Listen


MusicPlaylistView Profile
Create a playlist at MixPod.com
Monday, December 20, 2010 0 comments

17th year of me - Perjalanan ke Pulau Untung Jawa

18 Desember 2010
hari yang paling aku nanti-nantiin sejak sebulan yang lalu. Aku bener-bener ga sabar memiliki status remaja 17 tahun, entah karena alasan apa aku merasakan aura kedewasaan dan kebebasan.

Sebelumnya izinkan aku melakukan sebuah pengakuan. Pada hari itu aku bolos sekolah atas persetujuan kedua orang tua gw dan pastinya atas persetujuan aku juga. Bukan kebetulan (karena aku ga pernah percaya akan kebetulan) pada tanggal 18 Desember lalu kami sekeluarga mau pergi ke Pulau Seribu (di Pulau Untung Jawa) yang merupakan program liburan gratis dari Jamsostek (kantor tempat papa bekerja), hari itu hari Sabtu dan sekolah masih berlangsung, aku di hadapi 2 pilihan, sekolah atau ikut liburan. Hanya dengan membuat sebuah alasan classic 'sakit', aku bisa bolos dengan leluasa, hahaha. Curang memang, tetapi aku menekankan, hidup adalah pilihan, aku ga mau menyia-nyiakan kesempatan yang langka ini, so aku pilih liburan, lagi pula nyokap dan bokap setuju. Tetapi setiap pilihan ada resikonya dan karma does exist! Sehari sebelum keberangkatan kita sekeluarga udah setuju akan acara bolos ini, bahkan aku dan Yola sudah memilih-milih penyakit apa yang akan kami jadikan alasan nanti, Yola milih sakit perut dan aku milih masuk angin dan kembung (alasan yang paling nendang karena pada hari kamis dan jumat (16-17) aku selalu pulang malam karena ada pergelaran Symphony Orchestra), dan ternyata pilihan penyakit itu menjadi penyakit beneran bagiku, beruntunglah Yola tidak mendapat karma hari itu. So hadiah pertamaku saat bangun pagi adalah tabuhan Bodhran (angin perut kembung yang berputar) dan tiupan Sangkakala (buang angin).

Tapi beruntunglah Tuhan memang baik, perut kembung itu sama sekali gak mengganggu akitivitasku saat belibur.

Perjalanan pertama kami tempuh dengan mobil, kami akan berangkat dari Muara Karang dan perjalanan berikutnya di lanjutkan dengan perahu motor kayu besar, sayang aku lupa nama kapalnya. Walaupun sempat merasa ketakutan, aku menikmati perjalanan 20 menit mengapung di atas laut Jawa tersebut, itu adalah pengalaman pertamaku nyebrang antar pulau dengan perahu, tidak jarang perahu yang kami tumpangi di terpa oleh ombak sedang yang cukup mengagetkan dan memukau. Ini pertama kalinya aku menaiki kapal dengan tangga kayu kecil dan pegangan dari bambu yang di pegang oleh awak kapal. Panjang tangga itu tidak sampai 5 meter, tetapi jantungku bertalu cukup keras dan tangan kiriku mulai mati rasa, aku takut kalau saja aku secara tidak sengaja menjatuhkan tas laptopku. Semua penumpang sudah duduk, mesin di nyalakan, sang nahkoda mulai memutar kemudinya, perahu berjalan mundur perlahan-lahan dan memutar 180 derajat, dengan penuh keyakinan sang nahkoda menambah kecepatan perahunya, mesin perahu mulai meraung ganas dan perahu mulai meluncur seperti mata peluru yang melawan ombak, kadang perahu tersebut sedikit oleng, tetapi disiinilah perjalanan berkesan itu dimulai.

Yola dan mama tampak ketakutan melihat ombak yang berkali-kali mengempas dan menggoyangkan kapal kami, mama terus merangkul Michael dan mencengkram tangan papa sedangkan Yola mencengkram kursi kayu. Tetapi berbeda dengan ku, justru aku sangat menikmati ombak tersebut, mungkin karena pengaruh latihan dan konser Orchestra, bagi ku, gelombang ombak tersebut melukiskan nyanyian alam yang tidak ada hentinya, bunyi gulungan ombak terdengar seperti tepuk tangan riuh dari penonton yang tidak ada hentinya yang mengharapkan penampilan lebih Orchestra alam tersebut, hempasan ombak pada body perahu terdengar seperti pukulan Crash Cymbal, gelombang seperti Crescendo besar yang di lukiskan oleh ayunan tongkat konduktor, deru mesin perahu terdengar seperti tabuhan Timpani dan Gran Cassa yang tidak ada henti-hentinya bergema hingga kami sampai ke seberang. Tidak hanya itu, ombak itu juga menampilkan lukisan permadani biru yang indah yang bergulung-gulung tanpa akhir dan ujung, buih air asin yang terhempas bak hiasan yang memperindah permadani tersebut. 20 menit berlalu Symphony dan lukisan alam tersebut harus berakhir, aku dan para penumpang harus turun dari kapal dan berjalan beberapa meter menuju penginapan kami. Kedatangan kami di sambut oleh tiupan angin pulau yang tidak ada hentinya. Aku suka hembusan angin tetapi aku terganggu oleh angin itu, selain karena merusak tataan rambutku, angin ini juga menambah parah keadaan perut kembungku. "Sial!!", umpatku dalam hati
Wednesday, December 15, 2010 0 comments

Jawaban Atas Senandung

Hari ini adalah hari terakhir latihan intensif untuk pentas Orchestra The Phantom of The Opera.
Sumpah, jujur aja gw capek, tiap hari dari jam 09.00-13.00 gw dan temen-temen orkestra latihan terus. Tapi walaupun demikian, gw bisa menikmati, gw bisa merasa puas dan bisa semakin akrab dengan temen kecil gw si Matilda, Clarinet 1 punya sekolah yang gw sayang banget. Gimana gak sayang, tiap kali gw bawa pulang ke rumah pasti ada aja perawatan buat si Matilda, entah itu gw bersiin ulang, ato gw kasih handbody ato gw bersiin kerak-kerak hijau  yang nempel di besi-besi Matilda pake pembersih make up (karena sebelum gw pake, Matilda gak terawat dengan baik oleh tuannya yang pertama), gw jadi ragu untuk melepaskan Matilda dari cengkraman gw tahun depan :'(

Kembali ke Orchestra. Besok adalah malam pertama gw tampil di depan umum sebagai bagian Orchestra. Sebenernya tadi siang udah ada gladi resik dan ditonton oleh temen-temen dan guru-guru (tebakan gw bener, Jelly juga nonton :D). Sumpeh gw tremor, jari-jari gw gemeteran gw belum terbiasa tampil kayak gitu, udah pake gaun lengkap, high heels yang tinggi banget, diliatin orang, tapi untungnya gw bisa berusaha tenang walaupun awal lagu Matilda ga bunyi sama sekali, padahal itu bagian yang paling gw suka, semoga aja itu ga terulang besok.
Gw ga mau usaha gw selama 2 minggu untuk pertunjukan 2 hari berakhir dengan kesia-siaan. Siang ini gw bener-bener merasakannya.
Total latihan Orchestra dan gladi resik hari ini berlangsung selama 4 jam. Setelah gladi resik gw lanjutin kegiatan gw latihan untuk Taize di rumah Nanad sampe jam 4 sore.

