadapi, sebagai mahasiswi di Bandung.
"Tidak ada larangan untuk bergaul, berteman dengan orang-orang yang tidak seiman, tante juga punya banyak kenalan yang tidak seiman, tetapi jangan pernah menjalin cinta dengan mereka."
Ini bukan pertama kalinya aku mendengar nasehat ini, sudah kesekian kalinya, tetapi entahlah nasehat ini selalu menamparku.
Sampai saat ini, aku belum pernah berpacaran satu kali pun, baik dengan yang seiman apalagi yang tidak seiman, belum pernah. Aku seolah diingatkan selalu, Tuhan pasti sudah menyediakan seseorang yang paling tepat sebagai pendamping hidupku dan aku tidak perlu khawatir.

Tante juga berpesan:
"Ada 2 hal yang sering menggoyahkan anak-anak Tuhan. Pertama, rasa ingin coba-coba, karena belum tentu dia jodoh kamu jadi kamu menganggap pacaran itu sekedar main-main. Kedua, pacaran sebagai ajang menyelamatkan jiwa, kamu pikir karena dia sudah cinta sama kamu, dia mau ikut sejalan dengan kamu. Jangan sekali-kali kamu coba itu."
Hal yang terlintas dalam pikiranku, ini adalah firman taurat, tetapi aku percaya ada kasih karunia di balik firman yang menekan tersebut. Tuhan tidak ingin anakNya jatuh. Aku teringat firman dalam 2 Korintus 6:14 Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?
Sudah sangat jelas bagiku, tidak ada tawar menawar lagi. Aku tidak mau main-main dengan hal ini.

Semua yang aku lihat saat ini baik adanya, tetapi aku tidak tahu apa yang menungguku di depan sana. Aku tidak mau mengandalkan kekuatanku sendiri, aku ingin Tuhan turun tangan sepenuhnya dalam hidupku, aku ingin Roh Kudus aktif berperan dalam diriku dan mengontrol diriku, aku ingin menggunakan segala karunia yang Tuhan telah berikan kepadaku.

Tuhan menciptakan aku untukNya. Apa pun yang aku kerjakan, sekecil apa pun itu, semuanya untuk kemuliaan Tuhan.

Siang ini aku melihat pesan yang ditag oleh temanku melalui sebuah gambar. Pesan yang menjadi rhema bagiku:






Harapanku, Tuhan selalu menjaga hidupku. :)
Thanks Jesus...
For You I'm your beloved child.
Friday, June 15, 2012 0 comments

Cherished Moments

Another beautiful song, Cherished Moments by Jon Schmidt.
Romantis, lembut, penuh arti. Aku dapat merasakan pesan cinta yang begitu dalam yang disampaikan Jon Schmidt dalam setiap dentingan pianonya.

Namun, lagu ini hanya lagu, aku bisa merasakan rasa cinta yang berbunga-bunga yang dirasakan Jon Schmidt sementara aku, tidak mampu merasakan cinta yang sebenarnya.
Sampai detik ini aku belum bisa jatuh cinta pada siapa pun. Rasanya kosong, tidak ada lagi nama spesial yang terekam dalam memoriku. Belum ada kisah cinta yang mampu menjadi inspirasiku.

Ingin rasanya aku merasakan momen yang namanya pacaran, namun hingga saat ini aku masih belum bisa merasakannya. Aku terus mencari orang yang tepat, walau pun aku sendiri tidak tahu seperti apa orang yang tepat. Setiap orang yang aku temui selalu saja ada kekurangan dalam diri mereka yang belum bisa aku terima. Aku tahu dunia berkata mustahil untuk mencari seseorang yang benar-benar sempurna.
Aku tidak mencari orang yang sempurna, aku hanya mencari seseorang yang... dapat membuatku merasa nyaman dan utuh.

Alunan piano Jon Schmidt terus berkumandang memenuhi ruang kerjaku, membawaku terus berpikir..
Apakah musik yang membuatku jatuh cinta?
Apakah aku jatuh cinta pada musik? Bukan pada seseorang?

Mustahil.

Thursday, January 19, 2012 0 comments

I'm No Longer a Little Girl

Siang ini gue harus merelakan salah satu koleksi boneka masa kecil gue. Boneka Blossom the Power Puff Girl.

