Apakah aku mencintaimu?
Aku rasa
aku hanya mengagumimu saja
kau tidak rupawan
tetapi kau menawan
Rasanya
aku merasa nyaman denganmu
sebagai teman bermain saja
kau bukan penghiburku
namun kau adalah hiburanku
Kau sangat berbakat
terkadang
aku iri denganmu
tetapi kau ajariku banyak hal
kau guruku yang hebat
Kau jenaka
tetapi kau bisa bungkam seribu bahasa
sulit aku memahami dirimu saat kau sendirian
aku lebih suka dirimu yang jenaka
Mungkin...
salahku mengartikan rasa ini
atau
aku belum mengerti arti rasa ini?
Apa pun itu
aku tidak ingin memaksa diriku
untuk selalu mengingini dirimu
yang dekat
namun nun jauh di sana
Listen
Satu rasa
berbaris dalam untaian kata
yang tak mampu dilafalkan lidah
Ia hanya bergulat,
meringkuk dipojok ruang gelap
menunggu seberkas cahaya
menyinari tubuhnya
Ketika cahaya terpantul
pada kulitnya yang berkilau
ia berharap
seseorang akan melihatnya,
seseorang akan mengerti,
seseorang akan menjamahnya
Tetapi sampai kapan
ia harus menunggu
terkunci dalam lorong gelap
dingin dan tak bertuan?
Sampai kapan ia menunggu
seseorang datang
membuka lorong gelap
membopong dirinya keluar dari sana?
Ia hanya sebuah rasa
teruntai dalam tiga kata
terpahat dalam loh hatiku
ia ingin didengar
ia siap berteriak
namun hanya mampu berbisik
Aku sayang kamu...
berbaris dalam untaian kata
yang tak mampu dilafalkan lidah
Ia hanya bergulat,
meringkuk dipojok ruang gelap
menunggu seberkas cahaya
menyinari tubuhnya
Ketika cahaya terpantul
pada kulitnya yang berkilau
ia berharap
seseorang akan melihatnya,
seseorang akan mengerti,
seseorang akan menjamahnya
Tetapi sampai kapan
ia harus menunggu
terkunci dalam lorong gelap
dingin dan tak bertuan?
Sampai kapan ia menunggu
seseorang datang
membuka lorong gelap
membopong dirinya keluar dari sana?
Ia hanya sebuah rasa
teruntai dalam tiga kata
terpahat dalam loh hatiku
ia ingin didengar
ia siap berteriak
namun hanya mampu berbisik
Aku sayang kamu...
“Dengan kemampuan dan ilmu yang sudah kalian miliki, apakah siap kalian bersaing di dunia karir kedepan?”
Pendidikan merupakan sumbangsi terbesar dalam pembentukan karakter dan kematangan masyarakat, terutama dalam dunia karir. Masyarakat yang sadar pentingnya arti pendidikan, berlomba-lomba mengenyam pendidikan terbaik. Sekolah dan perguruan tinggi yang memiliki pendidikan terbaik di Indonesia masih sangat terbatas jumlahnya, sehingga hanya calon siswa-mahasiswa pilihanlah yang bisa mengenyam pendidikan terbaik tersebut.
Sekarang ini, para peserta didik sudah paham arti penting pendidikan bagi mereka. Melihat sekolah dan perguruan tinggi yang semakin selektif memilih calon peserta didik, para siswa dan mahasiswa tidak lagi mengandalkan The Power of Money, melainkan The Power of Brain. Mereka bersaing secara sehat; menambah ilmu, mengejar berbagai prestasi, mengumpulkan nilai-nilai baik, mengasah bakat dan kreativitas agar mereka terbentuk menjadi pribadi yang berkualitas, yang pantas mengenyam pendidikan terbaik. Bagi mereka,ini adalah jalan untuk meraih sebuah impian yaitu memperoleh pekerjaan yang dapat menjamin kehidupan mereka.
Dari sebuah poling, sebanyak 12 dari 12 siswa-mahasiswa yang mengakui bahwa mengenyam pendidikan di sekolah atau pun di perguruan tinggi merupakan hal yang bermanfaat. Karena di sekolah atau pun perguruan tinggi mereka tidak sekedar memperoleh wawasan akademis dan non akademis, tetapi mereka juga belajar hal baru seperti; bersosialisasi, menyiapkan mental untuk bersaing menjadi yang terbaik, belajar mandiri manage waktu, disiplin mengerjakan tugas dan bertanggung jawab. Mereka merasa hal-hal tersebut adalah bekal yang diperlukan untuk menyiapkan masa depan mereka.
Sepuluh peserta poling menyatakan setuju bahwa kuliah diperlukan untuk menambah ilmu dan mengasah kemampuan dan 4 di antara 12 berpendapat bahwa kuliah sangat diperlukan untuk memperoleh gelar setinggi-tingginya, karena masa kini gelar juga menjadi kebutuhan dan jaminan untuk bekerja. Ada pula 3 pendapat yang mengutarakan belajar tidak harus dari bangku kuliah saja dan bahwa ilmu saja tidak cukup, seseorang juga harus memiliki keberanian untuk mencoba kesempatan pengalaman bekerja dan mengambil resiko berbisnis, bahkan 1 dari 3 pendapat tersebut mengutarakan bahwa kuliah tidak sepenuhnya mutlak dan penting karena kenyataannya banyak orang yang mampu berkarir tanpa mengenyam bangku kuliah.
Di luar sana masih ada siswa-siswi, khususnya lulusan SMA yang belum siap bekerja sebelum menjejaki dunia perkuliahan, mereka khawatir tidak bisa mendapat pekerjaan yang dapat menjamin kehidupan mereka jika mereka tidak kuliah dan punya gelar sarjana. Tetapi ternyata dalam poling 10 dari 12 siswa-mahasiswa menyatakan bahwa diri mereka sudah siap bersaing di dunia karir dengan kemampuan yang mereka telah miliki.
Satu dari 12 poling menyatakan pekerjaan yang berhubungan dengan bahasa adalah pekerjaan yang sangat menjamin, karena bahasa tidak akan pernah mati dan dibutuhkan dalam segala pekerjaan, 2 dari 12 menyatakan bahwa pekerjaan yang berhubungan dengan jasa tidak akan pernah mati dan 2 dari 12 poling lain menyatakan pekerjaan yang berhubungan dengan inovasi juga merupakan pekerjaan yang menjamin. Selebihnya menyatakan bahwa segala pekerjaan bisa menjamin jika dikerjakan sesuai dengan keahlian dan dikerjakan dengan sepenuh hati dan maksimal.
Menurut saya, terjamin atau pun tidaknya suatu pekerjaan adalah hal relatif, tidak sekedar ditentukan dari jenis pekerjaan apa yang diambil atau pun berapa gaji yang akan ditetapkan bagi kita, tetapi lebih ditentukan oleh kesanggupan kita mengerjakan pekerjaan tersebut secara maksimal sehingga kita dapat memperoleh hasil yang setara dengan usaha kita. Bekerja hanya sarana, tidak ada pekerjaan yang menjamin 100% kehidupan kita, tetapi diri kita sendirilah yang menjamin kehidupan kita dengan bekerja. Sebenarnya ada banyak kesempatan kerja di luar sana, hanya saja terkadang orang-orang tidak bisa melihat kesempatan tersebut karena mereka dibutakan oleh ambisi mereka untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan keinginan mereka saja. Bekerja yang tidak sesuai dengan keinginan adalah ketakutan utama sekaligus batu sandungan bagi orang-orang yang baru terjun di dunia karir. Mendapat pekerjaan yang tidak sesuai kemampuan bukanlah alasan yang tepat untuk merasa terhambat; sama seperti di dunia pendidikan sebuah tugas, PR atau pun ulangan tidak akan diberikan ketika murid-murid belum siap menanggung kewajiban tersebut, jika kita sudah diterima pada suatu pekerjaan, dapat disimpulkan tidak ada pekerjaan yang tidak dapat kita kerjakan.
Jadi, tidak ada alasan untuk takut mencoba berkarir dini hari, walau pun tanpa gelar sekali pun. Lebih baik memiliki pengalaman bekerja dengan hal-hal kecil dari pada tidak memiliki pengalaman sama sekali. (DEER)
Pendidikan merupakan sumbangsi terbesar dalam pembentukan karakter dan kematangan masyarakat, terutama dalam dunia karir. Masyarakat yang sadar pentingnya arti pendidikan, berlomba-lomba mengenyam pendidikan terbaik. Sekolah dan perguruan tinggi yang memiliki pendidikan terbaik di Indonesia masih sangat terbatas jumlahnya, sehingga hanya calon siswa-mahasiswa pilihanlah yang bisa mengenyam pendidikan terbaik tersebut.
Sekarang ini, para peserta didik sudah paham arti penting pendidikan bagi mereka. Melihat sekolah dan perguruan tinggi yang semakin selektif memilih calon peserta didik, para siswa dan mahasiswa tidak lagi mengandalkan The Power of Money, melainkan The Power of Brain. Mereka bersaing secara sehat; menambah ilmu, mengejar berbagai prestasi, mengumpulkan nilai-nilai baik, mengasah bakat dan kreativitas agar mereka terbentuk menjadi pribadi yang berkualitas, yang pantas mengenyam pendidikan terbaik. Bagi mereka,ini adalah jalan untuk meraih sebuah impian yaitu memperoleh pekerjaan yang dapat menjamin kehidupan mereka.
Dari sebuah poling, sebanyak 12 dari 12 siswa-mahasiswa yang mengakui bahwa mengenyam pendidikan di sekolah atau pun di perguruan tinggi merupakan hal yang bermanfaat. Karena di sekolah atau pun perguruan tinggi mereka tidak sekedar memperoleh wawasan akademis dan non akademis, tetapi mereka juga belajar hal baru seperti; bersosialisasi, menyiapkan mental untuk bersaing menjadi yang terbaik, belajar mandiri manage waktu, disiplin mengerjakan tugas dan bertanggung jawab. Mereka merasa hal-hal tersebut adalah bekal yang diperlukan untuk menyiapkan masa depan mereka.
Sepuluh peserta poling menyatakan setuju bahwa kuliah diperlukan untuk menambah ilmu dan mengasah kemampuan dan 4 di antara 12 berpendapat bahwa kuliah sangat diperlukan untuk memperoleh gelar setinggi-tingginya, karena masa kini gelar juga menjadi kebutuhan dan jaminan untuk bekerja. Ada pula 3 pendapat yang mengutarakan belajar tidak harus dari bangku kuliah saja dan bahwa ilmu saja tidak cukup, seseorang juga harus memiliki keberanian untuk mencoba kesempatan pengalaman bekerja dan mengambil resiko berbisnis, bahkan 1 dari 3 pendapat tersebut mengutarakan bahwa kuliah tidak sepenuhnya mutlak dan penting karena kenyataannya banyak orang yang mampu berkarir tanpa mengenyam bangku kuliah.
Di luar sana masih ada siswa-siswi, khususnya lulusan SMA yang belum siap bekerja sebelum menjejaki dunia perkuliahan, mereka khawatir tidak bisa mendapat pekerjaan yang dapat menjamin kehidupan mereka jika mereka tidak kuliah dan punya gelar sarjana. Tetapi ternyata dalam poling 10 dari 12 siswa-mahasiswa menyatakan bahwa diri mereka sudah siap bersaing di dunia karir dengan kemampuan yang mereka telah miliki.
Satu dari 12 poling menyatakan pekerjaan yang berhubungan dengan bahasa adalah pekerjaan yang sangat menjamin, karena bahasa tidak akan pernah mati dan dibutuhkan dalam segala pekerjaan, 2 dari 12 menyatakan bahwa pekerjaan yang berhubungan dengan jasa tidak akan pernah mati dan 2 dari 12 poling lain menyatakan pekerjaan yang berhubungan dengan inovasi juga merupakan pekerjaan yang menjamin. Selebihnya menyatakan bahwa segala pekerjaan bisa menjamin jika dikerjakan sesuai dengan keahlian dan dikerjakan dengan sepenuh hati dan maksimal.