Perjalanan pulang ke rumah hari ini juga ikut melelahkan, gw numpang mobil Chila sampe depan perumahan rumah Nanad. Karena mau berhemat dan ga tau rute angkot,gw ngambil tindakan paling bijak dan memungkinkan, gw jalan kaki dari depan Puspita Loka sampe Sanur dan di lanjutkan ke pasar modern, gile gw menempuh jarak tersebut dalam waktu 15 menit, cukup luar binasa untuk sepasang kaki gw yang kecil.
Perjalanan berikutnya gw lanjutkan dalam angkot. Belum pernah gw bisa menikmati nyamannya duduk di atas angkot seperti sore ini, efek jalan dari Puspita Loka memberi sensasi kepuasan tersendiri saat gw duduk. Dalam perjalanan di atas angkot gw mengisi kembali tenaga gw untuk melanjutkan perjalanan dengan berlajan kaki dari tanah gusuran sampe rumah, jaraknya gak beda jauh kalo kita berjalan dari Puspita Loka sampe Autopart, mantab!
Singkat cerita gw nyampe di tanah gusuran dan menyiapkan kaki untuk melangkah sampe ke rumah. Gw mencoba melupakan keluh kesa gw atas kaki gw yang udah mulai pegel, gw menyenandungkan lagu yang gw mainkan dengan suling saat latihan Taize tadi, "dalam Tuhan-ku bersyukur dalam lagu pujian, Tuhanlah penyelamatku, dalam Dialah suka cita, dalam Dialah suka cita" dan lagu "Pujilah Tuhan, pujilah Nama-Nya, pujilah Tuhan, sumber kehidupan". Ternyata bukan cuma lewat doa, lewat senandungpun Tuhan tahu apa kebutuhan gw :D

Tiba-tiba saja datang seorang bapak dengan sepeda motor butut yang menawarkan tumpangan buat gw sampe ke atas (karena jalan di tanah gusuran itu turunan dan tanjakan), "dek mau ikut bapak gak?". Pertama-tama gw ragu dan takut dong, tapi setelah gw liat wajah bapak itu tidak menunjukan wajah kriminal dan ditambah kaki gw terasa pegel gw pun menerima tawaran bapak. Sepanjang jalan si bapak menyapa orang-orang yang lewat atau berpas-pasan dengannya, gak jarang si bapak itu juga bercanda dengan mereka; tiba-tiba saja bapak itu mengangkat tangan kirinya seraya hormat pada ibu-ibu yang lewat dengan motor dan mereka tertawa, atau menggoda ibu-ibu yang sedang bengong hingga ibu itu tertawa. Hahaha, lucu juga bapak ini dan ternyata banyak orang yang kenal dengan bapak ini, semua orang menyapanya. Sampai di depan gerbang rumah si bapak, gw minta turun, gak enak kalo ada orang asing yang nganterin gw sampe rumah (selain tukang ojek). "Terimakasih ya pak", ucap gw setelah turun dari motor. Oh my God! Gw lupa nanya siapa nama bapak berambut cepak itu, pas gw mau nanya si bapak udah masukin motor ke dalam rumah dan dia lagi keasikan bercanda sama anak cewe-nya,"ih cantik euy, manis deh senyumnya", celetuk si bapak, gw ga enak kalo harus mengganggu momen tersebut. Gw pun melanjutkan sisa perjalanan dengan berjalan kaki, gw berjalan melewati jalan tikus yang hanya bertanah merah dengan kebun singkong + ilalang di sebelah kanan gw dan tembok rumah dengan semen kasar di sebelah kiri gw. Dalam perjalanan tersebut gw bertemu dengan si mbok, ibu-nya kak Oges (catatan dia cewe) yang sedang membakar sampah. Si mbok sudah tua renta, tapi tetap masih terlihat sesegar saat 10 tahun yang lalu, tidak banyak yang berubah; mbok masih tinggal di gubur reot di sebelah kebun dan di antara tanaman pisang, pakaian mbok masih sama lusuhnya (baju biru tua dekil, sarung coklat dan sandal jepit adalah atribut-atribut utama mbok). Gw ngobrol cukup banyak, tentang kak Oges yang sedang kerja lembur di swalayan mengumpulkan uang untuk lanjut sekolah di sekolah kejuruan, gw merasa iba dan bangga juga mendengar cerita mbok, mereka (mbok, bapak dan kak Oges) bisa tinggal bersama dengan akur di gubuk tua yang hanya berupa lapisan seng sebagai dinding dan atap dan kayus sebagai penyangga atapnya, dengan 1 kamar tidur, tanpa ruang makan, dapur outdoor, dan lantai hanya berupa tanah kira-kira itulah hal yang gw inget dari rumah mbok saat pertama dan terakhir kalinya gw kunjungi dulu saat gw masih TK B, hingga tadi gw belum pernah di undang masuk lagi ke rumah si mbok. Mbok juga bercerita soal anak majikannya (mbok bekerja sebagai PRT), anak peremuan tunggal kelas 6 SD yang manja banget, apa-apa maunya dilayani, ditemeni, ya maklum kedua orang tuanya sibuk kerja untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Gw bisa melihat perbedaan yang sangat kontras di sini dan gw merasa sangat beruntung tidak menjadi kedua-nya, gw tinggal di rumah beratap genting dan gw bukan anak manja yang apa-apa harus dilayani. Tapi suatu hari nanti gw juga harus bisa mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan gw sendiri dan keluarga gw juga.

Thanks Father :D
Friday, December 10, 2010 0 comments

Bangga Menjadi Kreatif

Malam ini gue puas banget dengan hasil karya yang telah gue selesaikan dalam 3 hari, yaitu "Lilly in Pink". Nama itu emang baru muncul berapa detik yang lalu, tetapi ide itu udah muncul 3 hari yang lalu. Lilly in Pink ini adalah seri ke-2 kreasi polymer clay yang gue buat sebagai kado ulang tahun (tepatnya sweet seventeen) temen-temen gue. Nama Lilly sendiri berasal dari akronim Little Lady.

Kreasi gue yang pertama adalah "Lady Blue in Glass", Little Lady ini gue masukin ke dalam botol kaca dan gue hias untuk hadiah ultah temen gue yang bernama Junra (nama disamarkan). Ilustrasinya, Lilly ini gue buat dari paduan clay biru muda untuk jubah, beige untuk warna kulit wajah dan tangan, emerald green untuk mata, lemon untuk rambutnya. Dalam versi pertama, gue menceritakan Lilly sedang berada di hutan tropis dan menikmati keindahan alam, untuk itu hiasan gue perbanyak tanaman, bunga, jamur, kupu-kupu dan gliter warna hijau, untuk menambah efek hidup, gue tambah air supaya kupu-kupunya bisa ngapung dan gliternya berguguran ngasih kesan daun hijau yang berterbangan gitu, karena ribet dan harus dimasukan ke dalam botol (yang mulutnya kecil), Lilly ini gue selesaikan dalam waktu 1 minggu, pyuuhh... cape juga ternyata.