Siang ini gue merasakan betapa asiknya menjadi seorang kakak cewe yang punya adik kecil cewe. So, begini ceritanya. Siang ini ada tetangga nitipin cucunya ke nyokap gue. Pertama-tama gue diem-diem aja di kamar gak tahu dan gak peduli ada apa. Pas gue keluar kamar, gue ke ruang tamu dan melihat, koleksi boneka-boneka gue yang sudah lama tersimpan tiba-tiba tersusun berderet di sofa. Mata gue terarah pada sosok gadis kecil yang sedang memeluk boneka kelinci berwarna pink (kesayangan gue).

Yang gue rasakan saat melihat gadis kecil itu adalah.... sayang. Gue suka banget anak kecil cewe yang kalem, yang anteng dan suka main boneka. Selain itu hasrat PPA gue juga timbul saat melihat gadis kecil itu, hihihi... (well gue gak mau bahas yang ini). Nyokap gue terlihat sangat sayaaaang banget sama gadis kecil itu. Nyokap antusias banget membongkar lemari boneka gue (yang berubah menjadi lemari mainan Maikel), mencari-cari sisa kenangan masa kecil gue. Dan yang tersisa dari perlengkapan barbie gue cuma mesin cuci dan sofa butut *ironis*. Bahkan nyokap nyari iket rambut yang Yola pake waktu nari ballet untuk ngiketin rambut si gadis kecil itu. Awww... Jadi inget masa kecil waktu nyokap suka main-mainin rambut gue dengan berbagai pernak-pernik lucu. :3

So... seberantakan-berantakannya gue saat ini, waktu kecil gue termasuk golongan gadis kecil yang kalem dan cuma suka main boneka di rumah (gak mengada-ngada lho). Saat melihat gadis kecil itu, jiwa gue sebagai kakak cewe yang suka main boneka langsung timbul. Gue ngajak si dedek kecil itu bermain bersama. Kami bermain di alam imajinasi; menjadikan boneka-boneka yang mati hidup kembali, pokoknya si kecil terlihat menikmati permainan itu siang ini.

Saat bermain seperti tadi, gue jadi teringat masa kecil gue yang suka berantakin mainan di mana-mana, punya boneka sekeranjang besar, suka tidur siang di keranjang boneka, pokoknya unyu banget deh masa kecil gue. Tapi seiring berjalannya waktu, gue udah jarang main boneka, mainan-mainan gue (barbie, alat masak, alat medis dan lain-lain) disumbangin ke orang-orang, koleksi boneka gue juga semain berkurang, ada aja boneka gue yang diambil nyokap atau bokap dan dikasih ke anak temennya.

Waktu zaman SMP gue marah banget kalau boneka gue diambil diem-diem dan dikasih ke orang, pokoknya kalau ada yang mau ngasih boneka gw ke orang harus izin dulu sama gue. Tetapi lama kelamaan gue gak terlalu ambil pusing masalah boneka-boneka itu, walau pun masih aja ada rasa kesal saat boneka-boneka itu diambil. Sampe akhirnya siang tadi gue baru sadar ternyata udah banyak banget koleksi boneka gue yang ilang tanpa sepengetahuan gue, dari boneka buah-buahan, boneka orang indian, boneka bebek dan anjing besar, boneka gorila, hingga tersisa beberapa boneka aja. Masih banyak sih lebih dari 10 gue rasa. Sedih banget waktu ngeliat koleksi boneka gue yang makin menipis. Sampe detik ini gue hafal semua boneka gue. Tetapi waktu harus berjalan, boneka-boneka itu memang harus pindah. Pindah ke tangan orang yang lebih pintar memainkannya.

Gue jadi inget film Toy Story 3 yang bercerita tentang Andi yang sudah tumbuh jadi remaja dan harus merelakan semua mainannya ke tangan orang lain, bahkan mainan favoritnya, Wooody.