Menurut saya, terjamin atau pun tidaknya suatu pekerjaan adalah hal relatif, tidak sekedar ditentukan dari jenis pekerjaan apa yang diambil atau pun berapa gaji yang akan ditetapkan bagi kita, tetapi lebih ditentukan oleh kesanggupan kita mengerjakan pekerjaan tersebut secara maksimal sehingga kita dapat memperoleh hasil yang setara dengan usaha kita. Bekerja hanya sarana, tidak ada pekerjaan yang menjamin 100% kehidupan kita, tetapi diri kita sendirilah yang menjamin kehidupan kita dengan bekerja. Sebenarnya ada banyak kesempatan kerja di luar sana, hanya saja terkadang orang-orang tidak bisa melihat kesempatan tersebut karena mereka dibutakan oleh ambisi mereka untuk memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan keinginan mereka saja. Bekerja yang tidak sesuai dengan keinginan adalah ketakutan utama sekaligus batu sandungan bagi orang-orang yang baru terjun di dunia karir. Mendapat pekerjaan yang tidak sesuai kemampuan bukanlah alasan yang tepat untuk merasa terhambat; sama seperti di dunia pendidikan sebuah tugas, PR atau pun ulangan tidak akan diberikan ketika murid-murid belum siap menanggung kewajiban tersebut, jika kita sudah diterima pada suatu pekerjaan, dapat disimpulkan tidak ada pekerjaan yang tidak dapat kita kerjakan.
Jadi, tidak ada alasan untuk takut mencoba berkarir dini hari, walau pun tanpa gelar sekali pun. Lebih baik memiliki pengalaman bekerja dengan hal-hal kecil dari pada tidak memiliki pengalaman sama sekali. (DEER)
Langit senja berganti langit kelam. Aku lapar. Saat aku masih menjadi ulat, aku akan mencari beberapa helai daun muda untuk makan malamku. Di hadapanku berdiri kokoh sebuah pohon besar dengan daun-daun hijau muda yang segar, seharusnya dengan sayap ini aku bisa mencapai pucuk pohon dengan mudah, tetapi, entah mengapa sekarang aku tidak berselera mengunyah daun. Ada apa dengan lidahku? Aneh... Yang aku inginkan sekarang adalah sesuatu yang harum, manis dan..... lengket??? Entahlah benda apa itu?
Aku tetap terbang melintasi udara, dengan indra penciumanku, aku berusaha mencari sesuatu yang harum dan manis. Indra penciumanku menangkap aroma harum dan manis. Hmmmm.... Aku terbang merendah mendekati sumber aroma itu dan aku menemukan...
"Setangkai bunga?"
"Hai nona manis, ada yang bisa aku bantu?"
Bunga ini bisa berbicara? Sejak kapan aku mengerti bahasa bunga?
"Oh... Kamu pasti bingung, kenapa kamu bisa mengerti bahasa kami para bunga, iya kan?"
Aku hanya mengangguk.
"Tidak apa-apa, lama kelamaan kau juga akan mengerti."
Jawabnya sambil menebarkan senyumnya yang mempesona.
"Oh iya, kamu ada perlu apa di sini? Hmmm... Kamu lapar ya?"
Gosh... Bagaimana ia bisa tahu? Lagi-lagi aku hanya mengangguk.
"Sini, kemari dan lihat lah ke dalam."
Ia membuka lebar kelopaknya, aku melihat tangkai-tangkai yang dipenuhi sebuk-sebuk kuning dan pada dasar kelopak aku menemukan cairan yang aromanya harum dan manis, sangat menggoda seleraku.
"Kamu lihat cairan itu? Itu nektar, ambillah sebanyak yang kamu mau, kamu pasti sangat kelaparan."
"Ehm... Terima kasih bunga."
Ku tak dapat menahan hasratku untuk mencicipi nektar itu.
Ternyata.... Rasanya nikmat sekali, seperti.... madu? Aku tidak tahu, yang pasti nektar ini enak! Lengket, harum dan manis.
"Bagaimana menurutmu? Nektarku enakkan?"
"Hehe... Iya"
Jawabku sambil terus mengunyah nektar itu.
"Di antara sekian bunga, nektarku lah yang terenak, hahaha."
Aku hanya tersenyum, antara percaya dan tidak dengan ucapan bunga ini, tetapi memang nektar ini sangat spesial.
"Bagaimana? Kamu masih lapar? Ambillah yang banyak."
"Ehm... Tidak, terima kasih, aku sudah kenyang. Jika aku memakan semua nektarmu, nanti kau tidak kebagian."
"Tidak kebagian? Hahaha... Nona biru, walau pun aku yang menghasilkan nektar ini, tetapi nektar ini bukan untukku, tetapi untuk siapa pun yang membutuhkannya."
"Tetapi, kau pasti membutuhkan nektar ini juga kan? Kau juga perlu makan bunga."
"Nona, mungkin kamu belum paham, tetapi kita diciptakan untuk saling melengkapi, apa yang aku miliki itu untukmu."
Aku masih belum mengerti apa maksud bunga, tetapi aku salut dengan dirinya yang masih mau berbagi dalam kesederhanaannya.
"Maaf, nona biru, boleh ku tahu siapa namamu?"
"Oh, kenalkan, aku Butterfly. Siapa namamu?"
"Aku Dafodil, senang berkenalan denganmu nona."
"Terima kasih, maaf Dafodil, aku harus kembali ke rumah pohon, kami akan berpesta nektar."
"Wow... Berpesta? Sepertinya asik sekali rasanya... saat kau bisa bebas, terbang ke sana kemari tanpa halangan."
"Kau mau ikut? Aku bisa mengajakmu terbang bersamaku."
"Oh... Tidak terima kasih, aku masih mau menikmati kehidupanku."
"Bagaimana kamu bisa menikmati hidup tanpa berpindah sejengkal dari sini? Kamu butuh hiburan, Dafodil."
"Iya, tetapi bukan itu caranya. Kehadiran dirimu saja sudah menjadi hiburan untukku."
Senyuman menawan itu merekah lagi.
Aku masih tidak mengerti apa maksud bunga ini.
"Oh, baiklah, besok aku akan berkunjung lagi. Sampai jumpa Dafodil."
"Sampai jumpaaa... Jaga dirimu!!"
Suara itu terdengar seperti sayup-sayup, aku terus mengepakkan sayapku, terbang melintasi langit kelam.
Aku tetap terbang melintasi udara, dengan indra penciumanku, aku berusaha mencari sesuatu yang harum dan manis. Indra penciumanku menangkap aroma harum dan manis. Hmmmm.... Aku terbang merendah mendekati sumber aroma itu dan aku menemukan...
"Setangkai bunga?"
"Hai nona manis, ada yang bisa aku bantu?"
Bunga ini bisa berbicara? Sejak kapan aku mengerti bahasa bunga?
"Oh... Kamu pasti bingung, kenapa kamu bisa mengerti bahasa kami para bunga, iya kan?"
Aku hanya mengangguk.
"Tidak apa-apa, lama kelamaan kau juga akan mengerti."
Jawabnya sambil menebarkan senyumnya yang mempesona.
"Oh iya, kamu ada perlu apa di sini? Hmmm... Kamu lapar ya?"
Gosh... Bagaimana ia bisa tahu? Lagi-lagi aku hanya mengangguk.
"Sini, kemari dan lihat lah ke dalam."
Ia membuka lebar kelopaknya, aku melihat tangkai-tangkai yang dipenuhi sebuk-sebuk kuning dan pada dasar kelopak aku menemukan cairan yang aromanya harum dan manis, sangat menggoda seleraku.
"Kamu lihat cairan itu? Itu nektar, ambillah sebanyak yang kamu mau, kamu pasti sangat kelaparan."
"Ehm... Terima kasih bunga."
Ku tak dapat menahan hasratku untuk mencicipi nektar itu.
Ternyata.... Rasanya nikmat sekali, seperti.... madu? Aku tidak tahu, yang pasti nektar ini enak! Lengket, harum dan manis.
"Bagaimana menurutmu? Nektarku enakkan?"
"Hehe... Iya"
Jawabku sambil terus mengunyah nektar itu.
"Di antara sekian bunga, nektarku lah yang terenak, hahaha."
Aku hanya tersenyum, antara percaya dan tidak dengan ucapan bunga ini, tetapi memang nektar ini sangat spesial.
"Bagaimana? Kamu masih lapar? Ambillah yang banyak."
"Ehm... Tidak, terima kasih, aku sudah kenyang. Jika aku memakan semua nektarmu, nanti kau tidak kebagian."
"Tidak kebagian? Hahaha... Nona biru, walau pun aku yang menghasilkan nektar ini, tetapi nektar ini bukan untukku, tetapi untuk siapa pun yang membutuhkannya."
"Tetapi, kau pasti membutuhkan nektar ini juga kan? Kau juga perlu makan bunga."
"Nona, mungkin kamu belum paham, tetapi kita diciptakan untuk saling melengkapi, apa yang aku miliki itu untukmu."
Aku masih belum mengerti apa maksud bunga, tetapi aku salut dengan dirinya yang masih mau berbagi dalam kesederhanaannya.
"Maaf, nona biru, boleh ku tahu siapa namamu?"
"Oh, kenalkan, aku Butterfly. Siapa namamu?"
"Aku Dafodil, senang berkenalan denganmu nona."
"Terima kasih, maaf Dafodil, aku harus kembali ke rumah pohon, kami akan berpesta nektar."
"Wow... Berpesta? Sepertinya asik sekali rasanya... saat kau bisa bebas, terbang ke sana kemari tanpa halangan."
"Kau mau ikut? Aku bisa mengajakmu terbang bersamaku."
"Oh... Tidak terima kasih, aku masih mau menikmati kehidupanku."
"Bagaimana kamu bisa menikmati hidup tanpa berpindah sejengkal dari sini? Kamu butuh hiburan, Dafodil."
"Iya, tetapi bukan itu caranya. Kehadiran dirimu saja sudah menjadi hiburan untukku."
Senyuman menawan itu merekah lagi.
Aku masih tidak mengerti apa maksud bunga ini.
"Oh, baiklah, besok aku akan berkunjung lagi. Sampai jumpa Dafodil."
"Sampai jumpaaa... Jaga dirimu!!"
Suara itu terdengar seperti sayup-sayup, aku terus mengepakkan sayapku, terbang melintasi langit kelam.
In loneliness, I learnt how to having each other.
In my sadness, I learnt how to smiling without tears.
In silent, I learnt a lot how to loving without pain.
In my cocon, I learnt how to fly without wings.
Bergulat dalam balutan kepompong sutraku yang hangat. Sudah saatnya aku keluar, mengejar impianku; terbang. Walau pun aku belum mengerti apa itu terbang dan kata itu masih terdengar asing, entah mengapa saraf-sarafku menegang saat aku memikirkan kata itu. Jantungku berdetak keras, adrenalin mengalir deras dalam tubuhku, seolah-olah terbang adalah sesuatu yang sangat menantang, lebih menantang dari pada memanjat pucuk pohon demi mengunyah sehelai daun muda.
Aku semakin tidak sabar, ku gerakan tubuhku kesegala arah, berusaha menembus pertahanan kain putih ini. Aku yakin hidup di luar sana sebagai kupu-kupu pasti sangat indah. Aku jadi tidak sabar!! Dengan segenap kekuatanku, akhirnya aku berhasil menembus kepompong ini.
Setelah tak terhitung berhari-hari lamanya, akhirnya aku bisa menghirup udara segar lagi. Sekali tarikan napas udara dingin dan segar langsung memenuhi paru-paru kecilku, sekali hembusan aku merasakan tubuhku mulai memanas, energi mulai terbakar dalam diriku. Ku lihat diriku, sekarang aku bukan seekor ulat lagi, aku adalah seekor kupu-kupu. Walau pun aku belum bisa melihat seperti apa sayapku, tetapi aku sudah bisa merasakannya. Aku punya sepasang sayap yang lembut.
Dengan kakiku yang masih lunglai, aku bertengger di ranting pohon, aku menunggu diriku sepenuhnya sadar. Aku merasakan cairan dalam tubuhku mengalir memompa sayapku yang masih rapuh. Perlahan namun pasti, ku rasakan sayap-sayap ini kian mengembang. Sepasang sayap yang layu kini membentang dengan indah di punggungku.