Lilly kedua malam ini baru saja gue selesaikan untuk hadiah ultah Ciel (nama disamarkan lagi). Lilly-nya gue buat dalam bentuk hiasan HP dan gantungan kunci. Gue sengaja menggunakan warna pink untuk gaun Lilly, memegang bunga tulip pink dan Lilly gue masukan ke dalam kotak berwarna pink. Kenapa harus pink? Karena besok, saat perayaan ulang tahun, Ciel akan menggunakan gaun pink, so gue mendominasi pink untuk mencerminkan Ciel dalam Lilly, walaupun warna kulit Lilly-nya cukup berbeda dengan Sesil. Gue pake warna tan karena gue keabisan warna beige, padahal kulit Ciel putih dan cenderung beige. Tapi gak apa-apalah, yang penting gue udah bener-bener puas melihat hasil karya gue.

Gue seneng banget bisa ngasih hadiah untuk temen-temen gue dan hadiah itu adalah hasil usaha gue. Gue ga berharap lebih dari mereka, gue ga ngarepin pujian dari mereka, gue cuma mau merasakan kepuasan batin setelah berhasil memberi sesuatu yang terbaik yang bisa gue beri untuk temen-temen gue. Apakah Lilly-nya akan di pajang, dipake untuk hiasan kunci, disimpen atau malah dibuang, itu urusan temen gue dan si Lilly :D

By the way, ada dokumentasi untuk Lilly in Pink.





Tapi sayang sekali, Lady Blue ga gue dokumentasiin, sial.
Lain kali gue harus domumentasiin Lilly-Lilly yang lain.

Proud being UNIQUE  :D
Friday, December 3, 2010 0 comments

Mimpi

Prelude,
Mimpi itu bukanlah mimpi buruk, tetapi entah kenapa mimpi itu terasa seperti mimpi buruk, bahkan gue masih terbawa-bawa oleh bayangan mimpi itu.
Sebagai sang pemimpi, gue sangat bahagia mendapatkan mimpi itu.
Tetapi melihat pengalaman-pengalaman yang ada, gue takut untuk melirik mimpi itu lagi, gue ga mau terlalu berharap kenyataan akan terjadi atas mimpi itu.
-o0o-

Kemarin malem, gue bermimpi, gue jadian sama Jelly, gebetan gue.
Jujur gue seneng banget terlebih lagi, mimpi itu bener-bener terasa nyata, gue bener-bener bisa merasakan sentuhan si Jelly, pelukannya dan telapak tangannya yang berkeringat.

Kronologinya, dalam mimpi itu saat pagi hari gue nyampe di sekolah,
seperti biasa gue berdiri di depan papan pengumuman hijau dan membaca jadwal kegiatan, gue liat ada jadwal latihan koor gue, semua gambaran mimpi gue sama dengan yang ada di sekolah kecuali ada kursi duduk, panjang di depan papan pengumuman itu, di mimpi itu tiba-tiba Jelly dateng di sebelah kiri gue. Dia narik gue duduk di kursi itu, merangkul gue dengan cukup erat dan menyandarkan kepalanya di bahu gue dan gue ikutan bersandar di kepala dia. Gak berapa lama kemudian, gue naik ke lantai-2 masuk ke kelas (kenyataannya kelas gue di lantai 1). Di dalam kelas gue bisa ngeliat temen-temen gue di kelas bahasa lagi ngobrol, bercanda, main-main. Yang gue heran, di mimpi itu gue udah pake jaket dan tiba-tiba udara di luar kelas dingin banget. Dalam mimpi itu gue duduk merengkuh di kabin lantai 2 sambil pegangan pinggir balkon lantai 2, tiba-tiba dari belakang si Jelly dateng dan meluk gue sambil ngomong, "kamu kedinginan ya?", gue cuma menjawab,"hmm" dan gue kembali ke dalam kelas. Tiba-tiba gue udah nyampe aja di perpustakaan, gue lagi baca buku dan dia dateng megang tangan gue. Kemudian mimpi itu berakhir.


Gue menceritakan mimpi ini ke Clarine (nama disamarkan). Ekspresi Clarine bahagia, kaget, kagum seneng gitu. Sedangkan gue merasakan ekspresi gue ga sinkron dengan gejolak hati gue, saat gue senyum seneng, tiba-tiba muncul keresahan gitu, gue ga mau berharap lebih.
Pas gue jelasin keresahan itu, Clarine cuma nanya, "Deb, lo seneng ato stres?". Gue menjawab dengan maruk "seneng banget sih, tapi stres juga, gue ga mau ngarep!".

Selanjutnya gue ga mau mendapat mimpi semacam ini lagi.
0 comments

Ansos (Antek Sosial)

Title di atas adalah alibi yang sangat masuk akal.

Sepenggal kata ANSOS adalah cap yang sering gue kasih bagi orang-orang yang menurut "kacamata kuda" gue suka banget menyendiri atau ga punya banyak temen.
Ya maklum, ga berniat nyombong, tapi gue adalah orang beruntung yang punya banyak temen, mau itu temen yang deket banget, temen jarak jauh atau temen sekedar kenal aja.

Di sekolah, gue banyak mendengar ejekan-ejekan ANSOS yang dilontarkan, dikit-dikit ANSOS. Ada yang jalan beda jalur tiba-tiba di teriakin "Wo ANSOS", ada yang makan sendirian digosipin "ANSOS amet sih tuh anak", ada anak yang ga bisa berbaur sama orang lain di cap "ANSOS".

Ansos, ansos dan ansos. Gue sendiri pernah mencap satu orang temen gue di SMP sebagai anak ANSOS, karena di sekolah dia anteng banget, hobinya pacaran sama komputer, mengasikan dirinya dengan kesendirian, kadang-kadang dia pergi kemana-mana selalu sendiri dan kadang-kadang gue mendapatkan diri gue susah banget untuk bisa mencair sama dia. Dengan sekilas pengamatan gue, gue langsung ngecap dia sebagai ANSOS (jengjengjengjeng). Tapi di sisi lain, dia punya banyak temen dari dunia maya dan dia punya banyak relasi. Melihat yang satu ini, gue nambahin cap tambah buat dia, yaitu "ANSOS yang Gaul", nah lho, bingung kan lo.

Tetapi cap itu berangsur-angsur pudar seiring berjalannya waktu hidup gue.
Pudar bukan karena gue lupa sama anak itu,
tapi karena gue sendiri sudah membuktikannya.
Gue udah merasakan kesendirian itu.