Begitu pula yang gue rasakan siang tadi, gue harus merelakan boneka Blossom kesayangan gue untuk dibawa si dedek. Awalnya gue bener-bener gak rido banget, boneka itu udah nemenin gue sejak kelas 1 SD sampai siang tadi, kondisinya juga masih sangat bagus. Waktu kecil, gue sering banget ngajak Blossom tidur, bahkan pergi kemana pun gue selalu bawa Blossom. Blossom kotor dikit pasti gue minta bersiin sampe akhirnya gue gak pernah main lagi sama Blossom.
Sedih juga rasanya harus relain Blossom pergi siang tadi, hiks... hiks...
Tapi gak apa-apa, si dedek kecil itu lebih butuh Blossom dari pada gue. :)
0 comments

Menjadi Bagian Sebuah Orkestra

Rabu, 18 Januari 2012

"Setiap nada adalah kenangan."
-Eric Awuy-

Sepenggal kalimat yang disampaikan Mr. Eric Awuy sebelum pertunjukan di mulai, kalimat ini terekam dengan sangat baik dalam ingatan gue.

Hari ini adalah pertama dan terakhir kalinya gue menikmati performance bersama Santa Ursula BSD tampil di Jakarta, di Graha Bakti TIM.

Apa yang gue rasakan?
Gue bener-bener bahagia dan puas banget dengan pertunjukan dan permainan Clarinet gue malam ini. :)
Well... gue mau sedikit bercerita...
Tahun 2009 lalu adalah pertama kalinya gue memutuskan untuk bergabung dengan Santa Ursula BSD Orchestra.

Awalnya gue daftar untuk main di alat musik Flute, mengapa Flute? Karena gue suka banget sama suara Flute yang sangat lembut dan keliatannya memainkannya cukup mudah. Saat itu gue bertemu beberapa teman yang mempengaruhi gue untuk bergabung di alat musik Cello. Kata mereka alat musik itu paling nyaman untuk dimainkan dari pada alat musik yang lain.

Alhasil pada saat audisi dalam kertas wawancara gue menulis ingin bergabung di Flute dan Cello. Ternyata Cello penuh sehingga pilihan gue tersisa pada Flute. Saat audisi Flute, ada gue dan seorang anak (sebut saja Ririn) di ruang audisi siang itu. Saat ditanya alat musik apa yang mau gue mainin, otomatis gue menjawab gue mau main Flute dengan alasan gue udah punya basic bermain alat musik tiup yaitu recorder. Well... Sebenernya kalau bisa gue pengen aja audisi piano tetapi waktu itu gak dibuka pendaftaran untuk piano. Ternyata saat audisi berlangsung ada info yang menyatakan kalau Flute juga sudah penuh akhirnya gue harus memilih alat musik lain, tetapi Ririn diterima audisi itu karena dia sudah punya alat musik Flute sendiri dan dia lolos audisi (belakangan gue tahu dia lolos audisi karena berhasil merangkai Flute). Akhirnya gue ditawarin untuk bergabung dengan alat musik lain, alat musik tiup juga, namanya Clarinet.

Pertama kali melihat Clarinet, gue bingung, gak ngerti itu apaan, bentuknya juga rumit banget kebanyakan tombol. Saat audisi gue disuruh niup Clarinet (yang sudah terangkai utuh). Gue kira niup Clarinet akan semudah niup terompet tahun baru, ternyata.... Susah banget! Mata gue mau copot karena gak kuat niup Clarinet. Gak ada secuil nada yang berbunyi, cuma bunyi angin pasrah yang kedengeran, bener-bener berat banget.

Alternatif lain, gue di suruh niup 2 bagian rangkaian Clarinet aja (yang kini gue ketahui namanya Mouthpiece dan Barrel), setelah dua kali mencoba... Akhirnya gue berhasil meniup (ujung) Clarinet, sumpah niup ujungnnya aja gue harus pake diafragma (udah kayak mau nyanyi aja). Karena keberhasilan gue, gue diterima masuk Clarinet.