Dari ranting ini aku menyaksikan pemandangan spektakuler langit senja yang manis, burung-burung camar berterbangan di angkasa bunga-bunga mulai menguncupkan keopaknya, hewan-hewan nokturnal berkeliaran dari sarangnya. Indah sekali. Aku melihat ke bawah, ternyata aku berada di pucuk tertinggi pohon, daratan jauh sekali dari jangkauan ku. Aku yakinkan diriku untuk siap meluncur ke depan. Ku bentangkan kedua sayapku. Jantungku berdebar keras, semakin tidak karuan; bimbang apakah aku bisa terbang dengan sayap ini atau aku akan jatuh menghantam humus? Adrenalin membasahi dinding nadi-nadiku. Ku pejamkan mata, ku coba melangkah beberapa langkah ke depan dan ku kepakan kedua sayapku.
"Wuuush....", angin berhembus mengangkatku semakin tinggi ke angkasa. Sayap-sayapku meronta, tidak bisa melawan arah angin ini.
"Wuuuuush....", angin semakin keras, aku mulai kehilangan keseimbangan, kakiku meronta-ronta di udara.
"Tolong! Tolong!!", tetapi tidak ada satu makhluk pun yang mendengar diriku.
"Wuuuuush.....", angin membalik tubuhku.
"Aku akan jatuh... aku akan jatuuh!!"
Tubuhku tertarik gravitasi, menukik ke bawah siap menghantam bumi. Bau humus semakin pekat, ku kumpulkan segenap kekuatanku ku kepakan kedua sayapku yang rapuh dan.....
Aku berhasil melayang di udara, perlahan aku terbang ke depan mengikuti arah angin berhembus, ku kepakan kembali sayapku dan diriku semakin melambung tinggi, tinggi dan tinggi.
"Wohooooo! Ini asik sekali!!"
Aku tak pernah melihat pemandangan seindah ini, rumput-rumput hijau menari, bunga-bunga memandangku takjub, aku melihat segerombol kupu-kupu kuning terbang dari arah berlawanan, senyuman merekah di wajah mereka,
"Selamat bergabung sobat!"
"Nikmati hari barumu"
"Sampai berjumpa malam nanti di pesta nektar di bawah pohon mapel"
"Terima kasih!!", seruku pada mereka. Ku kepakan kembali sayapku.
Aku terbang menuju sebuah danau, aku melihat sekumpulan angsa putih sedang berpesta ikan. Kasihan, ikan-ikan yang malang, aku terbang melintasi permukaan danau yang jernih. Kini aku melihat sosok bayangan indah yang terbang dengan gemulai,
"Hah?? Apakah itu diriku?", aku bertanya-tanya sambil terus terbang mengamati bayangan itu.
"Iya. Itu kamu cantik." Ucap seekor angsa padaku.
Aku masih tidak percaya, ternyata.... Aku seekor kupu-kupu bersayap biru yang cantik. Aku melihat gradasi warna hitam dan biru yang memukau, di tambah totolan warnah putih dan sedikit corak coklat pada tepi sayapku.
Ini... Luar biasa. Aku suka sayap-sayapku, bahkan aku mulai jatuh cinta dengan bayanganku. Aku segera terbang menjauhi danau, takut bila aku kehilangan akal sehatku.
In my sadness, I learnt how to smiling without tears.
In silent, I learnt a lot how to loving without pain.
In my cocon, I learnt how to fly without wings.
Bergulat dalam balutan kepompong sutraku yang hangat. Sudah saatnya aku keluar, mengejar impianku; terbang. Walau pun aku belum mengerti apa itu terbang dan kata itu masih terdengar asing, entah mengapa saraf-sarafku menegang saat aku memikirkan kata itu. Jantungku berdetak keras, adrenalin mengalir deras dalam tubuhku, seolah-olah terbang adalah sesuatu yang sangat menantang, lebih menantang dari pada memanjat pucuk pohon demi mengunyah sehelai daun muda.
Aku semakin tidak sabar, ku gerakan tubuhku kesegala arah, berusaha menembus pertahanan kain putih ini. Aku yakin hidup di luar sana sebagai kupu-kupu pasti sangat indah. Aku jadi tidak sabar!! Dengan segenap kekuatanku, akhirnya aku berhasil menembus kepompong ini.
Setelah tak terhitung berhari-hari lamanya, akhirnya aku bisa menghirup udara segar lagi. Sekali tarikan napas udara dingin dan segar langsung memenuhi paru-paru kecilku, sekali hembusan aku merasakan tubuhku mulai memanas, energi mulai terbakar dalam diriku. Ku lihat diriku, sekarang aku bukan seekor ulat lagi, aku adalah seekor kupu-kupu. Walau pun aku belum bisa melihat seperti apa sayapku, tetapi aku sudah bisa merasakannya. Aku punya sepasang sayap yang lembut.
Dengan kakiku yang masih lunglai, aku bertengger di ranting pohon, aku menunggu diriku sepenuhnya sadar. Aku merasakan cairan dalam tubuhku mengalir memompa sayapku yang masih rapuh. Perlahan namun pasti, ku rasakan sayap-sayap ini kian mengembang. Sepasang sayap yang layu kini membentang dengan indah di punggungku.
Dari ranting ini aku menyaksikan pemandangan spektakuler langit senja yang manis, burung-burung camar berterbangan di angkasa bunga-bunga mulai menguncupkan keopaknya, hewan-hewan nokturnal berkeliaran dari sarangnya. Indah sekali. Aku melihat ke bawah, ternyata aku berada di pucuk tertinggi pohon, daratan jauh sekali dari jangkauan ku. Aku yakinkan diriku untuk siap meluncur ke depan. Ku bentangkan kedua sayapku. Jantungku berdebar keras, semakin tidak karuan; bimbang apakah aku bisa terbang dengan sayap ini atau aku akan jatuh menghantam humus? Adrenalin membasahi dinding nadi-nadiku. Ku pejamkan mata, ku coba melangkah beberapa langkah ke depan dan ku kepakan kedua sayapku.
"Wuuush....", angin berhembus mengangkatku semakin tinggi ke angkasa. Sayap-sayapku meronta, tidak bisa melawan arah angin ini.
"Wuuuuush....", angin semakin keras, aku mulai kehilangan keseimbangan, kakiku meronta-ronta di udara.
"Tolong! Tolong!!", tetapi tidak ada satu makhluk pun yang mendengar diriku.
"Wuuuuush.....", angin membalik tubuhku.
"Aku akan jatuh... aku akan jatuuh!!"
Tubuhku tertarik gravitasi, menukik ke bawah siap menghantam bumi. Bau humus semakin pekat, ku kumpulkan segenap kekuatanku ku kepakan kedua sayapku yang rapuh dan.....
Aku berhasil melayang di udara, perlahan aku terbang ke depan mengikuti arah angin berhembus, ku kepakan kembali sayapku dan diriku semakin melambung tinggi, tinggi dan tinggi.
"Wohooooo! Ini asik sekali!!"
Aku tak pernah melihat pemandangan seindah ini, rumput-rumput hijau menari, bunga-bunga memandangku takjub, aku melihat segerombol kupu-kupu kuning terbang dari arah berlawanan, senyuman merekah di wajah mereka,
"Selamat bergabung sobat!"
"Nikmati hari barumu"
"Sampai berjumpa malam nanti di pesta nektar di bawah pohon mapel"
"Terima kasih!!", seruku pada mereka. Ku kepakan kembali sayapku.
Aku terbang menuju sebuah danau, aku melihat sekumpulan angsa putih sedang berpesta ikan. Kasihan, ikan-ikan yang malang, aku terbang melintasi permukaan danau yang jernih. Kini aku melihat sosok bayangan indah yang terbang dengan gemulai,
"Hah?? Apakah itu diriku?", aku bertanya-tanya sambil terus terbang mengamati bayangan itu.
"Iya. Itu kamu cantik." Ucap seekor angsa padaku.
Aku masih tidak percaya, ternyata.... Aku seekor kupu-kupu bersayap biru yang cantik. Aku melihat gradasi warna hitam dan biru yang memukau, di tambah totolan warnah putih dan sedikit corak coklat pada tepi sayapku.
Ini... Luar biasa. Aku suka sayap-sayapku, bahkan aku mulai jatuh cinta dengan bayanganku. Aku segera terbang menjauhi danau, takut bila aku kehilangan akal sehatku.
Aku tidak percaya... Itu... Tidak logis!
“Ssst... Udah jangan diomongin lagi! Nanti ketahuan lho!”, bisik Lila pada Sela dan Toni sambil buru-buru beranjak dari meja Grace.
“Eh dia dateng, dia dateng”, teriak Darla dari depan pintu kelas.
Mereka berempat berkumpul di meja pojok belakang kelas, berbisik-bisik sambil mengamati sosok nona cantik, ya itu Grace yang mulai memasuki kelas. Saat Grace menoleh pada mereka, mereka berpura-pura memalingkan pandangan mereka dari Grace. Grace merasa ada sesuatu yang sangat aneh pagi ini, walaupun hampir setiap hari ia mengalami kejadian yang aneh, tetapi... Ya sudahlah pikir Grace, tidak ada gunanya juga memikirkan hal-hal aneh.
Kriiiing.... Bel sekolah berdering.
Semua murid XI-IPB mulai memasuki ruang kelas. Ruang kelas menjadi semakin ramai dengan obrolan, gelak tawa dan teriakan 20 murid kelas bahasa yang terkenal bawel dan usil. Dalam sekejab suara gaduh itu menjadi hening. Ibu Saly, guru muda sastra Indonesia yang terkenal killer mulai memasuki ruangan.
“Selamat pagi anak-anak”
“Selamat pagi bu!”
“Anak-anak, pagi ini kita kedatangan teman baru.”
“YES! Asik! Gak ada ujian puisi!!”, teriak Toni penuh kegirangan disambut tepuk tangan riuh teman-teman IPB.
“DIAM! Ujian memang ditiadakan pagi ini, tetapi akan diganti besok pagi.”
“Yah.....”, keluh 20 murid secara bersamaan.
Tok.. tok.. tok.. Seseorang mengetok pintu.
“Itu pasti dia, anak-anak tunggu sebentar”, ibu Saly mulai membuka pintu dan tersenyum pada seseorang.
“Anak-anak, perkenalkan ini teman baru kita Fransisco”.
Sesosok pemuda dengan wajah yang sangat rupawan, berkulit coklat, berpostur tubuh tinggi, tegap dan.... wow! Memukau! Terdengar bisik-bisik diantara 14 gadis-gadis yang sepertinya terkagum-kagum, sedangkan keenam pemuda hanya berdeham dan menggelengkan kepala; sepertinya akan ada yang menyaingi mereka sebentar lagi.
“Ayo Fransisco, perkenalkan dirimu”, pinta ibu Saly sambil tersenyum-senyum, hmmm... sepertinya ibu Saly juga ikut terpukau ketampanan Fransisco.
“Ehm..”, dehaman suaranya berat tetapi lembut, membuat hati gadis-gadis yang mendengarnya melonjak.
“Nama saya Fransisco Danielle, tetapi saya lebih suka dipanggil Danielle atau Danil. Saya pindah dari SMA Santo Yakobus kelas XI-IPB juga”. Danielle menutup presentasinya dengan senyum memukau.
“Anak-anak ada yang mau bertanya?” tampak tangan-tangan terangkat ke atas, siap melontarkan pertanyaan.
“Oke karena Lila yang mengangkat tangan terlebih dahulu, silahkan ajukan pertanyaanmu.”
“Ehm... Danil, udah punya pacar belum?”
“Wooo nyari kesempatan wooo!”, pertanyaan Lila disambut dengan sorakan teman-teman sekelas.
“Pertanyaan kamu tidak penting Lila, tapi... kamu emang masih single gak Dan?”, tanya ibu Saly dengan senyum genit. Tetapi kali ini tidak ada yang berani menyoraki pertanyaan ibu Saly, yang terdengar hanya bisik-bisik dan tawa kecil.
“Belum”, jawab Danielle singkat, mulai terdengar bisik-bisik “yes!”, “asik!”.
“Pertanyaan selanjutnya kamu yang pilih.”
Danielle terdiam sejenak memandangi tangan-tangan yang terangkat, tetapi pandangannya tertuju pada satu orang yang dudu ditengah kelas yang hanya melipat manis tangannya.