Memang benar ya apa yang dikatakan orang, semakin dewasa, seseorang akan menjadi semakin individualis.
Itu yang gue rasakan di SMA. Gue dikelilingi oleh makhluk-makhluk yang individualis, tetapi TIDAK egois.
Begitu juga dengan diri gue. Semakin hari, gue merasa semakin nyaman dengan kesendirian gue dalam arti gue bukan orang yang ANSOS, gue cuma butuh waktu menyendiri.
Mengapa bisa begitu? Gue sendiri merasa, saat gue sendirian, gue bisa memfokuskan pikiran gue untuk berbagai hal yang ga sempet dan ga bisa gue pikirin saat bersama temen-temen gue. Karena setiap kali gue bersama temen-temen gue, gue cuuma merasakan hal-hal yang fun, gila, lucu, konyol, haru dan kadang-kadang gue merasa bangga, bahagia dan puas setelah melakukan hal-hal aneh yang setelah gue pikir lagi itu adalah hal yang kejam dan jahat.

Seperti masa SMP, dulu waktu kelas 7 gue dan temen-temen deket gue membentuk geng. Geng kami termasuk kategori geng beradab (bukan geng biadab yang dibentuk senior-senior yang hobinya ngedamprat juniornya, sok eksis dan suka nyari sensasi). Sebenernya bukan geng, cuma karena kami suka banget ngumpul bareng, kalo ada kerja kelompok pasti kami sekelompok terus, suka ngegosip, curhat dan ngejahil bareng-bareng, sampe lama kelamaan tanpa kami rencanakan dan sadari, kami udah membentuk geng. Rasa kebersamaan kami makin kuat. Suatu hari ada seorang temen (yang kami anggap freak dan annoying), dia anak dari SD baru, so jelas kami anak-anak SD MD kaga kenal, dia nyoba temenan sama gue. Gue yang ga biasa ketemu anak yang gaje, bercanda jayus kayak gitu langsung udah ngasih stigma negatif aja, tapi berhubung gue ga berani terus terang (takut nyakitin tuh anak) gue minta bantuan temen-temen geng gue buat bantuin gue menjauhi dia. Misalnya pas gue lagi belajar sendirian, tiba-tiba tuh anak gaje datengin gue, temen-temen gue yang liat gue langsung manggil gue dan respon gue adalah ninggalin tuh anak gaje tanpa nengok/ jawab/ merespon candaan gaje dia. Kadang-kadang kami suka meratiin gerak-gerik si gaje, dia nge-gaje apa aja sama anak-anak lain, terus kami ngetawain dia. Gue juga iseng, gue ladenin aja candaan gaje dia, abis itu gue ketemu temen-temen gue and mulai ngegosipin si gaje abis ngapain aja, kalo udah mulai ngegosip tuh asik banget deh pokoknya. Sampe akhir masa kelas 7, si gaje dinyataikan ga naik kelas (karena dia emang maleeeeess banget belajar), salah satu temen geng gue dengan terus terang bilang, "syukur kita kaga ketemu lagi sama tuh anak, hahaha", diikuti tawa jahat, cengiran, sindiran beberapa anak termasuk gue, walaupun ada juga yang simpati dan bilang "wah parah banget lo,hahaha", tapi dia ketawa juga (-.-").

Itu baru satu contoh, masih ada lagi. Waktu itu gue udah kelas 8, walaupun gue dan geng gue ga terlalu sering ketemu, tapi rasa keusilan, kebersamaan dan kekejaman kami masih sama, ada temen gue yang benci banget sama adek kelas yang katanya kecentilan, kegatelan dan sok kenal sama gebetannya. Hari itu lagi ulangan semester, ruang dan kursi ujian di atur, di depan kelas udah di sediain papan nama yang ada urutan posisi duduk. Rencana kami pulang sekolah, kami nyari tempat duduk si centil terus kami kerjain. Setelah nemuin nomor kursinya, kami mulai nyari bahan yang bisa ngotorin kursinya, kenapa ngotorin kursi? Karena hari itu hari Sabtu, hari tes berikutnya adalah hari Senin saat kami semua pake seragam putih-putih. Temen gw nemuin penghapus papan tulis spidol yang kotor, tindakan kami selanjutnya nepuk-nepukin kursi dan meja si centil dengan penghapus sampe kotor banget, selesai mengotori kami "berdoa" agar petugas kebersihan ga bersih-bersih meja dan kursi. Ternyata harapan kami terkabul, meja kursi ga dibersihin. Pulang test gue ketemuan sama temen-temen gue dan temen gue yang sekelas sama si centil cerita, pas masuk ruangan si centil jadi ribet sendiri, "aduh mejaku kotor, kak gimana nih, tolongin dong", temen gue yang cemburu sama si centil cuma ngomong "mampuss,hahaha".

Tapi Karma does exist!
Malangnya, setelah gue masuk SMA, pola yang sama terulang kembali, gue sebel sama seorang temen, tapi kali ini yang berbeda adalah temen-temen gue, mereka bukan tipe yang suka mencampuri urusan orang, istilahnya "urusan lo ya urusan lo, urusan gue ya urusan gue". Walaupun mereka tahu masalah gue, tahu gue sebel sama orang itu, temen-temen gue ini cuma berperan sebagai pendengar dan pemberi saran yang baik, mereka bukan tipe yang suka merekrut atau direkrut untuk sama-sama membenci satu orang (walaupun ternyata masih ada beberapa temen gue yang suka merekrut dan direkrut juga).
Sejak gue masuk SMA, apalagi pas masa-masa kelas 10, gue bener-bener merasa sendirian, walaupun gue udah punya cukup banyak temen, tapi ga ada satu pun dari mereka yang udah bisa memahami gue secara keseluruhan, sementara temen-temen lama gue, mereka diluar sana dan ternyata kami mengalami hal yang sama, walaupun mereka bersedia jadi pendengar, tetapi kami udah ga bisa menyelesaikan masalah ini bareng-bareng, kami udah di dunia yang berbeda.

Hari-hari gue jalani dalam kesendirian di tengah keramaian, gue berusaha mencari cara untuk bertahan. Pertama gue harus bisa menjadi orang yang ga banyak bicara, mengingat masa lalu gue yang terlalu banyak bicara hal-hal ga penting, kedua gue harus tahan banting menyimpan kisah-kisah pilu gue yang bener-bener ga bisa gue share begitu aja sama orang yang belum gue kenal, karena gue bukan tipe orang yang bisa 100% terbuka sama orang lain apalagi yang belum dikenal, ketiga gue bener-bener harus kudu bisa MENERIMA berbagai keunikan, perbedaan yang bener-bener kontras antar temen yang satu dengan yang lain, gue ga bisa asal ngecap orang itu freak, orang itu annoying, orang itu sombong, orang itu cupu, karena gue sendiri pasti udah dikasih stigma yang macem-macem sebagai anak baru di lingkungan baru. Hmmm, ternyata seperti ini rasanya menjadi teman gue yang GAJE itu. Keempat, gue harus berani mencair dengan mereka dan disaat yang sudah tepat gue harus buru-buru membeku dan menjadi kesatuan yang baru dengan temen-temen di lingkungan baru gue.