Di kelas Clarinet gue satu-satunya anak baru, semua temen gue di kelas itu udah jago-jago, mereka udah megang Clarinet sejak 2-3 tahun yang lalu. Sebagai anak baru gue juga gak mau ketinggalan banyak. Gue mulai latihan, mulai niup nada-nada yang rendah, nyoba nada-nada panjang, menghafal kunci fingering (ini yang bikin keder). Sementara temen-temen gue latihan untuk persiapan performance, gue latihan segala macam dasar Clarinet. Gue diajarin banyak teknik; mulai dari cara niup yang bener; supaya support anginnya lebih banyak gue harus pake diafragma, jarak jari dengan lubang dan tombol Clarinet gak boleh jauh, megang Clarinet itu rilex aja biar gak cepet capek dan posisi bibir yang bener tuh gak boleh terlalu kenceng pokoknya rilex aja biar gak pegel.

Tahun pertama gue gabung, gue gak bisa ikut konser karena masih terlalu baru, so gue bertugas menjadi crew backstage bersama beberapa anak.

Demi bisa bermain di pertunjukan berikutnya, gue latihan mati-matian, gue sampai bawa pulang Clarinet terus demi mengasah kembali teknik yang sebelumnya. Dan puji Tuhan, tahun berikutnya gue bisa bergabung bermain orkestra dengan tema Phantom of The Opera, itu adalah konser pertama gue :)

Rasanya luar biasa deg-degan tapi juga luar biasa excited!! :D

Untuk penampilan pertama itu gue merasa puas banget, karena sebagai amatiran yang baru belajar Clarinet dalam waktu 1 tahun, itu juga gak rutin cuma 1 kali seminggu, latihan di rumah sendiri juga gak terlalu maksimal tetapi gue dapet kesempatan untuk ikut konser Phantom?? Wow! Itu kesempatan yang sangat langka. Akhirnya dengan mati-matian gue belajar Clarinet mengejar ketinggalan gue.
Segiat-giatnya gue berlatih tetep aja pengalaman temen-temen Clarinet yang udah belajar selama 3 tahun gak akan pernah bisa dikalahkan, tapi gue gak mau nyerah.
Gue latihan sampe bibir gue kering, tenggorokan seret dan jari-jari gue mulai pegel serta kapalan.

Ngeluh? Pasti, gue sering banget ngeluh karena jari gue sakit dan nafas gue masih belum kuat untuk niup Clarinet, fingering pun masih sering kagok dan gak hafal. Tapi seneng banget rasanya bisa dapet kesempatan belajar Clarinet, alat musik yang langka dan gak umum dikenal banyak orang.

Konser Phantom berakhir, tetapi Symphoni Orchestra Santa Ursula BSD belum berakhir. Tahun 2011 ada tantangan baru bagi pemain yang masih bergabung, dan tantangan kita adalah Les Miserables.

Gue suka musik apa pun, bahkan musik classic opera. Tapi gue gak pernah update pertunjukan-pertunjukan orchestra secara live. Jadi saat semua orang kanget mendengar tema-tema berat yang suster ajukan (seperti Phantom of The Opera dan Les Miserables) rasanya cuma gue seorang yang ngangguk-ngangguk santai, santai bukan karena biasa memainkan lagu-lagu semacam itu, tetapi santai karena gak ngerti.

Wawasan gue tentang musik classic terbatas banget, gue suka dengerin lagu-lagu classic karya Mozart, Beethoven, Vivaldi, Tschaikovsky, Chopin, tapi cuma sebatas mendengarkan mp3-nya aja, bahkan judul-judulnya pun gue gak hafal.
Apa lagi soal opera, beeh gue tambah gak ngerti.

Kepekaan telinga gue juga masih sangat payah, ketika temen-temen gue bisa bedain suara alat-alat musik dalam orchestra, gue gak bisa bedain apa-apa, yang terdengar di telinga gue cuma suara violin dan brass, bahkan woodwind pun gue masih gak bisa bedain! Hahaha... payah bangetlah pokoknya.

Tetapi berkat persiapan selama Phantom of The Opera dan Les Miserables, semua kekurangan gue mulai teratasi, karena mau gak mau gue harus beradaptasi dengan cepat. Gue mulai mencari-cari informasi tentang opera-opera itu, mulai mendownload lagu-lagunya, nonton Operanya (di youtube) dan menjadi peka saat latihan gabungan. Saat persiapan Les Miserables beberapa bulan lalu, kepekaan telinga gue semakin tajam. Gue bisa menikmati komposisi nada yang dimainkan setiap alat musik yang berbeda dan mendengarnya sebagai satu kesatuan. Kalau saat pertama kali gabung gue cuma fokus sama suara Clarinet gue, sekarang gue bisa mendengar suara Clarinet dan suara-suara yang lain juga, ternyata seperti itu rasanya. Bahkan nada-nada yang missed di violin pun bisa gue denger (biasanya semua terdengar sama dan benar).