“Ehm, lo gak mau nanya apa-apa?” tanya Danielle pada Grace. Mata Grace terbelalak kaget sementara dari setiap sudut ruangan terdengar suara anak-anak terkesiap kaget dan beberapa desisan sinis.
“Eng... Enggak kok”, jawab Grace, wajahnya memerah karena ia merasakan setiap mata tertuju padanya.
“Kalau gitu, gue yang tanya ya. Siapa nama lo?” tanya Danielle sambil datang menghampiri Grace dan menyodorkan tangannya.
“Oh... ehm... nama gue Gracia Danielle, biasa dipanggil Grace. Salam kenal.”
“Salam kenal juga Grace. Ternyata nama belakang kita sama ya?”, senyuman lebar merekah di bibir Danielle, membuatnya terlihat semakin manis.
“ Ehm, kalau boleh tau hobi lo apa ya?” tanya Grace.
“Lho? Katanya tadi gak mau nanya, kok sekarang nanya?”, pipi Grace memerah kembali saat Danielle bertanya balik.
“Hahaha, sorry sorry Grace, gue bercanda, hobi gue main musik, kalau lo?”
“Ehm. Danielle, ini adalah sesi tanya jawab kelas bukan pribadi”, ibu Saly menyangga pertanyaan Danielle.
“Oh iya. Maaf bu, saya kebablasan”, jawab Danielle.
“Tidak apa-apa. Ayo maju ke depan kelas lagi.”
“Ehm... Grace kita lanjutin pas istirahat nanti ya”, bisik Danielle pada Grace. Gadis-gadis di kelas itu semakin memandang iri ke arah Grace.
“Oke anak-anak, ada yang mau bertanya lagi?”. Tetapi kali ini tidak ada satu tangan pun yang terangkat.
“Sepertinya sudah tidak ada yang mau bertanya lagi. Ya sudah, kalian bisa lanjutkan pertanyaan kalian sambil jalan. Danielle, silahkan pilih tempat dudukmu”, ibu Saly mempersilahkan Danielle duduk. Daniell memilih duduk di meja kosong urutan ke dua dari depan, tepat di depan Grace.
“Oke anak-anak 3 jam ke depan kita akan memperdalam materi puisi baru Indonesia. Oh sebelumnya, Danil, materi kamu sudah sampai mana?”
“Sama ibu, terakhir kelas saya membahas soal puisi mbeling karya Remy Sylado.”
“Bagus sekali! Karena hari ini kita akan membahas bentuk puisi mbeling juga. Oke, anak-anak kumpulkan PR contoh puisi mbeling yang saya minta kemarin.”
Semua anak mulai maju ke depan mengumpulkan puisi. Tiba-tiba
“AAAAAAAA!”, Grace berteriak keras.
“Ada apa Grace??”, tanya bu Saly kaget.
Wajah Grace sangat ketakutan, ia hanya terisak-isak, matanya berlinang air mata. Danielle mendatangi Grace dan mengambil tas yang Grace pangku. Danielle menemukan ada 2 ekor tikus buduk besar di dalam tas Grace.
“EH! Siapa yang masukin tikus ke tas Grace?!”, tanya Danielle dengan nada kesal.
“Ada apa Danielle?”, tanya bu Saly.
“Ada orang yang masukin tikus ke dalam tas Grace bu”
“Selalu saja kalian mem-bully Grace! Ada apa ini? Sekarang yang merasa memasukan tikus ke dalam tas Grace maju ke depan kelas!”
Ketegangan meliputi kelas selama beberapa menit, murid-murid duduk terdiam dan kaku.
“CEPAT! Atau kalian semua, kecuali Grace dan Danielle akan saya skors!”
Bisik-bisik kembali memenuhi kelas. Lila, Sela dan Toni tampak gelisah, perlahan tapi pasti mereka berdiri dari tempat duduk mereka.
“Kami yang bersalah bu”, ucap Lila mewakili teman-temannya.
***
Kriiing.....
Tiga jam berlajar sastra Indonesia pun berlalu, bel istirahat berbunyi, semua murid XI IPB berjalan keluar kelas, kecuali Lila, Sela dan Toni. Dari jendela luar kelas tampak mereka sedang duduk di pojok kelas menyalin catatan dari beberapa buku paket ke dalam sebuah buku catatan, sepertinya bu Saly menghukum mereka untuk membuat rangkuman materi dari awal hingga akhir semester, ckckck.
Sementara, di taman sekolah duduk Grace yang sedang membaca novel sambil mengunyah beberapa potong kentang goreng. Danielle yang melihat Grace sedang menyendiri langsung menghampirinya lalu duduk di sebelah kanan Grace.
“Ehm. Hai. Sendirian aja?”
Grace hanya terpaku menatap Danielle yang duduk begitu dekat dengannya.
“Kok bengong sih? Kenapa? Takut sama gue? Hahaha”
“Hahaha, enggak lah, ia gue sendirian aja.”
Danielle tersenyum melihat Grace tertawa lepas, sepertinya ada hal berbeda yang mengagumkan dari gadis ini?
“Emm, Grace, kenapa sih lo keliatan kaku banget di dalam kelas?”
“Hah? Kaku? Maksud lo?”
“Ya begitu, yang gue amati seharian ini, lo selalu diem, saat temen-temen lagi asik ngobrol lo cuma baca-baca buku atau nyalin catetan atau pas yang lain udah mulai ngantuk lo masih aja fokus dengerin bu Saly berkotbah, heran gue sama lo”
“Ehm... Danil, jadi dari tadi lo meratiin gue doang nih di kelas?”, tanya Grace polos.
Suasana canggung terbentang di antara mereka, Danielle mulai salah tingkah dan Grace tiba-tiba mengunyah kentang gorengnya lebih cepat, “bodoh!” ucap Grace dalam hati pada dirinya.
“Ehm maksud gue...”, Danielle dan Grace mengucapkan frasa yang sama bersamaan. Danielle tersenyum menatap Grace, sementara Grace merasakan wajahnya memerah mulai tersenyum juga.
“Hahahahaha...”, tawa terlepas dari senyum mereka berdua.
“Ah, apaan sih lo Dan?!”
“Lho? Apanya yang apaan??”
“Ngapain sih senyum-senyum kayak tadi?”
“Lo malu ya gue liatin? Atau lo suka gue senyumin? Atau mungkin lo malu-malu tapi suka sama gue? Hahahahaha”, ucap Danielle sambil tersenyum lebar menatap Grace.
“Idih! Pede banget sih? Baru aja kenal masa udah suka? Gak mungkinlah Nil”.
“Ehm, lo pernah denger yang namanya cinta pandangan pertama gak?”
“Sering banget, apalagi di novel-novel atau cerpen remaja, tapi gue gak percaya tuh”.
“Yap, lo gak percaya karena belum pernah merasakan, iya kan?”
“Errr... Iya sih, tapi gak logis aja, masa baru kenal udah jatuh cinta?”
“Hahaha... Grace... Grace... Makanya jangan sering melogika segala hal, ada beberapa hal yang cuma butuh perasaan kok Grace, contohnya..... cinta”.
“Ehm, cinta itu kan cuma hormon, gak lebih dari itu, buat apa terus-terusan dirasain kalau ujung-ujungnya selalu nyakitin”.
“Itu kan kata teori, kata novel-novel dan cerpen remaja yang lo baca Grace”.
Grace hanya terdiam, berpikir, berusaha mendebat pernyataan Danielle, tetapi sial, pernyataan Danielle mutlak benar.
“Atau lo pernah patah hati ya Grace?”
Mata Grace terbelalak lebar, ia menatap heran pada Danielle.
“Eng... Iya...”
“Oh, pantesan. Tapi baguslah”. Ucap Danielle enteng.
“Apa? Bagus? Gara-gara kejadian itu gue gak bisa fokus belajar selama sebulan, nilai gue jatuh, prestasi gue berantakan, itu gara-gara dia!”
“Tenang Grace, tenang. Kalo boleh tahu gimana ceritanya?”
“Kejadiaanya udah 3 bulan yang lalu, dia ninggalin gue pergi gitu aja, dia lanjutin sekolah ke luar negeri, tapi dia gak bilang apa-apa sama gue, dia cuma ninggalin surat mohon maaf doang. Gak ada perpisahan, gak ada pertemuan terakhir. Bahkan dia udah punya cewe di sana”, tutur Grace penuh rasa kesal.
“Lo masih sayang sama dia?”
“Enggak. Udah gak ada rasa apa-apa lagi.”
“Lo masih benci sama dia?”
Grace terdiam sesaat.
“Enggak. Lagi pula gak ada untungnya dendam sama dia.”
“Ehm.. Grace, gue rasa lo harus maafin dia.”
“Maksud lo?”
“Mungkin lo udah gak mau ambil pusing soal masalah lo sama dia. Tapi dari lubuk hati lo yang paling dalam belum ada pengampunan buat dia. Coba liat diri lo tadi di kelas, lo bener-bener orang yang membosankan, pendiem, kaku, geek lah padahal penampilan luar lo jauh dari kata membosankan. Lo masih terbawa suasana hati lo yang jengkel dan benci sama cowo lo sampai-sampai lo gak bisa tampil jadi diri lo sendiri kayak sekarang; yang cerewet, bawel, lucu, riang. Ehm... gimana Grace?”
“Tapi kan....”
“Demi kebaikan lo Grace”
Grace hanya terdiam. Ia menundukan wajah memandangi sampul novel yang ia baca. Beberapa saat keheningan mengisi waktu. Danielle terus menunggu reaksi Grace.
Kemudian Grace mengangkat wajahnya, menatap Danielle dan tersenyum.
“Yah, memang seharusnya gue maafin dia”.
“Lantas? Tindakan nyata lo?”
“Hari ini gue mau hubungin dia. Gue berharap aja, semoga nomor yang dia kasih masih sama, atau mungkin lewat chat juga bisa”
“Bagus Grace!”, Danielle tersenyum kembali menatap Grace.
“Ehm by the way Grace, waktu itu gimana sih proses lo bisa jadian sama dia?”
“Oh iya gue belum cerita, nama dia Mike. Prosesnya? Bisa dibilang kami jatuh cinta pada pandangan pertama”, mata Grace menerawang jauh.
“Terus?”
“Yah gitu, setelah PDKT beberapa minggu kita jadian. Ehm baru jadian 2 bulan udah ditinggal pergi gue. Hmm”
“Gak apa-apa Grace, jangan patah harapan, asal lo juga ubah pembawaan diri lo, jangan tampil kayak geek. Gak heran temen-temen jadi suka isengin lo.”
“Iya sih, gue udah capek juga diisengin terus”.
“Tenang, jangan takut ada yang isengin lo. Ada gue di sini”, ucap Danielle sambil menepuk dada.
“Iya yah ada body guard gratisan, hahaha. Bercanda Dan. Eh, thanks banget loh udah mau jadi temen sharing dan ngasih gue pemecahan masalah. Lega rasanya setelah 3 bulan mendem sendiri hari ini ada lo yang mau jadi temen sharing gue”, Grace tersenyum lebar menatap Danielle.
Danielle merangkul pundak Grace sambil berkata, “itulah gunanya teman, Grace”.
“Iya Dan, teman”, Grace merangkul pundak Danielle juga.
“Ehm... Grace..”
“Ya Dan?”
“Apa lo udah percaya dengan cinta pandangan pertama?” Danielle menatap dalam ke mata Grace sambil tersenyum.
Grace membalas tatapan Danielle dan tersenyum.
“Seperti yang dikatakan novel-novel dan cerpen remaja”. Jawab Grace sambil tersenyum lebar pada Danielle.
“Ssst... Udah jangan diomongin lagi! Nanti ketahuan lho!”, bisik Lila pada Sela dan Toni sambil buru-buru beranjak dari meja Grace.
“Eh dia dateng, dia dateng”, teriak Darla dari depan pintu kelas.
Mereka berempat berkumpul di meja pojok belakang kelas, berbisik-bisik sambil mengamati sosok nona cantik, ya itu Grace yang mulai memasuki kelas. Saat Grace menoleh pada mereka, mereka berpura-pura memalingkan pandangan mereka dari Grace. Grace merasa ada sesuatu yang sangat aneh pagi ini, walaupun hampir setiap hari ia mengalami kejadian yang aneh, tetapi... Ya sudahlah pikir Grace, tidak ada gunanya juga memikirkan hal-hal aneh.