Karena revolusi itu, sifat penyendiri sudah mendarah daging dalam diri gue, kini gue ga merasakan kesendirian itu adalah hal yang buruk justru kesendirian itu adalah kebutuhan. Gue udah ga merasa khawatir lagi kalo sendirian, sebaliknya saat gue sedang sendirian atau menyendiri, gue memanfaatkan waktu menyendiri itu untuk mengasah kepekaan gue karena gue bisa merasa simpati, terharu, kasihan, iba, bahagaia atas kebahagiaan orang lain; intinya gue bisa merasakan hal-hal tersebut saat gue sedang sendiri atau paling tidak saat pikiran gue ga diganggu temen-temen gue dan berbagai kegilaan mereka. Gue juga bisa merenung sedalam-dalamnya dan berimajinasi seluas-luasnya saat gue sedang sendiri, gue bisa menikmati hobi terpendam gue yang sepertinya sulit gue nikmati saat bersama temen (contohnya sekarang, gue lagi nulis draf ini) gue juga bebas melakukan apa aja, seperti saat membaca buku gratis di Toko Buku atau saat bermain musik atau saat mengamati lukisan-lukisan atau ber-window shopping yang sulit dinikmati kalo sedang bersama temen(apalagi kalo hobi lo beda sama temen lo), gue bisa meratiin keadaan sekeliling gue dengan berbagai sudut pandang yang gue suka. Hal-hal tersebut bisa membuat gue bergeming sendiri.

So, dengan alasan-alasan tersebut dengan seenak jidat gue mengartikan ANSOS itu tidaklah selalu ANTI SOSIAL tetapi juga merupakan ANTEK SOSIAL.
Mengapa bisa demikian?
Pikir aja pake logika paling dasar, setiap orang itu makhluk sosial, se-ANSOS(dalam arti sebenarnya) apapun mereka, pasti mereka masih punya relasi dengan beberapa orang.
Sekarang, bagi gue orang-orang yang ANSOS dimata gue adalah orang yang berjiwa sosial, tetapi mereka punya cara lain untuk menikmati hidup mereka. Terkadang orang yang ANSOS tersebut punya pemikiran dan ide yang kreatif, sudut pandang yang berbeda dalam menilai satu hal, satu hal yang gue tau (sebagai orang yang ANSOS :D), orang ANSOS akan selalu melihat hal-hal positif dalam satu objek yang akhirnya bisa kami nikmati sendiri. Karena orang ANSOS sudah terbiasa untuk bertahan dalam kesendirian, dimana dalam kesendirian itu kami butuh stimulus positif dan kami harus pintar-pintar menemukan mendapatkan stimulus tersebut.

Tetapi walaupun demikian, menjadi orang yang Anti Sosial tidaklah lebih baik dari pada menjadi Antek Sosial yang sebenarnya.
Tuesday, November 23, 2010 0 comments

Menjadilah Kuat-Part 1

Ku dedikasikan untukmu,

Menangislah,
hanya orang yang berani yang mau menangis,
tumpahkan larutan emosimu,
karena setiap tetes air mata yang mengalir di pipimu
adalah sebongkah penyesalanmu, kesedihanmu,
kepedihanmu, kerinduanmu, amarahmu, sakit hatimu.
Jangan simpan air matamu,
hanya pengecut dan orang munafiklah
yang memenuhi kantong matanya dengan air asin.
Mereka menelan muntah yang menyumbat kerongkongan mereka.
Mulut mereka penuh bau muntahan.

Tersenyumlah,
tak lah sulit untuk memilin bibir
tetapi hanya orang tulus yang pandai memilin.
Pilinan orang tulus terbacalah air muka bening
hati mereka menabuh genderang penuh kemenangan,
suara mereka laksana nyanyian sangkakala, penuh keanggunan dan kedamaian
Pilinan orang munafik terbacalah air muka keruh
hati mereka menabuh genderang peperangan,
suara mereka laksana hantaman dua mata pedang, dingin dan kaku

~Debora Debby Erli~
Wednesday, November 17, 2010 0 comments

Bersama-sama Kita Berpetualang

Hari ini gw mau share sebuah perjalanan singkat, petualangan fantastis 2 orang sahabat(yang tidak akan pernah terpisah orang ruang dan waktu)a.k.a Debby dan Indira.
Lagi-lagi 2 tokoh konyol ini muncul dalam post blog gw. Dengan segala kesederhanaan dan ide-ide gila mereka, gw akan menyuguhkan kisah nyata ini secara kronologis.



Jumat, 12 November 2010
"Twinaaaa, kabar gembira!! Besok sekolah gw libur, u ada acara ga? Kalo kaga, kami jalan bareng yuk, kemana kek gitu? hehehe...", ketik gw dalam pesan singkat untuk Indira setelah pulang sekolah. Kejutan luar biasa, hari itu gw mendapat double combo, AC kelas yang telah dinanti-nanti akhirnya diresmikan hidup dan besok (hari Sabtu) dalam rangka pemilu, sekolah diliburkan, sungguh berita yang sangat fantastis.

Bagi gw, sebagai seorang pelajar yang tidak pernah menyicipi bagaimana nikmatnya libur sekolah setiap hari Sabtu, seperti yang bisa dinikmati oleh Indira, pengumuman liburan itu adalah mukjizat yang nyata. Setiap ada kesempatan libur, gw akan berusaha memanfaatkan waktu tersebut untuk bersenang-senang (tentu dengan dukungan ekonomi pastinya). Daftar kegiatan setiap kali kami pergi tidaklah banyak, hanya nonton, cuci mata dan makan, selebihnya adalah sesi ngobrol (dari basa-basi sampai ngalor-ngidul).
Kabar gembira ini semakin didukung dengan pernyataan Indira yang tidak punya kesibukan pada hari Sabtu dan ia menerima ajakan gw! YEAY!!
Tapi Indira juga ngajak gw untuk nemenin dia ke SGU (Swiss German University),ada undangan pertemuan untuk persiapan lomba bahasa Inggris yang diikuti sekolah Dira. Merasa ga ada masalah, gw nerima ajakan Indira. Jujur aja, bahkan kami sendiri belum tau mau pergi kemana abis dari SGU. Sebodo teing dah, yang penting bisa ngobrol.

Sabtu, 13 November 2010

Hari yang dinanti tiba.
Ternyata bukan cuma gw yang bakalan menikmati hari ini. Temen-temen adek gw akan datang ke rumah buat having fun juga. Dan karena alasan itu juga, gw ga bisa pake motor ke rumah Dira, gw harus ngayuh sepeda gw. Mann! Padahal gw udah mandi dan udah wangi, tapi gw harus merelakan persiapan gw karena gw akan bermandi peluh sampe rumah Dira. Ambil positifnya, gw bisa bakar kalori gw lebih banyak lagi, yeay!
Yah, tapi lumayan pegel juga, karena setelah sudah 1/2 jalan gw barus sadar ban sepeda gw kurang angin dan gw baru ngisi ulang. Sial.
Singkat cerita, akhirnya gw sampai dirumah dira dengan selamat dan penuh keringat.
Karena terburu-buru, persiapan gw gak mateng hari itu, biasanya gw rajin bawa perlengkapan dandan gw(parfum, lip glose, krim kulit) hari itu semua ketinggalan, tinggal sisir yang setia menemani gw.
Hari itu penampilan gw juga sangat tidak se-fashionable biasanya. Hari itu gw cuma pake kaos oblong yang lumayan longgar, celana pendek dan sendal frogs karet(sepatu crocs versi bajakan). Entah kenapa jiwa feminim gw lenyap hari itu, entah karena udah lama ga pake kostum-kostum feminim atau gara-gara naik sepeda? Tak tahulah.
Nah,sampe di rumah Indira, Dira mulai bawel nyuruh gw milih baju ganti yang lebih pantes buat dipake. Selera gw lagi rusak hari itu, gw milih kaos-kaos oblong biasa, Dira ga setuju, dia suruh gw pilih yang lain, gw malah salah ngambil, gw milih baju rumahnya dira, Indira tambah ngomel. Haduuh puyeng gw! Tapi gw beruntung, jiwa feminim Dira masih ada, setidaknya penampilan gw masih bisa tertolong. Setelah memilih-milih, akhirnya gw milih gaun hijaunya Dira. Gw suka gaunnya,karena gw lebih keliatan putih dalam gaun itu, hehehe...
*(Tenang Dir, gaun lo akan segera gw kebalikan).