Saat kemampuan itu terasah gue sempet mengalami semacam gangguan dalam diri gue, gue merasa terganggu mendengar suara-suara yang komposisinya gak pas dengan lagu secara keseluruhan, bahkan kepercayaan diri gue juga menurun karena gue belum bisa memproduksi suara Clarinet yang jernih, sangkin nervous-nya gue malah jadi sering salah main. Untuk melawan rasa nervous itu, gue mencoba menikmati setiap permainan nada yang gue mainin, mau itu salah atau enggak dinikmati aja.

Oh sedikit cerita, di orkestra itu gue nge-fans berat sama sesosok conductor yang baru bergabung di Santa Ursula Orchestra beberapa bulan lalu. Dia adalah Mr. Eric Awuy. Saat pertama kali bergabung dia menyampaikan semacam perkenalan diri dan pendahuluan. Dalam pendahuluannya ia menyampaikan beberapa hal yang kini menjadi prinsip gue, inti ucapannya seperti ini;

"Dalam musik itu gak ada yang salah, semuanya benar, karena gak ada nada yang salah. Bahkan saat kalian salah memainkan nada, itu bukan salah, hanya kurang tepat. Dan kalian bisa perbaiki itu."

"Dalam musik itu yang ada cuma baik dan sangat baik, gak ada permainan musik yang jelek."

Dari situ semangat gue semakin tersulut untuk bermain lebih baik. Dalam persiapan Les Miserables wawasan gue semakin terbuka, saat sesi belajar tutorial kelas woodwind bergabung menjadi satu, di sana gue belajar teknik baru untuk tuning alat bersama pak Juhad (conductor dan art director Orchestra). Awalnya gue cuma tahu tuning alat itu cuma supaya nadanya setiap instrumen orchestra pas, tapi telinga gue belum bisa bedain nada yang pas dan yang fales. Pada sesi tutorial itu telinga gue diasah semakin peka dengan nada bahkan ada cara membuat nada itu pas juga diajarin. Teknik fingering juga diajari sama tutor Clarinet gue, kak Mira namanya, pokoknya gue pengen nekunini Clarinet ini dengan baik.

Gue merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian sebuah orkestra, terutama di Santa Ursula BSD Orchestra, sense of music dan knowledge gue semakin terasah. Belum banyak ilmu Clarinet yang gue dapat, gue masih pengen lebih lagi. :)

Hingga malam sebelum konser, seperti yang Mr. Eric sampaikan untuk selalu menikmati musik yang dimainkan, gue bisa konser dengan sangat baik dan gue seneng banget. :D
Sebelum konser Mr. Eric juga menyampaikan,

"Setiap nada itu adalah kenangan. Semakin kalian memainkannya, semakin habis nada yang dimainkan. Jadi nikmati musiknya, jangan biarkan setiap nada bermain sendiri."

Gue agak kecewa sama diri gue malam itu, karena pesan terakhir Mr. Eric gak bisa gue penuhi, masih ada beberapa nada yang gue biarkan bermain sendiri, tetapi gue terlalu bahagia untuk kesel malam itu.

Pertunjukan orkestra tahun depan adalah Carmen. Wow... opera apa lagi kah itu? Gue sedang mencari tahu, sayangnya gue gak bisa bergabung ke opera itu tahun ini karena gue udah lulus dari SMA Santa Ursula BSD dan gue bukan anggota Symphoni Orchestra lagi. Tetapi gue merasa sangat terhormat kalau gue bisa mendapat kesempatan untuk bergabung dan bermain dalam Opera Carmen, sebagai Clarinetist. :)

"Musik itu adalah udara di sekeliling kalian, coba kalian rasakan udaranya. Alat musik itu adalah pengeras udara di sekeliling kalian."
-Eric Awuy-
 
;