Kriiiing.... Bel sekolah berdering.
Semua murid XI-IPB mulai memasuki ruang kelas. Ruang kelas menjadi semakin ramai dengan obrolan, gelak tawa dan teriakan 20 murid kelas bahasa yang terkenal bawel dan usil. Dalam sekejab suara gaduh itu menjadi hening. Ibu Saly, guru muda sastra Indonesia yang terkenal killer mulai memasuki ruangan.
“Selamat pagi anak-anak”
“Selamat pagi bu!”
“Anak-anak, pagi ini kita kedatangan teman baru.”
“YES! Asik! Gak ada ujian puisi!!”, teriak Toni penuh kegirangan disambut tepuk tangan riuh teman-teman IPB.
“DIAM! Ujian memang ditiadakan pagi ini, tetapi akan diganti besok pagi.”
“Yah.....”, keluh 20 murid secara bersamaan.
Tok.. tok.. tok.. Seseorang mengetok pintu.
“Itu pasti dia, anak-anak tunggu sebentar”, ibu Saly mulai membuka pintu dan tersenyum pada seseorang.
“Anak-anak, perkenalkan ini teman baru kita Fransisco”.
Sesosok pemuda dengan wajah yang sangat rupawan, berkulit coklat, berpostur tubuh tinggi, tegap dan.... wow! Memukau! Terdengar bisik-bisik diantara 14 gadis-gadis yang sepertinya terkagum-kagum, sedangkan keenam pemuda hanya berdeham dan menggelengkan kepala; sepertinya akan ada yang menyaingi mereka sebentar lagi.
“Ayo Fransisco, perkenalkan dirimu”, pinta ibu Saly sambil tersenyum-senyum, hmmm... sepertinya ibu Saly juga ikut terpukau ketampanan Fransisco.
“Ehm..”, dehaman suaranya berat tetapi lembut, membuat hati gadis-gadis yang mendengarnya melonjak.
“Nama saya Fransisco Danielle, tetapi saya lebih suka dipanggil Danielle atau Danil. Saya pindah dari SMA Santo Yakobus kelas XI-IPB juga”. Danielle menutup presentasinya dengan senyum memukau.
“Anak-anak ada yang mau bertanya?” tampak tangan-tangan terangkat ke atas, siap melontarkan pertanyaan.
“Oke karena Lila yang mengangkat tangan terlebih dahulu, silahkan ajukan pertanyaanmu.”
“Ehm... Danil, udah punya pacar belum?”
“Wooo nyari kesempatan wooo!”, pertanyaan Lila disambut dengan sorakan teman-teman sekelas.
“Pertanyaan kamu tidak penting Lila, tapi... kamu emang masih single gak Dan?”, tanya ibu Saly dengan senyum genit. Tetapi kali ini tidak ada yang berani menyoraki pertanyaan ibu Saly, yang terdengar hanya bisik-bisik dan tawa kecil.
“Belum”, jawab Danielle singkat, mulai terdengar bisik-bisik “yes!”, “asik!”.
“Pertanyaan selanjutnya kamu yang pilih.”
Danielle terdiam sejenak memandangi tangan-tangan yang terangkat, tetapi pandangannya tertuju pada satu orang yang dudu ditengah kelas yang hanya melipat manis tangannya.
“Ehm, lo gak mau nanya apa-apa?” tanya Danielle pada Grace. Mata Grace terbelalak kaget sementara dari setiap sudut ruangan terdengar suara anak-anak terkesiap kaget dan beberapa desisan sinis.
“Eng... Enggak kok”, jawab Grace, wajahnya memerah karena ia merasakan setiap mata tertuju padanya.
“Kalau gitu, gue yang tanya ya. Siapa nama lo?” tanya Danielle sambil datang menghampiri Grace dan menyodorkan tangannya.
“Oh... ehm... nama gue Gracia Danielle, biasa dipanggil Grace. Salam kenal.”
“Salam kenal juga Grace. Ternyata nama belakang kita sama ya?”, senyuman lebar merekah di bibir Danielle, membuatnya terlihat semakin manis.
“ Ehm, kalau boleh tau hobi lo apa ya?” tanya Grace.
“Lho? Katanya tadi gak mau nanya, kok sekarang nanya?”, pipi Grace memerah kembali saat Danielle bertanya balik.
“Hahaha, sorry sorry Grace, gue bercanda, hobi gue main musik, kalau lo?”
“Ehm. Danielle, ini adalah sesi tanya jawab kelas bukan pribadi”, ibu Saly menyangga pertanyaan Danielle.
“Oh iya. Maaf bu, saya kebablasan”, jawab Danielle.
“Tidak apa-apa. Ayo maju ke depan kelas lagi.”
“Ehm... Grace kita lanjutin pas istirahat nanti ya”, bisik Danielle pada Grace. Gadis-gadis di kelas itu semakin memandang iri ke arah Grace.
“Oke anak-anak, ada yang mau bertanya lagi?”. Tetapi kali ini tidak ada satu tangan pun yang terangkat.
“Sepertinya sudah tidak ada yang mau bertanya lagi. Ya sudah, kalian bisa lanjutkan pertanyaan kalian sambil jalan. Danielle, silahkan pilih tempat dudukmu”, ibu Saly mempersilahkan Danielle duduk. Daniell memilih duduk di meja kosong urutan ke dua dari depan, tepat di depan Grace.
“Oke anak-anak 3 jam ke depan kita akan memperdalam materi puisi baru Indonesia. Oh sebelumnya, Danil, materi kamu sudah sampai mana?”
“Sama ibu, terakhir kelas saya membahas soal puisi mbeling karya Remy Sylado.”
“Bagus sekali! Karena hari ini kita akan membahas bentuk puisi mbeling juga. Oke, anak-anak kumpulkan PR contoh puisi mbeling yang saya minta kemarin.”
Semua anak mulai maju ke depan mengumpulkan puisi. Tiba-tiba
“AAAAAAAA!”, Grace berteriak keras.
“Ada apa Grace??”, tanya bu Saly kaget.
Wajah Grace sangat ketakutan, ia hanya terisak-isak, matanya berlinang air mata. Danielle mendatangi Grace dan mengambil tas yang Grace pangku. Danielle menemukan ada 2 ekor tikus buduk besar di dalam tas Grace.
“EH! Siapa yang masukin tikus ke tas Grace?!”, tanya Danielle dengan nada kesal.
“Ada apa Danielle?”, tanya bu Saly.
“Ada orang yang masukin tikus ke dalam tas Grace bu”
“Selalu saja kalian mem-bully Grace! Ada apa ini? Sekarang yang merasa memasukan tikus ke dalam tas Grace maju ke depan kelas!”
Ketegangan meliputi kelas selama beberapa menit, murid-murid duduk terdiam dan kaku.
“CEPAT! Atau kalian semua, kecuali Grace dan Danielle akan saya skors!”
Bisik-bisik kembali memenuhi kelas. Lila, Sela dan Toni tampak gelisah, perlahan tapi pasti mereka berdiri dari tempat duduk mereka.
“Kami yang bersalah bu”, ucap Lila mewakili teman-temannya.
***
Kriiing.....
Tiga jam berlajar sastra Indonesia pun berlalu, bel istirahat berbunyi, semua murid XI IPB berjalan keluar kelas, kecuali Lila, Sela dan Toni. Dari jendela luar kelas tampak mereka sedang duduk di pojok kelas menyalin catatan dari beberapa buku paket ke dalam sebuah buku catatan, sepertinya bu Saly menghukum mereka untuk membuat rangkuman materi dari awal hingga akhir semester, ckckck.
Sementara, di taman sekolah duduk Grace yang sedang membaca novel sambil mengunyah beberapa potong kentang goreng. Danielle yang melihat Grace sedang menyendiri langsung menghampirinya lalu duduk di sebelah kanan Grace.
“Ehm. Hai. Sendirian aja?”
Grace hanya terpaku menatap Danielle yang duduk begitu dekat dengannya.
“Kok bengong sih? Kenapa? Takut sama gue? Hahaha”
“Hahaha, enggak lah, ia gue sendirian aja.”
Danielle tersenyum melihat Grace tertawa lepas, sepertinya ada hal berbeda yang mengagumkan dari gadis ini?
“Emm, Grace, kenapa sih lo keliatan kaku banget di dalam kelas?”
“Hah? Kaku? Maksud lo?”
“Ya begitu, yang gue amati seharian ini, lo selalu diem, saat temen-temen lagi asik ngobrol lo cuma baca-baca buku atau nyalin catetan atau pas yang lain udah mulai ngantuk lo masih aja fokus dengerin bu Saly berkotbah, heran gue sama lo”
“Ehm... Danil, jadi dari tadi lo meratiin gue doang nih di kelas?”, tanya Grace polos.
Suasana canggung terbentang di antara mereka, Danielle mulai salah tingkah dan Grace tiba-tiba mengunyah kentang gorengnya lebih cepat, “bodoh!” ucap Grace dalam hati pada dirinya.
“Ehm maksud gue...”, Danielle dan Grace mengucapkan frasa yang sama bersamaan. Danielle tersenyum menatap Grace, sementara Grace merasakan wajahnya memerah mulai tersenyum juga.
“Hahahahaha...”, tawa terlepas dari senyum mereka berdua.
“Ah, apaan sih lo Dan?!”
“Lho? Apanya yang apaan??”
“Ngapain sih senyum-senyum kayak tadi?”
“Lo malu ya gue liatin? Atau lo suka gue senyumin? Atau mungkin lo malu-malu tapi suka sama gue? Hahahahaha”, ucap Danielle sambil tersenyum lebar menatap Grace.
“Idih! Pede banget sih? Baru aja kenal masa udah suka? Gak mungkinlah Nil”.
“Ehm, lo pernah denger yang namanya cinta pandangan pertama gak?”
“Sering banget, apalagi di novel-novel atau cerpen remaja, tapi gue gak percaya tuh”.
“Yap, lo gak percaya karena belum pernah merasakan, iya kan?”
“Errr... Iya sih, tapi gak logis aja, masa baru kenal udah jatuh cinta?”
“Hahaha... Grace... Grace... Makanya jangan sering melogika segala hal, ada beberapa hal yang cuma butuh perasaan kok Grace, contohnya..... cinta”.
“Ehm, cinta itu kan cuma hormon, gak lebih dari itu, buat apa terus-terusan dirasain kalau ujung-ujungnya selalu nyakitin”.
“Itu kan kata teori, kata novel-novel dan cerpen remaja yang lo baca Grace”.
Grace hanya terdiam, berpikir, berusaha mendebat pernyataan Danielle, tetapi sial, pernyataan Danielle mutlak benar.
“Atau lo pernah patah hati ya Grace?”
Mata Grace terbelalak lebar, ia menatap heran pada Danielle.
“Eng... Iya...”
“Oh, pantesan. Tapi baguslah”. Ucap Danielle enteng.
“Apa? Bagus? Gara-gara kejadian itu gue gak bisa fokus belajar selama sebulan, nilai gue jatuh, prestasi gue berantakan, itu gara-gara dia!”
“Tenang Grace, tenang. Kalo boleh tahu gimana ceritanya?”
“Kejadiaanya udah 3 bulan yang lalu, dia ninggalin gue pergi gitu aja, dia lanjutin sekolah ke luar negeri, tapi dia gak bilang apa-apa sama gue, dia cuma ninggalin surat mohon maaf doang. Gak ada perpisahan, gak ada pertemuan terakhir. Bahkan dia udah punya cewe di sana”, tutur Grace penuh rasa kesal.
“Lo masih sayang sama dia?”
“Enggak. Udah gak ada rasa apa-apa lagi.”
“Lo masih benci sama dia?”
Grace terdiam sesaat.
“Enggak. Lagi pula gak ada untungnya dendam sama dia.”
“Ehm.. Grace, gue rasa lo harus maafin dia.”
“Maksud lo?”