Setelah merapihkan rambut, pakaian dan muka, kami berangkat.
Dengan 2 kali angkot kami pergi ke SGU.
Indira bener-bener belum tau dimana SGU. Sedangkan gw ngaku-ngaku kalau gw tau dimana SGU berdiri.
Dengan penuh ke-sok-tahuan, gw yakin gitu kalo SGU itu gedung biru berjarak kurang lebih 25 meter dari Teraskota, dengan alasan ada tulisan "German".
Alhasil, setelah turun dari angkot dan mendatangi gedung tersebut, dengan penuh birahi gw mempersiapkan diri dengan setangkup vocabulary bahasa Jerman, kalo seandainya ketemu bule jerman di SGU. Setelah dengan PD memasuki wilayah asing itu dan bertemu sekelompok OB dan penjaga gedung,kami (maksudnya gw) baru diinsafkan oleh penjaga gedung yang bilang, kalo SGU itu masuk kedalam perumahan Green Cove dan itu jaraknya 2-3 kilometer dari German University.
Dira udah senyam-senyum geli aja ngeliat gw yang mereka-reka seberapa jauh 2 kilometer itu, dengan enteng gw memjawab "ah... cuma dua kilo, jalan kaki juga bisa, ayoo Dir". Tapi sampe didepan, naluri kemanusiaan gw menuntut agar gw nyari kendaraan umum. Karena tidak ada taksi, ojekpun jadi. Kami nyewa 1 ojek untuk berdua, sungguh ide yang brilian. Abang ojek matok harga Rp.20.000, kalo mau dibandingin sama harga ojek di Pamulang, ini termasuk 4 kali lebih mahal, dengan jarak 2-3 km (dari rumah gw ke SD Mater Dei), gw cuma butuh bayar Rp.5000, ato dari SMP Mater Dei ke rumah, gw cuma perlu bayar Rp.8000. Emang faktor Geografis sangat mempengaruhi, di daerah German University, di persimpangan jalan begitu emang ojek jarang laku.

Ternyata perjalanan dengan ojek itu sangatlah seru, menantang dan memacu adrenalin hingga membakar nadi-nadi gw.
Dengan kecepatan 80km/jam kami menempuh jarak 2 km selama 10-15 menit.
Sepanjang perjalanan gw ga bisa nyaksiin pemandangan di Edu-Town, gara-gara ojek yang ngebutnya ga nahan ini, gw harus nunduk lindungin mata gw karena mata gw ketusuk-tusuk terpaan angin yang kenceng. Untung gw pake topi, seenggaknya rambut gw terlindungi dari bahaya berantakan dan kusut.
Gile,gw baru sadar ternyata 2 kilo itu jauh banget!!! Mateng gw kalo sampe jalan kaki, bisa-bisa kaki gw jadi abon.
Melihat huruf kapital besar yang tersusun berjajar bertuliskan "SWISS ERMAN UNIVERSITY", kami tahu kalau kami sudah sampai.
Sampai di depan SGU,Dira bayar ojeknya, setelah menerima Rp.20.000, abang ojek langsung cabut dan kami langsung masuk ke area SGU. Setelah bertanya dan diberi tahu dimana pintu masuknya, kami mulai memasuki gedung SGU. Setelah bertanya dan diberi tahu oleh OG (Office Girl) kami masuk ruang presentasi dan duduk di meja paling belakang. Untung kami belum telat, kami cuma melewatkan bagian pembuka.
Selama kurang lebih 1 jam kami duduk diem (ga diem juga sih) dengerin presentasi sambil nyatet dan kadang-kadang ngobrol dikit, ngomentarin pronounciation Inggris (yang kacau) Mr.fasilitator yang gw tebak berasal dari Jerman, karena beberapa kali gw denger dia ngomong kata "eins","noch","zusamment". Ahahai, seru ya bisa berbahasa asing. Kadang-kadang kami juga ngobrol sendiri kalo udah mulai gak ngerti apa yang diucapin si Mr.Unknowed. Ditengah obrolan kami,Dira bilang, kalo sampe hari itu gw gak libur, dia akan berakhir seperti seorang cewe di meja seberang, yang duduk sendirian, membisu dibelakang. "Udah bilang aja gw malaikat pelindung lo, iya kan? ngaku lo", dengan percaya diri gw menunjukan Dira senyum penuh kebahagiaan(seringai tepatnya), tidak cukup sampai disitu, gw menyanyikan sepenggal lirik lagu dari Phantom of The Opera, "I'm your angel of music, come to me angel of music", lantas gw dan Dira mulai cekikikan karena geli.
Diruang presentasi itu kami cuma kenalan sama 1 anak cowo tambun, tapi ramah, dia dateng dari SMA Penabur Kelapa Gading. Selebihnya kami ga tau apa-apa lagi.
Presentasi selesai, kami memutuskan akan pergi ke SMS (dari pada ke PIM, Jakarta, berat diongkos!). Keluar gedung SGU, 1 pertanyaan besar mulai muncul, gimana caranya kami keluar dari Edu-Town yang sepi ini? Kami ga liat ada tanda-tanda pangkalan taksi ataupun ojek! Sedih amat, tapi dengan langkah kaki yang ringan, hati yang gembira, kami melangkah keluar arena SGU. Kami mulai bercanda sepanjang jalan. Tuhan memang baik, cuaca hari itu mendung, jadi kami ga perlu takut kepanasan atau kulit kami menghitam karena disengat matahari jam 11. Gw dan Dira bener-bener beharap ada mobil yang mau berbaik hati, berbagi tumpangan dengan kami. Dira menceritakan kembali kisah yang pernah di tuturkan Ms.Eti, guru Toefl Preparation kami di SMP. Setiap kali Ms.Eti mengalami apa yang sedang kami alami, berjalan dipinggir jalan dan butuh tumpangan, Ms.Eti hanya berdiri terdiam dan berharap di dalam hati ada yang mau ngasih tumpangan and... VOILA!! Ada mobil yang berhenti yang mau ngasih tumpangan buat Ms.Eti. Hebat!!!