“Mungkin lo udah gak mau ambil pusing soal masalah lo sama dia. Tapi dari lubuk hati lo yang paling dalam belum ada pengampunan buat dia. Coba liat diri lo tadi di kelas, lo bener-bener orang yang membosankan, pendiem, kaku, geek lah padahal penampilan luar lo jauh dari kata membosankan. Lo masih terbawa suasana hati lo yang jengkel dan benci sama cowo lo sampai-sampai lo gak bisa tampil jadi diri lo sendiri kayak sekarang; yang cerewet, bawel, lucu, riang. Ehm... gimana Grace?”
“Tapi kan....”
“Demi kebaikan lo Grace”
Grace hanya terdiam. Ia menundukan wajah memandangi sampul novel yang ia baca. Beberapa saat keheningan mengisi waktu. Danielle terus menunggu reaksi Grace.
Kemudian Grace mengangkat wajahnya, menatap Danielle dan tersenyum.
“Yah, memang seharusnya gue maafin dia”.
“Lantas? Tindakan nyata lo?”
“Hari ini gue mau hubungin dia. Gue berharap aja, semoga nomor yang dia kasih masih sama, atau mungkin lewat chat juga bisa”
“Bagus Grace!”, Danielle tersenyum kembali menatap Grace.
“Ehm by the way Grace, waktu itu gimana sih proses lo bisa jadian sama dia?”
“Oh iya gue belum cerita, nama dia Mike. Prosesnya? Bisa dibilang kami jatuh cinta pada pandangan pertama”, mata Grace menerawang jauh.
“Terus?”
“Yah gitu, setelah PDKT beberapa minggu kita jadian. Ehm baru jadian 2 bulan udah ditinggal pergi gue. Hmm”
“Gak apa-apa Grace, jangan patah harapan, asal lo juga ubah pembawaan diri lo, jangan tampil kayak geek. Gak heran temen-temen jadi suka isengin lo.”
“Iya sih, gue udah capek juga diisengin terus”.
“Tenang, jangan takut ada yang isengin lo. Ada gue di sini”, ucap Danielle sambil menepuk dada.
“Iya yah ada body guard gratisan, hahaha. Bercanda Dan. Eh, thanks banget loh udah mau jadi temen sharing dan ngasih gue pemecahan masalah. Lega rasanya setelah 3 bulan mendem sendiri hari ini ada lo yang mau jadi temen sharing gue”, Grace tersenyum lebar menatap Danielle.
Danielle merangkul pundak Grace sambil berkata, “itulah gunanya teman, Grace”.
“Iya Dan, teman”, Grace merangkul pundak Danielle juga.
“Ehm... Grace..”
“Ya Dan?”
“Apa lo udah percaya dengan cinta pandangan pertama?” Danielle menatap dalam ke mata Grace sambil tersenyum.
Grace membalas tatapan Danielle dan tersenyum.
“Seperti yang dikatakan novel-novel dan cerpen remaja”. Jawab Grace sambil tersenyum lebar pada Danielle.
Ini adalah kisah dari sebuah keluarga kecil 100 tahun yang lalu. Keluarga itu terdiri dari bapak Jhon dan ibu Ema. Meski keluarga mereka kecil, mereka adalah salah satu dari orang-orang kaya di desa Iris dan mereka terkenal sebagai orang yang dermawan dan rendah hati, mereka tidak sungkan menolong warga di desa Iris setiap kali mereka membutuhkan bantuan. Bapak Jhon adalah pengusaha hebat yang berlayar keliling dunia dan ibu Ema adalah ibu rumah tangga yang bekerja seharian mengurus rumah dengan bantuan para pelayannya. Mereka adalah pasangan paling serasi yang dikagumi oleh teman-teman mereka.
Tetapi sayang, walaupun kekayaan mereka melimpah, orang-orang desa mengagumi mereka dan mereka punya banyak teman, mereka merasa kesepian. Mengapa? Karena mereka belum memiliki seorang anak. Hal yang paling diimpikan oleh bapak Jhon dan ibu Ema. Setiap malam mereka berdoa pada Tuhan, meminta kehadiran seorang anak.
Tuhan memang baik, setelah 5 tahun penantian, ibu Ema pun mengandung seorang anak. Sungguh keluarga kecil itu merasa sangat bahagia. Setiap malam ibu Ema membacakan dongeng bagi si calon bayi di dalam perutnya, setiap pagi pun ibu Ema menyanyikan lagu-lagu indah untuk menghibur anak dalam perutnya.
Sebulan, dua bulan, tiga bulan, empat bulan..... hingga sembilan bulan menunggu, akhirnya tepat pada malam Natal, ibu Ema melahirkan bayi perempuan yang ia namakan Aurel. Sungguh, Aurel adalah kado Natal istimewa bagi bapak Jhon dan ibu Ema.
Tujuh tahun kemudian, Aurel tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik, pintar dan riang. Tetapi.... Aurel sedih, ia malu. Karena sampai saat ini belum ada sehelai rambut yang tumbuh di kepalanya. Aurel tidak berani keluar rumah bertemu dengan anak-anak seumurannya, karena setiap kali ia bertemu dengan teman-temannya, mereka malah mengejek Aurel.
“Hahaha, Aurel botak!”
“Aurel jelek!”
“Aku gak mau main sama orang botak kayak kamu, hahaha”
Aurel pun memutuskan untuk kembali ke rumahnya, ia hanya bisa menangis dan bermain sendirian di rumahnya. Aurel kesepian tanpa teman, ayahnya bekerja dan ibunya sekarang juga sudah bekerja di toko kue, tidak ada yang menemani Aurel, hanya ia dan dirinya.
Suatu malam sebelum tidur mama berpesan pada Aurel, “ Aurel sayang, apa pun yang kamu inginkan, minta sama Tuhan dalam doa. Jangan pernah lelah atau malas berdoa demi impian kamu. Tetapi kamu juga harus berusaha ya, karena doa tanpa perbuatan
tidak akan menghasilkan apa-apa”.
“Apakah itu benar ma?”, tanya Aurel.
“Iya, kamu tahu sayang? Kamu adalah doa terbesar mama yang telah dikabulkan”, jawab mama tersenyum, lalu mencium kening Aurel dan meninggalkan Aurel.
“Selamat tidur sayang, jangan lupa berdoa”
“Iya mama”
Aurel berlutut di depan kasur, melipat tangan, menutup mata dan mulai berdoa.
“Tuhan, selamat malam. Malam ini Aurel ingin tidur, berkati agar Aurel bisa tidur dengan nyenyak. Ehm. Oh ya. Tuhan, Aurel ingin sekali punya rambut, gak apa-apa deh kalau rambutnya gak seindah rambut teman-teman Aurel, asal Aurel sudah punya saja, Aurel sudah senang kok, terimakasih ya Tuhan, amin”. Setelah berdoa, Aurel naik ke tempat tidurnya dan tertidur lelap.
Malam itu Aurel bermimpi bertemu dengan malaikat. Malaikat itu sangat cantik, kulitnya putih, bersinar, matanya hijau, rambutnya coklat, lurus, indah dan sangat panjang melebihi punggungnya. Aurel takjub melihat malaikat yang begitu cantik itu.
“Hai Aurel, aku malaikat Glory dan aku tahu apa impianmu, sayang”, ucap malaikat Glory sambil tersenyum.
“Hah? Benarkah? Kau ingin memberiku rambut?”, Aurel bertanya-tanya penuh semangat.
“Ya, benar sekali sayang. Kau lihat rambutku ini? Bagaimana menurutmu?”
“Wah, rambutmu sangat indah Glory, tetapi mana mungkin aku bisa punya rambut seindah itu”, Aurel mengusap-usap kepala botaknya sambil cemberut kecewa.
“Tidak juga sayang. Lihat ini”, di tangan malaikat Glory terdapat sebilah belatih perak, lalu ia memotong rambut panjangnya hingga sependek bahunya.
“Astaga, apa yang kau lakukan Glory?”
Malaikat Glory hanya tersenyum, ia mengusap kepala Aurel dengan rambut panjangnya dan dalam sekejap, rambut itu menempel di kepala Aurel.
“Ini tidak mungkin! Aku punya rambut panjang, indah, ini tidak mungkin Glory”, Aurel mengusap kepalanya yang sekarang telah ditumbuhi rambut indah malaikat Glory.
“Tidak ada yang tidak mungkin sayang”, malaikat Glory tersenyum.
“Terimakasih malaikat Glory, terimakasih atas rambut indah ini. Tetapi apa kau tidak apa-apa?”
“Hahaha, sayang, rambutku masih bisa tumbuh. Oh ya, aku ingin berpesan, jaga rambutmu baik-baik, rawatlah agar tetap indah dan gunakan rambutmu untuk kemuliaan Tuhan. Dan ingat, jangan sombong ya”, lagi-lagi Glory tersenyum.
“Oke malaikat Glory, aku janji”, jawab Aurel penuh semangat.
“Oh ya, sekarang bangunlah dari tidurmu dan bermainlah bersama teman-temanmu”.
Dalam sekejap, Aurel terbangun dari mimpi indahnya.
“Ah, mimpiku indah sekali. Yah, sayang itu hanya mimpi. Jadi tidak mungkin itu terjadi padaku”, Aurel beranjak dari tempat tidurnya dan bercermin.
“ASTAGA! Mimpiku jadi kenyataan! Asik aku punya rambut! MAMA!!! PAPA!!! KEMARI”
Papa dan mama berlari menuju kamar Aurel dan menemukan Aurel dengan rambut barunya sedang tersenyum bahagia. Mereka pun ikut bahagia dan langsung memeluk Aurel.
“Pa, ma, lihat! Doa ku semalam telah dikabulkan”
“Iya sayang, ternyata kamu menuruti nasehat mama. Sekarang kamu percaya dengan kuasa doa kan?, tanya mama pada Aurel.
“Wah, anak papa cantik sekali dengan rambut barunya. Sekarang mandi dan pergilah bermain bersama teman-temanmu sayang”.
“Iya papa”. Aurel langsung bergegas mandi, berpakaian dan menyisir rambutnya agar tetap rapih.
Pada pagi hari, Aurel mendatangi teman-temannya di taman. Aurel yang biasanya dihina, tiba-tba menjadi primadona di mata teman-temannya.
“Wah Aurel cantik sekali”
‘Aku tidak berani mengejek Aurel lagi ah”
“Ayo Aurel, ayo kita bermain bersama”
“Wah, terimakasih ya teman-teman, kalian sudah mau bermain denganku”, jawab Aurel dan ikut bermain bersama.
Aurel begitu bahagia, baru kali ini ia bisa merasakan bermain kejar-kejaran di taman yang indah, yang dipenuhi bunga-bunga dan dedaunan hijau, Aurel juga menikmati permainan ayunan yang menghempas rambut indahnya ke udara.
Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan hingga enam bulan berlalu, rambut indah Aurel terus menjadi topik pembicaraan teman-temannya sepanjang hari. Hal ini membuat Aurel merasa sangat bangga terhadap dirinya yang berambut panjang. Tetapi sayang, kebanggaan Aurel berubah menjadi kesombongan, ia menjadi gadis kecil yang angkuh, yang suka memilih-milih teman, yang suka mengejek dan merendahkan teman-temannya yang tidak cantik di matanya.
Pada suatu sore, Aurel sedang bermain di taman bersama teman-temannya, mereka anak pengusaha kaya seperti Aurel. Tiba-tiba Clara datang.
“Hai Aurel, Cindy, Saly, aku ikut bermain bersama kalian ya”, Clara ingin sekali bergabung dengan mereka.
“Apa? Hahaha, kau yakin ingin bermain bersama kami?”, tanya Cindy dengan nada mengejek.
“Ih, pergi sana, kau kan hanya anak tukang kayu yang miskin, pakaianmu saja jelek, aku tidak mau bermain denganmu”, ucap Aurel dengan penuh kesinisan.
“Aurel, kenapa kamu jadi sombong? Dulu kamu masih mau bermain bersama aku?”
“Itu dulu, sekarang lain. Sudah sana, jangan ganggu kami”, ucap Cindy.
“Huss, pergi sana!”, Aurel mulai mengusir Clara.
“Kamu jahat Aurel!”, Clara pergi sambil menangis.
Datang Ricky, sahabat karib Aurel yang mengajak Aurel bermain. “Hai Aurel, ayo kita bermain bersama, bagaimana kalau kita memancing ikan di danau. Nanti aku akan memasak ikan yang lezat untukmu”, Ricky mengajak Aurel dengan penuh semangat.
“Gak mau! Kamu pergi sana! Kamu cuma anak yatim miskin, aku tidak mau makan ikan kotor itu lagi!”, ucap Aurel.
“Kenapa kamu jadi sombong begini sih? Dulu kita sahabat dekat Aurel, sama kamu lupa?”
“Pokoknya aku gak mau main sama orang miskin dan jelek seperti kamu, pergi sana!”, Aurel mulai mengusir Ricky.
Ricky pun pergi, begitu juga dengan teman-teman Aurel yang lainnya, merka tidak suka dengan sifat Aurel yang angkuh dan suka menghina itu. Walaupun mama dan papa sudah mengingatkan, Aurel masih saja tidak mau mendengarkan. Hingga lama- kelamaan Aurel tidak punya teman lagi, ia sendirian lagi, ia sedih dan bingung bagaimana ia harus mendapatkan teman-temannya.
Pada suatu sore, Aurel sedang duduk di ayunan sendirian, menikmati hembusan angin yang mengibarkar rambutnya
“Mengapa mereka membenciku?”, Aurel bertanya-tanya.
Tiba-tiba muncul sosok cahaya putih di depan Aurel.
“Hai Aurel, masih ingat aku?”, ternyata itu malaikat Glory.
“Malaikat Glory? IYA! Tentu aku masih mengingatmu. Eh, ada apa dengan rambutmu? Kemana rambut indahmu? Emm... maksudku mengapa rambutmu....”
“Iya Aurel, rambutku mulai menipis, rambutku rontok Aurel”, jawab malaikat Glory dengan wajah sedih.
“Lho? Bagaimana bisa? Bukannya rambutmu bisa tumbuh memanjang lagi?”
“Iya, tetapi karena rambutmu itu, rambutku jadi seperti ini”, jawab malaikat Glory lirih.
“Lho? Bagaimana bisa? Lagi pula aku merawat rambut ini kok, aku mencucinya, menyisirnya, merapikannya. Lihat saja, rambutku masih indah sampai sekarang”, jawab Aurel polos.
“Iya, rambutmu memang terlihat indah, tetapi tidak seindah akibat dari rambutmu itu. Aurel sayang, mengapa kamu ingkar janji? Mengapa kamu menjadi anak yang sombong, Aurel?”
Aurel terdiam. Ia melihat rambutnya yang indah, lalu ia teringat perbuatan yang ia lakukan pada teman-temannya. Aurel mulai menyesal atas perbuatannya,
“Lalu, aku harus bagaimana sekarang?”
“Minta maaflah pada teman-temanmu”, jawab malaikat Glory sambil tersenyum.
“Tetapi, mereka sudah membenciku, apa mereka mau memaafkan aku?”
“Jangan pikirkan itu dahulu, meminta maaflah terlebih dahulu”, jawab malaikat Glory dan tiba-tiba ia menghilang.
“Malaikat Glory? Kau sudah pergi?”, Aurel bertanya-tanya. Sekarang hati Aurel di landa rasa bersalah, tanpa berpikir panjang Aurel berjalan menuju rumah teman-temannya untuk meminta maaf.
Pertama Aurel mendatangi rumah Charlie, ia anak seorang tukang roti, tetapi Charlie tidak mau bertemu dengannya. Kemudian ia berjalan ke rumah Emy, tetapi Emy sedang tidak ada di rumah. Lalu Aurel menemukan teman-temannya yang lain, mereka sedang berkumpul di taman, sedang bermain, Aurel pun mendatangi mereka,
“Ehm. Teman-teman, aku datang kemari. Aku... Aku mau meminta maaf, aku menyesal sudah bertindak sombong dengan kalian”, ucap Aurel tertunduk malu. Teman-teman Aurel tidak mau memaafkan Aurel, mereka meninggalkan Aurel, kecuali satu orang, ia adalah Clara.
“Iya Aurel, aku memaafkanmu. Aku kira kau memang sangat sombong, ternyata tidak juga”, ucap Clara sambil tersenyum pada Aurel.
“Benarkah? Terimakasih Clara”, kemudian Aurel memeluk Clara penuh dengan rasa bahagia.
Perjalanan Aurel berlanjut menuju rumah di tepi danau. Iya, itu rumah Ricky. Aurel mengendap-endap mendekati pondok kumuh itu. Aurel mengintip dari lubang dinding kayu, ia melihat Ricky sedang duduk di samping ibunya yang sedang terkapar di ranjang. Ternyata itu Ricky sedang sakit parah.
“Uhuk... Uhuk.. Uhuk.... Sudah Ricky, waktu ibu tinggal sedikit, biar saja.”
“ Tidak ibu, Ricky akan bantu cari uang untuk ibu, ibu tenang saja, ibu pasti bisa bertahan.”
“Tidak usah nak, ibu masih bisa bekerja. OHOK... OHOK...”, batuk keras itu menyebabkan darah terhambur dari mulut itu Ricky.
“Astaga darah lagi! Ibu istirahat saja di sini. Sekarang Ricky akan bekerja mencari kayu di hutan”. Ricky membersihkan darah yang terhambur dari mulut ibunya, mencium kening ibunya lalu berjalan menuju pintu keluar. Saat itu juga Aurel langsung mendatangi Ricky.
“Ricky!”, seru Aurel.
“Ricky hanya menoleh sebentar sambil tersenyum kecut, lalu pergi”
“Ricky tunggu sebentar. Aku ke sini untuk meminta maaf. Aku jahat, aku sombong, maafin aku Ricky”, Aurel mulai memohon-mohon pada Ricky.
Senyum kecut Ricky berganti dengan senyum manis, Ricky mengusap kepala Aurel dan berkata,
“Iya, aku maafin. Tapi aku harus pergi sekarang, aku mau cari uang untuk ibuku, ia sedang sakit”
“Aku ikut kamu Ricky!”
“Jangan, bahaya lho gadis kecil kayak kamu masuk hutan mencari kayu bakar. Kamu pulang saja sana”, ucap Ricky sampil meninggalkan Aurel menuju hutan.
Aurel yang tidak bisa berbuat apa-apa kembali pulang, sambil terus memikirkan bagaimana cara memperoleh uang sendiri untuk membantu Ricky. Dalam perjalanan, tiba-tiba ia bertemu seorang wanita gelandangan, wanita itu menatap takjub pada Aurel,
“Amboi! Apakah kau seorang malaikat? Wajahmu cantik dan rambutmu indah”, ucap wanita itu sambil membelai rambut Aurel.
“Maaf, tapi jangan sentuh aku”, ucap Aurel sopan.
“Oh, maafkan wanita tua ini. Ohoho, tetapi aku belum pernah melihat rambut seindah ini? Sekali lagi aku bertanya, apakah kau malaikat?”
Lalu Aurel menjawab, “bukan, aku bukan malaikat, aku manusia biasa. Tetapi rambutku ini memang pemberian malaikat, Glory namanya”
“Ah, Glory, sukacita. Yah, memang seharusnya kamu menjadi pembawa sukacita itu nak”, wanita tua itu mulai berseru.
“Haruskah begitu, bu?”
Wanita tua itu menghiraukan pertanyaan Aurel, ia terus berbicara sendiri, “amboi, rambutmu itu pasti mahal sekali harganya, jika aku punya rambut seperti itu, pasti sudah ku jadikan rumah, ohoho. Tapi ya sudahlah, pulanglah nak, hari sudah hampir malam, tak usah kau dengarkan ocehan wanita tua ini”. Wanita tua itu pergi meninggalkan Aurel.
Aurel terus berjalan hingga sampai rumah. Sepanjang jalan Aurel masih memikirkan kembali percakapannya dengan wanita tua itu. Ia terus merenung hingga ia tertidur lelap malam itu.
Tetapi sayang, walaupun kekayaan mereka melimpah, orang-orang desa mengagumi mereka dan mereka punya banyak teman, mereka merasa kesepian. Mengapa? Karena mereka belum memiliki seorang anak. Hal yang paling diimpikan oleh bapak Jhon dan ibu Ema. Setiap malam mereka berdoa pada Tuhan, meminta kehadiran seorang anak.
Tuhan memang baik, setelah 5 tahun penantian, ibu Ema pun mengandung seorang anak. Sungguh keluarga kecil itu merasa sangat bahagia. Setiap malam ibu Ema membacakan dongeng bagi si calon bayi di dalam perutnya, setiap pagi pun ibu Ema menyanyikan lagu-lagu indah untuk menghibur anak dalam perutnya.
Sebulan, dua bulan, tiga bulan, empat bulan..... hingga sembilan bulan menunggu, akhirnya tepat pada malam Natal, ibu Ema melahirkan bayi perempuan yang ia namakan Aurel. Sungguh, Aurel adalah kado Natal istimewa bagi bapak Jhon dan ibu Ema.
Tujuh tahun kemudian, Aurel tumbuh menjadi gadis kecil yang cantik, pintar dan riang. Tetapi.... Aurel sedih, ia malu. Karena sampai saat ini belum ada sehelai rambut yang tumbuh di kepalanya. Aurel tidak berani keluar rumah bertemu dengan anak-anak seumurannya, karena setiap kali ia bertemu dengan teman-temannya, mereka malah mengejek Aurel.
“Hahaha, Aurel botak!”
“Aurel jelek!”
“Aku gak mau main sama orang botak kayak kamu, hahaha”
Aurel pun memutuskan untuk kembali ke rumahnya, ia hanya bisa menangis dan bermain sendirian di rumahnya. Aurel kesepian tanpa teman, ayahnya bekerja dan ibunya sekarang juga sudah bekerja di toko kue, tidak ada yang menemani Aurel, hanya ia dan dirinya.
Suatu malam sebelum tidur mama berpesan pada Aurel, “ Aurel sayang, apa pun yang kamu inginkan, minta sama Tuhan dalam doa. Jangan pernah lelah atau malas berdoa demi impian kamu. Tetapi kamu juga harus berusaha ya, karena doa tanpa perbuatan
tidak akan menghasilkan apa-apa”.
“Apakah itu benar ma?”, tanya Aurel.
“Iya, kamu tahu sayang? Kamu adalah doa terbesar mama yang telah dikabulkan”, jawab mama tersenyum, lalu mencium kening Aurel dan meninggalkan Aurel.
“Selamat tidur sayang, jangan lupa berdoa”
“Iya mama”
Aurel berlutut di depan kasur, melipat tangan, menutup mata dan mulai berdoa.
“Tuhan, selamat malam. Malam ini Aurel ingin tidur, berkati agar Aurel bisa tidur dengan nyenyak. Ehm. Oh ya. Tuhan, Aurel ingin sekali punya rambut, gak apa-apa deh kalau rambutnya gak seindah rambut teman-teman Aurel, asal Aurel sudah punya saja, Aurel sudah senang kok, terimakasih ya Tuhan, amin”. Setelah berdoa, Aurel naik ke tempat tidurnya dan tertidur lelap.
Malam itu Aurel bermimpi bertemu dengan malaikat. Malaikat itu sangat cantik, kulitnya putih, bersinar, matanya hijau, rambutnya coklat, lurus, indah dan sangat panjang melebihi punggungnya. Aurel takjub melihat malaikat yang begitu cantik itu.
“Hai Aurel, aku malaikat Glory dan aku tahu apa impianmu, sayang”, ucap malaikat Glory sambil tersenyum.
“Hah? Benarkah? Kau ingin memberiku rambut?”, Aurel bertanya-tanya penuh semangat.
“Ya, benar sekali sayang. Kau lihat rambutku ini? Bagaimana menurutmu?”
“Wah, rambutmu sangat indah Glory, tetapi mana mungkin aku bisa punya rambut seindah itu”, Aurel mengusap-usap kepala botaknya sambil cemberut kecewa.
“Tidak juga sayang. Lihat ini”, di tangan malaikat Glory terdapat sebilah belatih perak, lalu ia memotong rambut panjangnya hingga sependek bahunya.
“Astaga, apa yang kau lakukan Glory?”
Malaikat Glory hanya tersenyum, ia mengusap kepala Aurel dengan rambut panjangnya dan dalam sekejap, rambut itu menempel di kepala Aurel.