Setelah mendengar cerita tentang Ms.Eti, gw langsung terinspirasi untuk mencoba, gw berdiri dipinggir jalan, gw liat ada motor dari arah berlawanan mau dateng, gw langsung komat-kamit dalam hati dan bibir,"semoga mau ngasih tumpangan-semoga mau ngasih tumpangan", jarak kurang lebih 10 meter gw liat si pengendara motor liat gw, gw makin semangat komat-kamit, jarak semakin mendekat 5 meter, gw bisa meratiin tatapan heran si pengendara motor, gw masih komat-kamit dalam hati and... VOILA!! Dengan jantan si cowo menarik rem (karena ada sedikit tikungan) dan kembali menarik gas,melewati gw dengan tatapan "Nih cewe freak amat seh??". SIAKE!! Gw cuma bisa menggerutu, "kok gw gak berhasil seh???! Sial!". Ada mobil lewat, gw nyoba berenti, eh si Dira malah ngelengos, sial!Yah, dari pada makin ngaco, kami mulai menapaki Edu-Town sambil ngobrol, bercanda dan berharap ada tumpangan.

Edu-Town itu bak Arizona, daerah sepi, tidak terlalu gersang, bedanya dengan Arizona, kalo Arizona sejauh mata memandang hanya padang rumput gersang, pasir, tanah kering, tebing-tebing terjal menjulang tinggi, sedangkan Edu-Town, sejauh mata memandang lo akan liat ilalang, rumput liar dan rumput taman yang hijau, tanah merah yang lagi digali, gedung SGU dan Prasetya Mulya yang menjulang tinggi, 1 perbedaan lagi, kalo di Arizona yang lewat biasanya cowboys yang berpacu dengan kuda-kuda mereka, di Edu-Town kebanyakan adalah mobil pribadi atau motor yang lewat, itupun jarang. Kalaupun lewat, mereka terlalu sibuk dengan keasikan mereka; kebut-kebutan di jalan sepi.

Kira-kira selama 15 menit kami menempuh perjalanan di Edu-Town,sangkin terpencilnya Edu-Town,kami masih aja belum ketemu perumahan Green Cove. Mungkin hang out hari itu akan menjadi perjalanan yang melelahkan jika belum datang sosok penyelamat yang juga merupakan sosok yang membawa kami menuju petualangan yang baru.
Dari arah berlawanan, datang seoarang bapak separuh baya, dengan motor bututnya menawarkan tumpangan pada kami, ia berjanji mau mengantar kami sampai tujuan. Tanpa ada rasa ragu dan curiga, kami meminta si bapak mengantar kami ke SMS. Dira juga nanya berapa harga yang harus kami bayar, mula-mula si bapak bilang Rp.30.000, karena kemahalan, kami minta tawar jadi Rp.20.000 aja, bapaknya masih ga mau, yo weis kami ngelengos pergi aja and.. pada akhirnya si bapak mau dibayar segitu.
Dengan kecepatan 60 km/jam bapak memacu motor bebek bututnya melalui medan yang sulit. Bapak membawa kami melewati jalan potong di belakang perumahan Green Cove yang sepertinya kurang pantas disebut jalanan, karena yang kami lalui masih merupakan tanah merah, untung saja sedang tidak hujan, karena kalau hujan, alamat sudah kami ga bisa jalan di atas tanah merah yang lembek. Untung juga, gw dan Dira punya badan kecil dan ringan, karena setiap melewati medan yang sulit, bapak akan dengan mudah menjaga keseimbangan motornya.

Setelah melewati tanah merah, bapak membawa kami ke perumahan kampung di Pagedangan, Dira kenal daerah ini karena gurunya ada yang tinggal di Pagedangan dan kata dira daerahnya lumayan jauh dari SMS.
Perjalanan melewati perumahan kampung cukup panjang, sepertinya GPS gw ga bisa melacak daerah yang super asing ini. Yang gw peratiin sepanjang jalan cuma kebun dan perumahan kampung. Gw juga ngeliat ada sekolah Nasional Plus, sekolahnya sangat besar(untuk ukuran pedesaan), sayang gw lupa apa nama sekolahnya.
Semakin lama bapak menambah laju kecepatannya, gw cuma bisa berdoa sepanjang jalan, semoga kami selamat sampai SMS. Tak lama kemudian kami sampai di daerah perumahan Paramount. DEJAVU!! Gw langsung merasakan sensasi yang sama saat melihat perumahan disana, dulu gw dan keluarga gw pernah ke SMS melalui jalan yang sama (walaupun ga pake ojek). Disini bapak menambah lagi kecepatannya, bahkan bapak sampe lupa ada polisi tidur di depannya, untung polisi tidurnya tidak berbentuk bukit, tetapi landai jadi kami tidak terjungkal terdepan, TETAPI tetap saja hentakan dan lompatan motor bapak membuat gw dan Dira shock! Tiba-tiba saja saat kami sedang diam(gw lagi bengong), motor bebek butut itu melambung dan mendarat dengan kasar hingga kami terguncang, tapi beberapa saat setelah shock kami malah saling ketawa geli,ahaha... Ada keseruan dan keasikan tersendiri yang gw rasakan!!
Akhirnya pemandangan yang gw tunggu-tunggu tiba, kantor pemasaran Summarecon.
Gw mulai merasakan ada tetes-tetes air yang turun perlahan-lahan, gw sadar sebentar lagi hujan. Sepanjang jalan gw berharap semoga hujan turun setelah kami sampai SMS.
Dan harapan itu terkabul, gw dan Dira sampai SMS dengan selamat dan pas banget hujan baru turun pas kami turun dari ojek.
Saat gw ngeluarin dompet, buat bayar jasa si bapak, gw natap sesaat wajah bapak tua yang baik itu, merasa iba, gw kasih tambahan Rp.5000 untuk si bapak, emang ga seberapa dengan apa yang bapak baik ini kasih, tapi gw lebih iklas ngasih segitu (dari pada terpaksa mending yang iklas) dan ucapan terimakasih pastinya, si bapak menjawab "sama-sama nak, hati-hati ya". Si bapak langsung pergi dan kami mulai masuk SMS.

Jam menunjukan pukul setengah 1. Masih banyak waktu untuk bersenang-senang, tetapi kami gak mau bersenang-senang dengan penampilan yang super berantakan ini. Rambut gw udah bau keringet, keriting alami rambut gw bermetamorfosis menjadi gimbal, pokoknya Bad Hair Day banget dah! Begitu juga dengan Dira. Jadi kami memutuskan untuk nyalon dulu biar cantik. kami keliling-keliling lantai 2 dan lantai 3 untuk nyari salon dengan bugget yang pas, so kami mendatangi beberapa salon (P.S Nama-nama salon berikut adalah Nama Samaran). Pertama kami ngunjungin Julia Amirta, kami lihat daftar menunya yang di tempel di kaca, buggetnya lumayan, cuci+blow biasa Rp.18.000, cuci+blow fariasi Rp.25.000, tapi kami nyoba nyari lagi, siapa tau ada yang lebih murah. Kami naik ke lantai 3, mengunjungi salon kedua milik Romeo Ajubile (gw lupa nama salonnya), harga cuci+blow biasa Rp.25.000, cuci+blow iron Rp.50.000, Ajubile mahal amat, so kami datengin salon ke-3, salon Baru. Salon ketiga lebih kecil dari salon yang lainnya, daftar harganya ada di dalam salon, so gw sama Dira masuk aja dan nyoba liat daftar harganya. Pas kami baca menunya, cuci+blow Rp.50.000, kamipun saling bertatap, sesaat kemudian gw dan Dira memutuskan untuk langsung keluar.

Kami turun lagi ke lantai 2 mendatangi salon pertama, ternyata salon pertama penuh dan kami harus ngantri kalau mau nyalon di sana. Gw dan Dira memutuskan untuk naik lagi ke lantai 3 mendatangi salon Romeo Ajubile. Ribet banget dah didup gw.
Singkat cerita di salon itu Dira cuci+blow biasa, sedangkan gw nyoba-nyoba cuci dan memwave rambut gw. walaupun itu berarti gw melakukan pemborosan (Rp.50.000 sekali wave), tapi gw puas, ternyata dengan rambut yang di wave muka gw lebih terihat dewasa dan tetap cantik walaupun rambut gw jadi tipis karena yang keriting cuma di bagian bawah.

Selesai merombak penampilan, kami langsung pergi ke bioskop, membeli tiket untuk nonton Skyline. Sementara menunggu tontonan di mulai (13.45), kami keliling dulu di down town, kami berencana mau nyoba makanan lain yang unik di cafe yang memenuhi syarat bugget kami, setelah berkeliling, kami masih belum bisa memutuskan mau makan apa. Dira melihat ke arah jam, 10 menit lagi film dimulai, sebelum dimulai kami menyempatkan diri membeli cemilan roti BreadTalk. Masing-masing dari kami beli 2 roti, gw beli roti yang manis, ada yang pake lelehan coklat putih ditaburi almond dan roti isi selai blueberry, sedangkan Dira beli roti keju dan roti daging, hummm YUMMIE!
Karena tau tidak boleh bawa makanan ke bioskop, kami selundupin makanan-makanan itu dalam tas kami. Gw sembunyiin makanan itu di bawah lipatan celana jeans Dira yang tadi dia ganti dengan rok, otomatis tas gw jadi gembung. Untunglah sampe pintu masuk XXI, kami bebarengan dengan sekelompok keluarga, kami pura-pura terburu-buru aja (karena film-nya juga udah mulai), jadi kami lolos dari pengecekan,yeay!
Di dalam bioskop kami menikmati lezatnya roti BreadTalk sambil nonton Skyline. Tapi belum 1/2 film selesai, gw dan Dira udah melahap habis semua roti. Maklum, kelaperan dari tadi belum makan, Ascaris dalam perut gw memberontak(amit-amit).

Sedikit info buat film yang baru gw nikmati hari Sabtu, Skyline.

Film ini bercerita tentang sekelompok manusia di L.A yang diserang oleh makhluk aneh yang menghasilkan cahaya biru yang bisa menarik orang yang menatapnya, ibaratnya manusia itu laron cahaya biru itu lampunya. Makhluk biru itu menangkap manusia yang kemudian diambil otaknya sebagai sumber energi bagi makhluk-makhluk jahanam itu (gw ga rela otak gw diambil makhluk kayak gitu). Sementara monster-monster itu menyerang manusia, manusia mencoba segala cara untuk membunuh monster tersebut, tetapi tidak berhasil. Pemeran utama, Jarred berhasil membunuh satu makhluk, ia mengkerahkan seluruh tenanganya untuk menghajar makhluk itu karena makhluk tersebut menyerang kekasihnya Lity, ia menarik semua otak yang ada di dalam tubuh makhluk tersebut hingga makhluk itu mati. Tetapi pada akhirnya Jarred dan Lily di bawa masuk kedalam pusat tubuh makhluk tersebut. Otak Jarred berhasil diambil oleh makhluk tersebut dan diberikan pada satu tubuh kosong. Tetapi otak Jarred menguasai tubuh tersebut, sehingga tubuh tersebut menjadi tubuh Jarred. Sementara Lily dan kandungannya selamat, karena Jarred menyelamatkannya. Ceritanya cukup seru untuk hiburan, walaupun gw sendiri kurang puas karena actionnya kurang banyak. Gw ga sabar menunggu episode selanjutnya.

Selesai nonton, gw dan Twina keliling bentar liat-liat di down town walk, kira-kira kami bisa makan di cafe mana. Tapi rencana tersebut gagal, karena ga ada cafe yang bisa diajak kompromi sama dompet kami. So, kami kembali ke Pizza Hut, yah.. emang udah rejeki si Pizza. Dira pesen es krim dan chicken wings,sedangkan gw mesen cheese fusili dan red Italian Soda(minuman yang ga bosenin). Kami makan sambil ngobrol-ngobrol lagi, curhat, gosip pokoknya apa aja bisa jadi bahan bahasan yang seru kalo sama Dira. Selesai makan kami keliling-keliling lagi, cuci mata sebentar, kemudian pulang. Karena kami sama-sama lagi boke, kami pulang naik angkot. Tapi emang naik angkot itu seru, kami bisa menikmati angin sepoi-sepoi, pemandangan lampu lalu lintas yang nyata tanpa harus tertutupi oleh kaca jendela. Gw sangat menikmati terpaan angin kencang yang memainkan rambut gw. Yah,walaupun itu berarti masa rambut wave gw harus berakhir. Sialnya gw belum sempat mendokumentasikan model rambut baru gw, ARGH!!

Sekitar 1 jam gw dan Dira sampai di rumah Dira. Sebelum pulang lagi dengan sepeda, gw ganti baju jadi baju kaos oblong gw. Sebelum gw pulang, gw berleha-leha dulu di kamar Dira. Kami dengerin lagu, menggila sambil foto-foto narsis, pokooknya serulah,ahaha.

Pada akhirnya, gw pulang saat waktu menunjukan pukul 19.05.
YEAY! Akhirnya ada juga saatnya bagi gw untuk bersenang-senang lagi sama sahabat gw. Gak nyesel juga gw pisah sekolah sama Dira, kami punya kisah yang lebih baru, berbeda dan kami bisa saling tuker-tukeran cerita. Dan yang membuat gw merasa sangat beruntung, walaupun selalu terpisah dalam waktu yang lama, banyolan khas kami masih aja gak berubah, cara pandang, cara berpikir udah berbeda, tapi kami masih 2 makhluk yang sama, yang gokil, berani, aktif dan kompak. Justru perubahan yang terjadi pada kami yang membuat kami makin bisa saling ngerti dan berbagi.
Bagi gw ga perlu ada yang namanya sahabat sejati (karena sulit nemuin sahabat semacam itu dalam hidup yang sempit ini), bagi gw seorang sahabat aja udah cukup, kami ga perlu nuntut banyak dari sahabat kita, karena tanpa harus menuntut, kita udah saling melengkapi.
 
;