“Ini tidak mungkin! Aku punya rambut panjang, indah, ini tidak mungkin Glory”, Aurel mengusap kepalanya yang sekarang telah ditumbuhi rambut indah malaikat Glory.
“Tidak ada yang tidak mungkin sayang”, malaikat Glory tersenyum.
“Terimakasih malaikat Glory, terimakasih atas rambut indah ini. Tetapi apa kau tidak apa-apa?”
“Hahaha, sayang, rambutku masih bisa tumbuh. Oh ya, aku ingin berpesan, jaga rambutmu baik-baik, rawatlah agar tetap indah dan gunakan rambutmu untuk kemuliaan Tuhan. Dan ingat, jangan sombong ya”, lagi-lagi Glory tersenyum.
“Oke malaikat Glory, aku janji”, jawab Aurel penuh semangat.
“Oh ya, sekarang bangunlah dari tidurmu dan bermainlah bersama teman-temanmu”.
Dalam sekejap, Aurel terbangun dari mimpi indahnya.
“Ah, mimpiku indah sekali. Yah, sayang itu hanya mimpi. Jadi tidak mungkin itu terjadi padaku”, Aurel beranjak dari tempat tidurnya dan bercermin.
“ASTAGA! Mimpiku jadi kenyataan! Asik aku punya rambut! MAMA!!! PAPA!!! KEMARI”
Papa dan mama berlari menuju kamar Aurel dan menemukan Aurel dengan rambut barunya sedang tersenyum bahagia. Mereka pun ikut bahagia dan langsung memeluk Aurel.
“Pa, ma, lihat! Doa ku semalam telah dikabulkan”
“Iya sayang, ternyata kamu menuruti nasehat mama. Sekarang kamu percaya dengan kuasa doa kan?, tanya mama pada Aurel.
“Wah, anak papa cantik sekali dengan rambut barunya. Sekarang mandi dan pergilah bermain bersama teman-temanmu sayang”.
“Iya papa”. Aurel langsung bergegas mandi, berpakaian dan menyisir rambutnya agar tetap rapih.
Pada pagi hari, Aurel mendatangi teman-temannya di taman. Aurel yang biasanya dihina, tiba-tba menjadi primadona di mata teman-temannya.
“Wah Aurel cantik sekali”
‘Aku tidak berani mengejek Aurel lagi ah”
“Ayo Aurel, ayo kita bermain bersama”
“Wah, terimakasih ya teman-teman, kalian sudah mau bermain denganku”, jawab Aurel dan ikut bermain bersama.
Aurel begitu bahagia, baru kali ini ia bisa merasakan bermain kejar-kejaran di taman yang indah, yang dipenuhi bunga-bunga dan dedaunan hijau, Aurel juga menikmati permainan ayunan yang menghempas rambut indahnya ke udara.
Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan hingga enam bulan berlalu, rambut indah Aurel terus menjadi topik pembicaraan teman-temannya sepanjang hari. Hal ini membuat Aurel merasa sangat bangga terhadap dirinya yang berambut panjang. Tetapi sayang, kebanggaan Aurel berubah menjadi kesombongan, ia menjadi gadis kecil yang angkuh, yang suka memilih-milih teman, yang suka mengejek dan merendahkan teman-temannya yang tidak cantik di matanya.
Pada suatu sore, Aurel sedang bermain di taman bersama teman-temannya, mereka anak pengusaha kaya seperti Aurel. Tiba-tiba Clara datang.
“Hai Aurel, Cindy, Saly, aku ikut bermain bersama kalian ya”, Clara ingin sekali bergabung dengan mereka.
“Apa? Hahaha, kau yakin ingin bermain bersama kami?”, tanya Cindy dengan nada mengejek.
“Ih, pergi sana, kau kan hanya anak tukang kayu yang miskin, pakaianmu saja jelek, aku tidak mau bermain denganmu”, ucap Aurel dengan penuh kesinisan.
“Aurel, kenapa kamu jadi sombong? Dulu kamu masih mau bermain bersama aku?”
“Itu dulu, sekarang lain. Sudah sana, jangan ganggu kami”, ucap Cindy.
“Huss, pergi sana!”, Aurel mulai mengusir Clara.
“Kamu jahat Aurel!”, Clara pergi sambil menangis.
Datang Ricky, sahabat karib Aurel yang mengajak Aurel bermain. “Hai Aurel, ayo kita bermain bersama, bagaimana kalau kita memancing ikan di danau. Nanti aku akan memasak ikan yang lezat untukmu”, Ricky mengajak Aurel dengan penuh semangat.
“Gak mau! Kamu pergi sana! Kamu cuma anak yatim miskin, aku tidak mau makan ikan kotor itu lagi!”, ucap Aurel.
“Kenapa kamu jadi sombong begini sih? Dulu kita sahabat dekat Aurel, sama kamu lupa?”
“Pokoknya aku gak mau main sama orang miskin dan jelek seperti kamu, pergi sana!”, Aurel mulai mengusir Ricky.
Ricky pun pergi, begitu juga dengan teman-teman Aurel yang lainnya, merka tidak suka dengan sifat Aurel yang angkuh dan suka menghina itu. Walaupun mama dan papa sudah mengingatkan, Aurel masih saja tidak mau mendengarkan. Hingga lama- kelamaan Aurel tidak punya teman lagi, ia sendirian lagi, ia sedih dan bingung bagaimana ia harus mendapatkan teman-temannya.
Pada suatu sore, Aurel sedang duduk di ayunan sendirian, menikmati hembusan angin yang mengibarkar rambutnya
“Mengapa mereka membenciku?”, Aurel bertanya-tanya.
Tiba-tiba muncul sosok cahaya putih di depan Aurel.
“Hai Aurel, masih ingat aku?”, ternyata itu malaikat Glory.
“Malaikat Glory? IYA! Tentu aku masih mengingatmu. Eh, ada apa dengan rambutmu? Kemana rambut indahmu? Emm... maksudku mengapa rambutmu....”
“Iya Aurel, rambutku mulai menipis, rambutku rontok Aurel”, jawab malaikat Glory dengan wajah sedih.
“Lho? Bagaimana bisa? Bukannya rambutmu bisa tumbuh memanjang lagi?”
“Iya, tetapi karena rambutmu itu, rambutku jadi seperti ini”, jawab malaikat Glory lirih.
“Lho? Bagaimana bisa? Lagi pula aku merawat rambut ini kok, aku mencucinya, menyisirnya, merapikannya. Lihat saja, rambutku masih indah sampai sekarang”, jawab Aurel polos.
“Iya, rambutmu memang terlihat indah, tetapi tidak seindah akibat dari rambutmu itu. Aurel sayang, mengapa kamu ingkar janji? Mengapa kamu menjadi anak yang sombong, Aurel?”
Aurel terdiam. Ia melihat rambutnya yang indah, lalu ia teringat perbuatan yang ia lakukan pada teman-temannya. Aurel mulai menyesal atas perbuatannya,
“Lalu, aku harus bagaimana sekarang?”
“Minta maaflah pada teman-temanmu”, jawab malaikat Glory sambil tersenyum.
“Tetapi, mereka sudah membenciku, apa mereka mau memaafkan aku?”
“Jangan pikirkan itu dahulu, meminta maaflah terlebih dahulu”, jawab malaikat Glory dan tiba-tiba ia menghilang.
“Malaikat Glory? Kau sudah pergi?”, Aurel bertanya-tanya. Sekarang hati Aurel di landa rasa bersalah, tanpa berpikir panjang Aurel berjalan menuju rumah teman-temannya untuk meminta maaf.
Pertama Aurel mendatangi rumah Charlie, ia anak seorang tukang roti, tetapi Charlie tidak mau bertemu dengannya. Kemudian ia berjalan ke rumah Emy, tetapi Emy sedang tidak ada di rumah. Lalu Aurel menemukan teman-temannya yang lain, mereka sedang berkumpul di taman, sedang bermain, Aurel pun mendatangi mereka,
“Ehm. Teman-teman, aku datang kemari. Aku... Aku mau meminta maaf, aku menyesal sudah bertindak sombong dengan kalian”, ucap Aurel tertunduk malu. Teman-teman Aurel tidak mau memaafkan Aurel, mereka meninggalkan Aurel, kecuali satu orang, ia adalah Clara.
“Iya Aurel, aku memaafkanmu. Aku kira kau memang sangat sombong, ternyata tidak juga”, ucap Clara sambil tersenyum pada Aurel.
“Benarkah? Terimakasih Clara”, kemudian Aurel memeluk Clara penuh dengan rasa bahagia.
Perjalanan Aurel berlanjut menuju rumah di tepi danau. Iya, itu rumah Ricky. Aurel mengendap-endap mendekati pondok kumuh itu. Aurel mengintip dari lubang dinding kayu, ia melihat Ricky sedang duduk di samping ibunya yang sedang terkapar di ranjang. Ternyata itu Ricky sedang sakit parah.
“Uhuk... Uhuk.. Uhuk.... Sudah Ricky, waktu ibu tinggal sedikit, biar saja.”
“ Tidak ibu, Ricky akan bantu cari uang untuk ibu, ibu tenang saja, ibu pasti bisa bertahan.”
“Tidak usah nak, ibu masih bisa bekerja. OHOK... OHOK...”, batuk keras itu menyebabkan darah terhambur dari mulut itu Ricky.
“Astaga darah lagi! Ibu istirahat saja di sini. Sekarang Ricky akan bekerja mencari kayu di hutan”. Ricky membersihkan darah yang terhambur dari mulut ibunya, mencium kening ibunya lalu berjalan menuju pintu keluar. Saat itu juga Aurel langsung mendatangi Ricky.
“Ricky!”, seru Aurel.
“Ricky hanya menoleh sebentar sambil tersenyum kecut, lalu pergi”
“Ricky tunggu sebentar. Aku ke sini untuk meminta maaf. Aku jahat, aku sombong, maafin aku Ricky”, Aurel mulai memohon-mohon pada Ricky.
Senyum kecut Ricky berganti dengan senyum manis, Ricky mengusap kepala Aurel dan berkata,
“Iya, aku maafin. Tapi aku harus pergi sekarang, aku mau cari uang untuk ibuku, ia sedang sakit”
“Aku ikut kamu Ricky!”
“Jangan, bahaya lho gadis kecil kayak kamu masuk hutan mencari kayu bakar. Kamu pulang saja sana”, ucap Ricky sampil meninggalkan Aurel menuju hutan.
Aurel yang tidak bisa berbuat apa-apa kembali pulang, sambil terus memikirkan bagaimana cara memperoleh uang sendiri untuk membantu Ricky. Dalam perjalanan, tiba-tiba ia bertemu seorang wanita gelandangan, wanita itu menatap takjub pada Aurel,
“Amboi! Apakah kau seorang malaikat? Wajahmu cantik dan rambutmu indah”, ucap wanita itu sambil membelai rambut Aurel.
“Maaf, tapi jangan sentuh aku”, ucap Aurel sopan.
“Oh, maafkan wanita tua ini. Ohoho, tetapi aku belum pernah melihat rambut seindah ini? Sekali lagi aku bertanya, apakah kau malaikat?”
Lalu Aurel menjawab, “bukan, aku bukan malaikat, aku manusia biasa. Tetapi rambutku ini memang pemberian malaikat, Glory namanya”
“Ah, Glory, sukacita. Yah, memang seharusnya kamu menjadi pembawa sukacita itu nak”, wanita tua itu mulai berseru.
“Haruskah begitu, bu?”
Wanita tua itu menghiraukan pertanyaan Aurel, ia terus berbicara sendiri, “amboi, rambutmu itu pasti mahal sekali harganya, jika aku punya rambut seperti itu, pasti sudah ku jadikan rumah, ohoho. Tapi ya sudahlah, pulanglah nak, hari sudah hampir malam, tak usah kau dengarkan ocehan wanita tua ini”. Wanita tua itu pergi meninggalkan Aurel.
Aurel terus berjalan hingga sampai rumah. Sepanjang jalan Aurel masih memikirkan kembali percakapannya dengan wanita tua itu. Ia terus merenung hingga ia tertidur lelap malam itu.
Subscribe to:
Posts (Atom)


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact